Si Pipit Genit

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 5 February 2016

Saat itu, si pemburu itu, dia berjalan sendirian. Dia berjalan pada jalan yang memang sudah sering dilaluinya. Dia tahu ini pekerjaannya, hobinya, yang memang begitulah dia. Dan saat dia berjalan kala itu, nampak kepulan asap terhembus dari mulutnya. Juga di tangan kanannya, jerat yang sudah disiagakannya untuk dipasang. Dicarinya yang bisa dijebaknya, yakni mereka-mereka yang malang itu. Dan saat sudah ditemukannya tempat yang tepat, yang sesuai menurutnya, segeralah dipasang jerat itu dengan sigap. Sesudah itu, sebaris doa pun bertalu, mengiringi jejaknya yang perlahan mundur, lalu lenyap.

Tapi kemudian -saat matahari berada tepat di atas kepala- si pemburu itu akhirnya berbalik dan terkejut. Bagaimana tidak? Lihat saja, ketika ia pulang dari teduhnya dan bermaksud untuk mengamati jeratnya, tertawalah ia lebar-lebar. Sebab jebakannya sempurna, menjerat si kaki kecil nan malang. Si pemburu itu pun tertawa menyaksikannya, si kecil itu melonglong kesakitan. Dia itu, si pemburu tahu, itu Pipit kecil.

Dengan penuh rasa cinta dan tergesa-gesa, cepat-cepatlah si pemburu itu membukakan jeratnya dengan sapuan lembut, kemudian menimang-nimang si Pipit itu dengan bahasa kasih yang cerdas. Dan si Pipit itu, lantaran dia adalah ratu yang memang bisa terbang -burung angkasa yang kerjanya bermain awan- pun menyikapi itu dengan anggun. Kakinya bersilang, sambil paruhnya mencicit dengan cara yang genit. Dengan berlalunya waktu secara demikian, maka terjalinlah ikatan cinta antara keduanya. Si tuan pemburu dan si Pipit, burung angkasa. Dan untuk menunjukkan gelora cintanya yang memang sudah tak tertahankan itu, bersumpahlah si pemburu untuk membawakan bagi ratunya itu hadiah kelas mewah. Dan ratu itu, si Pipit bersayap, menyikapi itu dengan sandaran anggun.

Si Pipit itu jelita sekali. Bulunya lembut, kolaborasi warna antara putih dan kuning. Juga garis paruhnya yang ada sedikit merahnya, sungguh menawan. Bahkan diduga-duga, darahnya pasti lezat, dan dagingnya menghanyutkan. Maka pergilah si pemburu itu membawa hatinya yang sedang berbunga, meninggalkan si Pipit tanpa ada lagi jerat yang terpasang. Tuan pemburu percaya bahwa cinta tak akan pernah berbohong. Tuan pemburu percaya, Pipit manisnya -jantung hatinya itu- akan setia menunggunya dan tidak akan terbang pergi sampai ia datang.

Namun si Pipit itu, saat kekasihnya sedang pergi demi mencari hadiah atas jalinan kasih yang baru saja terbentuk ini, malah berpura-pura -sangat pura-pura- untuk tidur dengan manja. Matanya tertutup, tapi hatinya mengawasi dengan gelisah dan was-was. Maka terjadilah seperti apa yang telah didugakan oleh kita semua, yang mana dalam dunia percintaan hal ini adalah wajar. Semakin cantiklah dia, maka teramat pintarlah dia kalau mau berulah. Itulah yang tuan pemburu tangkap sewaktu dia pulang beserta hadiahnya, yang mana dimaksudkannya untuk dipersembahkan di atas kaki sang pujaannya. Sayangnya, yang terjadi bukanlah demikian. Melainkan..

Astaga, betapa terkejutlah si pemburu itu kala mendapati kamar kencannya yang ternyata sudah kosong. Kekasihnya, si Pipit sihir itu, telah melarikan diri dengan cara yang licik.
“Dia kejam!” sendu sang pemburu, “Tega mematuk hatiku hingga luka, lalu meninggalkan nanah di hati ini!” Padahal, tidak main-mainlah cinta sang pemburu itu. Rusa jantan besar dengan tanduknya yang super panjang, telah dipikulnya dengan susah payah untuk dimaksudkannya sebagai hadiah atas jalinan cinta yang baginya suci ini. Tapi apa daya, Pipit itu berbohong.

“Kau curang, Pipit cintaku!” Pipit itu telah melarikan diri, kamar kencannya pun menjadi sepi, meninggalkan si pemburu seorang diri. “Ku sumpahi kau, Pipit cintaku!” sumpah si pemburu itu, “Bahwa ke mana pun kau pergi, kau akan merindukanku dengan sangat, lalu mencariku dengan cinta yang haus!” Dan selepas itu, tertawalah ia lebar-lebar.

Cerpen Karangan: Ardon
Berikan comment anda, plis!

Cerpen Si Pipit Genit merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Antara Bulan Dan Bintang

Oleh:
Ketika malam mulai menampakkan diri, bulan terlihat menerangi, seakan dialah benda paling indah di angkasa. Meskipun dia sendiri tahu, bintanglah yang selalu menyinarkan cahaya yang begitu nyaman untuk bumi.

Tian si Masa Lalu

Oleh:
Hujan di sore ini membawaku untuk mengingat tentang masa laluku, entah apa hubungannya Tian (Si masa lalu) dengan Hujan. Aku suka hujan, asal dia tidak membawa teman-temannya si Gemuruh,

Me And You

Oleh:
Tak disangka aku menangis tersedu-sedu saat ku tahu orang yang ku sayangi akan pindah sekolah dan kita tidak akan pernah bertemu lagi untuk selamanya. “Dion, apa kamu benar-benar akan

Pandangan Cinta

Oleh:
Suasana ramai riuh di sebuah taman. Banyak kerumunan di sekitarnya. Orang-orang berlalu-lalang melintasi jalanan dengan langkah santai. Seolah menikmati malam di taman kota. Ada yang berbicara pada ponsel yang

Goresan Tinta Kelabu

Oleh:
Gemricik air terdengar beraturan dari dalam kamar lalu sedikit kutengokkan kepalaku ke jendela kamar, dan kulihat butiran butiran air yang dengan sabarnya satu persatu turun dari awan hingga bisa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *