Seteguk Harapan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 19 February 2018

Sore itu langit terlihat cerah, warna biru yang dibalut gumpalan-gumpalan putih awan menarik sekawanan burung untuk terbang melintasinya. Rumput dan pepohonan menyisakan beberapa tetes air hujan yang sempat turun beberapa saat lalu. Jalanan pun masih menyimpan genangan-genangan air yang sewaktu-waktu bisa muncrat jika ada yang melintasinya. Memang saat yang tepat untuk istirahat setelah aktivitas harian yang melelahkan. Meskipun tidak banyak yang memanfaatkannya untuk sejenak melepas lelah karena alasan pekerjaan. Seperti sebagian besar mahasiswa di kampus ini, yang masih lalu-lalang keluar-masuk kampus untuk menyelesaikan urusan masing-masing.

Di kampus ini, ada tempat favorit mahasiswa yang digunakan untuk berkumpul. Entah berkumpul karena tugas kuliah, diskusi, rapat organisasi atau mungkin sekedar kumpulan komunitas. Ketika ditanya kenapa suka tempat itu, ada yang bilang “sinyal wi-finya bagus, jadi browsing tugasnya cepat”, yang lain bilang “tempatnya strategis, dekat sama tempat mana aja” ada juga yang bilang sekedar ikut-ikutan temannya. Intinya, tempat tersebut nyaman menurut mereka. “Gedung Pusat Informasi”, demikian nama tempat itu. Di sekitar gedung itulah para mahasiswa banyak menghabiskan aktivitas mereka selepas jam kuliah. Seperti sore ini, gedung tersebut masih ramai oleh aktivitas mahasiswa.

“contohnya sudah kamu masukkan ke slide, Ay?” tanya salah seorang mahasiswa kepada teman perempuannya. Sambil membolak-balik lembaran buku, mahasiswa tersebut mengetik tiap kalimat yang dilihatnya. Jari-jarinya begitu piawai mengetik tombol-tombol huruf pada keyboard laptopnya. Tampak di sudut kanan punggung monitor, tertempel stiker lucu yang bertuliskan “Rizal punya”. Ya, namanya Rizal, mahasiswa jurusan biologi semester V. Dia lumayan popular di jurusannya. Maklum, cowok di jurusan itu adalah kaum minoritas. Bagaimana tidak popular, kalau perbandingan cewek sama cowoknya saja 10 : 2. Meskipun tidak bisa dipungkiri terlepas dari kaum minoritasnya di biologi, yang membuatnya popular juga adalah sikapnya yang cerdas, tanggap, pengetahuannya yang luas dan kepribadiannya yang supel.
“sudah sih, tapi baru satu, cloning domba Dolly aja” jawab teman perempuannya yang belakangan diketahui namanya adalah Aya.
“kalau itu sih sudah banyak yang tau. Coba kamu cari contoh cloning yang pernah dilakukan pada manusia” suruh Rizal ke Aya. Aya mengangguk bersedia.

“Dalilmu sudah ketemu San?” tanya Aya pada Sani yang dari tadi sibuk mengkutek kukunya.
Ya, di sini ada perbedaan mencolok dari dua teman perempuan Rizal. Kalau Aya tipe cewek polos yang cuek sama penampilan, maka Sani tipe cewek fashionista yang peduli banget sama penampilan. Seperti yang dilakukannya sekarang, dia masih sempat menghias kuku di saat yang lainnya sibuk dengan tugas mereka.
”Hemmm…” Jawab Sani masih sibuk menghias kukunya. Aya mengulang lagi pertanyaannya, dan lagi-lagi Sani tak serius menjawabnya.

“Wah, waaaaaaah!! gitu ya, kita sibuk mikir, laaah kamu malah ck.. ck.. ck. Mau tak keluarin dari kelompok?!” gertak Rizal
“Yeeee, biasa aja dong!! Ini juga udah kelar nyarinya”. Ucap Sani membela diri. Rizal tak tak peduli.
Mereka kembali sibuk dengan buku dan laptop masing-masing. Aya sibuk mengotak-atik kata pada mesin pencari di internet. Sani sendiri mengetik dalil yang mendukung dilarang dan diperbolehkannya cloning. Sedang Rizal masih sibuk dengan lembaran-lembaran buku untuk mendukung pendapatnya sebagai kesimpulan dari tugas presentasi. Sesaat suasana hening, hingga akhirnya muncul pertanyaan yang sekelebat melintas di fikiran Rizal.

“Eh, ada nggak pengecualian dibolehkan durhaka, yaa… bukan durhaka sih tapi lebih ke menolak perintah orangtua, selain karena menolak perintah berbuat maksiat?” tanya Rizal tiba-tiba.
Aya dan Sani bengong menanggapi pertanyaan Rizal yang mendadak menanyakan topik diluar pembahasan mereka.

“Yeeee… malah bengong, ada nggak?!” Rizal kembali meminta pendapat kedua temannya
“hemmm…” gumam Sani sambil berfikir keras
“Nggak ada kan?! yaaa… memang nggak ada” kata Rizal menyerah melihat ekspresi kedua temannya yang masih bingung.

“Ya nggak papa kalau pada wanita yang sudah bersuami. Walaupun di sini bukan berarti boleh menentang perintah mereka sih, tapi lebih ke mengutamakan perintah suami atas mereka. Kalau wanita bersuami kan menjadi tanggung jawab suaminya. Bukan lagi tanggung jawab kedua orangtuanya. Makanya, dalam hal ini orang yang pertama harus dia taati adalah suaminya.” Jelas Aya sembari sibuk mengetik tombol-tombol keyboard laptopnya.
“Oh, iya juga sih!! Kata Rizal manggut-manggut tanda setuju dengan penjelasan Aya.

Hari semakin sore, mereka bertiga bergegas pulang setelah merampungkan sekaligus membagi slide yang akan dipresentasikan besok.

Keesokan harinya, usai kuliah Rizal berjalan terburu-buru menuju fakultas. Hari itu praktikum pertama mata kuliah tumbuhan. Sesuai kesepakatan, Rizal yang harus mempersiapkan bahan-bahan praktikum. Tanpa pikir panjang, Rizal langsung melempar tasnya ke rak ketika sampai di laboratorium tumbuhan. Sontak penghuni lab. seluruhnya mengalihkan pandangan ke arah Rizal. Rizal cuek dan langsung saja mengambil jerigen yang berisi aquades di sudut ruangan.

“wah, ngajak ribut ni orang!! Santai aja dong! Kayak preman aja” hardik Lutfi
“Sorry bro, aku lagi buru-buru, praktikum 5 menit lagi, kelompokku belum persiapan apa-apa! jadi kalau mau protes, ngajak ribut atau apa laaah, ntar aja, oke?” tandas Rizal
“ha.. ha.. ha.. ke mana aja kamu, tumben hidup lo ribet!!” ledek Lutfi. Rizal terus menuangkan aquades ke dalam beaker glass, tidak menghiraukan Lutfi.

“aquades sudah, Hydrilla su…
“o.. iiiiya, Hydrilla !!” kata Rizal memotong omongan Lutfi. Rizal panik dan segera mengambil HP di sakunya, kemudian memencet salah satu nama di daftar kontak HP hendak meminta bantuan temannya. Sepertinya bakalan dapat nol lagi, fikirnya. Rizal terbayang ketika masih semester I dulu. Dia dan kelompoknya juga pernah lupa tidak membawa bahan praktikum. Akibatnya, mereka dapat nilai nol dalam praktikum itu dan Imbasnya adalah pada nilai indeks prestasinya. Jika indeks prestasi rendah, maka peluang mendapat beasiswa kecil. Sedangkan beasiswa sendiri bagi mahasiswa adalah sesuatu yang amat penting dan dibutuhkan.

Lutfi hanya diam melihat tingkah polah temannya. Ketika tengah menghubungi temannya, Aya yang kembali satu kelompok dengan Rizal, muncul di depan pintu. Sontak Rizal meneriaki dan berlari kecil menghampiri Aya.

“Ayaaa! Hydrilla-nya…!!”
“Ada apa dengan Hydrilla?” tanya Aya tak mengerti
“Aku… belum… beli… hehee” jawab Rizal sedikit merasa bersalah. “Nggak mungkin beli sekarang kan Ay?”

“terus mau dapat dari mana?” tanya Aya kembali
“pinjem kelas lain. Heee..he ide bagus kan? Iya kaaan?!” jawab Rizal meyakinkan
“ooh” jawab Aya datar sambil mengalihkan pandangannya dari Rizal
“Hmm… itu tadi ekspresi apa ya? Ekspresi setuju? Atu nggak setuju?” gumam Rizal.

Aya berjalan menuju rak tas yang ada di samping kanan pintu masuk. Perlahan dia membuka resleting tasnya, dan menarik suatu bungkusan plastik warna hitam. Rizal mengikuti Aya masih menunggu jawaban.
“Ya, kamu kok diam aja sih, itu sebenarnya ekspresi apa tu, marah? sebel? pasrah? sedih? bahagia? Aaah… ekspresi nggak jel…”
“niiiiih” potong Aya, sambil menyodorkan bungkusan kantong plastik hitam tadi ke depan muka Rizal.

“Ini… Hydrilla?” tanya Rizal terkejut. Tanpa menjawab pertanyaan Rizal, Aya berjalan menuju meja praktikum. Rizal girang mengikuti Aya dan duduk di sampingnya.
“He… he… he… aku tau kok, kalau kamu pasti udah nyiapin” kata Rizal terkekeh
“Iya, aku juga udah tau kok, kalau kamu pasti lupa” balas Aya menyindir. Rizal nyengir memandangi Aya.

Malam harinya, Rizal tidak bisa tidur. Berkali-kali dia berganti posisi, tapi belum juga matanya dapat terpejam. Dilihat jam di layar HP-nya, pukul 11.50 malam, di notifikasi terdapat 18 panggilan tidak terjawab dari nomor yang sama. Sesaat kemudian HP-nya berdering. Ada panggilan masuk, masih dengan nomor yang sama. Kali ini Rizal mengangkatnya. Sambil menghela nafas panjang, dia mencoba menahan gemeruh di dadanya. Rizal terdiam mendengar suara yang terdengar dari seberang.

“Kamu yakin mau putus?” Tanya suara itu meminta kesungguhan
“banget!” Jawab Rizal singkat
Sesaat suara itu tidak terdengar lagi, Rizal menonaktifkan HP-nya sembari memaksakan matanya agar terpejam. Dia kembali terbayang-bayang dengan kejadian sore tadi.

Sore hari usai praktikum, Rizal mampir ke kos Sahrul –teman satu organisasi di kampusnya- untuk sekedar main. Jarang-jarang dia ketemu Sahrul, makanya sekali ketemu dia sempatkan berkunjung ke kosnya dan baru pulang menjelang maghrib. Tepat ketika hendak keluar, tiba-tiba Egi teman kos Sahrul datang membonceng seorang cewek.

“Kamu tunggu dulu sini ya, aku bentar kok!!” kata Egi kepada cewek berkerudung biru yang tengah duduk di teras kos.
“Iya”. jawab cewek itu. Rizal beringsut ke belakang tembok sambil terus memandang cewek itu dari jendela.

“Wooooiii, masih di sini, katanya mau pulang?!” sapa Sahrul sambil menepuk pundak kanan Rizal. Tapi Rizal diam tidak merespon Sahrul. Sahrul mengikuti arah pandangan Rizal yang tertuju pada cewek di teras kos-nya.
“Kenapa? Naksir? lupain aja deh… dia udah milik orang” terang Sahrul
“Maksudnya?” tanya Rizal penasaran
“tu cewek tunangannya Egi, udah dua tahun lalu mereka tunangan”. Jelas Sahrul

Mendengar penjelasan Sahrul, bak disambar geledek, Rizal kaget setengah mati. Mungkin begitulah gambaran perasaan Rizal saat itu. Kakinya terasa kaku, pikirannya kacau, banyak pertanyaan yang berkecamuk di hatinya. Bagaimana bisa, disaat sudah bertunangan, masih bisa-bisanya dia bilang cinta ke orang lain. Mungkin itulah salah satu pertanyaan yang ingin dia lontarkan. Dua tahun sudah dia berhubungan dengannya, dua tahun itu pula ia dibohongi. Ya, cewek berkerudung biru itu adalah Anis, pacarnya.

Dari situlah ia memutuskan mengakhiri hubungannya dengan Anis. Dan malam itu dia masih tidak bisa melupakan momen yang masih menyesakkan dadanya. Kembali dia memaksa matanya agar terpejam hingga akhirnya dia benar-benar terlelap.

Keesokan harinya Rizal kembali disibukkan dengan aktivitas perkuliahan. Mulai dari presentasi, praktikum dan beberapa tugas lainnya dari dosen. Seperti saat ini, dia dan beberapa temannya masih berkutat dengan buku-buku kuliah. Tangannya sibuk membolak-balik lembaran buku yang baru dipinjamnya dari perpus. Hingga sesaat ketika tengah asyik mencari bahan referensi makalahnya, tiba-tiba dia teringat dengan mimpinya semalam.

Dalam mimpinya, dia merasa sangat haus. Dia mencari air, tapi air di galon habis. Kemudian ke dapur, barangkali ada sedikit persediaan air yang tersisa, tapi tidak juga ditemukan di sana. Rasa hausnya semakin menjadi-jadi. Rizal memutar keran yang ada di dapur dengan harapan bisa meminum seteguk air dari keran tersebut, tapi keran mati. Tak habis akal, dia pergi ke kamar mandi, tentunya ada banyak air di bak penampungan, dia akan minum sedikit. Tapi lagi-lagi Rizal harus kecewa, bak kamar mandi pun kosong.

Dia bergegas keluar untuk membeli air dan buru-buru menstarter motor maticnya, tapi entah saat itu untung benar-benar tak berpihak padanya, kali ini motornya macet. Tanpa pikir panjang, dia berlari masih dengan harapan mendapatkan air. Ketika tengah berlari langkahnya terhenti oleh sosok perempuan yang menyodorkan gelas ke mukanya. Anis. Rizal meraih gelas itu dan Anis pun berlalu meninggalkannya. Tanpa menghiraukan kepergian Anis, Rizal segera meneguk air dalam gelas itu. Tapi dia merasa tidak ada setetes air pun yang melewati kerongkongannya. Dilihatnya lagi gelas itu, kosong, tidak ada air dalam gelas itu. Rizal lemas dan terduduk pasrah, tangannya masih menggenggam gelas pemberian Anis. Dia merasa usahanya sia-sia, memang sepertinya tidak ada pertolongan untuknya. Dia biarkan rasa hausnya yang perlahan-lahan terasa mencekik.

Sesaat, di tengah keputus-asaannya, tiba-tiba muncul sosok perempuan lagi berdiri di sampingnya. Perempuan itu merendahkan tubuhnya ikut duduk seraya menuangkan sebuah botol berisi air ke dalam gelas Rizal. Rizal terperangah, dia menengok ke arah sosok di sampingnya, Aya. Tanpa sepatah kata, dia langsung meneguk air itu hingga habis tak tersisa. Betapa nikmat air yang diminumnya saat itu. Aya kembali menuang air ke dalam gelas, dan saat itu pula Rizal kembali meneguknya hingga habis. Hal itu terulang hingga tiga kali. Kini, Rizal kembali bertenaga, rasa hausnya telah hilang bersamaan dengan hilangnya Aya dari pandangannya. Rizal bingung mencari Aya hingga terbangun dari tidurnya.

Waktu berlalu, jam menunjukkan pukul 16.30 WIB. Rizal segera berkemas dan bersiap pulang. Sewaktu melintasi gerbang kampus, pengendara harus menunjukkan STNK ke Satpam, termasuk Rizal. Rizal merogoh saku celananya, tapi STNK-nya tidak ada. Dia buka satu persatu resleting tas dan kembali merogoh, STNK tidak juga ditemukan. Rizal terpaksa masuk lagi ke kampus. Dia kembali ke tempat terakhir kali mengerjakan tugas tadi, barangkali STNK-nya jatuh di sana. Tapi sekali lagi tidak ada. Dia mengecek ulang isi tasnya, siapa tahu dia tadi kurang teliti. Rizal sibuk mengacak-acak isi tasnya, hingga terdengar suara yang mengagetkannya.

“Kamu nyari ini?” tepat di depan mukanya ada sodoran tangan yang memegang STNK. Rizal terkejut, spontan dia memalingkan mukanya ke arah orang yang menyodorkan STNK tersebut. Aya. Rizal tertegun seraya menatap Aya dalam-dalam.
“Akhirnya kutemukan!!” Kata Rizal tersenyum senang.
Entah karena STNK-nya atau karena gadis yang ada di depannya.

Cerpen Karangan: Ulya Rufaida
Ulya Rufaida
siswi MA (Bojonegoro)

Cerpen Seteguk Harapan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senyum Dari Mantan

Oleh:
Aku melangkah melewati koridor sekolah. Sungguh sangat malas rasanya. Nah loe tau gue dari mana? Gue dari jogja pagi-pagi banget. Gila dinginnya minta ampun, untung aja gak minta duit

Faith (Part 2)

Oleh:
Setelah aku bangun dari tidur sore aku langsung mandi dan salat maghrib. Setelah aku hampir lupa mau bbm Nadya tapi untungnya saja aku langsung ingat dan menaruh hp-ku lagi

Surat Terakhir

Oleh:
“dian” sapaku kepadanya saat aku melihat dia berlari-lari dari depan pintu perpustakaan, ia menoleh ke arahku namun tak menghiraukanku dan terlihat airmata telah keluar dari mata indahnya itu. kenapa

My Teacher, My Boyfriend

Oleh:
Dingin angin menemani liburanku dan keluarga di sini. Ramai orang-orang menikmati indahnya pesona Negara Singa ini. Aku kagum dengan indahnya dan rapinya negara ini. Sungguh jauh berbeda dengan Indonesia.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *