Serabi Layla

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 28 August 2016

Seperti kaca cermin, air laut itu memantulkan sekawanan awan putih di antara gelombang-gelombang birunya yang menderu menuju bibir pantai. Sedangkan birunya langit di waktu sore itu seakan tak mau kalah dengan keindahan birunya air laut, ikut bergoyang-goyang ditiup angin dalam kaca cermin alam nan indah.

“Lay! Lihatlah awan-awan itu.”

Yang diseru, tergeming, masih terpukau dengan pemandangan waktu sore yang menurutnya ajaib ini. Bahkan sang laut menampilkan tarian ombak berbuih putihnya yang semakin menulikan sementara pendengarannya dan menajamkan segera pandangannya.

“Lay, lihatlah sekumpulan awan-awan itu.” Yang diacuhkan Layla, kini mengulangi perkataannya dengan nada lembut bersamaan telapak kanannya mengelus-elus mesra rambut Layla.

Layla mendongak. “Haha, kok awan itu seperti membentuk gambar janin bayi ya, A.”

“Iya, Lay,” Yang dipanggil ‘A’ oleh Layla menanggapi dengan tersenyum. Jian menurunkan dagunya dan berjongkok di sisi kursi roda Layla, lalu bertanya, “Puas?” Dipandangnya Layla yang menganggukan kepalanya.

Segera setelah mereka kembali ke daratan, Jian menggendong Layla, sebab pasir pantai tak bisa dijadikan laluan kursi roda. Jian hanya meminta tolong kepada pemilik perahu untuk melipat kursi roda lalu membawanya.

“Pak, tolong letakkan kursi rodanya di tempat yang tadi ya,” Dan dijawab anggukan kepala si pemilik perahu. Sementara Layla, kedua pergelangan lengannya mengikat melingkar di leher Jian. Dan Jian melangkah sambil menggendong Layla dengan sedikit terengah-engah, menyusul kursi roda yang dibawa si pemilik perahu. Layla memandang tersenyum ke wajah Jian untuk menyemangati Jian melalui senyumannya. Sambil melangkah, Jian sesekali melirik wajah Layla, tersenyum pula.

“Kamu kok kuat, Jian, padahal buka puasa masih dua jam-an lagi lho?” tanya canda Layla mengusik keseriusan Jian menggendongnya, terengah-engah dan tersenyam-senyum. Layla berkata lagi, “Ingat lho Jian, aku mau serabi.”

Jian menanggapi ucapan istrinya dengan mengernyitkan keningnya hingga matanya menyipit. Melihat mimik suaminya seperti itu, Layla hilang senyum berganti bersungut-sungut.

Kali ini Jian yang senyum tertawa melihat ekspresi Layla, lalu berkata, “Iya, calon mama, tapi kamunya nggak boleh ‘display’ bibir seperti itu dong.”

“Pokoknya serabi.” Manja Layla merayu.

“Ya, kalau ada, ya,” Jian menggoda.

“Pokoknya serabi, serabii, serabiii…”

“Ya, Ya.” Jian menepuk-nepuk pipi Layla, Layla Aliya, istrinya. “Bangun, Ya, bangun, sudah hampir magrib.”

Membelalak mata Aliya tersadar karena tepukan suaminya. “Serabi, serabi, … serabinya mana, A?” Potongan sisa ucapan di alam mimpi Layla terbawa ke alam sadarnya.

“Serabi?” tanya Jian (bingung), “kamu belum sadar betul ya, Ya?”

Aliya bangun dan bersandar di sisi tempat tidurnya, mengucek mata sementara punggung tangannya menyeka sudut bibir kiri-kanannya yang sedikit basah, dan berkata, “Iya, serabinya mana?”

Jian mengernyitkan keningnya, jeda kemudian bertanya, “Aneh kamu, Ya. Bangun dari tidur jelang magrib buka puasa ini, kok, kamu bisa tahu aku bawa serabi untuk makanan berbuka?”

“Oya?!” Aliya bersuara setengah berteriak karena senang. Lalu serta merta ia memeluk suaminya seperti adegan di dalam mimpinya. Aliya tersenyum. Sementara, Jian masih terheran-heran dalam pelukan Aliya, seraya bertanya, “Ya, Kamu tahu dari siapa, aku pulang kerja bawa serabi buat kamu?”

“Aku tahu dari si pemilik perahu yang membawa kita barusan ke tengah laut.” bisik lembut suara Aliya di telinga kiri Jian sambil ia tersenyum geli. “Trims ya, sayang.”

Jian mengangguk (bingung). Sesaat kemudian mengelus lembut perut Aliya, istrinya.

Cerpen Karangan: Andriyana
http://www.storial.co/profile/andriyong

Cerpen Serabi Layla merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bersamaku Di Istana Bintang

Oleh:
Mobil berwarna silver itu melaju kencang di jalanan yang cukup lengang. Di dalamnya seorang gadis berada di balik kemudi mobil itu. Hujan semakin deras mengguyur. Isak tangisnya tak juga

Persimpangan

Oleh:
Persimpangan itu terdengar seperti “banyak jalan yang harus kau pilih dengan tepat”. Sekali kau berbelok ke arah yang salah, susah untuk kembali lagi. Hal seperti itu yang aku alami

Mendapatkan Cinta Primadona Kampus

Oleh:
“Shila maukah kau berkencan denganku?” Seorang pria yang mengejutkan Shila dengan memegang tangannya. “Maaf aku tidak bisa.” “Ayolah aku pastikan kamu akan bahagia bila denganku.” “Tidak, maaf aku harus

(Dinda III) Mawar Merah

Oleh:
Kau tahu dinda, malam saat kau melingkarkan kedua tanganmu di pundakku dan mencoba merangkulku, aku tahu bahwa kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Cinta telah bermain-main di kedalaman hati kita,

Hanya Cerpen Kok

Oleh:
Perkenalkan namaku Dian, aku bekerja di sekitar daerah Kabupaten Bekasi. Pagi ini sama seperti kemarin, aku lagi malas naik motor sampai ke tempat kerja, makannya aku berangkat lebih pagi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *