Setelah Lulus SMA (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 19 May 2016

Seperti anak SMA yang baru lulus pada umumnya pasti rata-rata sudah mulai merencanakan tempat untuk melanjutkan sekolah misalnya dengan berbagai pilihan seperti ke perguruan tinggi atau langsung mencari pekerjaan. Namun berbeda halnya denganku, kalau semua temanku pada rencanain untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, namun aku lebih memilih untuk mengikuti tes sebuah seleksi TNI atau tentara republik indonesia, itu pun aku lakukan dengan melawan rasa keinginan aku untuk suka berkuliah di perguruan tinggi karena sebuah alasan tertentu. Tidak tahu kenapa pada hari itu aku sempat bertemu dengan temanku yang kebetulan baru saja pulang dari pendidikan di sulawesi utara yakni di manado sana. Abu panggilan akrabnya.

“Ten apa kabar?” panggil Abu saat dirinya menemuiku di satu lapangan di kampungku.
“Baik bro,” sahutku semangat.
“Ten kau mau melanjut di mana?” tanya Abu.
“Kayaknya aku belum tahu nih, tapi yang pasti aku mau kuliah,” jawabku.
“Gini Ten kalau menurutku postur badan kamu oke juga,” kata Abu.
“Maksudnya?” sahutku dengan heran.
“Kamu tuh rugi jika cuma kuliah, kamu cocoknya ikutin jejakku,” kata Abu dengan tegas.
“Maksud kamu aku ikut masuk tentara seperti kamu, gitu? Jawabku.
“Iya Ten, kalau kamu masuk tentara kamu bisa cepat kerja sedangkan jika kamu kuliah masih butuh empat tahun, itu pun belum tentu kamu dapat kerja,” kata Abu.

Setelah pertemuan aku dengan Abu hati itu, rupanya aku cukup tergoda untuk mengikuti jejaknya ikut tes militer di manado. Bagaimana tidak aku tidak tergoda hanya dengan waktu yang singkat mengikuti tes yakni tiga bulan, aku sudah bisa punya gaji dan status sosial di masyarakat. Dibanding dengan melanjutkan niat aku untuk kuliah di perguruan tinggi negeri yang butuh waktu bertahun tahun untuk mendapatkan gelar sarjana dan belum pasti, menurutku waktu itu. Selain dengan perbandingan waktu yang cukup singkat untuk segera berkarir dan punya penghasilan di umurku yang masih terbilang mudah, namun aku tergerak pula dengan dorongan ingin kembali memikat cinta pertamaku dengan penampilan militer yang gagah. Maklumlah pikiran anak mudah yang ceroboh demi cinta. Pikiranku pada saat itu, berangkat dari rasa kekesalan aku pada pacar yang aku sayangi untuk membuktikan pada dirinya kalau aku bisa memenangkan kembali hatinya.

Singkat cerita, hari mengikuti tes pun aku ikuti satu per satu, mulai dari tes parade hingga sampai pada tes psikologi, tes ini lebih condong penilaiannya pada tes dan uji karakter serta Iq. Namun pada tes inilah yang aku gagal, pada hal tinggal dua langkah lagi aku sudah bisa jadi anggota militer indonesia. Dengan alasan tidak lulus uji tes psikologilah aku berniat untuk pulang kembali ke poso. Di tanah sintuwu maroso atau poso, aku malahan melampiaskan rasa kekecewaan aku akibat kegagalanku. Bagaimana tidak aku kecewa, selama di mengikuti tes aku banyak menghabiskan uang belasan juta rupiah, hanya untuk kepengurusan berkasku untuk mengikuti tes.

Misi pengintaian dimulai
Hari makin hari aku pun sudah dua minggu di kampung, satu minggu sebelumnya diri aku makin terkontrol, setelah dua minggu aku makin nggak karuan, bagaimana tidak tiap malam aku pulang dengan keadaan mabuk alkohol. Cuma cara ini yang bisa aku lakukan mengobati rasa kesalku. Hari itu sudah mau dekat bulan desember aku pun memutuskan untuk pergi ke kota di mana mantan pacarku berada, karena dia masih SMA kelas tiga. Selain demi mengobati rasa rindu aku pun butuh suasana yang baru demi mengobati rasa kesalku.

Pada sore hari, aku pun saat itu ingin mulai tujuan misiku, dengan beralasan lewat di depan rumahnya tanpa harus sepengetahuan dia. Hari itu aku lebih berpenampilan tertutup dengan memakai masker dengan motor yang tidak sering aku pakai, kepala aku pun ditutupi dengan helm standar dengan harapan saat aku lewat di depan rumahnya, dia tidak akan mengenaliku. Sebenarnya aku mau ketemu secara langsung dengan dia tapi karena hubungan kami yang belum juga membaik jadi misi aku untuk melihat dia, aku lakukan dengan diam diam tanpa memberi informasi padanya, kalau aku sedang berada di kotanya. Pengintaian aku pun mulai berjalan, rupanya dia tidak mengenal aku. Walaupun dia sedang asyik bermain dengan adiknya, di beranda depan rumahnya, pengintaian aku pun sudah berlangsung tiga jam dari warung bakso yang tidak jauh dari rumahnya.

Dengan pandangan kurang lebih 30 meter dari warung bakso ke rumahnya, aku mengamati terus, apa yang hendak dilakukannya setiap saat, walaupun kadang-kadang dia masuk ke dalam rumah, sehingga mengganggu momen pengobat rasa rinduku. Sekali-kali aku aku melihatnya sibuk dengan telepon genggamnya, seperti terus menerima pesan singkat atau sms, hal ini membuat bertanya-tanya, perasaan aku saat itu sudah menebak kalau dia sedang mengsms pacar barunya, tapi aku tetap optimis dengan misi aku kali ini akan berhasil. Melihat aku yang sibuk tersenyum sendiri dengan menatapi terus ke arah rumah mantanku, mas tukang bakso bertanya padaku.

“Mas, mas, mas, woiii maaaaaaas!!” Panggil abang tukang baso sambil melambai-lambaikan tangannya di depan mataku.
“Iya, iya, iya mas, ke-kenapa, adaaa ap-ppa mas?” kaget aku menjawab abang tukang bakso.
“Mas emangnya kenapa kamu dari tadi, aku perhatikan senyum-senyum terus lihatin rumah yang di seberang sana,” tanya mas tukang bakso.
“Nggak mas aku ini lagi lihatin mantan pacar aku dari jauh,” sahutku.
“Emang yang mana mantan pacar kamu?” tanya abang tukang bakso.
“Yang di seberang jalan sana mas, yang ada toko besar di depannya,” jawabku.
“Ohh yang itu, itu kan salah satu pelanggan setia aku di sini,” kata mas tukang bakso.
“Mas kenal juga sama Dinda?” tanyaku.
“Ow jelas kenal dong, dia itu kan, biasanya suka nongkrong dengan teman-temannya di warung aku ini,” kata abang tukang bakso.

“Terus bang temanya cewek semua atau ada juga cowok?” tanyaku.
“Biasanya mereka datang itu, ada lima orang, tiga cewek dan dua cowok,” jawab abang tukang bakso.
“Ow kayak gitu yah mas, tapi kalau yang cowoknya yang dua itu, ada nggak yang dekatnya seperti orang pacaran sama Dinda?” Tanyaku.
“Ada mas, tapi sama cowok yang satunya, yang orang tinggi, agak kurus gitu mas,” jawab abang tukang bakso.
“Emangnya cowok itu pake motor apa mas,” tanyaku sudah mulai khawatir.
“Pokoknya cowok itu pake motor suzuki satria fu warna biru, yang sering juga jemput dia di rumah ke sekolah, tiap pagi,” jelas abang tukang bakso.

Mendengar penjelasan abang tukang bakso pun, aku langsung cepat-cepat menghabiskan minumanku dan langsung pergi. Selain kesal dengan informasi yang aku dapat dari mas tukang bakso, hari itu sudah mau mendekati fajar mau terbenam, sekitar pukul 17:24 tahu jam lima lewat. Aku harus segera pulang di kos temanku, mandi. Malam pun datang aku tidak mau jatuh terlalu dalam dengan luka yang makin besar, belum lagi ditambah kegagalan aku saat mengikuti tes di manado kemarin. Aku pun saat itu makin hancur dan tak terkendali. Melihat keadaanku yang sepertinya orang yang identik dekat sekali dengan masalah-masalah, pada saat itu. Teman aku Faruk, merasa kasihan dengan mengajakku jalan cari hiburan di dalam kota.

Tidak tahu kenapa, Faruk pun mendapatkan ide untuk membantu aku melupakan sejenak permasalahan itu. Dia mengajakku untuk membeli minuman beralkohol dengan rencana kami akan menghabiskannya di fdp (festival danau poso) di sekitar pantai pesisir pantai fdp lah kami berdua dan satu teman sekolah Faruk, menghabiskan gelas demi gelas menghabiskan sisa yang pahit berharap dan akhirnya bisa ku lupakan masalah yang sedang melandaku saat itu. Malam pun makin larut, saat itu waktu sudah mulai menunjukkan pukul 01:00 dini hari. Dengan tidak sengaja pria yang mengendarai motor suzuki fu warna biru melintasi belakang kami dengan motornya, aku melihatnya sedikit tidak terlalu jelas, karena saat itu lampu merkuri di pantai fdp hanya redup, ditambah lagi aku sedang mabuk berat.

“Sepertinya aku kenal cewek yang diboncengi pria itu,”
“Ciri-cirinya menyerupai Dinda, jangan-jangan,” kata dalam hatiku.
Aku tambah yakin kalau itu adalah Dinda, karena postur tubunya pas dengan penampilan Dinda, penasaran jika hanya aku menerka-nerka jika itu adalah Dinda. Aku pun meminta tolong pada Faruk untuk membuntuti pria yang ku duga adalah pacar Dinda.

“Ruk tolong deh, kamu buntutin pria motor fu warna biru tadi yang barusan lewat di belakang kita,” kata aku pada Faruk. “Emangnya kenapa Ten?” tanya Faruk.
“Pria yang mengendarai motor fu warna biru tadi sepertinya sudah dia cowok barunya Dinda sekarang, terus dia tadi itu kalau aku nggak salah lihat dia lagi boncengi Dinda, udah larut malam lagi,” jawabku dengan khawatir.

“Oh iya Ten, akan segera aku pastikan,” jawab Faruk sambil bergegas menghidupkan motornya.
Menunggu Faruk pergi membuntuti mereka, aku pun terus menunggu di pantai fdp bersama teman sekolah Faruk, Edit namanya. “Ten emengnya kenapa dengan cowok motor fu tadi?” Tanya Edit padaku.
“Nggak, aku cuma minta tolong sama Faruk pastikan, kalau cowok motor fu tadi lagi boncengin Dinda atau tidak,” sahutku.
“Oww kayak gitu, tapi Ten Dinda itu siapa?” tanya Edit.

“Jadi gini Di, aku tuh ke sini, cuma mau ketemu sama Dinda terus Dinda itu mantan pacar aku pas aku masih SMA, tapi karena hubungan kami yang belum kunjung juga baik, jadi aku lebih menghindari ketemu langsung dengan Dinda, gitu Dit.” Jelasku pada Edit.
“Ohh gitu yah Ten,” sahut Edit.
Setelah beberapa menit, Faruk pun sampai menghampiri kami, dengan suasana orang yang menggigil, maklumlah di kota yang cuacanya memang dingin terus ditambah lagi saat itu, sudah hampir mau jam tiga pagi.

“Gimana Ruk?” tanyaku.
“Emm gimana yah Ten. Eehh iya, pokok iya kamu tidak salah,” jelas Faruk.
“Maksud kamu Ruk, apa?” tanyaku dengan binggung.
“Gini Ten benar cowok tadi emang benar, dia itu pacarnya Dinda sekarang. Aku tadi buntuti mereka sampe ke rumahnya Dinda,” jelas Faruk.
Mendengar info dari Faruk aku makin terpukul, walaupun saat itu aku lagi mabuk berat, tapi rasanya masih seperti orang sadar karena kabar dari Faruk.
Hari pun makin terang, sepertinya matahari udah kebelet mau ke luar dari timur, tandanya kami harus pulang ke kos, karena hari itu, hari minggu jadi Faruk tidak ke sekolah.

Move on
Sekarang aku sudah satu minggu di kotanya Dinda, meskipun sudah selama itu tapi aku pun belum berani menampakkan diri ketemu dengan Dinda, maklum persoalan waktu kami mau putus cukup rumit sehingga dampaknya hingga sampai sekarang kami pun belum punya hubungan yang baik. Padahal dulunya kami itu seperti romeo dan juliet yang saling menyayangi meskipun tiap minggunya saling mencurigai dengan alasan takut kehilangan. Seperti pria pada umumnya rasa sayang pada orang yang mereka cintai tak terbatas dan tak terukur dengan apa pun itu, meskipun dibanding-bandingkan dengan tujuh keajaiban dunia itu pun belum bisa tertandingi. Sehingga hal tersebut menamai rasa sayang aku pada Dinda cukup terbilang edan, padahal Dinda itu perempuan yang sederhana dan polos serta suka pada hal-hal yang baru menurutnya, dia juga tegas dan ceria.

Selain itu Dinda tidak mudah memaafkan, jikalaupun dia orang yang pemaaf tidak mungkin sudah sampai saat ini kami belum kunjung berdamai. Demi menjaga diriku terkontrol serta tidak terpengaruh dengan masalah pribadi yang sedang melandaku saat itu, aku pun memutuskan mencari pelampisan. Tapi kali ini sudah bukan alkohol medianya untuk pelampiasan tapi melainkan aku harus meredam sedikit rasa sakit ini dengan menemukan cinta yang baru. “Iya, aku harus punya komitmen untuk mendapatkan pengganti Dinda,” kata dalam hatiku.

Walaupun sulit menggantikan Dinda namun harus ku lakukan, sekarang waktunya untuk move on mencari cinta yang baru. Di hari itu pun aku sudah berniat untuk mencari pacar baru, lumayanlah postur tubuh yang tinggi, badan kekar serta wajah yang nggak jelek-jelek amat bisa dibilang ganteng menurut survei beberapa teman perempuanku yang sempat masih ku ingat. Dengan modal itulah aku mau cari pacar baru, Faruk turut mendukung dengan niat aku untuk move on, dia pun mulai mencarikan aku pacar, walaupun saat itu, Faruk menawarkan padaku teman-teman seusianya yang duduk di bangku sekolah SMK kelas dua, namun aku menolaknya dengan alasan aku mau cewek yang sementara kuliah biar sedikit dewasa.

“Ruk kayaknya aku tuh uda kapok sama yang namanya anak SMA, apalagi seumuran kamu lagi,” jelasku pada Faruk.
“Jadi mau kamu yang udah kuliah gitu? Oke Ten kalau cuma teman aku yang udah kuliah ada satu teman aku cewek, pas cewek itu lagi jomblo sekarang,” tawar Faruk padaku.
“Jadi kapan dong kamu kenalin cewek itu sama aku?” tanyaku sama Faruk.
“Sebentar malam deh kita ke kosnya, sepulang aku dari kerjakan tugas kelompok.

Malam pun datang, aku dan Faruk sudah mulai bergegas ke kos cewek teman Faruk, kebetulan kos cewek itu tidak jauh dari kos Faruk sekarang hanya saja berseberangan sungai, maklum kota yang kami sedang tempati ini dibela oleh danau poso yang indah.
“Tok, tok, tok, tok,” bunyi pintu oleh Faruk.
“Selamat malam, Elis, Elis, Elis, Elis,” panggil Faruk sambil mengetuk pintu.
Pintu pun terbuka Elis teman Faruk itu pun mempersilakan kami berdua masuk ke dalam kosnya yang cukup besar, bagaimana tidak di dalamnya ada dua kamar dan ruang tamu serta dapur.

“Lis apa kabar?” tanya Faruk.
“Baik Ruk, kamu tuh udah berapa minggu ini udah nggak pernah jalan ke sini, tuh pacar kamu Merry nanyain-nanyain terus kamu,” jelas Elis pada Faruk, kabarin tentang adiknya Merry.
“Oh yah Lis nih teman aku kenalin, namanya Stenlly tapi panggil akrabnya Eten,” kata Faruk pada Elis.
“Oh iya kenalin nama aku Elis, panggil aja Elis,” jelas Elis sambil berjabat tangan denganku.
“Iyah nama aku Stenlly kamu boleh panggil aku Eten,” sahutku sambil merasakan tangan yang mungil serta dingin itu.

Setelah perkenalan itu, di antara jarak tiga hari aku pun mulai memberanikan diri untuk menembak Elis, lumayan buat pelampiasan sakit hati dari Dinda, aku tahu aku sudah salah karena menembak Elis hanya untuk pelampiasan tapi apa boleh buat, aku harus lakukan itu demi psikologisku. Sebenarnya Elis awalnya menolak, tapi tidak tahu kenapa mungkin karena aku hanya menembak Elis lewat via sms jadi Elis awalnya menolak namun dengan uraian kata-kata yang mungkin bisa meluluhkan hati Elis, pada akhirnya memutuskan untuk mencoba menerima tawaranku untuk menjadi pacarku.

Bersambung

Cerpen Karangan: Stenlly Ladee
Facebook: Stenlly Ladee

Cerpen Setelah Lulus SMA (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Where Love Sleeps

Oleh:
Ini adalah kisah cinta antara manusia dan robot, antara Eiry dan Rachel. Eiry adalah pemuda yang tak punya waktu banyak untuk hidup di dunia ini sedang Rachel adalah robot

Kejujuran Yang Tertunda

Oleh:
Di sebuah daerah ada seorang gadis yang begitu cantik, dia bernama Alisa. Warga sekitar biasa memanggilnya dengan sebutan Alis. Alisa adalah seorang gadis yang ramah, baik hati dan rendah

Tempat Camping

Oleh:
“Kaylaaa…” teriak pacarnya Naufal, dan langsung duduk di sebelah Kayla dan menoyor kepala Kayla. “ishh, kebiasaan banget. kepala gue udah difitrah.” “biarin aja hahaha.. lo beli apa Kay?” tanya

Di Ujung Sms

Oleh:
“Happy Sunday!!!” teriak gue, Talita, gadis berusia 17 tahun yang sering di sapa Alit. Dengan penuh semangat gue menuruni tangga yang menghubungkan kamar gue di lantai dua dengan ruang

I Hate U

Oleh:
Hai, namaku Handayani Brad Kyano. Aku kelas 10. Gue punya pacar. Namanya Amelia Putri Rahmat. Aku punya temen. Namanya Lala, Dhee dan Alifah. Walaupun nggak punya teman cowok 1

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *