Setengah Penuh Menggapai Candi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 17 July 2017

Di satu pagi yang cerah, di sebuah kafe seberang kampus di bilangan Kemanggisan, Jakarta Barat.
“Ini kesempatan terakhir kamu, aku atau mereka?!”.
Itu yang Nadya bilang pada Arman, di depan kami berlima, Mehdi Alias Mammoth yang emang bodynya kayak truk tambang, Galuh alias M’peng yang masih ngempeng sampe kelas dua SMP, Sherly alias Mumun karena mirip Mumun anaknya mpok Ida tukang nasi uduk deket rumah si Mammoth, Gery alias Bangke’ karena saking gantengnya sampai teman-temannya syirik bin dengki lalu manggil dia dengan sebutan itu, dan Candi yang panggilannya Candi, belum punya alias karena dia baru aja gabung dengan band ini. Kita semua teman satu band musiknya Arman.

Arman kemudian menghampiri kami dengan muka sendunya, suasana hening mengharap cemas akan tindakan apa yang akan Arman lakukan, Mammoth cubit-cubit tanganku mengharapkan aku ngomong sesuatu, tapi bibirku kelu, sama gugupnya sama yang lain.
“Guys, mmm…, mmm…” Arman gugup untuk bicara, menambah kegugupan kami semua yang seminggu lagi akan ke Bali untuk ikutan konser amal antar mahasiswa seIndonesia
“…Gue menyatakan mundur dari Splash, Nadya hamil!”. Lanjut Arman terbata-bata. Mammoth mulutnya mangap tak percaya, semua dari kita terdiam cengok bagaikan tersambar petir di siang bolong, Cuma seminggu lagi kita ada acara besar yang selama ini kita impikan.
Arman lanjut bicara dan memohon maaf atas apa yang dia putuskan, tak ada satu kata pun yang nyangkut di otakku, hanya terasa ruangan hampa dalam jiwa dan nyeri sakit di tengah kiri dada serasa ditusuk jarum tajam yang panas. Sherly mulai mencaci Arman, segala macam kata dan protes tercurah dari bibirnya yang berwarna merah delima, aku dan Mammoth melerai dan coba menghibur Sherly yang mulai menangis dan….

“Woyyy! Ngelamun jorok lu yee?!”. Tiba-tiba seorang lelaki yang sedang menggendong bayi mengagetkanku dari belakang.
“Ehh Ger, lu mao gurame apa, trus tempe apa tahu, apa dua-duanya?”, lanjut seorang perempuan yang duduk di depanku bertanya apa yang ingin kupesan. Membuyarkan lamunan yang membawaku jauh ke belakang saat masa-masa kuliah lima tahun yang lalu.
“Ehh Bangke’, lu kayak ayam sawan gitu sih, ditanya malah cengok ngeliatin, gue tau gue cantik, bahenol, menggemaskan…”, perempuan itu melanjutkan bicara ini itu nyerocos gak karuan.
Perempuan itu adalah Sherly, dan lelaki yang menggendong bayi itu adalah Arman dengan anak ketiganya yang berumur sepuluh bulan. Sekarang setelah lebih dari lima tahun kejadian yang kuceritakan di atas, para anak-anak Splash mengadakan reuni di sebuah rumah makan bernuansa ikan gurame di bilangan Puri kembangan, masih di Jakarta Barat.
Arman menikah dengan Nadya dan telah punya tiga anak, dua bocah perempuan yang cantik-cantik dan satu bayi lelaki yang lucu.

Mammoth sekarang bekerja di salah satu stasiun televisi swasta di Jakarta, kita semua temannya ingin sekali memanggilnya dengan nama panggilan lain karena dia yang sekarang berbobot 68 kilogram, which is kurus kering kerempeng peenggg ketimbang dia yang dulu kuliah dengan beratnya yang 95 kilo, tapi dia keras menolak dan tetap ingin dipanggil Mammoth, maunya dia sih diganti jadi “Mammoth imut”, tapi kitanya ogah.

Sherly tetaplah Sherly, comel, galak, cerewet binti ceriwis, bedanya sekarang perutnya lagi blendung hamil 8 bulan, dia kawin dengan Galuh si M’peng, mereka buka usaha minimarket di sekitar tempat tinggalnya di Depok. Si Gery alias Bangke’ yang gantengnya unlimited itu sekarang makin ganteng, gagah dan rupawan… hehehe.
Kami melepas rindu satu sama lain, hampir lima tahun lebih kami semua tak pernah lagi kumpul bareng seperti ini, setelah Arman mengundurkan diri, Splash gagal ke Bali karena kampus tak ingin satu dari dua wakil yang mereka kirim perform jelek karena vokalisnya berganti, dan Splash diwakilkan oleh band kampus lainnya.
Aku masih sering ketemu teman-teman Splash setelah itu, tapi tidak pernah bareng semuanya seperti sekarang, kami sepertinya terjangkit shock sampai mati dan tak ada satu pun dari kami yang main musik-musikan lagi, semua dari kita gagal move on dari kejadian itu.

Kangennya aku sama mereka meresap sampai ubun-ubun, tapi hidup manusia berjalan sangat cepat, banyak sekali yang berubah hanya dalam waktu lima tahun, sekarang Galuh yang ceking kerempeng berubah jadi gagah berwibawa layaknya patih Gajahmada, Sherly jelas sangat berbeda, dia yang ikut keyakinan Galuh sekarang berhijab, Arman dan Nadya jadi dua orang yang sangat berbeda dari orang yang kuingat dahulu, dari raut wajah dan perilaku mereka dewasa sekali, macam bokap nyokap aku gitu deh alias orang tua banget.
Dan entah kenapa sekarang Mammoth tiba-tiba jadi garing, kelucuan dan kekonyolannya seperti hilang bersama berat tubuhnya, dia masih seperti yang dulu dengan mengumbar canda dan cerita-cerita konyol pengocok perut, tapi impresi yang dia berikan tak lagi bisa membuat kita temannya tertawa terbahak-bahak. Gery yang ganteng maksimal itu yaa gitu-gitu aja, datar tak banyak yang berubah, tapi tetep keren!.
Well, setiap sesuatu ada kekurangan dan kelebihannya, yang penting kita jangan sampai lelah untuk bersyukur dan berusaha memperbaiki diri, jaelaaahhh dah kayak ustad di tipi-tipi aje yeee.

Disaat kita semua sedang menikmati sajian makanan yang ada, tiba-tiba seorang wanita cantik berdiri tepat di samping meja tempat kami makan, ku terdiam sejenak bertanya dalam hati “sepertinya ku kenal wanita ini”, sampai Sherly berteriak memanggil namanya “Candiiiiii…”, ehh iya si Candi, junior tahun pertama yang waktu itu kentang gabung Splash sehari belum sempat ngapa-ngapain karena Splash keburu bubar, ihh cantiknya si Candi sekarang.
Belum sempat anganku jauh melayang menatap indahnya bidadari di hadiratku, tiba-tiba ada anak perempuan kecil yang lari ngibrit menuju tempat Candi duduk tepat di depanku sembari teriak “Mami… mami…” kepada Candi.
“bahhhh anaknya si Candi, udah kawin juga dia ternyata”, galau dalam jiwaku berkata
Tampaknya semua orang berubah kecuali si Gery, dan tiba-tiba di kuping langsung terngiang lagu yang liriknya “everybodies changing but I don’t feel the same”.
Lagu yang selama ini kusuka, langsung terasa menyinggung dalam dada, rindu akan bertemu teman-teman sekampus dulu, jadi terasa tamparan akan kenyataan yang ada padaku saat ini, jomblo walaupun gak ngenes, MaDeSu sekalipun gak jobless, dan masih tinggal sama OrTu. Walaupun gak ada satupun dari teman-teman yang menyinggung, tapi resah hati yang sebelumnya bahkan tak terpikirkan, tiba-tiba dalam sekejap menjadi besar dan membara membakar dada.
Waktu terasa berjalan lambat, bahkan ku tak sanggup membalas tatapan mata Candi yang seolah ingin menyapa dan bertemu kangen dengan tatapanku, everything is suddenly so very wrong in my world. Aku harus berubah!.

Hari, minggu, bulan dan tahun berlalu. Kucoba untuk tak lagi sama, meskipun hati berat untuk meninggalkan kenyamanan dan kecukupan yang selama ini orangtuaku berikan, kakiku terasa ringan untuk melangkah.
Setelah reuni makan malam bersama teman-teman Splash waktu itu, ku memutuskan untuk pindah kota mencari suasana dan tantangan baru, mencari pekerjaan baru, tinggal sendiri mencoba mandiri, menanggung cobaan hidup dan menerjang ombak besar takdir hidupku sendiri.
Kuganti nomor ponsel dan menjauh dari akun medsosku, hampir semua sisi dalam hidupku berubah, dari Bogor, Bandung, Semarang, Jogja dan Surabaya, dari Vina, Dessy, Lany sampai Cecilia. Hidup yang dinamis membuat jiwaku berubah dan perlahan membentuk sosok pribadi Gery yang berbeda… sangat, sangat berbeda.
Gery yang sekarang tak lagi butuh orang lain, semua keinginan tercukupi atas keringat dan usahanya sendiri, cinta akan terjadi dikala kepala mulai berat dan susah untuk fokus, jika tak ada Vina yaa Dessy, jika tak ada Lany yaa Cecil, sesederhana itu. Hidup… hidup gue, duit… duit gue, yaa suka-suka gue, gitulah kira-kira.

Sampai suatu saat di akhir bulan desember, Saat liburan akhir tahunku di Sumbawa, di satu pagi yang cerah, dengan sinar matahari putih yang tak lelah-lelahnya menghujam mata, sesaat ketika suapan pertama sarapan pagi di pinggir pantai Lariti, terdengar tak jauh dari arah samping kananku seseorang berteriak kencang memanggil nama panggilanku berulang kali, sampai begitu kerasnya kutau bahwa orang tersebut telah berada di sampingku, bagai malaikat yang kehadiratnya disinari oleh cahaya terang, sosok itu berdiri dengan anggunnya di hadapanku, tetapi suaranya yang cempreng membuat tampilan yang megah dan indahnya langsung bubar berantakan.

“Benar kan Yah, si Bangke!!!”, sembari memelukku, dia berteriak kencang ke arah dia datang. Hampir semua orang yang sedang sarapan menatap ke arahku, si Bangke sedang dipeluk sosok berkilauan cahaya matahari putih bersuara cempreng bernama Sherly alias Mumun ini.
Kami lalu melepas rindu bersama, bagai bocah yang mendapat mainan baru, kami seperti orang udik yang norak gak pernah piknik, selfie sana sini, coba ini itu bersama layaknya ABG baru yang pertama kali ke pantai. Saat malamnya kita makan malam bersama, mereka membawa bocah lelaki yang menggemaskan, bayi yang Sherly kandung terakhir ku bertemu dengannya, sekarang menjadi balita yang gagah berlari di samping ayahnya yang memakai kaus yang sama bergambar robot Gundam, tiba-tiba rasa itu kembali menghampiriku, rasa asing yang terasa menyiram dadaku dengan air asam, rasa tandus yang menampar jiwaku dengan gersangnya. Seketika aku tersadar bahwa jiwa ini masihlah kosong.
Aku menarik nafas panjang lalu berbisik pelan dalam hati, “I haven’t change a bit!”. Jika bukan kemandirianku ini yang selama ini kudambakan, lalu apa?.

Setelah pamitan ku langsung langkahkan kaki menuju kamarku menginap, tapi Sherly menghentikan langkahku, dia menghampiriku dan berkata
“Lu inget sepupu gua si Candi kan?”, tanyanya yang langsung kuiyakan, dan kembali Sherly berkata
“Lu tiga puluh, dia dua puluh tujuh, lu blom nikah, dia juga gitu, kalian sama-sama cakep tapi kok susah banget dapet yang cocok. Candi dulu mo gabung Splash karena elo Ger, lu hilang ga ada juntrungannya entah ke mana pun, dia tetap terus nanya kabar lu ke gue, nih no WA nya, kali aja kalian jodoh”, terang Sherly sembari mengusap pipiku.
Ku terhenyak mendengar perkataan Sherly, bukannya waktu itu yang di Radja Gurame ada bocah yang memanggil-manggilnya dengan Mami, kok Sherly bilang belum nikah. Ku mulai kembali buka medsosku, ku bernostalgia dan mencari medsos Candi, ternyata bocah yang memanggilnya dengan mami dulu itu keponakannya dia.

Aku berusaha membuka komunikasi lewat medsos. Sejenak berhenti, ku merasakan hangat dalam dada, dan temukan diriku nyengir-ngengir sendiri, rasa ini sudah lama tak kembali lagi sampai saat ini. Sesak dada yang membuat kepala pening menunggu jawaban pesan Facebookku padanya, rasa greregetan karena panggilan teleponku yang gak dia angkat, rasa gelisah karena WA ku gak diaccept dan FB, Twitter sampe Path juga gak ada respon, gairah itu datang kembali dan jiwaku bergejolak sangat bersemangat, apa ini yang kunantikan? Apa dia yang selama ini kudambakan?

Ku tertidur menunggu respon balik Candi, ku bangun menyadari ku harus sesegera mungkin check out dan pulang balik ke Surabaya, panggilan ponselku penuh oleh nomor Cecilia, ku memutuskan membuka laptop dan menghapus semua hal tentang Cecil dan siapapun wanita yang selama ini berhubungan denganku, seketika itu juga aku memutuskan untuk mengakhiri pertualangan dan memutuskan untuk kembali ke Jakarta.

Tiba di Surabaya, kusiapkan segala keperluan untuk pergi, ku mengundurkan diri dari pekerjaan, kukemas barang-barang dan sesegera mungkin kembali ke Jakarta, berkali-kali Cecil berusaha untuk menemui tapi ku berhasil menghindar, ku sadar tindakanku jahat, ku hanya memutuskan hubungan memalui telepon, akan sangat sulit untuk dia mengerti bahwa hubungan yang menyenangkan dan romantic ini tiba-tiba dalam hitungan hari berantakan, dan aku pun tak bisa menemukan alasan untuk mengatakan selamat tinggal pada Cecil.

Sesampainya di Jakarta, ku langsung mengganti nomor ponselku, kuhubungi teman-teman dekatku memberi tahukan informasiku saat ini, khususnya pada Sherly, berharap secara cepat informasi ini sampai ke Candi. Kembali kucoba beberapa kali meneleponnya, kembali yang kudapat hanya kecewa, belum pun ada respon dari Candi di akun medsosku. Aku seperti ABG yang baru jatuh cinta sedang menunggu jawaban dari seorang yang disukanya, diriku sangat gelisah tak menentu.

Ku menginap di hotel sekitar Cilandak selama dua hari, menunggu respon dari Candi. Ku tahan keinginanku untuk langsung pulang ke rumah orangtua, karena aku akan membutuhkan waktu untuk melepas rindu bersama keluarga dan tak bisa fokus pada Candi.
Aku bisa merelakan hidup dan kesuksesanku kemarin untuk memulai hidup baru dan menjalin cerita baru bersama Candi, aku sadar bahwa selama ini dia lah wanita yang kunantikan.

Setelah sehari ku menunggu kabar, akhirnya ada balasan dari Candi di Facebookku,
“Hai Gery, kabar aku baik. Aku senang kamu kirim pesan, aku tak pernah menyangka kamu akan mengirim pesan di FB, I was thought you’re not that kind of person, texting, WAing or such, but I appreciate this. Kamu apa kabar? Kata-katanya sekarang di Surabaya yah?”.

Tapi sebelum sempat membalas, bahkan belum pun hati ini merasa senang, ada panggilan telepon dari Sherly yang memberi tahu bahwa Candi baru aja bertunangan dengan seorang pria, kejadian itu terjadi saat kita sedang liburan di Sumbawa. Sherly tak henti-hentinya memohon maaf padaku, dia merasa sangat bersalah membuatku hilang pekerjaan, meninggalkan Cecilia dan kembali ke Jakarta hanya untuk menemukan orang yang menjadi alasan ku lakukan semua itu telah bertunangan dengan lelaki lain.

Zleb banget di hati, sakitnya tuh level top banget, sekali ini saja ku rasa sakit macam ini, ku hanya terdiam terpaku tak percaya atas apa yang telah terjadi, terdiam pada tempatku berada sekarang untuk waktu yang lama, tak ada yang kutatap melainkan rasa hampa di dada yang terasa berdesakan mencari jalan keluar, menghantam dinding hati dari segala arah tanpa henti, membuatku tak bisa berdiri dan hanya duduk terpaku meratapi nasib, takdirku yang kembali ke tempat awal dimana ku merasa kosong dan…

“Tok.. Tok.. Tok!”, terdengar ketukan yang berasal dari pintu kamarku menginap
Ku tak ada gairah bahkan untuk menggerakkan satu kakiku untuk melangkah
“Tokk.. Tokk.. Tokk!!”, kali kedua ketukannya lebih kencang
Membuat telingaku panas dan memacu jantung ini lebih kencang, menambah rasa sakit yang sedang melanda setiap titik tubuhku. Tapi kaki ini tetap tak ingin melangkah, hasratku hanya ingin mengingat kembali indah senyuman Candi, cara uniknya dia mengatakan huruf “L”, “R”, dan “S”, yang dia katakan sembari mengernyitkan dahinya, tatapan matanya yang malu-malu, sungguh menggemaskan. Semua itu terasa sangat berharga saat ini, harga yang tak mungkin lagi bisa kubeli dikemudian hari, setiap kenangan akan dirinya yang melintasi pikiran, mengiris-iris hatiku dengan cuka lemon dan garam… sakiiiiiiiiit.

“DOKK.. DOKK.. DOKK”, lagi pintu kamarku menginap berbunyi, tapi kali ini digedor bukan diketuk
Aku yang terlanjur naik pitam tak sanggup lagi menahan amarah yang ingin kulampiaskan pada siapa saja yang sekarang ada di depan pintu itu. Segera kuhampiri pintu kamar dan membuka pintu itu dengan cepat sembari…

“KENA LOEEEEEE… EMANG ENAK!!!”, Sherly berdiri di depan pintu kamar sembari lompat-lompat kegirangan, di sampingnya ada Candi yang memakai setelan biru muda dengar garis putih di bagian kerah dan lengannya, dia berdiri sembari menatapku lembut dengan senyum-senyum kecil yang manis dari bibirnya yang ranum.

Sherly dan Candi janjian untuk ngerjain aku, pertunangan yang Sherly katakan hanya karangan dia saja, Sherly mengharap jika hal tersebut bisa membuatku terpacu dan termotivasi untuk segera menikah dan berkeluarga. Which is… sukses membuatku merasakan sakit, sedih, kecewa dan rasa sesal yang tak pernah kurasakan sebelumnya, perasaan yang memotivasiku untuk berhenti sejenak dan sadar betapa berharganya Candi bagiku, wanita yang kuinginkan selama ini dalam hidup.

Dalam hidup ini kita butuh orang lain dalam kesuksesan dan kebahagiaan yang kita telah dan akan raih, dan segala sesuatu akan indah pada waktunya, waktunya kita temukan apa yang paling kita ingin dan butuhkan dalam hidup ini, apa yang sebenarnya kita impikan dan dambakan.

Dan wanita yang ada di hadapanku sekarang, membuat jantungku berdentang sangat cepat, ku merasa sangat bodoh karena menitikkan air mata. Rasa pedih yang tadi terasa mengubah kimia dalam tubuhku secara tiba-tiba menjadi rasa bahagia, dan embun yang dihasilkannya seperti tak terbendung menguap keluar.

Segera setelah pertemuanku kembali dengannya, kunikahi kau adinda.

SELESAI

Cerpen Karangan: Kris
Facebook: aria nugraha

Cerpen Setengah Penuh Menggapai Candi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Janji Si Musim Hujan

Oleh:
Setelah musim hujan terlama dalam sejarah. Setelah hari-hari mendung itu berlalu. Setelah suasana dingin, sendu dan senyap musnah. Setelah matahari bersinar secerah harapan. Burung-burung berterbangan menghiasi langit, terbang bebas

Pelangi di Langit Magenta

Oleh:
Salahkah jika pelangi mencintai magenta?! Hari ini langit sore masih tetap sama seperti hari kemaren. Senyumnya masih tampak, menyambut insan-insan yang telah letih dan gusar menghabiskan waktu bersama siang.

Shuuko (Persahabatan)

Oleh:
Perkenalkan nama ku Kyurie, aku bersekolah di SMPN 1 MARTAPURA. Dan sekarang aku sudah duduk di kelas VIII A. Aku mempunyai banyak teman di sekolah ku itu, aku juga

Cahaya Untuk Icha

Oleh:
“ aah Riki, basah tahu.. aah udah..” rengekku ketika bermain pistol air bersama Riki sahabat kecilku. Tawa kami bisa jadi tawa paling istimewa di kompleks ini. Rumahku dengan rumah

Randa Tapak Mejikuhibiniu

Oleh:
Suara siulan burung menemani keheningan di dinginnya kebutaan pagi pada hari ini, Tiwi seorang gadis duduk di depan cermin memandangi wajahnya. Tiwi percaya bahwa ia hidup dalam kesempurnaan, tetapi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *