Sesederhana Cinta Adikku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 7 October 2014

Sepulang sekolah, aku bergeges masuk ke kamar. Viola, ternyata ada di dalam sedang mengambil sesuatu di lemarinya yang tidak berpintu. Tidak aneh lagi bagiku melihat barang miliknya berantakan di dalam lemari yang tidak pernah menyembunyikan pemandangan kacaunya. Seminggu setelah lemari itu diberikan ayah, Viola merusaknya ketika dia membuka pintu lemarinya dengan kasar. Entah setan apa yang sedang merasuki jiwanya hingga sekuat itu tangannya dapat mematahkan sebuah pintu lemari yang selama ini sudah setia menutupi pemandangan kacau isinya.

“Eh, kak. tadi di sekolah Viola, ada anak baru. Namanya Gery” Seru Viola ketika menyadari aku sudah ada di dalam kamar.
“Oh, ya? Ganteng? Pasti kamu suka?” Tanyaku dengan nada menggoda.
“Suka apanya? Viola malah risih. Dia dari Bali, pastinya anak pintar. Viola takut dia akan menggeser posisi Viola di kelas” Kesalnya.
“Oh, jadi dia sekelas sama kamu?” Aku berusaha menanggapi.
“Iya, malahan duduknya di belakang Viola, kak” Ucapnya
Aku tidak lagi berkomentar. Kurasa, Viola memang benar. Tidak mudah mempertahankan prestasi, apalagi jika saingan bertambah. Tapi, aku yakin dia pasti mengerti apa yang harus dia lakukan.

Detik, menit, jam, dan hari kulalui tanpa ada yang istimewa. Viola, adikku yang tengah duduk di bangku sekolah dasar kelas tiga, selalu membagi ceritanya ketika aku pulang dari sekolah. Termasuk tentang Gery, anak baru yang belum genap satu bulan sekelas dengannya. Dia, yang dulunya mengkhawatirkan posisinya di kelas tergantikan oleh Gery, ternyata malah berteman akrab dengannya.

Siang itu, Viola dan Gery sedang SMS-an. Aku tidak tahu dan memang tidak ingin tahu dengan apa yang tengah mereka perbincangkan. Sesekali kulihat adikku, Viola, memegang ponselnya sambil senyum-senyum. Dasar anak kecil, pikirku.
Hingga suatu ketika, sudah tidak ada balasan dari Gery. Sebenarnya, dia tidak terlalu peduli, karena dia sendiri juga terlihat sudah bosan. Tapi entahlah apa yang sedang Viola pikirkan. Sesekali dia masih melirik ponselnya.

Malam ini, aku menyelesaikan tugas sekolah yang masih menumpuk. Begitu juga Viola. Kami berdua tangah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Namun, kadang saling bicara.
“Kak, pulsa Viola habis. Padahal ada banyak pesan masuk dari Gery” Viola mengadu.
“Lalu?” Komentarku singkat
“Gery mengira Viola sedang marah, kak. Karena pesannya tidak dibalas” Katanya kemudian.
Aku hanya diam, fokus menyelesaikan tugas sekolahku, tidak tertarik dengan masalah ini. Viola sepertinya sedikit kesal denganku. Kulirik dirinya yang tadi sedang belajar di atas tempat tidur. Ternyata, sudah terlelap dengan buku yang masih menempel di tangannya.

Kulihat ponselnya, sedang berada di samping buku. Rasa penasaranku membuat sistem saraf tubuh ini mengirim sinyal pada otakku untuk meraih ponsel itu lalu membukanya. Ada banyak pesan dari Gery. Kucoba baca satu persatu.

Viola?

Begitulah isi pesan pertama dari Gery, yang kubaca. Kemudian aku buka lagi pesan lainnya.

Kenapa nggak dibalas?

Viola, balas dong..

Kamu marah ya, sama aku?

Maafkan aku..

Tadi siang, ada gangguan operator. Jadi, aku nggak bisa lanjutin balas sms kamu
Maafkan aku, Viola..

“Banyak banget pesan dari Gery!” Gerutuku sambil masih melihat-lihat pesan lainnya. Dan ternyata, ada satu pesan yang belum dibaca. Aku mencoba membuka pesan itu, tentunya tanpa sepengetahuan Viola yang sedang terlelap.

Viola.. kamu benar marah sama aku? Maafkan aku. Aku cinta kamu

Cinta? Gery cinta Viola? Viola adikku itu? Aku sungguh kaget ketika membaca pesan terakhir yang belum sempat terbaca oleh Viola. Isinya sungguh gila. Entah apalah, aku juga tidak mengerti arti semua ini.

Hari ini aku menemani mama belanja ke ‘Angga Fashion’. Sebenarnya bukan hanya belanja. Mama, ingin sekalian bertemu sama tante Vani, sahabat Mama waktu adikku masih di taman kanak-kanak dulu, pemilik ‘Angga Fashion’ itu. Mereka jarang bertemu semenjak Viola dan anak tante Vani tidak satu sekolah lagi.
“Masih ingat nggak waktu Angga bilang gini ke Dika, kamu pasangan sama Gisha dan aku sama Viola” Ujar tante Vani menirukan gaya bicara anak kecil seraya mengingat masa-masa saat anaknya, Angga, masih sekolah di taman kanak-kanak dulu.
“Masih lah. Mereka dulu memang lucu. Sudah bisa milih-milih cewek” Kata Mama gemas sambil tertawa-tawa kecil bersama tante Vani.
Aku hanya tersenyum mendengar percakapan dua orang sahabat itu. Sebenarnya, bukan karena tentang apa yang dibahas oleh mereka, melainkan lebih kepada kata-kata Angga, yang barusan diperagakan oleh tante Vani.

Waktu kecil, Angga sangat manis. Dia berteman baik dengan Dika yang menyukai Gisha, sepupu Viola yang juga teman baik Viola. Angga, juga anak yang pendiam. Tapi secara diam-diam itulah dia menyukai adikku, Viola. Lucu sekali rasanya. Padahal mereka belum mengerti cinta dan hanyalah seorang anak kecil yang masih duduk di taman kanak-kanak.
Saat sedang asyik menerawang seluruh sudut ruangan yang isinya tertata rapi, Mama memanggilku untuk bersiap pulang. Kami berpamitan pada tante Vani, yang mengharapkan kedatangan kami lagi, kapanpun itu.

Ketika sudah tiba di rumah, seperti biasa, aku selalu bergegas menuju kamar. Ada Viola di dalam, sedang berusaha merapikan pakaian di lemarinya.

“Ada cerita menarik? Dari Gery mungkin, atau teman yang lain?” Umpanku ketika kurebahkan tubuhku yang lelah di atas tempat tidur.
“Tidak ada. Viola dan Gery saling cuek, kak” Katanya cemberut.
“Kenapa bisa begitu?” Tanyaku lagi.
“Viola juga tidak tahu, kak. Viola merasa canggung di dekatnya. Viola pikir, Gery juga begitu pada Viola” Jawabnya.
Aku terdiam sejenak. Kemudian, aku bangkit dari tempat tidur dan beranjak keluar. Di ruang tengah, ternyata ada Siva, adik sepupuku, sedang asyik menonton televisi. Aku mengahampirinya dan sedikit berbincang-bincang.
“Angga? Dia minta nomor ponsel Viola lewat kamu? Lalu, Viola memberinya?” Tanyaku heran, di tengah-tengah perbincangan kami ketika Siva memberi tahuku tentang ini. Ternyata, Angga adalah kakak kelas Siva di sekolahnya. Angga mengetahui hubungan kerabat antara Viola dan Siva, karena dia sering melihat Siva bersama Viola entah dimana.
“Iya, kak. Ini nomor ponselnya. Besok, di sekolah akan Siva kasih sama Angga” Katanya, seraya menunjukan kertas yang ada tulisan sebuah nomor ponsel. Aku perhatikan nomor ponsel itu, dan kurasa ada yang aneh. Menurutku ini bukan nomor ponsel Viola.

“Bagaimana hubungan pertemanan kalian?” Kataku suatu ketika, baru datang dari sekolah.
“Sudah kok, kak. Kami seperti biasa lagi” Jawabnya tersenyum.
“Eh, katanya, Angga teman kamu dulu, minta nomor ponsel kamu?” Kataku memberanikan diri untuk bertanya hal itu, seraya mengalihkan pembicaraan.
“Iya, kak. Tapi, Viola nggak mau ngasih. Viola kasih nomor ponselnya Gery saja” Jawabnya enteng.
“Apa?” Kataku kaget. “Apa kamu tidak berpikir dua kali melakukan hal segila ini?” Lanjutku. Astaga, pantas saja. Ternyata benar yang kulihat waktu itu bukan nomor ponselnya Viola. Aku mengerti anak seumuran Viola, melakukan hal ini hanya untuk main-main. Tapi, ini akan jadi hal yang rumit.
Aku keluar dari kamar meninggalkan Viola yang masih berdiri terpaku karena bingung dengan tanggapanku. Di ruang tengah ternyata sudah ada Siva, seperti hari sebelumnya.
“Sudah kamu kasih nomor ponsel minggu lalu?” Tanyaku pada Siva, tanpa basa-basi.
“Eh, kakak. Hmm, oh, nomor ponselnya belum Siva kasih, kak. Sudah satu minggu ini Angga tidak terlihat di sekolah” Jawabnya sedikit kaget dengan kehadiranku.
“Oh, begitu” Kataku singkat, sedikit lega.
“Tapi, besok akan Siva titipkan sama Dika saja, kak. Teman baiknya Angga. Siva tidak ingin menyimpan kertas ini lama-lama” Ucapnya dengan sangat polos seraya menunjukan kertas berisi nomor ponsel yang sudah terlihat kucel.
Dengan tanggap, segera kuraih kertas itu dari genggaman Siva. Kuganti nomor ponsel itu dengan nomor ponsel Viola yang sebenarnya. Siva sedikit bingung melihat tingkahku. Namun, kujelaskan padanya bahwa aku hanya menggantikannya dengan kertas yang baru. Untung, Siva menurut saja.

“Kak, Viola ada cerita. Mau tau nggak?” Godanya membuatku sedikit penasaran.
“Tentang apa? Ceritakan saja” Tanggapku lemah.
“Tadi di sekolah, Gery bilang dia cinta sama Viola, kak. Terus..”
“Hah? Yang benar saja kamu?” Potongku kaget sebelum Viola selesai bicara.
“Iya, kak. Terus dia juga bilang, kamu mau nggak jadi pacar aku? Gitu, kak” Ucapnya santai.
“Jadi, ternyata benar dia suka sama kamu?” Tanyaku keceplosan.
“Hmm, memangnya, kakak sudah tahu sebelumnya?” Dengan heran, Viola bertanya balik.
“Eh, bukan. Itu.. Maksud kakak, kakak hanya menebak” Aku berusaha tenang. “Lalu, kamu menjawab apa?” Lanjutku penasaran.
“Viola bilang, Viola tidak bisa, kak. Viola tidak ingin merusak pertemanan ini. Viola tidak ingin mengubah keakraban di antara kami. Viola tidak ingin kehilangan Gery, suatu saat nanti. Maka dari itu, Viola berjanji kepada Gery, akan menyimpan perasaan itu. Viola juga berjanji akan menjadi sahabat bagi Gery, selamanya” Jelas Viola menerobos panjang lebar, tanpa sempat aku potong lagi.
“Kamu bilang begitu?” Kataku tidak yakin.
“Tentu saja. Gery, senang dengan janjiku itu. Dia memahamiku” Ucapnya tersenyum lega.
Benarkah begitu? Tepat sekali!, hatiku bergumam takjub. Adikku, Viola, yang selama ini kukenal masih labil dan sungguh polos, ternyata bisa sedewasa itu menghadapi sebuah perasaan yang luar biasa. Aku tidak percaya, benar-benar tidak percaya.

Tutt.. Tutt..
Ponsel Viola berdering, memecah hening di antara kami. Hening karena aku yang terdiam kaku, meyakinkan sesuatu. Hening yang membuat Viola heran.
Diraihnya ponsel yang tergeletak di antara buku-buku di meja belajar. Kemudian, dibukanya sebuah pesan baru dari nomor yang tidak dikenal. Aku yang masih terdiam sedari tadi, sedikit mengalihkan perhatianku pada gerak-gerik Viola yang terbengong di depan ponselnya.
“Coba deh, kak. Baca pesan ini” Pintanya seraya menyerahkan ponselnya kepadaku. Segera kubaca pesan yang Viola maksud.

Viola, masih ingat sama aku? Temanmu waktu di taman kanak-kanak dulu. Sebenarnya, aku sudah lama suka sama kamu, mungkin hingga sekarang. Entahlah, kamu sudah tahu itu sejak lama juga atau baru sekarang. Maaf sebelumnya jika pengakuanku ini membuatmu sedikit kaget. Aku hanya ingin memberitahumu, bahwa beberapa hari yang lalu aku sudah berangkat ke Bandung, pindah sekolah. Aku berharap, kamu tidak pernah melupakanku sebagai teman kecilmu yang akan merindukanmu suatu saat nanti.
Salam dariku, Anggara irfanda 🙂

Aku tercengang membaca pesan, yang ternyata dari Angga, orang yang dulu waktu kecil menyukai adikku, dan mungkin hingga sekarang. Seperti yang dikatakan sendiri olehnya. Ternyata hal itulah yang mendasari alasannya mencari nomor ponsel Viola. Aku mengerti sekarang. Namun entahlah dengan Viola.

Aku tidak menyangka, adikku, Viola disukai oleh dua sosok orang yang tidak terduga. Pertama, Gery, yang merupakan anak baru di sekolahnya, telah menyatakan cintanya pada Viola. Kemudian, Angga, teman kecilnya sewaktu masih di taman kanak-kanak dulu yang telah lama menyukai Viola hingga sekarang, atau bahkan hingga suatu saat nanti.
Cinta yang polos, sepolos diri mereka yang masih anak-anak. Belum terlalu mengerti cinta. Namun, dapat menaklukannya. Sungguh sederhana. Ya, ini memang sungguh sederhana. Sesederhana cinta Viola, adikku.

Cerpen Karangan: Melinda Rahmasari
Facebook: Melinda Rahmasari
Nama: Melinda Rahmasari
TTL: Kuala Pembuang, Kalimantan Tengah. 06 Desember 1997
Sekolah: SMAN 1 Kuala Pembuang, kelas XI IPA 1

Cerpen Sesederhana Cinta Adikku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Orang Ke 3

Oleh:
“Maju Sar, MAJU! Lo gak mungkin disini terus” well, itu adalah salah satu kalimat yang sama sekali gak asing dalam hidup gue. Oh ya, nama gue Sarah. Cewek yang

Daun Yang Gugur

Oleh:
Ini adalah kisah cintaku yang ketujuh. Semua bermula dari cinta lokasi. Dia bernama Akegami Tomoe. Aku melihat Tomoe pertama kali, saat Tomoe melewati kursi yang aku duduki. Aku melihat

Nostalgia

Oleh:
Langit kuning kemerah-merahan, di ujung sana tampak setengah lingkaran matahari, cahayanya mulai meredup, teduh, terbias di permukaan danau yang terbentang luas. Angin nan dingin menyelimuti daerah puncak. Di dekat

Kita

Oleh:
“menurut lo, gue itu gimana sih?” riana menatapku lekat. Oh please, jangan balik ke topik ini lagi.. Kita sudah ngebahas ini sekitar lebih dari seribu kali “ri, just please.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *