Setelah Luka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 12 July 2017

Tak hentinya mataku bertatap, seolah ia berharga untukku. Tak hentinya aku tersenyum, seolah ia adalah hal yang terindah. Iya, saat ini seluruh pandanganku tak hentinya berpusat pada dia. Dia yang sedang lihainya mengoper bola dari kaki ke kaki yang lain. Peluh membasahi dahinya hingga menyentuh leher putihnya, bahkan kini bisa kulihat jelas bajunya sudah basah oleh keringat sehingga otot-otot kekarnya tercetak jelas. Dia, ya dia. Orang yang selalu kuperhatikan setiap waktu senjang. Dia, yang selalu mampu membuatku tak hentinya berkhayal untuk bisa berada di sisinya, setiap waktu.

Aku bukan perempuan yang cantik dengan parasnya, bukan perempuan yang bertubuh sempurna, aku pun bukan perempuan dengan juta pesona sehingga banyak pria menginginkanku. Aku hanya seorang perempuan biasa yang berpenampilan sederhana yang mengaharapkan satu cinta setelah kedua orangtuaku. Ya, dia, dia yang kini tengah kutatap. Bukan karena dia tampan ataupun mapan, tapi karena sikap dan karakternya yang menurutku sangat menakjubkan. Tutur katanya yang sopan bisa saja membiusku dalam sekejap saja, senyumnya seolah menghipnotisku, tatapannya mampu membuatku melayang di atas angan, dan sapaan lembutnya selalu berhasil membuat jutaan kupu-kupu mengepakkan sayapnya di dalam perutku. Tapi, bintang tak dapat kuraih, sama sepertinya. Mana mungkin gadis sepertiku bisa dicintai oleh pria yang sudah menyerupai seperti dewa yunani sepertinya? Mana mungkin gadis biasa sepertiku ini bisa memiliki ksatria berbaja hitam seperti dirinya?, bahkan aku hanya mampu menatapnya dalam bisuku yang tak bersuara, bahkan aku hanya bisa melihatnya dalam diam dan jarak jauh.

Duughh!
“Assh” haruskah sekarang aku mengumpat, rasanya kini banyak kupu-kupu berterbangan di atas kepalaku. Rasanya tertendang bola itu tak perlu kusebutkan lagi.

Lagi-lagi kepalaku sungguh berat, aku terus mengumpat untuk orang yang menendang bolanya begitu sekarang ini. Hampir saja tubuhku terhuyung ke belakang karena pusingnya, malah kini kurasakan seseorang menahan tubuhku hingga badanku tidak jadi bercumbu dengan lantai. aku tidak bisa melihat dia siapa, yang jelas setelah itu hanyalah, gelap.

Aku meringis setengah merasakan sakit di sebelah kepalaku, rasanya sangat pening. Kuedarkan pandanganku ke seluruh ruangan, bau obat antiseptik yang menyengat membuatku tersadar ini adalah Uks sekolah. Aku bangkit dari tidur untuk merubah posisi menjadi terduduk, tapi aku terkaget karena sebuah suara tepat di depan wajahku.

“Jangan dulu gerak” aku mendongkakkan kepalaku ke sumber suara, aku terpaku seketika. Tatapan tajam diiringi teduh irisnya membuatku tertegun, berulang kali aku mencoba menelan salivaku saat kulihat wajahnya sangat begitu dekat dengan pandanganku kini. Demi apapun sekarang oksigen serasa menipis di sekitarku. “Hei, kamu nggak papa, kan?” Lanjutnya. Dan, aku bisa melihat wajah yang menunjukkan kekhawatiran saat menatapku.
Aku menundukkan kepalaku tak tahu harus menjawab apa, entah kenapa bibirku kelu untuk sekedar membalasnya, dengan cepat aku hanya membalas dengan gelengan.

“Maaf” aku mendongkakkan kepalaku ke arahnya, alisku menyatu karena bingung dengan maksudnya dan Dia hanya tersenyum. “Maaf karena tadi aku nggak sengaja nendang bola dan jadinya ke arah kamu”
Aku menganggukkan kepalaku mengerti, tapi sebenarnya aku merutuki diriku sendiri, jadi tadi aku terus mengumpat yang sebenarnya tersampaiakan untuk Nathan? Argh!
“Aku khawatir takut kamu kenapa-kenapa, tapi sekarang aku bisa tenang lihat kamu baik-baik aja” mataku sedikit melebar. Apa katanya tadi? Khawatir? Ia mengkhawatirkanku? Apa itu benar? Aku mengerjapkan mata berkali-kali dan menatapnya. “Apa kepalamu masih sakit?”
“Ugh? Eh tidak, emm maksud aku masih sedikit pening, tapi ini nggak papa” ujarku setengah gugup, ya tentu saja aku merasa gugup, ini adalah pertama kalinya aku berinteraksi dengannya secara langsung.
“Syukurlah kalau udah nggak parah, tapi tetep aja itu masih rugi di kamu. Gini aja, sekarang aku antar kamu pulang ya?”
“Hah?”
“Aku antar kamu pulang”
Mataku melebar, apa katanya?
Mataku melebar, apa katanya? Mengantarku pulang?

“Nggak usah, kamu kan harus latihan. Lagian aku bisa pulang sendiri”
“Latihan udah selesai, lagipula ini juga udah sore. Rumah kamu kan jauh dari sekolah”
Aku menyipitkan mataku ke arahnya. Bagaimana ia tahu rumahku lumayan jauh dari sekolah? Setahuku dia tak pernah tahu tentang diriku, jangankan begitu, dekat saja tidak sama sekali.
“Kok kamu tahu rumah aku jauh?”
Nathan hanya terdiam, wajahnya pun ikut mengkaku. “Emmh, udah jam 5, ayo pulang” kilahnya tak menjawab dan aku hanya mengangguk menurutinya.

Hanya hening di antara kami saat motor ninja merah yang ditumpangi aku dan Nathan melaju dengan kecepatan sedang, tak ada pembicaraan apapun kecuali suara deru kendaraan di sekitar. Tanganku pun masih memegang jaket merah yang dipakai Nathan, aroma mint menyeruak sampai ke rongga hidungku, terasa sangat menyamankan. Sayangnya aku tak bisa melingkarkan tanganku di pinggangnya, mengingat ini hanyalah ungkapan maaf dari Nathan. Ya, Nathan tak mungkin juga mencintaiku seperti aku mencintainya.

Ah ya, aku sudah bercerita panjang lebar tapi belum sempat mengenalkan diri. Namaku Alana Arshi Aprilly, tapi orang memanggilku Lana. Aku seorang gadis sederhana yang mempunyai rumah reot yang sudah kumuh di dalam gang jalan. Aku memang bukan perempuan sempurna yang punya segalanya seperti di novel-novel romance, aku hanya gadis biasa yang tidak mempunyai kekayaan yang melimpah. Dan sehari-harinya aku hanya membantu ibuku menjual nasi goreng di kantin sekolah.

“Lana, sudah sampai” suara itu berhasil membuat lamunanku terbuyarkan sudah, aku mengerjapkan mataku, benar ini jalan rumahku, bahkan sudah berada di depan rumahku. Tapi yang aku bingungkan, dari mana Nathan mengetahui rumahku?. “Lana”
“Ah, ya? Oh iya, sudah sampai” ucapku lalu turun dari motornya. “Makasih ya. Kamu. Mau mampir dulu?” Tanyaku ragu, sekaligus malu jika ia menolak, ya pantas saja jika dia menolak, Nathan itu anak dari rumah gedongan, jadi sedikit aneh jika ia mampir ke rumah jelek seperti ini.
“Boleh, aku juga ingin kenal sama keluarga kamu” aku mengerjapkan mataku. Lagi. Apakah aku perlu memeriksakan telingaku ke dokter THT?
“Kamu mau mampir?” Tanyaku sekali lagi untuk memastikan bahwa aku tidak salah dengar.
“Iya, ya udah yuk masuk”
“Ah, ya. Ayok”

Aku mempersilahkan Nathan masuk ke dalam rumahku. Seperti biasa, rumahku pasti sedikit terlihat acak-acakkan, maklum, aku mempunyai adik kecil yang selalu bermain robot dan mobil-mobillan di rumah. “Ah maaf ya, rumahnya sederhana gini, berantakan lagi, kayanya adik aku abis mainan tapi belum diberesin. Ayo duduk dulu” aku mempersilahkan Nathan untuk duduk di sofa coklat yang memang sudah banyak yang berlubang.
“Nggak papa asal nyaman aja”
Aku tersenyum mendengarnya. Aku kira dia akan meledekku atau mungkin ia tak mau untuk sekedar duduk di kursi tua rapuh seperti itu. “Biar aku ambilin minum dulu” aku pun beringsut ke dapur untuk mengambil minum. Aku menghela napas, untung saja masih tersisa orange juice yang kemarin kubeli di mini market, jadi aku tak perlu menyajikan air putih saja untuknya.

Senyumku tak henti-hentinya terbit, ah bagai mimpi disiang bolong. Bagaimana bisa Nathan, yang selama tiga tahun ini aku perhatikan tanpa dilirik bisa dikunjungi hingga ke rumah seperti ini. Baiklah aku mengaku aku berlebihan, tapi percayalah, ini tak pernah terbayang diwaktu sebelumnya. Aku menarik napas, lalu berdoa agar ini bukanlah yang terakhir. Untuk sekedar berteman dengannya saja, aku sudah sangat bersyukur.

Aku kembali dengan gelas berisi orange juice, tapi yang kudapatkan kini adalah Nathan tidak sendiri, tapi dia sedang bercakap dengan seorang wanita paruh baya. Ya, siapa lagi jika bukan ibuku.
“Khmm” dehemanku berhasil membuat tawa mereka terhenti sejenak, kedua pasang mata dengan iris yang sedikit berbeda itu menatapku yang masih berdiri seperti orang bego. Aku tersenyum kaku membalasnya. “Kenapa?”
“Tidak papa. Kemari, duduklah. Ibu sedang menceritakan tentang dirimu” aku menatap ke arah ibu. Apa maksudnya membiacaranku? Lalu kisah hidupku yang mereka tertawakan
“Tapi kami tidak menertawakan tentang dirimu, Lan. kamu ini bagaimana sih, membawa pacar ke sini tidak bilang ibu” mataku membulat sempurna mendengar ibu, tahukah bahwa aku sangat malu.
“Ibu, dia bukan pacarku. Dia, emm” aku tidak tahu lagi harus berkata apa, apa iya aku menyebutkan bahwa dia teman? Tapi berbicara saja hanya saat ini.
“maaf, tant. Tadi Nathan nggak sengaja lempar bola ke arah Lana, jadi tadi Lana pingsan, tapi Nathan bakal tanggung jawab kok sama semunya” potong Nathan seketika. Aku hanya mematapnya.
“Ah ya ampun kamu lagi apa sih sampai nggak sadar kalau ada bola” tanya ibu
“Emm itu Lana lagi…” lagi-lagi ucapanku tergantung ntah harus menjawab apa. Masa iya aku menjawab bahwa aku sedang melamunkan Nathan, yang benar saja!
“Mungkin dia lagi nggak konsen, tant” potong Nathan lagi.
“Nggak usah panggil tante, panggil saja Ibu. Ibu seneng banget kalau ada temen Lana yang main ke sini, Lana itu kan penutup banget. Apalagi kamu itu satu-satunya laki-laki yang diajak Lana untuk ke rumah”
“Ibu” sahutku saat sudah mendengar arah pembicaraan ibu kejurusan mana.
“Iya kok ta– ibu. Lagipula saya seneng ke sini. Punya lingkungan baru, saya juga ngerasa nyaman.”

“Iya. Oh ya, ibu suka lihat loh kamu latihan basket. Kamu itu ketua basket yang sering dijuluki A prince charming itu kan?” Kulihat Nathan hanya tersenyum kikuk, dan senyumnya itu errr manis.
“Enggak gitu juga kok bu. Menurut saya itu terlalu berlebihan, saya bukan pangeran, tampan juga tidak. Jadi kalau tentang ketenaran itu, saya tidak terlalu bangga” dan ini yang aku kagumi darinya, Nathan tidak pernah sombong.
“Kalian itu cocok loh. Kenapa tidak pacaran saja?” Celetuk ibuku tiba-tiba, aku melotot ke arahnya yang masih memandang Nathan. Dan Nathan… ia malah tersenyum.
“Ibu bicara apasih. Aku sama Nathan tidak ada hubungan apa-apa” kilahku cepat. Aku bingung mengapa ibu menjadi SKSD seperti ini.
“Ya, ibu kan hanya memberi pendapat. Ya sudah kalau begitu ibu pergi dulu ke depan mau beli sayur. Ibu tinggal dulu ya, Assalamuallaikum” ibu beranjak dari duduknya
“Waalaikum salam” lalu ibu pergi dan hanya meninggalkan aku dan Nathan yang kini hanya berdua. Dan sekarang kondisinya malah menjadi arkward seperti ini.

“Kak Lana mana cokelat– ini siapa kak? Pacarnya kak Lana ya?” Suara Azka, adik laki-lakiku yang baru berusia 6 tahun datang tiba-tiba dan berteriak membuat aku ingin memekik mengomelinya.
“apaan sih anak kecil” sewotku tak terima, lebih ke malu tepatnya.
“Mana chocolate yang kakak janjiin?” Aku meringis mendengarnya. Salahku juga kenapa aku harus berjanji pada Azka kemarin dengan jaminan untuk dia berhenti menjahiliku. Dan sekarang aku lupa membelikannya, tidak sepenuhnya lupa, hanya saja uangku habis karena dipakai untuk membeli buku tadi di sekolah.
“Maafin kakak ya, tadi kakak nggak sempet beliin. Besok deh ya”
“Ah kak Lana mah gitu, boong! Bilangnya sekarang”
“Kakak kan lupa”
“Hei, mau chocolate yang aku?” Kini pandanganku tertuju pada Nathan yang sedang memegang sebuah chocolate silver queen ukuran besar ke arah Azka.
“Mauu”
“nggak usah Nath, dia emang gitu.”
“Nggak apa lah. Aku suka kok. Nih buat kamu. Tapu janji ya jangan nakal”
“Siap boss!! Tuh kak Lana, pacarnya aja baik. Aku do’ain deh ya semoga kalian jodoh. Aminn. Aku main mandi dulu ya. Dadah”
Ah sh*t! dasar bocah! Mulutnya itu perlu disumpel sama alas sandal. Jaman sekarang itu sekolah Tk mengajarkan apa sih sampai anak segede itu sudah mengerti pacar-pacaran?.

Dan sepeninggal Azka, suasana menjadi lebih arkward, hening, tak ada percakapan sesekali Nathan berdehem pelan tapi aku menghiraukannya. Aku menggaruk tenggukku yang tidak gatal. Kalau sudah seperti ini aku haru apa? Oh dewa, tak bisakah kau menolongku?

“Nathan”
“Lana”
Aku meringis ketika kami saling memanggil satu-sama lain.
“Ladies first” ucapnya

Aku membasahi bibirku yang kering, mendadak kelu untuk bicara. “Maaf ya soal perkataan ibu sama Azka yang kayanya berlebihan. Aku harap kamu jangan ilfeel tentang ini, aku minta maaf banget. Keluarga aku memang ceplas-ceplos banget orangnya. Maaf ya”
Nathan hanya tersenyum menaggapinya, dan itu malah membuatku bingung.
“Aku seneng malah” dahiku mengkerut, apa maksudnya?
“Maksudnya?” Tanyaku bingung
Nathan mengangguk lalu memegang kedua tanganku hingga membuatku tersentak. “Sebenernya aku sedikit nggak yakin mau bilang ini.” Deg deg deg deg, Nathan menatapku dengan serius, tak tahu kah dia bahwa di dalam dada ini ada yang berdetak cepat saat tangannya menyentuhku. “Mungkin ini pernyataan yang sangat klise, tapi aku harap kamu bisa ngerti. Lana, kamu tahu kenapa aku tahu tentang kamu?” Dahiku menyerjit. Ingatanku terulang saat tadi Nathan mengetahui namaku, tahu jarak rumahku, bahkan jalan dan tempat tinggalku ia tahu. Aku hanya menggeleng. “aku itu stalker kamu” mataku melebar. Apa aku tidak salah dengar? Atau ia yang salah bicara? Tapi untuk apa dia menjadi stalkerku? Ya tuhan, banyak sekali pertanyaan ini, Nathan sangat misterius. “Aku mencari tahu tentang kamu sejak kita kelas dua. Aku mulai tertarik dengan cewek yang rajin banget masuk perpus dan selalu fokus baca buku. Dari situ aku selalu cari tahu tentang kamu, apapun itu. Dan…”
“Dan?”
“Dan kayanya aku Suka sama kamu”
Degh!! Tolong, jantung jangan kau turun, demi apapun aku ingin menjerit. Apakah ini sungguh? Seorang Nathan sang bintang sekolah menyatakan perasaannya pada gadis biasa sepertiku?. Aku hanya bisa diam menatapnya, bibirku seolah terkunci untuk tetap diam.

“Umm aku cuma menyatakan perasaan aku, aku nggak mau terus ada yang mengganjal setelah kelulusan beberapa minggu lagi. Bukan maksud aku nembak kok, jadi kamu jangan anggap serius kalau kamu nggak punya perasaan yang sama kaya aku” ucapnya memberi jeda. “Kalau gitu aku pulang dulu, udah sore banget. Sekali lagi maaf dan makasih karena udah dibolehin mampir.” Ucapnya lagi lalu bangkit berdiri, sedangkan aku, aku masih diam tertegun mencerna kata demi kata yang ia lontarkan.
“Nathan!” Sahutku saat melihat dia sudah diambang pintu. Nathan membalikkan badannya. Aku berlari dan berdiri dihadapannya.
“Ya?”
“Aku… juga… suka… ssma kamu, ah bukan, mungkin cinta”
“Cinta?”
“Iya, aku cinta sama kamu”
“So?”
Alisku menyatu bingung. “So?”
Nathan lagi-lagi menggenggam tanganku. “Would you be my girlfriend?”
“Yes, I do”
“Sure?”
“Of course”
“I Love you”
“I love you too”

Setelah itu kita saling berpelukan, saling menyampaikan salam cinta yang selama ini terpendam, menyalurkan rasa sayang yang selama ini selalu terbungkam. Rasa itu tak pernah salah, dan sekarang aku baru mengetahui bahwa, cinta itu melebihi dari kata indah. Apapun itu filosofinya. Ya, cinta memang indah.

End…

Cerpen Karangan: Irma Nuraeni
Facebook: ZhettaCerita
Blog: ZhettaCerita
Hai, nama saya Irma Nuraeni dengan nama pena IrmaNA (Razeeta). Bukan penulis profesional, tapi terimasih sudah membaca. Semoga suka.

Cerpen Setelah Luka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bisik Hati Kiara

Oleh:
Aku menatap bayangan cantik dalam cermin di hadapanku. Tidak pernah terfikir bahwa hasilnya akan secantik ini. Gaun biru panjang semata kaki ini tampak serasi dengan make up sederhana yang

Aku Yang Mengalah

Oleh:
Aku mengalami kisah ini dimasa putih abu-abuku yang penuh dengan suka dan duka. Perkenalkan namaku adalah putri yani ginting anak dari 3 bersaudara dan anak terakhir dari ayahku yang

Khayalan

Oleh:
Aku terlahir menjadi orang miskin di kampungku, jangankan punya rumah bagus, makan untuk setiap hari aja susah. Namaku Dino sekarang aku sudah di kelas X-3 S,AN 16 di kabupaten

Gue Sayang Loe Lebih Dari Sahabat

Oleh:
“CHICI! CHICI! BERANGKAT YUK~!” teriak Rio ketika di depan rumah Chici. Chici yang sudah siap-siap dari tadi langsung keluar dari dalam rumahnya. Ia menghampiri Rio lalu menoyor Rio. “Lama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *