Seseorang Di Atas Loteng (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 21 January 2016

“Miyaaaa…”

Dari balik pintu kamar terlihat seorang wanita memanggil sebuah nama dengan nada manja. Wanita itu mempunyai mata yang sama dengan nama gadis yang dipanggilnya barusan. Begitu ia melihat sosok gadis yang dipanggilnya, ia langsung memeluk erat gadis itu. “Ibuuuu, aku kan bukan anak kecil lagi.” Miya meronta pelan. “aaahhh.. habis anak ibu satu-satunya mau pergi.”
“Ibuuuu.. ini kan cuma study tour sekolah. Lagian Miya cuma pergi dua hari”
“ahhahaha.. iya iya.”

Sejak kepergian orang itu lima tahun yang lalu, kedua orangtua gadis itu menjadi lebih perhatian padanya. Ia sangat berterima kasih pada orang itu. Orang yang telah memperdengarkan melodi kehidupan dan mengajarkan beberapa pelajaran hidup yang berharga padanya. Sekarang semua begitu terlihat baik di mata gadis itu. Tapi.. kenyataan tentang tak ada yang bisa ia lakukan untuk membantunya.. membuat gadis itu merasa bersalah.

“Nah, makan malam sebentar lagi siap. Ibu tunggu di bawah yaa.”
“Iya. Setelah selesaikan ini Miya akan ke bawah.” Kemudian wanita itu turun meninggalkan gadis bermata cokelat itu sendirian. Miya bangkit dari duduknya dan bergegas merapikan beberapa barang yang belum ia masukkan ke dalam tas miliknya. “Yooshhh.. beres.”

Miya merenggangkan otot tubuhnya. Setelah selesai berkemas, ia bergegas menuju ke arah pintu. Namun tiba-tiba, hembusan angin bertiup dari arah jendela kamar dan menghentikan langkahnya. Hawa dingin yang dirasakannya, sejenak mengingatkan ia pada seseorang yang telah mengubah kehidupannya. Gadis itu pun kemudian berbalik mendekati jendela. Ia memandangi pekatnya langit malam sebentar sambil berbisik pelan pada seseorang di kejauhan.

“Hei.., apa kabar? sekarang kau sudah tidak apa-apa kan?” Kemudian gadis itu menghela napas panjang, “Haaaah.” Lalu ia menopang wajahnya dengan tangannya. Kali ini ia memejamkan matanya sebentar, ia membiarkan angin malam menerpa wajahnya yang putih. Sambil terpejam, ia meminta maaf dalam hati kepada seseorang di kejauhan. “Maaf.. Maafkan aku..” Setelah mengatakan itu, embun hangat jatuh membasahi pipinya. Sontak gadis itu langsung mengusapnya. Ia pun bergegas menutup jendela kamarnya dan turun ke bawah sebelum ibunya datang menjemputnya kembali.

“Hei.. apa kabar? sekarang sudah tidak takut padaku kan?”

Miya mengacuhkan pertanyaan Leon dan ia hanya merespon pertanyaan Leon dengan helaan napas panjang. “Haaaah.” Sekali pun Leon menggoda Miya dengan senyuman manisnya, Miya tetap tidak mempedulikan Leon. Mood Miya benar-benar sedang buruk sekarang. Hari ini di sekolah, ia mendapatkan tugas kelompok dari gurunya. Bukan tugasnya yang jadi masalah, tapi untuk pertama kalinya ia harus berkumpul lama dengan banyak orang. Hal yang paling membuat seorang introvert seperti dirinya merasa bete. Miya sudah mengatakan pada teman sekelompoknya kalau ia yang akan selesaikan semuanya sendiri. Lagi pula ia bisa menyelesaikannya lebih cepat dari mereka. Tapi, teman-temannya malah memandang aneh dan menatap sinis dirinya. Sejak kejadian itulah wajah Miya berubah menjadi muram.

“Miyaaaaa.. Hei.. Miyaaaaa.. Miyaaaaa.” Kali ini Leon memanggil nama Miya sambil menampakkan wajahnya di dekat wajah Miya. Namun, usahanya tetap sia-sia. Miya hanya diam saja dan menatap wajah Leon dengan tatapan kosong. “Kussso, kenapa sih Ayah berhenti home schooling-ngin aku dan malah masukkin aku ke sekolah biasa? Kan lebih enak home schooling.” Leon mulai putus asa karena Miya terus mengacuhkan panggilannya. Kemudian Leon iseng berjalan ke belakang Miya. Ia berjongkok pelan dan mendekatkan mulutnya ke leher belakang gadis yang sejak tadi mengacuhkannya. Kemudian.. Fuuuhhh..

“Hhiiiiii…..”

Leon meniup leher belakang gadis itu untuk mencuri perhatiannya. Sontak Miya kaget dengan hawa dingin yang terasa di belakang lehernya. “Apa-apaan sih?” Gadis itu pun jadi kesal karena kelakuan Leon. “Hehehe.. habis sejak tadi aku panggil, Miya malah diam aja.” Leon tersenyum manja sambil memainkan ujung rambutnya. Melihat tingkah dan jawaban Leon atas aksi isengnya, mood gadis itu jadi semakin bertambah buruk. “Haaahh.. Leon gak pernah punya masalah sih, jadi selalu bisa ceria.”

“O-oh..ya.” Miya bicara sambil duduk meringkuk, ia menundukkan kepalanya ke atas tangan yang terlipat di atas lututnya. Sehingga ia tak menyadari senyum Leon yang mulai memudar dari wajahnya ketika mendengar kata yang ke luar dari mulutnya. Leon pun hanya menanggapi singkat perkataan Miya tadi. Kemudian seisi loteng hening seketika, keduanya sibuk tenggelam dalam masalahnya masing-masing.

“Semua orang pasti punya masalah. Masalah ada untuk mendewasakan manusia dan membuat manusia belajar agar menjadi jauh lebih baik.” Suara lembut Leon tiba-tiba saja memecah keheningan loteng. Sambil mengusap lembut rambut Miya, Leon berusaha menghibur gadis berwajah muram itu. Mendengar perkataan Leon, gadis itu pun mulai mengangkat kepalanya perlahan. Kemudian ia berbicara terbata-bata dengan rona merah yang tergambar di pipinya.

“ka-kalauoo.. e-e-etoo.. Kalau bertemu orang.. A-atau.. harus mengobrol dengan orang lain. Gi-gimana.. biar gak terlihat canggung dan membosankan?”
“Hah?” Leon bingung dengan pertanyaan yang diajukkan Miya tiba-tiba. “Aku tanya gimana pendapat kamu?” Miya sedikit berteriak pada Leon. Rona merah di pipinya pun terlihat lebih merah dari sebelumnya. “Oh.. hahaha.. Jadi itu masalahnya.” Leon tertawa lepas.

“Huuhhh.. jangan ketawa.” melihat reaksi Leon, Miya merasa menyesal telah bercerita pada laki-laki yang ia pikir bisa ia andalkan. “ahahaha.. maaf.. maaf.” Leon berusaha menahan tawanya. Ia memegang perutnya dengan tangan kiri dan menutup mulutnya dengan tangan kanannya. “memangnya kenapa harus merasa canggung berbicara dengan orang lain?” kali ini Leon menanggapi dengan serius. “eee-etooo.. setiap kali melihat mata lawan bicara, aku merasa mereka memandang dengan sinis. Aku coba ibaratkan mereka seperti labu, tapi gak berhasil.” kali ini Miya tak ragu bercerita.

“Aahh.. Cara itu memang salah. Lagi pula mengerikan kalau kita bicara pada labu yang bisa bicara. Iya kan?”
“Huh.” Miya mengembungkan kedua pipinya sebagai tanda kesal. Miya merasa perkataannya tadi hanya cadaan Leon untuk mempermainkan dirinya lagi. Seolah Leon bisa membaca pikiran Miya, Leon kembali berkata. Ia memberikan sebuah cara untuk berhadapan dengan orang lain kepada Miya. “Kali ini aku serius. Kalau takut membosankan katakan saja ‘aku tidak pandai bicara’. Lebih baik jujur daripada berpura-pura. Kalau takut menatap mata secara langsung, lihat di bagian ini.” Tiba-tiba sentuhan lembut bibir Leon mendarat di kening Miya. Leon memberitahukan maksud yang ia katakan sambil menandai dengan ciumannya.

“Nah, kau bisa coba cara itu.” Setelah mencium gadis itu, Leon berkata seolah ciumannya tidak akan mengusik gadis yang diciumnya. Padahal ciuman itu telah membuat Miya kaget setengah mati. Seluruh wajahnya pun berubah menjadi merah padam. Melihat sikap Leon yang seperti itu, Miya langsung bangkit tiba-tiba dari duduknya. Ia berjalan ke arah tangga terburu-buru tanpa mengatakan apa pun pada Leon. Leon tertunduk lemas, dalam benaknya ia menyesal telah melakukan hal tersebut. Namun tiba-tiba, Miya menghentikan langkahnya. Ia berkata sambil membelakangi Leon.

“kalau aku udah menyinggung perasaan mereka.”
“hah?”
“gimana? apa yang harus aku lakuin?” Mendengar suara Miya, Leon kembali bersemangat.
“minta maaf. Gak ada kata terlambat buat minta maaf. Kalau gagal pun kau sudah berusaha untuk minta maaf.”
Mendengar perkataan Leon, muncul sedikit keberanian dalam diri Miya. Meskipun Miya ragu apa cara itu bisa berhasil atau tidak. Kemudian ia berbalik dan tersenyum lembut pada anak laki-laki di atas loteng itu.

“Leon.. arigatou.” Setelah mengatakan itu, dengan wajah mulai memerah Miya buru-buru menuruni tangga dan berlari ke kamarnya. Ia pergi meninggalkan Leon yang bingung dengan kosakata jepang yang ia ucapkan barusan. “Heeeh.. dia ngomong apa tadi?”

“Aku sudah selesai. Terima kasih atas makanannya.”

Menu makan malam hari ini adalah masakan jepang dan Miya selesai lebih awal dari kedua orangtuanya. Setelah itu ia bangkit dari kursinya bergegas kembali ke kamarnya. “haaah.. kenapa mi chan buru-buru begitu?” Seorang wanita yang kelihatannya kecewa melihat gadis itu terburu-buru meninggalkan meja makan, menggigit kedua ujung sumpit yang ia pegang dengan bibirnya. “besok Miya harus bangun pagi-pagi.” Gadis itu menjawab singkat pertanyaan ibunya. Kemudian ia memeluk kedua orangtuanya sebagai ucapan selamat malam.
“baiklah sayang. Oyasuminasai.” Ibunya membalas dengan sapaan sambil tersenyum. Kemudian gadis itu bergegas menuju ke kamarnya. Sesampainya di kamar, ia merebahkan dirinya ke atas kasur.

“Haaaah.. masih jam delapan. Oh ya.. tepat hari ini ya?” Gadis itu melirik sebuah jam kecil di atas meja di samping tempat tidurnya. Ia mencoba tidur lebih awal dari biasanya, namun matanya tidak mau terpejam. Bukan karena jam yang masih menunjukkan pukul delapan. Tapi.. hari ini. Tepat di bulan dan tanggal yang sama dengan kejadian waktu itu.
“Hei.. Tidak terasa sudah lima tahun. Entah kenapa.. aku jadi sedikit rindu suara biolamu.” Lagi-lagi gadis itu bicara sendiri. Bicara dengan seseorang yang pernah ia kenal dengan baik. Kemudian ia memejamkan matanya, ia berbisik pelan memanggil nama seseorang itu dalam tidurnya. “Leon.”

Hoooshhh..
Hoooshhh..
Hooooshh..

“Leon.. Leon.. Leoonn..”

Dari tengah lorong terlihat seorang gadis berlari terengah-engah sambil memanggil sebuah nama. Gadis itu berlari dengan wajah ketakutan dan putus asa. Ia berlari terburu-buru menaiki anak tangga menuju loteng, sehingga tubuhnya jatuh tersandung kakinya sendiri. Ia jatuh tersungkur di atas lantai loteng itu. “apa? Ada apa?” Leon menghampiri gadis yang memanggil namanya sejak tadi, dengan wajah heran. Ia mengulurkan tangan kanannya untuk membantu gadis itu berdiri. Kemudian gadis itu menyambut tangan anak laki-laki itu dan mencengkeram kuat tangan anak laki-laki itu.

“Aduh.” Leon mengaduh pelan. Namun rasa sakitnya cepat hilang begitu ia menyadari gemetar kecil dari tangan yang menyentuh tangannya. Wajah Leon berubah menjadi khawatir. “Mi-Miya. Ada apa?” Miya hanya diam tak menjawab. Wajahnya tertunduk lemas sambil terus memegangi tangan Leon. Kemudian ia berkata pelan memanggil nama anak laki-laki itu sekali lagi, sambil sedikit demi sedikit ia mengangkat kepalanya.

“Leon.”
“i-iya.”
“aku.. Aku tidak apa-apa.”

Leon menatap senyum Miya dengan heran. Gadis itu berkata tak apa-apa sambil tersenyum dengan wajah khawatir. Leon masih menatap Miya dengan wajah bingung, kemudian ia berkata dalam hati sambil mengacak-acak rambut peraknya. “Dia bilang tidak apa-apa, tapi kenapa menangis dan gemetar ketakutan begitu. Lagi pula kenapa dia datang seperti itu. Seperti habis melihat hantu saja.. EH-HAN-TU?? Oh iya, sekarang dia memang sedang melihatnya.”

“Ah-ya. baguslah kalau kau baik-baik saja.” Leon berkata sebisanya sambil tersenyum dan mengusap lembut rambut gadis itu. Ia berusaha menghilangkan kekhawatiran di balik senyuman gadis itu. Miya pun membalas senyuman Leon. Setelah mereka saling berbalas senyum, tak satu pun dari mereka saling bicara. Loteng itu pun berubah sunyi selama 10 menit. Selama 10 menit Leon hanya memandangi Miya yang sejak tadi terus menoleh ke arah tangga. Ia melihat tangga itu setiap satu menit sekali dengan wajah khawatir dan takut.

“sudah 10 kali.” Tak sabar melihat kelakuan Miya, kali ini ia yang merasa frustasi dan dipermainkan. Leon bangkit dari duduknya dan berteriak kesal sambil mengacak-ngacak rambut peraknya lagi. “Aaarrgghh.. ada apa sih? Kalau ingin pergi ke bawah, pergi aja. Gak ada yang menahan kamu di sini.” Kaget mendengar teriakan Leon, Miya pun langsung menoleh ke arah Leon. Miya menatap Leon dengan tatapan nanar, melihat itu pun Leon jadi tak tega melanjutkan marahnya. Kemudian ia kembali duduk dan bertanya lagi pada gadis itu, kali ini ia bertanya dengan suara lembut.

“Sebenarnya ada ap..” Belum selesai Leon mengucapkan kalimatnya, Miya langsung menyela sambil memeluk erat Leon.
“Gak apa-apa. Aku gak apa-apa. Sekarang.. aku mau di sini sama kamu.”
“e-ee-to.” Leon meminjam istilah Miya dan mengucapkannya dengan lisan Belandanya. Biasanya Miya selalu bersikap malu-malu padanya, tapi kali ini.. “Leon.. Aku mau tanya. Kenapa? kenapa kamu bisa ada di sini?” Kali ini Leon semakin bertambah bingung. Tidak hanya sikap Miya yang aneh. Tiba-tiba saja Miya kembali menanyakan pertanyaan waktu ia pertama kali bertemu dengan Leon sambil mendekap Leon dengan erat. Seolah gadis itu tidak mau kehilangan dirinya.

“Ee-i-ituuu.” kali ini Leon yang berkata dengan tergagap. Ia tidak mau mengatakan yang sebenarnya. Tapi, ia takut berbohong pada gadis itu. Ia takut membuat gadis itu marah, terlebih lagi dengan jarak sedekat ini. Kemudian, dengan sedikit keberanian Leon berkata bohong sambil memejamkan kedua matanya.
“A-A-A-Alice. Alice pergi mengikuti kelinci putih lalu aku pergi mengikuti Alice dari belakang. Dan.. dan.” Tiba-tiba saja Leon berhenti meneruskan kalimatnya, karena tiba-tiba saja Miya melepaskan dekapannya. Leon membuka matanya sebelah, ia mengintip melalui mata kirinya sambil meneruskan kalimatnya dengan pelan.

“Dan begitulah aku sampai di sini. Se-sementara Alice.. sampai di wonderlaaa.” Leon menyelesaikan kalimatnya dengan cacat. Ia tidak menyebutkan wonderland dengan benar karena ia terlalu bingung melihat wajah Miya yang tersenyum mendengar jawabannya. “dia tidak marah?”
“kalau begitu aku akan mengikuti kelinci putih dan Alice bersama Leon.” gadis itu berkata sambil tersenyum lembut dan menggandeng tangan anak laki-laki di hadapannya.
“mulai sekarang, aku akan terus bersama Leon. Menemani Leon di sini. Dan.. kalau pun tempat ini musnah, aku akan pergi ke mana pun bersama Leon.” Wajah heran Leon berubah menjadi wajah yang penuh amarah. Ia mengerti dengan apa yang diinginkan gadis itu. Tapi, ia tidak mengerti apa yang membuat gadis itu berpikiran seperti itu.

“Terus bersama? Bodoh, jangan bercanda. Ini rumahmu, Miya gak perlu pergi ke mana-mana. Lagi pula aku ini-aku-sebenarnya.. cih.” Leon benar-benar kesal sekarang. Ia kesal bukan pada Miya tapi pada dirinya yang tidak bisa bicara terus terang. Baginya berkata jujur hanya akan membuka luka-luka masa lalunya saja. Leon tak ingin melanjutkan perbincangan ini dengan Miya. Kemudian Leon melepas genggaman tangan Miya dengan kasar dan bergegas pergi ke sudut gelap di ruangan itu. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti ketika mendengar perkataan Miya yang lebih mencengangkannya. Seketika matanya melebar dan pupil matanya menyempit. Butiran keringat kecil pun jatuh dari dahi ke pipinya.

“Mati. Kau sudah mati kan? Sudah ku bilang, aku akan terus bersama. Jadi.. sebentar lagi aku-aku.. menyusulmu.” Miya mengatakan itu dengan gemetar, sementara Leon berdiri mematung membelakangi Miya. “Di bawah sangat menakutkan. Jadi.. pasti sebentar lagi aku…” Miya terduduk lemas dan terisak pelan. Ia tidak melanjutkan kata-katanya. Sementara Leon berjalan menjauhi gadis itu. Kemudian sosoknya menghilang tiba-tiba tanpa terdengar suara langkah kaki sedikit pun. Leon meninggalkan Miya menangis sendirian di loteng itu tanpa mengatakan apa pun.

Bersambung

Cerpen Karangan: Asiah Musthofawi
Blog: blackrabbit.blogspot.co.id

Cerpen Seseorang Di Atas Loteng (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Waiting To Lose (Part 1)

Oleh:
Setiap kali waktu mempertemukan Edo dan Emily. Setiap kali mereka dihadapkan pada sebuah keputusan, hal itu semakin buram dan kelabu. Dua orang yang saling mencintai namun tak pernah ingin

More Then

Oleh:
Aku tinggal di sebuah kota dermaga pinggir lautan. Sebuah kota bernama Loisiana, saat malam datang kota ini akan tampak seperti sebuah kota terapung di atas lautan luas. Di ujung

Strawberry City

Oleh:
Pagi itu, Chika menggendong ranselnya melintasi rel kereta api dan berjalan menuju jembatan penyebrangan. Sinar kegembiraan terpancar jelas pada raut wajahnya. Pagi itu, ia sangat gembira sekali. Strawberry city

Dream World

Oleh:
“Key, aku sangat penasaran dengan markas pink di taman dekat rumahmu itu!” Seru Kalissa tiba-tiba. “Ya, aku juga. Anehnya, semua orang tidak melihat ada markas pink di taman itu”

Alarm

Oleh:
Tiga hari Aminah sulit tidur. Padahal dia tidak memiliki beban pikiran apapun. Dia mendapat beasiswa di perguruan tinggi yang diinginkannya, hubungan dengan keluarga dan teman-temannya pun baik-baik saja. Sekitar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *