Setelah Aku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 13 June 2017

Di keheningan malam, kusandarkan tubuhku pada tembok di dekat ranjangku sambil memeluk boneka kesayanganku. Sejenak air mata mengalir basahi pipiku yang tak berlapis bedak lagi, kuingat kembali apa yang telah kulakukan. Dia pergi meninggalkanku begitu saja. Ada apa? Tak ada alasan yang jelas tentang putusnya hubunganku dan dia. Aku belum menyangka dia memutuskan hubungan kami begitu saja. Sudah seharian ini aku berusaha menemuinya, menghubungi nomor ponselnya, Tapi… dia tak merespon apapun. Tak biasanya kami seperti ini. Setiap masalah yang kadang datang kami mampu menyelesaikannya, tapi mengapa kali ini tidak? Maafkan aku.

Hhmmm… Kuhela nafasku, pagi ini malas sekali rasa tubuhku terbangun dari tempat tidur, rasanya hanya ingin tidur saja. Semalam tak bisa tidur, dan pagi ini aku sangat lelah. Tapi tugas menuntutku untuk turun kuliah. Dengan malasnya kuraih handuk dan menuju kamar mandi. Baru kali ini kurasakan tak semangat dalam hidupku. Bukankah harusnya aku semangat dan memulai hari ini seperti biasanya, jangan patah semangat hanya karena dia memutuskanku. Tapi sepertinya kata itu tak mampu menyemangatiku. Di kampus kami berpapasan, ia tak melihatku. Benar-benar melewatiku begitu saja tanpa menyapa, separah itukah kesalahanku pada dirinya?

Di perpustakaan, kulontarkan seluruh isi hatiku pada sahabatku yang selalu bersamaku, Vica namanya. Dia membuatku selalu tegar dengan kata-katanya seperti ini “Dia membentuk dirimu menjadi apa yang ia mau dan bukan untuk melupakanmu”. Kupeluk erat tubuhnya, dia mengusap pipiku ia berusaha membuatku tersenyum. Ia membawaku menuju rumahnya, ia tak menjelaskan mengapa ia mengajakku ke rumahnya sangat tumben sekali, biasanya aku dan Vica selalu ke rumahku tapi mengapa kali ini ke rumahnya?. Ia tak menjelaskan.

Vica mengajakku ke halaman belakang rumahnya dan membawaku duduk di bawah pohon tepat seminggu yang lalu aku dan kekasihku bersama. Mawar yang ada di pot itu masih seperti terakhir kali aku dan Kevin duduk di tempat itu. Vica menyirami mawar yang sudah tak karuan bentuknya mungkin karena seseorang menginjaknya. Vica senyum-senyum melihatku, aku hanya membalasnya tersenyum. Dia mengarahkan pandangannya pada mawar itu, ia seperti menghipnotisku, kuikuti gerakan matanya. Mawar itu… Membuatku mengerti.

Dan sekarang aku tahu, ternyata dia memutuskanku karena mawar yang ada di pot itu adalah mawar kesukaannya. Seminggu yang lalu tanpa sengaja aku menjatuhkan buku setebal 5 cm di atas bunga mawar itu menyebabkan mawar itu tak beraturan dan beberapa tangkainya patah, bunganya rontok. Masih kuingat saat itu Kevin langsung mengenggam pergelanganku dengan kuat, tak pernah sekuat itu ia mengenggamku, ia menatapku tajam. Aku tak berpikir bahwa dia marah padaku karena mawar itu. Tapi yang pasti dia menganggapku sebagai monster penghancur. Aku harus gimana agar bisa bersamanya lagi, agar dia tak marah lagi padaku. Sepintas sesuatu menghantam pikiranku, menanam mawar yang serupa untuknya.

Lima puluh hari kemudian…
Mawar yang kutanam telah tumbuh dengan indahnya, warna merah pada setiap mahkota bunganya membuatku jatuh cinta. Liburan akhir semester ini membuatku bisa merawat mawar indah ini dengan baik, aku yakin Kevin pasti suka.

Kuraih ponselku lalu mengirim pesan pada Vica, memberitahunya bahwa aku ingin bertemu Kevin. Sesaat kemudian dia membalas.
Iyaa, kevin ada kok.. Ke rumah aja. Aku tunggu.

Aku pun menuju rumah Vica, tak lupa membawa tanaman mawar yang akan kuberikan pada kevin. Kumasuki gerbang rumah Vica, siapa sangka aku menginjak rem tanpa sadar dengan kondisi masih menyetir. Dengan kagetnya mataku tertuju pada satu pandangan tajam. Aku sadar saat itu tanganku mengenggam kuat setir mobil, yang seketika tadi dengan geram kuhentikan mobil. Lalu terdiam sejenak untuk melihat apa sebenarnya yang terjadi.

Seorang gadis sebayaku memeluknya sambil jinjit karena badannya hampir tinggi dengan badanku, begitu caraku memeluk Kevin karena hanya setinggi bahunya. Mimpi apa bukan, itu kenyataan yang terlihat di depan mataku. Jika hanya berdiam di mobil menyaksikan mereka, hanya akan membuatku menangis, sakit sekali menahan tangis seperti ini.

Akhirnya, aku turun dari mobil, membawa tanaman mawar itu, tak kurasa lagi beratnya membawa pot yang hampir menandingi berat badanku. Jalan langkah kakiku mengarah padanya yang sudah dalam posisi tidak berpelukan dengan gadis itu. Tanaman mawar itu kutaruh semeter di depannya. Dia hanya diam melihatku.

Menurutku, aku sudah terdiam sejenak menunggunya bicara. Tapi.. Tak ada sepatah katapun yang ia ucapkan. Tatapannya hanya polos melihatku tanpa ekspresi apapun. Aku yakin, melangkah menjauh dan pergi darinya adalah pilihan yang benar. Hatiku masih tertahan, kupikir dia akan mengejarku atau apalah, mengucapkan terimakasih barangkali. Tapi.. Tak ada sampai aku menutup pintu mobilku, dan mataku melihat ke arahnya yang masih melihatku dengan polosnya. Dengan sinis di balik kaca mobil tak terasa air mata basahi pipiku. Setelah aku… Dengan mawar itu, kamu bersamanya. Mungkin dia bukan monster penghancur sepertiku.

Tamat

Cerpen Karangan: Julianthy Diana Natalia
Blog: mystoryjulianthydn.blogspot.co.id
Hei-hei Reader’s temen-temen semua.
terimakasih telah membaca cerita pendekku. terimakasih pada cerpenmu.com yang menerima naskah cerpenku.
Yukk kirimkan cerita kalian untuk dibaca para pencinta cerpen.
Dagggghhh!! 🙂
jangan lupa baca kumpulan cerpen aku di blog mystoryjulianthydn.blogspot.co.id
makasih!!! :))

Cerpen Setelah Aku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Masa Masa Indah di Kampus

Oleh:
Namaku mariel al fahd, panggilan ku riel. kadang ri. aku kuliah di akademi bahasa indonesia jurusan sastra indonesia. semester 2. jam di dinding kelasku menunjukkan pukul 2.30 siang. berarti

Keputusan

Oleh:
“Kita putus!” Ucapan dingin dari seseorang itu sukses membuat napasnya tercekat. Nadine tak percaya kata-kata yang selama ini ditakutinya, terucap langsung dari bibir orang yang sangat ia kasihi. Ia

Karena Kamu Innocent

Oleh:
Hari ini mas Adin pulang telat lagi. Sudah hampir jam sebelas malam dia belum sampai rumah. Hal ini terjadi satu minggu termasuk hari ini. Huft. Aku menghembuskan napas. Aku

Bianglala

Oleh:
Ketika hati berkata iya maka tidak mungkin mulut berkata tidak. Seperti katamu padaku “ Hati itu tak bisa dibohongi, jangan menyakiti perasaanmu sendiri. Katakan apa yang ingin dikatakan hatimu.

Selamat Jalan Kasih

Oleh:
ya, semua lelaki, mmm.. mungkin sebagian lelaki memang seperi itu. tidak peduli, cuek dan egois. seperti dia. yang pasti tidak tahu bahwa mataku sembab karena baru saja menangis mendapat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *