Sepucuk Surat Usang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Rindu
Lolos moderasi pada: 17 July 2021

Angin pantai menghembus lembut, membuat kerudung yang kukenakan melayang-layang seolah menari mengikuti alunannya. Mata yang tertuju pada indahnya warna senja matahari yang tenggelam di ujung lautan. Membuatku bergumam syukur dapat merasakan keajaiban demi keajaiban yang ia ciptakan, terkhususnya salah satu makhluk-Nya yang kukagumi yang entah dimana keberadaanya.

Bibirku tersenyum tipis teringat akan kehadirannya yang selalu menemaniku dan menikmati senja bersama. Dia yang pernah mengatakan bahwa tiada tempat yang paling indah selain senja di pantai ini bersamaku. Aku tak tahu, apakah ungkapan itu hanya sebatas pemanis di kala senja itu? Apakah aku yang terlalu polos mempercayai ungkapan itu?. Hingga tiada terpikir di kepalaku dia telah memiliki tujuannya sendiri.

Entah apa yang membawaku ke tempat yang paling ingin kuhindari ini. Kakiku melangkah berjalan menyusuri pesisir pantai seorang diri, aku mencoba menoleh ke belakang. Tiada jejak lain yang menemani jejakku di atas pasir putih seperti dahulu kala. Aku memalingkan pandanganku dan terus berjalan, dari sini aku tersadar bahwa dia telah lama hilang. Saatnya diri ini berbenah dan mencari dimensi baru untuk kebahagiaan.

Langkah kaki terhenti, mataku memandang dalam sebuah batu besar tepat di ujung tebing pantai. Kenapa batu itu tidak berpindah? Kenapa batu itu tidak menghilang? Kenapa batu itu tidak jatuh dan tenggelam ke laut saja?. Pertanyaan yang saat ini di benakku. Itu hanya sebuah batu besar, namun disanalah tempat mula dia pergi menjauh dan menghilang. Pikiranku memintaku untuk beranjak dari sini, tapi kesalnya langkahku mengikuti benakku mendekati batu itu.

Dengan pelan aku naik ka atas batu itu seperti dulu, terlihat pemandangan yang luar biasa indahnya. Laut yang biru memantulkan warna senja matahari. Para nelayan yang mulai mencari ikan-ikan di lautan dengan jaringnya. Burung-burung yang berterbangan seolah menikmati senja yang cerah. Dan deruman ombak yang tenang. Aku duduk tepat seperti waktu itu.

Kebencianku terhadap rasa ini, membuatku ingin memaki siapa saja yang berkata manis namun hanya sebatas ungkapan. Kulirik tanganku yang menggenggam sebuah kertas, seketika tersadar sebuah surat inilah yang mengantarku ke sini. Sebuah surat yang menghampiriku yang kutemukan di antara surat-surat bersegel belum sempat aku buka, karena tidak ada keinginan untuk melihat siapa pengirim surat tersebut. Perlahan aku membuka amplop yang masih tertutup rapi, sebuah kertas putih yang tertulis oleh tinta hitam. Sebuah tulisan yang sangat kukenali.

Ucapan salam menjadi pembuka surat, kata demi kata darinya mulai kubaca. Sesak terasa di dada ini, entah apakah ini rasa kerinduan apa kebencian atas surat sebagai wujud kehadirannya. Semakin aku membacanya, bergetar jiwa ini. Sebuah perasaan yang telah kuusahakan menguburnya dan pergi. Kedatangan surat ini membuatku berbalik dan menggali kembali meraih perasaan itu. Sebuah ungkapan darinya berhasil membuat tangis haru dan bahagiaku meraung di senja ini. Kalimat “Kembali” dan “Lamaran” yang ditujukan untukku, membuatku tidak bisa menahan untuk menanti datangnya hari itu. Sepucuk surat darinya yang telah hilang bertahun yang lalu, setelah banyak yang ia usahakan disana. Kuharap ini terakhir kalinya, aku mengharap dia kembali dan membawa janji manisnya.

Cerpen Karangan: Chairani

Cerpen Sepucuk Surat Usang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rasa Risa (Kehilangan)

Oleh:
Dia termenung di kamarnya. Baru kali ini dia patah hati, rasanya sakit sekali. Dia pikir dia bisa menaklukkan hati gadis itu dengan mudahnya, nyatanya? Selama ini dia sangat mudah

Titania’s Life (Part 3)

Oleh:
Daffa yang kesal diacuhkan oleh Titan segera menarik tangan Titan, sekarang mereka saling berhadapan. Tapi pandangan Titan tertunduk. “Kamu kenapa?” Tanya Daffa. Titan tak menjawab pertanyaan Daffa. Wajah Titan

Senja Esok Hari (Part 1)

Oleh:
Bunga tidur menghampiri hidupku setiap hari. Isinya selalu bercerita tentang hal yang sama. Tapi aku tak tahu apa maksudnya. Di sana, aku melihat sosokmu yang selalu berada di sampingku.

Ice Cream Love

Oleh:
Kopi ini hanya terlihat kabut tipisnya dan menebarkan aroma khas. Belum berhenti mencari inspirasi untuk apa yang sekarang harus ku tulis setelah aku kehilangannya. Waktu seakan berhenti ketika aku

Bolpoin Cinta

Oleh:
Mentari telah menunjukkan sinarnya, aku mulai bergegas pergi ke sekolah berharap ada yang berbeda pada pagi ini, namun ternyata salah pagi ini masih seperti biasanya dan malah lebih parah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *