Sesuatu Yang Menghilang

Judul Cerpen Sesuatu Yang Menghilang
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 20 October 2016

Diambilnya kertas dari buku tulis pelajaran bahasa indonesia lalu disobeknya sembarangan setelah itu digumpalkannya dengan keinginannya. Lalu seonggok kertas yang sengaja digumpal itu menjalankan tugasnya. Dibidik kepala seseorang yang duduk tenang mengikuti pelajaran yang berjarak tiga bangku di depannya. Dilemparkan kertas itu, lalu tepat mengenai saasarannya. Seseorang yang dibidik tadi pun merasa terganggu dan menoleh ke belakang, menyipitkan matanya mencari seseorang yang melemparnya namun tidak menemukan siapa pun yang mencurigakan. Merasa pekerjaannya berjalan dengan lancar ia pun menjalankan aksinya kembali, menyobek, menggulung, membidik, lalu melemparkan kertas ke sasaran yang sama. Sasaran menoleh, tapi dia berpura-pura tidak melakukannnya. Berkali-kali hingga yang dijadikan sasaran mulai kesal dan…

“Ibu, ada orang yang melempari saya kertas dari tadi” lapor sang sasaran.
“Siapa yang melempar kertas ke Mutia?” Tanggapan Ibu guru itu membuat sang pelempar kaget. Namun, masih bisa menenangkan diri. Dengan santainya dia mengacungkan tangan kanannya lalu berdiri.
“Saya bu”
“Alpin, kamu sedang apa saat palajaran saya?”
“Saya mempraktekkan peribahasa yang sedang ibu jelaskan bu” Semua orang di kelas Nampak kebinggungan. Dengan tampang binggung ibu guru bertanya lagi.
“Apa maksudmu nak?”
“Peribahasa Lempar batu sembunyi tangan bu” Seketika itu juga seisi kelas tertawa.
“Astagfirullah Alpin, sekarang juga kamu berdiri di depan kelas sampai pelajaran ibu selesai”
Alpin pun berjalan ke luar kelas.

“Ibu saya izin ke kamar kecil.” Mutia berjalan ke luar kelas, namun saat berjalan di depan Alpin dia berhenti. Lalu dia menoleh ke arah Alpin menjulurkan lidah lalu berkata.
“Rasain” kemudian pergi dengan rasa kemenangan lalu mengibaskan rambutnya. Setelah beberapa meter menjauh irama langkahnya mulai berganti sekarang dengan lompatan kecil yang senada dengan lagu shake it off yang dengan santai dinyanyikannya. Alpin tersenyum, lalu bergumam.
“Apapun untuk membuatmu tertawa”

Melamun sudah menjadi hobi bagiku saat ini, sebenarnya aku hanya sedang memperhatikan sekitar. Berharap menemukan seseorang yang kucari. Seperti biasanya, aku menunggu pelanggan yang datang untuk membeli tiket pesawat atau mendapatkan sebuah paket wisata. Di tempat favoritku, di depan jendela yang menghadap ke perempatan. Entah sengaja atau tidak aku bekerja di tempat yang banyak dilalui orang, berharap menemukannya.
“Mutia, minggu depan kamu pergi ke kampung inggris untuk sebuah tur wisata ya. Saya jadwalkan jam 10 pagi kamu berangkat dan jam 12 siang kamu jemput klien di bandara.” Bos memberiku sebuah misi.
“Yaaa, siap.” Jawabku dengan lantangnya.

Keesokan harinya aku sudah berangkat, dengan koper berisi keperluanku dan mobil perusahaan menunggu di depan kediamanku. Aku pun berangkat melaksanakan misi dengan menggunakan setelan jumpsuit brokat hitam yang kasual dengan blazer warna pink baby, dengan dipadukan dengan wedges model sporty berwarna krem dan tak lupa pasmina yang senada dengan warna sepatu mempermanis tatanan styleku hari itu. Tak mau buang-buang waktu aku pun langsung menancapkan gas mobil perusahaan yang telah disediakan dan menaruh barang-barangku di kamar hotel. Lalu bergegas menjemput klienku. Besoknya, kuhabiskan waktuku untuk melayani klien sepenuh hati. Saat ada waktu luang aku pun memanfaatkannya untuk berjalaan-jalan. Entah kenapa, aku memasuki gerbang sebuah bangunan yang dipenuh anak-anak yang berlarian dengan riangnya. Membuatku terseret ke dalam sebuah ingatan.

Hari itu, aku sangat kesal karena permohonan liburan ke luar kotaku bersama keluarga ditolak langsung oleh ayah dan ibuku dengan alasaan perkerjaan. Ditambah pelajaran bahasa Indonesia saat itu sangat membosankan. Jadilah aku melipat ekspresi wajahku hingga sejutek-juteknya. Ditengah pelajaran malah ada yang melempariku kertas yang membuatku tambah marah. Sampai berkali-kali, sampai akhirnya kemarahanku kulampiaskan dengan cara melaporkan entah siapapun itu yang membuatku menjadi sasaran.
“Ibu, ada orang yang melempari saya kertas dari tadi” laporku.
“Siapa yang melempar kertas ke Mutia?” Tanggap Ibu guru, dengan setengah marah. Tiba-tiba seorang anak laki-laki mengangkat tangannya sambil berkata dengan lantang,
“Saya bu”
“Alpin, kamu sedang apa saat palajaran saya?”
“Saya mempraktekkan peribahasa yang sedang ibu jelaskan bu” Semua orang dikelas Nampak kebinggungan. Dengan tampang binggung ibu guru bertanya lagi.
“Apa maksudmu nak?”
“Peribahasa Lempar batu sembunyi tangan bu” Seketika itu juga seisi kelas tertawa.
“Astagfirullah Alpin, sekarang juga kamu berdiri didepan kelas sampai pelajaran ibu selesai”
Alpin pun berjalan ke luar kelas. Jawabannya yang konyol itu membuatku tertawa selepas-lepasnya sampai membuatku melupakan semua kegalauanku. Lalu pura-pura izin ke kamar kecil pada ibu guru padahal aku ingin meledek Alfin yang dengan teganya membuatku jadi sasaran mainnya. Sampai di luar dan kutemukan Alfin berdiri di depan kelas aku berkata dengan nada meledek
“Rasain” Entah kenapa, aku kembali riang setelah itu. Mengibaskan rambut lalu pergi sambil bernyanyi kecil.
Aku tertawa kecil setelah menggingat kejadian itu tentunya sambil meneteskan air mata. Kalau diingat-ingat itu adalah awal aku berteman dengannya. Sangat menyedihkan untuk dikenang. Aku masih mencari.

Saat aku berpaling dari kenangan itu seseorang tengah berlari dan terlihat buru-buru dan sialnya dia menabrakku sampai terjatuh. Tapi dia tetap berlari sambil berteriak.
“Maafkan aku, aku sedang buru-buru”
Aku masih terdiam terpaku, tak bisa bangkit bahkan untuk berbalik mengutuk orang yang tidak bertanggung jawab itu. Tapi, aku seperti mengenal aroma ini, aroma yang ditinggalkan oleh orang yang berlari dan menabrakku tadi. Aroma ini…
“Apa ada yang berbeda dari aku hari ini?” tanyanya sambil mengibaskan jaketnya. Aku mencium aroma coklat dari dirinya. Namun aku pura-pura tidak mengetahui apapun.
“Hmm, kayaknya gak ada yang beda tuh. Kamu tetap alpin kan?”
“Ish, kamu payah” dia mengejekku dengan nada marah. “Sekarang aku memakai aroma coklat. Menurut buku yang kubaca, aroma coklat dan buah-buahan dapat meningkatkan mood positifmu” Jelasnya sambil tersenyum ke arahku. Yah, aku merasa buku yang dia baca benar. Aku merasa bahagia.
Aroma ini, aroma coklat yang biasa dipakai Alfin. Saat aku sudah mendapatkan kesadaranku kembali, lagi-lagi aku berlari untuk mencari. Namun, lagi-lagi tak kutemukan.

Aku berjalan sambil menangis, entah apa yang orang-orang katakan tentangku. Aku tidak peduli. Aku berjalan tanpa kompas untuk menunjukkan arah aku hanya butuh ketenangan dan taman bunga. Entah berapa lama aku berjalan hingga akhirnya kutemukan taman bunga yang tenang. Aku pun menghempaskan diriku jatuh di salah satu bangku taman keemasan. Dan langsung hilang kesadaranku, diseret oleh raja mimpi meninggalkan kenyataan. Aku tertidur.

“Woi woi! Masih hidup apa ya ni orang. Woi!”
Aku merasa bahuku seperti disentuh kasar, mungkin lebih tepatnya ini dipukul dan juga aku merasa ada yang meneriakki ku. Ah, siapa sih yang mengganggu jam istirahatku. Aku masih tidak ingin meninggalkan alam bawah sadarku sampai..
“Apa aku panggil guru aja ya, kayaknya orang ini sudah gak hidup lagi”
‘Kurang ajar, aku dikira mati lagi. Ini gak bisa di diemin nih’ jawabku dari dalam hati. Lalu,
“Woi! Pergi sana, ganggu orang lagi istirahat aja. Ganggu aja hidup orang lain aja sana jangan ganggu hidupku kamu ini penggemarku apa?” aku berteriak sekencang-kencangnya. Orang yang ku teriakki hanya benggong lalu tertawa terbahak-bahak. Aku dengan wajah binggung ku pun bertanya.
“Apa ada yang lucu?”
“Hahaha, mengganggu hidupmu? Penggemar? Bhahaha” ia malah tertawa lebih kencang. Hingga beberapa menit, menarik nafas panjang untuk menenagkakan diri lalu berkata
“Aku yang merasa terganggu disini oke? Aku belum mengerjakan pr matematika dan sekarang aku mau menyalin punya temanku. Saat aku mau mengambil tasku yang kutingalkan di taman, ternyata ada kamu yang dengan tidak berdosanya menjadikan tasku sebagai bantal. Jadi siapa yang mengganggu hidup siapa? Penggemar? Whahahaha”
Seketika itu juga wajahku berubah menjadi kemerahan, aku menggambil tas merah marun di balik punggungku lalu memberikannya pada anak laki-laki itu.
“Dan sekarang sudah tidak ada yang mau memberikanku contekan karena aku terlalu lama mengambil tasku”
“Emm, sebagai permintaan maaf aku bisa mengajarimu mengerjakan soal matematika itu” aku merasa bersalah tentunya.
“Yakin anak sepertimu bisa melakukannya?” katanya sambil memberikan buku tugas matematikanya kepadaku, lalu duduk tepat di sebelahku. Sekarang aku bisa lebih jelas melihat siapa orang ini.
“Bukannya kamu yang melempariku kertas, waktu pelajaran bahasa Indonesia kemarin?”
“Ya, itu memang aku. Kamu lambat sekali sadar. Kamu bisa memanggilku Alpin”
Beberapa menit kemudian kami habiskan untuk mengerjakan pr matematika yang menurutku sangat mudah ini. Setelah itu kami menggobrol, tentang hobinya dibidang fotografi, tentang almarhum ibunya yang menyukai taman bunga, tentang adiknya yang meninggal stres karena perpisahan orangtuanya, tentang cita-citanya berkeliling dunia untuk memoteret dan tentang betapa bencinya dia kehilangan.

Aku terbangun, masih di tempat yang sama. Aku ingat aku berjalan dengan gontai sambil menangis. Aku juga masih ingat pandangan orang-orang yang melihatku, seperti berkata “Ada apa dengan gadis ini?” dan wajahku terasa lengket bekas kepedihan. Kini aku benar-benar bangun dengan kesadaran, kurasa aku melihat seseorang itu. Seseorang dengan wajah campuran jerman yang diturunkan oleh ibunya, dengan kamera yang sangat kukenal yang diarahkan berfokus pada bunga di taman dan saat orang itu berjalan mengikuti setapak yang dibuat agar pengunjung dapat berjalan-jalan tanpa takut tersesat dan melintas di depanku. Lagi-lagi aku mencium aroma coklat, apa aku sedang bermimpi? Pikir benakku. Aku terdiam kembali, bukankah aku seharusnya menghampirinya lalu bertanya
“Apakah kamu masih ingat denganku?” bukankah aku seharusnya bertanya begitu?
Tapi, lagi-lagi aku hanya terdiam. Mungkin ini adalah efek samping karena aku terlalu terkejut. Sampai orang itu menghilang dari sudut pandangku pun aku masih terdiam. Aku pun mencoba untuk mengumpulkan kesadaranku yang benar-benar hilang saat itu, dan mencoba untuk mengejarnya. Terus kukejar sampai aku sadar, aku hanya mengejar bayangan. Aku menyerah, kuputuskan untuk pulang ke rumah dan mengistirahatkan jiwa dan ragaku.

Rembulan berganti menjadi matahari, hari berlalu. Keesokan hari tiba. Pagi itu pesawat pun terbang di birunya langit, meninggalkan bunyi bising di bandara. Aku kembali. Entah kenapa, aku lebih memilih mengambil cuti untuk kembali ke sekolah SDku dulu, dari pada kembali bekerja dan melupakan semuanya termasuk kejadian kemarin. Aku merasa sesuatu menarik dan menghasutku. Aku berjalan mengusuri koridor sekolah dulu, itu koridor yang sama yang selama 6 tahun telah kulewati. Melewati semua kelas yang sibuk dengan pelajarannya masing-masing, lalu menuju taman sekolah yang penuh dengan bunga berwarna-warni. Taman ini tidak banyak berubah, disana masih ada kursi panjang yang dibuat dari kayu. Kursi yang biasa kubuat tidur untuk menghindari kepenatan belajar. Aku berjalan menyusuri taman dan menghampiri kursi itu. Kuhempaskan tubuhku menduduki kursi kayu itu lalu memandang sekeliling, terlalu banyak memori yang ditinggalkannya di tempat ini. Tiba-tiba aku menangis aku mengingat sesuatu yang susah untuk dilupakan.
Waktu itu, aku punya banyak masalah dengan orangtua dan teman-temanku. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Aku pun pergi ke taman dan menangis sejadi-jadinya. Dan berteriak sekeras-kerasnya. Entah dari mana, Alpin datang dan berkata,
“Kenapa kamu menangis wahai bunga yang cantik? Alangkah indahnya jika bunga terus mekar dan menebarkan aroma semerbaknya?” kata-kata yang singkat. Namun bisa membuatku mecurahkan seluruh masalahku padanya. Jujur saja, dia teman yang amat sangat baik. Tapi aku tidak menyadari itu sampai dia tiba-tiba menghilang. Mingkin dia pindah sekolah, atau pindah ke luar kota, atau pindah ke luar negeri, atau meninggal. Tak ada berita yang pasti mengenai kepindahannya itu.

Aku menangis lebih kencang, mengingat semuanya membuatku sakit. Aku belum sempat menyadari kehadirannya sampai dia menghilang. Aku belum sempat berkata selamat tinggal bahkan sampai saat ini. Aku belum sempat berkata terima kasih atas semuanya bahkan sampai dia sudah sangat sangat menolongku. Itu yang kesesali, bahkan aku tidak pernah menolehkan pandanganku padanya di saat dia sudah memfokuskan sasarannya pada diriku. Aku menyesal, sangat menyesal. Saat kusadari semua jasanya, aku sudah kehilangan seorang yang berharga.

“Kenapa kamu menangis wahai bunga yang cantik? Alangkah indahnya jika bunga terus mekar dan menebarkan aroma semerbaknya?” kata-kata yang singkat, namun menyadarkanku. Kali ini bukan ingatanku yang berkata. Seseorang dengan suara yang berat berdiri di depanku dan mengatakan kata-kata itu. Dari mana dia tau kata kata itu? Aku pun mengangkat kepalaku dengan rasa penasaran. Seseorang dengan wajah blasteran indo-jerman dengan kamera yang menggelantung di lehernya sedang melihat ke arahku. Dia memberiku tisu untuk menghapus air mata. Dan sekarang telah jelas untukku dia Alpin dengan aroma coklatnya, dengan wajah indo-jermannya, dengan kamera itu. Ya, dia Alpin yang selama ini kucari.
“Alpin? Are you Alpin?” Tanyaku? Dengan refleks aku berdiri dan memeluknya, tentunya dengan tangisan.
“Yes, that is my name. Apakah kita saling kenal?” pertanyaan yang sangat konyol terlontar keluar dari mulutnya.
“Hahaha… Pin, don’t make a jokes” Jawabku enteng, ini bukan waktu yang tepat buat bercanda.
“I’am serious” katanya dengan nada dan mimik yang serius. “Apa kita pernah kenal. Aku lagi nyari teman atau minimal kenalan yang mengenalku. Kata dokter itu sangat membantu dalam merangsang ingatanku kembali”
Gini kiliranku yang bertanya “Are you serious?” Aku terperangah dan hatiku bertanya kemana ingatanmu tentangku? Aku tidak bisa berkata apa-apa saat dia berkata,
“Hal yang paling kutakutkan adalah kehilangan. Saat aku tau aku kehilangan ingatanku, aku mengutuk kecelakaan mobil 1 tahun lalu. Maaf, saat aku melihatmu menangis tadi aku seperti mengingat sesuatu, dan refleks berkata begitu entah kenapa? Aku seperti mengenal tempat ini dan seorang gadis manis yang sering duduk disini. Tapi, rasanya aku kehilangan dia bahkan sebelum berkata Selamat tinggal Semoga kita bertemu kembali. Maaf.” Pernyataan Alpin benar-benar membuatku membisu.

Cerpen Karangan: Fauziah
Facebook: Fauziah Nur Rahma

Cerita Sesuatu Yang Menghilang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hubungan Yang Tak Disangka

Oleh:
Nama gue Septi. Gue punya sahabat terbaik, namanya Puja. Gue sama Puja udah terkenal banget di sekolah karena kekompakkan kami. Gue sama Puja baru kelas 2 SMP. Pada hari

Pelampiasan Cinta Mu

Oleh:
Wanita itu kalau sudah sayang sama seseorang jangan ditanya sayangnya seperti apa pasti sangat sayang dan sayang itu sangat tulus. Begitulah yang aku rasakan. Saat aku kenal dengan Aldi

Perkiraan Ku Benar atau Salah Ya?

Oleh:
Rahma teman SMA aku yang sekarang sefakultas sama aku. Dia memperkenalkan aku dengan Alwi yang juga dari Maros. Awal perkenalan kami biasa saja di secret jurusan Rahma dan kami

Arti Sahabat

Oleh:
“Udah lah, kalo lu lebih memilih cewek itu, mending lu pergi sekarang juga! Biar gue yang tetep berada disini.” tegas Galih dengan nada keras dengan meunjukkan tangannya kearah luar

Tak Percaya Cinta

Oleh:
Masih tertinggal bayanganmu Yang telah membekas di relung hatiku Hujan tanpa henti Seolah pertanda, cinta tak di sini lagi, kau telah berpaling Biarkan aku menjaga perasaan ini, menjaga segenap

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *