Si Pengganggu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 13 February 2016

“Halo chubby,” panggil Rio kepada Lia, chubby adalah panggilan Rio untuk Lia, ya memang pipi Lia chubby.
“Riooo!!” Teriak Lia sambil mengejar Rio yang sudah lari. Akhirnya Lia berhasil mengejar Rio.
“Jangan panggil chubby lagi,” marah Lia.
“Iya chubby. Eh.. Iya Lia,” Lia menjitak kepala Rio. “Aww..” Jerit Rio sambil memegang kepalanya yang kesakitan.

“Sorry.. Rio,” ucap Lia sambil menjulurkan lidahnya.
“Sakit tahu..” Rio masih mengusap usap kepalanya.
“Ih jadi cowok kayak cewek deh,”
“Enak aja.. Dasar chubby,”
“Hehh.. Mau dijitak lagi?”
“Enggak.. Enggak…” Ucap Rio sambil menjauh.
“Huhh payah!” Lia mengangkat jempolnya lalu diturunkannya ke bawah.

Dari jauh Syira melihat kelakuan mereka berdua. “Ehem, lagi asyik pacaran ya?”
“Pacaran?” Ucap Rio dan Lia serempak.
“Tuh kan ngomong aja serempak. Hahaha. Kalian itu memang cocok kok,”
“Amit-amit deh..” ujar Lia, Rio meliriknya.
“Masuk yuk! Nanti terlambat lagi.” ajak Syira.
Mereka memasuki sekolah bersama.

Lia melamun sendirian di taman. Dia sangat kesal sekali kepada Rio yang selalu mengatainya. Rio mendekati Lia.
“Lagi mikirin siapa tuh? Aku ya?” Kata Rio sambil menunjuk dirinya.
“Enak aja!” elak Lia sambil membuang muka. Kenapa dia tahu sih. Ahh…
“Ikut aku yuk!” Tanpa menunggu jawaban Lia, Rio menggandeng tangan Lia.
“Woy.. Lepasin!” Erang Lia sambil berusah melepaskan tangannya, tapi Rio malah semakin kencang memegang tangan Lia. “Gak mau!” Akhirnya Lia hanya bisa pasrah. Mereka berjalan kaki dan mereka sampai di tempat es krim.
“Ngapain kita ke sini?”
“Mau ngelihatin orang makan es krim.”

“Hah?”
“Ya gak lah, mau makan es krim Chubby,”
Lia hanya membulatkan mulutnya.
“Mas, pesan es krim vanila dua,” ujar Rio kepada pelayan yang berdiri di dekat pintu masuk.
“Baik, silakan ditunggu.” Tak lama kemudian, pesanan mereka sudah datang, Rio langsung memakannya. Lia memperhatikan Rio yang memakan es krim dengan cepat. Deg. Deg.. Deg. Jantung Lia berdetak dengan cepat.

“Ada apa? Kok lihatin muka aku terus?”
“Eh..e..n.gg..ak,” Lia membuang muka dan wajahnya memerah, dan Rio melihatnya.
“Ah.. Naksir ya? Hahaha,”
“Apaan sih? Siapa yang naksir?”
“Kamulah, es krimnya gak mau dimakan ya? Aku aja ya yang makan. Kan sayang..” Ucap Rio sambil mengambil es krim Lia. “Ehh. Apaan sih? Sini aku makan!” Lia langsung merebut es krimnya. Lia memakan es krimnya, mulut Lia belopotan es krim. Rio tertawa melihatnya.
“Hahaha..” tawa Rio. “Makan itu jangan kayak anak kecil tau, sini aku bersihin,” tangan Rio menyentuh mulut Lia yang belepotan es krim.
“Udah yuk pulang!” ajak Lia.

Entah mengapa Lia terus memikirkan Rio. Ia selalu terbayang-bayang wajah Rio.
“Ahh… Nih otak udah gak waras deh!” ucap Lia sambil menepuk-nepuk pelan kepalanya.
“Lia!!” Panggil mamanya dari bawah.
“Iya… bentar Ma,” Lia berlari ke bawah.
“Lia, antar kue ini ke rumah Bu Lanisa,”
“Iya Ma.” Lia segera pergi menuju rumah Bu Lanisa, mamanya Rio.

“Ahh.. Kenapa sih harus rumah Rio? Pasti ketemu dia deh,” batin Lia.
“Permisi…” Teriak Lia sambil mengetuk pintu. Rio sudah berada di depan Lia.
“Eh.. Chubby, ada apa?”
“Heh, udah aku bilang jangan panggil chubby lagiii!!”
“Iya deh.. Iya, ada apa?”
“Cuma mau kasih ini ke Mama kamu dari Ibuku,”
“Oh… tapi Mamaku lagi ke luar, sini kasih aku aja,”
“Ya sudah deh.”

Keesokkan harinya, Lia menunggu Syira di gerbang sekolah.
“Hai Lia,”
“Hai juga Syir,”
“Eh.. Mana si Rio?”
“Mana aku tahu..”

“Eh.. Tuh lihat deh.. Itu si Rio..” Ucap Syira sambil menunjuk Rio, di sebelah Rio ada seorang perempuan yang menggandeng tangan Rio. “Halo chubby, halo Syir, kenalin ini Villa,”
“Eh iya, kemaren aku belum kembaliin buku perpustakaan, aku balikin buku dulu ya,” ucap Lia.
Lia langsung berlari ke arah perpustakaan, ia duduk di pojok ruangan.
“Aihh.. Kenapa sih.. Kok jadi cemburu gini?” Kring… Kring.. Kring. Bel berbunyi, Lia menuju ke kelasnya.

Sepulang sekolah, Lia langsung pulang ke rumahnya, tanpa menunggu Rio. Biasanya mereka selalu pulang bersama. Lia berjalan cepat. Ia tidak memperhatikan jalan, tanpa sadar ia terselandung batu. “Aww!!” teriak Lia merintih kesakitan. Dari jauh Rio melihatnya, “Chubby, kamu tunggu di sini. Oke?” Rio berlari dan tak lama lagi ia sudah kembali membawa kotak P3K. Ia mengobati luka Lia dengan hati-hati.

“Makanya lain kali hati-hati kalau jalan..”
“Iya.. Iya!”
“Sini aku bantu berdiri.” ucap Rio sambil mengulurkan tangannya, Lia menerima uluran tangan Rio.
Mereka pun bersama-sama pulang ke rumah.

Sore hari, Rio dan Lia janjian ketemuan di taman.
“Lia..” Panggil Rio sambil mendekati Lia yang sedang duduk.
Lia melemparkan senyum ke Rio. “Gimana kakinya?”
“Udah gak apa-apa kok, terima kasih ya untuk tadi..”
“Iya sama-sama..”

“Kamu mau ngomong apa suruh aku ke sini?”
“Eh.. I..tu .. Aku mau ngomong… Kalau.. Ak..uuu su..ka sa..ma ka..mu,”
Lia kaget mendengarnya, pipinya bersemu merah.
“Aku cuma mau ngomong itu,” ucap Rio, ia menundukkan kepalanya.
“Aku juga suka sama kamu,” ucap Lia.
“Yang bener?”
“Iya..” Rio tersenyum bahagia mendengar jawaban Lia.

“Tapi.. Cewek tadi siapa?”
“Oh yang tadi.. Itu adik aku, ia baru pindah ke sini. Kenapa? Cemburu ya? Hahaha..”
“Iya.. Cemburu,”
“Jadi cintaku diterima nih?”
Lia menganggukkan kepalanya.

Cerpen Karangan: Shandez Darlene
Blog: Shandezdarlene.blogspot.com

Cerpen Si Pengganggu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Good Bye Single

Oleh:
“Dinnn.. Andien…” Terdengar suara teriakan teman gue, Suci dari depan rumah. “iyah apa? Sini masuk kamar gue langsung.” jawab Andien membalas dari kamar teriakan temannya. Suci pun langsung memasuki

Lost And Love

Oleh:
“ku temukan alasan apa yang pantas sebagai elakan untuk menyerah, menyerah dan berdamai dengan perasaan ini. Alasan yang sangat nampak dari masa lalu, masa yang menghubungkanku denganmu di masa

Dipecundangi Mimpi

Oleh:
Adinda, aku hampir kalah oleh mimpiku sendiri, aku dipecundangi dengan keadaan. Masih mau kah dirimu dengan sang pencundang adinda? Adinda, di suatu pagi yang tenang dan dingin aku terbangun,

Dia buta

Oleh:
Sungguh dia cantik sekali, rambutnya terurai ke bawah, matanya bening, dan dia begitu menawan. Hanya satu yang tak pernah ku lihat darinya, senyumnya. Aku tak pernah melihat itu. Sudah

Menunggumu

Oleh:
Tiga tahun yang lalu, di sini, di bawah pohon kiara payung, di tanggal yang sama, waktu yang sama, serta suasana yang sama, aku menunggu kedatanganmu. 23 Juli, pukul 15.00,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *