Sepuluh Tahun

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 20 March 2019

Perjalanan kali ini sungguh terasa berat bagi seorang pria muda bernama Benjamin. Sudah beberapa tahun sejak ia meninggalkan Hindia Belanda, kini ia harus kembali kesana untuk meliput negeri masa kecilnya itu. Sewaktu Hindia Belanda masih berdiri, ayah Benjamin adalah seorang pengusaha teh sukses di kawasan Buitenzorg dan Lembang, beliau yang merupakan warga negara Inggris terpaksa harus kembali ke negara asalnya setelah terjadinya krisis keuangan pada tahun 1930. Ben panggilan akrab Benjamin sempat menghabiskan masa kecilnya di kawasan tersebut, di sana ia memiliki banyak kawan yang berasal dari anak-anak pribumi meskipun notabene ia sendiri tergolong kaum Eropa.

Sepanjang perjalanan menuju ke Hindia Belanda atau sekarang telah menjadi Indonesia, Ben selalu memikirkan mengenai nasib kawan-kawan semasa kecilnya pasca Jepang menguasai Indonesia. Sebab ia mendengar kabar bahwa kalau pasukan Jepang tidak kenal ampun dalam menyiksa para tawanan dan warga biasa, bahkan kawan Ben yang tentara pernah mendengar kalau siksaan Pasukan Jepang jauh lebih berat dibandingkan Pasukan Nazi di Eropa. Sejak itu sudah ratusan surat terkirim untuk kawan-kawan Ben di Indonesia, namun tak ada satu pun balasan yang ia dapatkan.

Sewaktu bersekolah dahulu, Ben pernah menjalin asmara dengan salah satu kawan masa kecilnya bernama Noer, ia adalah gadis pribumi yang amat cantik. Selain fisiknya yang menawan, hatinya pun sangat baik, dan ada satu sikap yang membuat ia berbeda dari yang lain, yaitu sikap beraninya. Gadis itu tidak segan-segan memprotes kepada orangtua Ben langsung jika ayahnya yang bekerja dikebun ayah Ben mendapatkan perilaku yang tidak pantas dari mandor lapangan.

Ben dan Noer menjalin asmara selama kurun waktu empat tahun, tetapi kisah asmara itu harus berakhir karena adanya kesalahpahaman antar keduanya. Selang beberapa tahun kemudian tepatnya pada tahun 1936, Ben melanjutkan studinya di Belanda. Di sana, Ben mendapat kabar dari kawan-kawannya di Indonesia, kalau Noer juga saat itu tinggal di Belanda untuk melanjutkan sekolah.

Meskipun mereka berada di kota dan negara yang sama, tetapi keduanya tidak pernah ditakdirkan berjumpa. Tetapi pada tahun 1940, Ben pergi meninggalkan negeri itu dan ia pun berharap yang sama kepada Noer, sebab Pasukan Nazi telah mulai menginjakkan kaki di Negeri Kincir Angin itu. Kemudian pada tahun 1946, Ben yang sudah menjadi wartawan mendapatkan tugas dari kantor berita di Inggris untuk meliput pasukan kerajaan Inggris yang berada di negeri bekas Hindia Belanda.

Pada hari itu juga Ben bergegas meninggalkan Inggris dan menumpang sebuah kapal laut menuju Hindia Belanda. “Daratan-daratan” teriak salah satu penumpang kapal laut. “akhirnya kita tiba juga di Djakarta” saut penumpang yang lain. Tidak lama datang pria berbadan tegap berdiri dan berteriak “Kepada para tuan dan nyonya sekalian harap mempersiapkan barang bawaannya dan Kapal kita telah tiba di Djakarta” ujar awak kapal yang memberi himbauan kepada seluruh penumpang. Beberapa saat kemudian kapal yang ditumpangi Ben telah berlabuh di Pelabuhan Sunda Kelapa Djakarta. “Wah berbeda sekali yah Djakarta yang sekarang dengan yang kukenal dulu” ucap Ben dalam hati. Tanpa basa-basi ia langsung membidikkan kamera ke arah keramaian manusia di pelabuhan.

“Selamat siang Tuan Ben”, panggil seorang pria berpakaian serba putih. “Iya benar ada apa?” jawab Ben. “Saya Tomo perwakilan dari Kedutaan Kerajaan Inggris yang akan menemani tuan selama di Indonesia”. “Baru pertama kali kulihat ada seorang pribumi Indonesia bekerja untuk Kerajaan Inggris” ucap Ben dalam hati. “Hari ini tuan dijadwalkan akan beristirahat terlebih dahulu di Djakarta, lalu keesokan harinya akan melanjutkan perjalanan ke Bandung menggunakan kereta api” kata Tomo sambil membantu membawa barang-barang Ben.

Mereka berdua lalu mulai berjalan menuju mobil, namun tiba-tiba “bruuukk…”, seketika barang bawaan yang dipengang Ben terjatuh semua ke tanah. Ada seseorang pemuda yang berlari menabrak bahu Ben, “Hei hati-hati bung kalau berjalan” teriak Tomo kepada pemuda itu. “Maafkan saya tuan yang telah merepotkan tuan, saya sedang terburu-buru” ucap pemuda itu yang tampak ketakutan. “Sudah tidak apa-apa” kata Ben seraya menepuk punggung pemuda itu. Tetapi Ben tiba-tiba memandang wajah pemuda itu sambil berucap “Kamu Syarif anaknya Pak Djoko yang dari Perkebunan teh Lembang itu? Ini saya Ben kawanmu dulu, yang kau panggil kompeni”. “Ben? Benjamin bukan? yang anaknya juragan kebun teh itu?” tanya pemuda itu. “iya benar, bagaimana kabar kawan-kawan kita di sana? sudah menjadi apa mereka semua sekarang?” tanya Ben. “Waduh kalau mengenai itu, ini menyedihkan sebab kebanyakan dari mereka telah tertangkap oleh Jepang dan tidak tahu lagi kabarnya bagaimana, tetapi kalau Noer saya tahu, katanya ia sudah menikah dengan salah satu konglomerat di Bandung” Jawab Suep. Mendengar kabar itu hati Ben langsung tercabik-cabik, ternyata apa yang ditakutinya terjadi kalau kawan-kawannya menjadi korban keganasan pasukan Jepang, terlebih lagi wanita yang selalu dicintainya sudah menikah dengan pria lain.

Wajah Ben yang tadinya senang berubah menjadi sedih dan terdiam, “anda tidak apa-apa tuan?” Tanya Tomo seketika. “tidak apa-apa, ayo kita lanjutkan perjalanan” jawab Ben. Lalu Ben pun berpamitan kepada Syarif, dan segera melanjutkan perjalanan. Ketika di dalam mobil, Ben terus berdiam diri tanpa ada sepatah kata keluar dari mulutnya. Ia lantas mengubah jadwal yang sudah direncanakan, yang sebelumnya ia harus bermalam dahulu di Djakarta, kini ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Bandung. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya ia memikirkan nasib kawan-kawannya dan tak lupa juga kisah kasihnya bersama gadis impiannya, sebab ia percaya kalau di masa depan antara ia dan Noer akan berjodoh nantinya. Apadaya semesta berkata lain, kini kisah kasihnya dengan gadis impiannya benar-benar sudah kandas.

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, sang surya sudah tenggelam dan kini digantikan cahaya rembulan. Kereta api yang ditumpangi Ben dan Tomo akhirnya tiba di Kota Paris van Java, selanjutnya mereka berdua menunggu jemputan di selasar stasiun. Tidak lama datanglah mobil hitam mendekati mereka berdua, seorang pria paruh baya turun dan memperkenalkan diri kepada mereka, “saya Dirman selaku supir tuan-tuan sekalian” ucapnya. “Apakah tuan-tuan akan langsung ke penginapan? atau mau saya antar ke Braga, disana banyak restauran enak-enak” ucap Pak Dirman. “oh iya pak, perut saya juga sudah kelaparan daritadi, kita menuju ke Braga aja sekarang ya” kata Ben. “Mari tuan-tuan kalau begitu saya antarkan” jawab Pak Dirman.

Beberapa saat kemudian mobil yang ditumpangi Ben sudah tiba di kawasan Braga, Ben dan Tomo pun berjalan menyusuri pertokoan untuk menemukan restauran yang tepat. “Sekarang banyak sekali ya pribumi yang makan di Pertokoan Braga” ucap Ben kepada Tomo. “Benar tuan, semenjak negeri ini merdeka kini kawasan ini dijadikan kawasan unjuk harta bagi para konglomerat pribumi” kata Tomo. Perbincangan pun berlanjut hingga satu waktu Ben memutuskan mendatangi salah satu toko pakaian. “Selamat Malam tuan-tuan, ada yang bisa saya bantu?” ucap penjaga toko. Ketika itu suasana toko sedang ramai oleh pengunjung, namun ada satu pengunjung yang membuat mata Ben tidak berpaling. Ya disana Ben secara tidak sengaja bertemu dengan Noer gadis impiannya.

Sekujur badan besarnya pun terasa membatu, jantungnya terus berdetak dengan cepatnya. Sudah sepuluh tahun lamanya mereka tidak berjumpa, kini mereka berdua dipertemukan dalam satu ruangan. Ben tampak bingung harus melakukan apa, apakah ia akan menyapa atau tidak. Tiba-tiba ia melihat pria berpakaian rapi serta rambut klimisnya menghampiri Noer. “Apakah itu pria yang beruntung mendapatkan Noer?” tanyanya dalam batin. “Sepertinya dugaanku tepat, sebab pria itu tampak merangkul pundak Noer” lanjutnya.

Pada saat itu juga, terlintas dalam pikiran Ben tentang memori di masa lalu, pernah suatu kali Noer berujar dalam surat terakhirnya kepada Ben. Ia meminta dengan sangat kepada Ben untuk menjauhi dirinya dan melupakan hubungan diantara keduanya. Ben yang mengingat hal itu langsung menarik nafas dalam-dalam, sebagai seorang pria ia akan menepati permintaan terakhir Noer kepadanya. Suasana pun mulai mencair dan Ben tampak lebih tenang saat berada di dalam toko.

Ben mulai mengantri untuk membayar pakaian yang akan dibelinya. Ia memutuskan segera mungkin akan meninggalkan toko itu dan melupakan kenangan masa lalunya. Namun tidak diduga ternyata Noer kini berdiri tepat di belakangnya dan ikut mengantri dalam barisan yang sama. Jantung Ben kembali berdetak cepat, dunia serasa berhenti berputar, tak sabar ia ingin segera pergi dari toko itu. “Ini tuan barangnya, terima kasih telah berbelanja di toko kami” ucap penjaga toko. “akhirnya…” ucap Ben, Ben pun pergi membelakangi Noer yang sedang membayar di kasir, langkah kakinya pergi menjauhi gadis impiannya itu, semakin jauh langkah kakinya semakin hilang juga rasa kasih sayangnya kepada sang gadis impian.

Cerpen Karangan: Bgustiadi
Blog: Bgustiadi.tumblr.com

Cerpen Sepuluh Tahun merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


You Is Mine

Oleh:
Dedaunan kering memenuhi halaman kelas 11B, membuat Indah yang sedari pagi sudah tiba di Sekolah harus bekerja keras menyapu halaman tersebut. “Rajin sedikit tak apalah, lagian ini tugas piketku”

Cinta Di Wonogiri

Oleh:
Malam ini berandaku ramai, tapi aku merasa sangat sepi. Kulihat ada sebuah inbox yang baru saja masuk dari Elvin Octaviana yang menulis ~ Elvin Octaviana Hay ka’… cerpennya bagus

Teman Facebook yang Misterius

Oleh:
Saat jam menunjukkan pukul 3 pagi, Andine terbangun dari tidur nyenyaknya. Saat itu waktunya Andine online. Itu kebiasaannya ketika dia tidak bisa tidur… “wow…,, 35 notifications..” ucap Andine reflex.

Lima Belas Juni

Oleh:
Kasih… Atas nama cinta, aku akan menahan himpitan kemiskinan dan kepedihan derita, serta kehampaan yang terasa dalam perpisahan. Atas nama cinta, aku akan tetap berdiri kokoh laksana batu karang

Antara Cinta dan Sahabat adalah Kematian

Oleh:
Pagi yang cerah disaat matahari terbit ribuan burung yang berkicau merdu dedaunan yang berterbangan menemani pagiku disekolah. kutermenung seorang diri diruangan yang kosong,tiba tiba terdengar suara seseorang dari arah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *