Siswa Baru di SMA


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 1 June 2013

Di suatu pagi yang cerah, burung-burung berkicau riang menyambut datangnya sang surya, ayam jago tak mau kalah berkokok dengan nyaring menyambut datangnya pagi dan membangunkan orang-orang yang masih tidur dengan pulasnya. Di sebuah rumah mewah, tepatnya di rumah keluarga Tomo terlihat semua anggota keluarganya sudah bangun kecuali seorang putra laki-laki yang masih tidur.
“den…, den Rizky, bangun den..!” terdengar suara Bi Imah membangunkan putra majikannya. Namun yang di panggil tak menyahut. “den Rizky, sudah siang den”
“ya bi, aku sudah bangun kok” sahut Rizky sambil mengusap-usap matanya, lalu ia pergi ke kamar mandi.

Berbeda dengan keluarga Tomo, keluarga Surya yang hidup sederhana di rumah mereka yang sederhana pula setiap subuh mereka menunaikan ibadah shalat subuh berjamaah. Barulah setelah itu melakukan aktivitasnya masing-masing, Wulan Istri Surya di bantu oleh putri semata wayang mereka yang bernama Putri, menyiapkan sarapan pagi. Setelah itu merekan akan sibuk dengan aktivitas masing-masing, Putri sekolah, bapaknya bekerja di perusahaan milik keluarga Tomo, sedang ibunya bekerja di rumah Tomo.

Pagi yang cerah, seperti biasa Putri sudah sampai di sekolah sebelum bel masuk berbunyi, dia selalu membantu ibu kantin menyiapkan semua yang akan di jual, sebelum semua siswa datang dan nongkrong di kantin milik bu Surti.
“Assalamu’alaikum bu…!”
“Waalaikum salam, eh nak putri” ujar bu Surti dengan senyuman.
“iya bu, maaf aku agak terlambat, ada yang bisa aku bantu bu?”
“nggak apa-apa kok nak, sekang sudah siap kok semuanya”

Jam menunjukkan pukul 7 tepat, terlihat siswa siswi SMA 2 mulai hadir dan sebagian dari mereka seperti biasa selalu nongkrongin kantin milik bu Surti sehingga setiap pagi kantin itu selalu ramai. Hal itu akan membuat Putri dan bu Surti menjadi sibuk melayani para pembeli. Kemudian setelah bel pertama berdering kantin akan kembali sepi karena semua siswa siswi sudah berada di kelas mereka masing-masing. Pagi ini kelas X.4 dimana putri belajar kedatangan seorang siswa baru.
“Assalamu’alaikum, selamat pagi ananda semua…!” sapa bu Intan wali kelas X.4.
“Waalaikum salam, pagi bu…!”
“hari ini di kelas kita kedatangan teman baru namanya Rizky. Nah Rizky ayo perkenalkan dirimu pada teman barumu disini”
“baik bu, perkenalkan gue Rizky Nazar (sebenarnya sih, nama idola penulis, hehehehehe), kalian bisa panggil Rizky, gue pindahan dari SMA 9 itu aja thank’s. ada yang mau Tanya?” ujar Rizky.
“gue” Siska mengangkat tangan. “udah punya pacar belom”
“huuuu…!” Sorak siswa lain.
“apaan sih kalian sewot aja”
“sudah, sudah semuanya diam” bu Intan menenangkan. “Rizky, silahkan tempati bangku yang masih kosong, dan tunggu guru yang akan mengajar di kelas” nasehat bu Intan.

Setelah bu Intan meninggalkan ruang kelas, bu Diana yang akan menyampaikan mata pelajaran biologi dikelas X.4 masuk dan memulai proses pembelajaran.
“pagi ananda…!”
“pagi bu…!”
“sebelum kita lanjutkan materi, ibu dengar di kelas ini ada siswa baru, benar?” Tanya bu Diana.
“bener bu…!” Siswa kompak.
“yang mana orangnya”
“saya bu” Rizky mengangkat tangan.
“siapa namu kamu”
“Rizky bu” jawab Rizky.
“semoga kamu suka dan bisa menyesuaikan diri disini”
“terima kasih bu”
“baiklah, sekarang kita lanjutkan materi minggu kemaren, apa ada tugas?”
Begitulah mereka mengikuti pelajaran biologi selama 2 jam pelajaran, setelah pelajaran kedua yaitu Bahasa Indonesia, bel tanda istirahat berdering. Terlihat semua siswa keluar dari kelas masing-masing dan menuju tempat aktivitas mereka selanjutnya, sebagian besar tujuannya adalah kantin dan perpustakaan, namun juga ada yang hanya ngobrol didepan kelas mereka.

Seperti biasa Putri yang setiap jam istirahat selalu membantu bu Surti terlihat sibuk di kantin yang selalu ramai itu.
“maaf, mau pesan apa?” Tanya Putri sopan.
“loe yang tadi dikelas kan? Loe kerja disini, kasian banget sih” ujar Rizky. “mau sekolah aja harus jadi pelayan kantin segala”
Menghela napas untuk menahan emosinya. “aku rasa itu urusan pribadi aku. Jadi kamu mau pesan apa?”
“harusnya ya, kalo mau sekolah ya sekolah aja. Jadi pelayan kantin malu-maluin aja sih” tak menghiraukan pertanyaan Putri.
“sorry ya, selama ini nggak ada tuh yang protes. So, mending kamu mikir dulu deh sebelum ngomong, yang aku kerjain halal kok” ujar Putri.
“kayaknya gue udah mikir 2 kali deh ampe 3 malahan, tetap aja malu-maluin” ujar Rizky santai.
“nggak ada urusannya ya sama kamu, yang jalani aku” Putri mulai kesal.
“hmmm…! apa martabat sekolah ini nggak turun gitu ada siswinya yang jadi pelayan”
“eh, kamu nyebelin banget sih, ngurusin pribadi orang aja. Mau pesan apa nggak? Aku sibuk” akhirnya kekesalan Putri memuncak.
“cantik-cantik tapi jutek” terus membuat Putri kesal. “ntar pelanggan yang datang pada kabur loh kalo yang layani jutek kayak gini”
Makin kesal dengan kata-kata Rizky, diambilnya segelas air yang ada di meja dan disiramkan ke Rizky. “sama pelanggan yang sopan aku juga bakal sopan, ngerti” lalu meninggalkan Rizky.
“hey…! Loe mau kemana” sambil membersihkan bajunya yang basah. “sial tuh cewek”
“maaf nak, ada apa ya?” Tanya bu Surti.
“tuh pegawai ibu nggak sopan banget” langsung keluar dari kantin.

Hari-hari dilalui dengan cepat, pertengkaran antara Rizky dan Putri tetap berlanjut, baru beberapa minggu saja disana Rizky sudah punya banyak teman, dia mendapat 2 orang sahabat yang juga termasuk siswa baru, yaitu Panji dan Raka. Biarpun baru kenal tapi mereka sudah sangat akrab.
“hey guys…!” Sapa Rizky suatu pagi.
“hey ky, kantin yuk laper nih” ajak Panji.
“yoi nih gue juga lapar” timpal Raka.
“ok, yuk”

Di kantin Putri dan 2 sahabatnya Anissa dan Rara terlihat sibuk membantu bu Surti di kantin. Dari arah kelas Rizky dan 2 sahabatnya berjalan menuju kantin, Putri yang melihat hal itu langsung pergi ke dapur, niatnya sih pengen menghindar dari musuhnya.
“Putri…!” Terdengar suara bu Surti. “kesini sebentar nak”
“ya bu, ada apa?” Tanyanya sopan.
“tolong antar makanan ini” menyodorkan nampan berisi 3 piring nasgor alias nasi goreng dan 2 gelas teh dan air mineral.
“ya bu, meja yang mana bu?”
“meja itu” menunjuk kearah meja Rizky dan sahabatnya duduk.
“kesana bu?” agak kaget. “hmmm…! Baik bu”
Dengan sedikit terpaksa Putri mengantarkan pesanan itu ke meja orang yang memesannya, melihat Putri yang mengantarkan pesanannya Rizky yang tadinya bercanda dengan sahabatnya langsung diam. Putri berusaha tetap cuek saat meletakkan pesanan di meja.
“ini pesanannya, silahkan”
“thank’s ya Put” ujar Raka.
“sama-sama. Aku permisi ya selamat makan”
“eh, eh, eh, eh, mau kemana loe” cegat Rizky.
“maaf, ada yang bisa di bantu ato ada yang kurang?” jawab Putri.
“ada, gue pesan teh juga dong”
“ok, tunggu ya” tak lama kemudian Putri kembali dengan segelas teh ditangannya. “ini, silahkan”
“eh” belum selesai Rizky ngomong Putri sudah bicara.
“apa lagi sih, ribet banget kamu”
“mendingan loe minggat lagi, ntar nafsu makan gue ilang lagi”
Dengan rasa kesal Putri meninggalkan Rizky dan 2 sahabatnya, Rizky tampak cuek sakan tak terjadi apa-apa barusan dan menyantap nasi goreng pesanannya.

Siang itu mentari bersinar dengan teriknya semua siswa siswi SMA 2 terlihat mulai meninggalkan pekarangan sekolah seusai menerima pelajaran.
“duuuuh…! Panas banget sih” kata Siska.
“iya nih” Rindu yang berdiri didekatnya menimpali sambil mengipas-ngipaskan buku ditangannya.
“beli ice cream yuk, sana” ujar Rinda menunjuk kearah minimarket yang ada didekat sekolah.
“iya, enak nih panas-panas makan ice cream”
“ya udah, yuk” ajak Siska.
Sementara itu di kantin sekolah Putri dan 2 sahabatnya baru saja selesai membantu bu Surti bersih-bersih dan terlihat mereka juga kepanasan.
“hari ini kok panas banget ya” gumam Anissa.
“nih, ibu bikin teh es” ujar bu Surti.
“nggak usah repot-repotlah bu, ntar kita aja yang bikin sendiri” kata Putri.
“iya bu, nggak usah”
“nggak apa-apa, ibu juga udah siap bikininnya nih”
“waaah makasih ya bu” ujar Rara lungsung meneguk teh es.
“katanya nggak, kok malah langsung nyosor aja” goda Anissa.
“haus tau” balas Rara.
“maaf ya bu ngerepotin” kata Putri.
“nggak kok ibu nggak repot, makasih kalian mau bantuin ibu” kata bu Surti. “ini ada sedikit untuk kalian”
“yah…! Ibu kita seneng kok bantuin ibu nggak usah pake gaji segala bu” kata Anissa.
“iya bu, nggak usah” timpal Putri
“udah ambil aja nggak boleh nolak rejeki loh”
Akhirnya mereka menerima pemberian bu Surti, setelah itu pamit pulang karena sudah agak sore juga. Sambil bercanda tiga gadis cantik itu melangkah menuju gerbang sekolah, dari arah yang berlawanan tiga orang cowok juga terlihat asik bercanda, Putri yang berjalan tanpa memperhatikan depannya jadi bertabrakan dengan cowok itu.
“auw…!”
“aduh…!” Saat bertatapan. “kamu kalo jalan pake mata dong, sakit tau” ujar Putri.
“udahlah Put jangan emosi” ujar Anissa.
“orang dimana-mana kalo jalan pake kaki bukan mata” jawab Rizky.
“iiiihh…!” kesal mendengar jawaban Rizky, Putri langsung meninggalkan kedua sahabatnya.
“eh, Put tunggu” panggil Rara.
“gimana sih nih anak, main ninggalin aja” ujar Anissa mengejar 2 sahabatnya.
“yeee…! sana loe gue mau dilawan”
“loe ada masalah apa sih ky, sama tuh cewek?” Raka penasaran.
“iya, setiap ketemu nggak pernah baik” sambung Panji. “masalah kecil diributin juga”
Udah ah, nggak usah ngurusin yang nggak penting, gue mau pulang” ujar Rizky.

Siang itu seperti biasa bu Wulan selalu melakukan pekerjaannya membantu keluarga Tomo, terlihat sedang menyetrika pakaian di rumah majikannya. Rizky sangat dekat sekali dengan bu Wulan yang tak lain adalah ibu kandungnya Putri gadis yang selalu dijailinya, dia juga sering curhat pada bu Wulan, siang itu saat Rizky pulang sekolah.
“Assalamu’alaikum bu…!” Kata Rizky begitu sampai dirumah.
“Waalaikum salam” jawab bi Imah.
“bu Wulannya mana bi?”
“ada den, di dalam lagi nyetrika” jawab bi Imah menghentikan aktivitas menyapunya.
“tolong panggilin dong bi” ujar Rizky duduk di sofa.
“baik den, tunggu sebentar”

Bi Imah masuk dan memanggil bu Wulan yang sedang nyetrika di ruang belakang, khusus untuk cuci jemur dan nyetrika.
“Wulan kamu di panggil den Rizky” bi Imah yang usianya lebih tua dari bu Wulan masuk keruang nyetrika.
“ada apa ya bu?” Tanya bu Wulan.
“saya nggak tau, udah sana aja biar saya yang nyetrika” ujar bi Imah.
“maaf loh bu merepotkan”
Bu wulan menemui putra majikannya yang sedang duduk di ruang tamu, terlihat tiduran disofa begitu melihat bu Wulan datang dia langsung duduk.
“ada apa den?” Tanya bu Wulan.
“aku lagi kesal bu, sama cewek yang kemaren aku bilang” curhat Rizky. “makin hari makin berani aja dia sama aku bu”
“yang namanya Putri den?”
“iya bu, orangnya ngeselin banget masa tadi dia yang salah dia yang marah sama aku, ya udah aku balas marah. Tapi kalo di lihat-lihat dia cantik juga sih bu” aku Rizky. “Cuma ya itu nyebelin”
“aden nggak boleh gitu loh, ntar malah suka sama dia” nasehat bu Wulan. “oh ya, Putri itu nama lengkapnya siapa den?”
“nggak tau aku bu, kenapa bu?”
“nggak, ya sudah sekarang aden ganti seragamnya dulu lalu makan, tadi ibu udah masak nasi goreng kesukaan aden”
“ya deh bu” berdiri dan menuju kamarnya.
Malam harinya di rumah sederhana keluarga Surya baru saja selesai makan malam bersama dan seperti biasa sebelum tidur mereka selalu berkumpul dan bercerita tentang aktivitas mereka siangnya. Giliran Putri yang bercerita.
“Pak, Bu, cowok itu makin ngeselin aja kalo lama-lama gitu mending Putri pindah aja pak, bu” ujar putri.
“kamu tuh nggak boleh ngomong kayak gitu nak, kita harus berteman dengan semua orang, nggak boleh musuh-musuhan kayak gitu” nasehat Pak Surya.
“iya, nanti kamu malah kebalik jadi suka sama dial oh” goda bu Wulan.
“iiiih…! Ibu apaan sih”
“sebenarnya cowok tu siapa sih, kok kamu bisa nggak akur sama dia?” Tanya bu Wulan.
“iya dia yang mulai bu. Itu anak pengusaha yang baru pindah ke sekolah Putri bu, namanya Rizky Nazar” jelas Putri.
“apa…!” serentak kaget (pak Surya & bu Wulan).
“loh, bapak sama ibu kok kompakan gitu” ujar Putri. “ada apa pak, bu?”
“nggak ada apa-apa kok, udah malam nih mending kamu tidur” kata pak Surya.
“iya tidur sana” balas bu Wulan.

Sudah beberapa bulan Putri tidak pernah lagi membantu ibunya di rumah majikannya karena banyaknya tugas sekolah yang dikerjakan olehnya, namun pagi ini terlihat Putri di antar olaeh bapaknya menuju rumah majikan ibunya untuk menggantikan tugas ibunya karena ibunya sedang di rumah sakit, jatuh di kamar mandi tadi subuh. Dan pak Surya meminta cuti untuk menemani istrinya di rumah sakit, setelah bersalaman dengan bapaknya Putri memasuki pekarangan rumah mewah itu.
“Assalamu’alaikum…!” kata Putri sambil mengetuk pintu.
“Waalaikum salam…!” sahut bi Imah. “eh nak Putri udah lama nggak kesini, sibuk ya”
“ah ibu, nggak juga bu Cuma lagi ada tugas sekolah aja”
“siapa bi…!” terdengar suara bu Risma.
“ini nya Putri”
“ooow…! Putri sudah lama ya kamu nggak kesini, ibunya mana?” Tanya bu Risma.
“karena itu tante, aku kesini di suruh bapak buat gantiin ibu, ibu sekarang di rumah sakit bu tadi subuh jatuh di kamar mandi” jelas Putri.
“kenapa bisa begitu, ya udah hari ini kamu temani ibumu di rumah sakit aja” ujar bu Risma.
“terima kasih tante, tapi setelah aku selesai ngerjain kerjaan ibu ya tante” kata Putri.
“oh ya, kamu belom kenal ya sama putra tante”
“belom tante” Putri menggeleng.
“ya sudah, tolong bangunin dia dulu ya sebelum kamu bersih-bersih” kata bu Risma.
“Ma…!” Terdengar suara pak Tomo. “Papa berangkat ya”
“ya Pa, hati-hati” menyalami suaminya.

Putri melangkah menuju kamar Rizky untuk membangunkan putra majikan ibunya itu, dikamarnya Rizky masih tidur pulas walau jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, maklum hari minggu. Biasanya bu Wulanlah yang membangunkannya setiap pagi, begitu sampai di pintu kamar Putri mengetuk pintu.
“bangun den…! Sudah siang” begitu Putri membangunkannya, karena tak ada sahutan Putri memberanikan diri untuk masuk dan membangunkan langsung. “den bangun sudah siang, di tunggu Mama den di ruang makan”
Rizky bangun dan keluar dari selimutnya. “loe…!”
“kamu…!” keduanya sama-sama kaget.
“ngapain loe kesini mau maling ya. Ma…! ada maling masuk rumah kita” teriak Rizky.
“eh, kalo ngomong hati-hati ya aku tadi di suruh Mama kamu buat bangunin kamu”
“alah, nggak usah alas an deh. Mama…!” panggil Rizky.
“ada apa sih ky, baru bangun udah ribut. Mendingan kamu mandi dulu”
“ini Ma, ada penyusup masuk kamar aku”
“tadi mama yang suruh dia bangunin kamu” jelas bu Risma. “kamu jangan sembarangan bilang orang penyusup gitu deh”
“emang sejak kapan dia kerja disini Ma? Udah bosan jadi pelayan dikantin” kata Rizky.
“Rizky, jaga omongan kamu putri ini putrinya bu Wulan dulu sering kok dia bantu ibunya kesini” jelas bu Risma.
“what..? siapa Mama bilang? Nggak salah Ma?”
“udah mending kamu mandi sana”
“kalau begitu aku permisi tante, mau bantu bu Imah” kata Putri.

Di dapur Putri membantu bi Imah memasak sarapan untuk keluarga itu, sambil masak mereka bercerita dan karena pertengkarannya dengan Rizky tadi Putri jadi di goda bi Imah.
“nak Putri kenapa kok nggak akur gitu sama den Rizky? Suka ya sama dia”
“kok suka sih bu, ada-ada aja ibu nih” ujar Putri malu-malu.
“iya, den Rizky itukan ganteng, baik, sopan lagi” ujar bi Imah. “banyak tuh teman-teman Papa sama Mamanya ingin menjodohkan anaknya sama den Rizky tapi semua di tolak dengan alasan nggak cocok”
“oh ya bu, pemilih banget sih tu orang”
Tanpa disadari Putri dan bi Imah Rizky sudah di dapur, menuju kulkas dan mengambil segelas air lalu tanpa basa basi mencicipi ayam goreng yang baru saja di masak Putri. “hmm…! Kok rasa ayamnya beda bi? Nggak kayak biasa, tambah jago bibi masaknya” tutur Rizky.
“loh den Rizky gimana wong yang masak beda ya rasanya bedalah” ujar bi Imah.
“maksud bibi ini yang masak dia” menunjuk Putri yang sedang mengiris wortel. “nggak mungkin deh bi”
“kenyataannya gitu ya mau gimana lagi” ujar Putri tanpa melihat ke arah Rizky.
“eh, gue nggak nanya sama loe” teriak Rizky. “udah ah bi, aku kekamar dulu”
“bagus deh” gumam Putri.
Risky hanya menatap Putri yang tetap cuek lalu berlalu dari dapur menuju kamarnya.

Bi imah dan Putri melanjutkan tugas mereka yang sudah hampir siap dan menghidangkannya. Setelah itu Putri pamit untuk menemani ibunya di rumah sakit. Rizky yang tak melihat Putri dirumahnya lagi nekad bertanya pada bi Imah yang sedang membersihkan teras.
“bi, cewek yang tadu kemana?”
“cewek den?” bi Imah sedikit bingung. “ooow..! maksud aden Putri, dia sudah pulang den katanya tadi mau nemanin ibunya di rumah sakit”
“apa? Jadi bu Wulan sakit bi”
Subuh yang dingin di rumah sakit membangunkan Putri bersamaan dengan kumandang suara azan subuh, jam sudah menunjukkan pukul 5 subuh, bergegas ia ke kamar mandi untuk berwudu dan menjalankan ibadah shalat subuh di samping bangsal ibunya yang masi belum siuman. Setelah itu dia duduk di samping ibunya menunggu kedatangan bapaknya, cukup lama dia menunggu sekitar pukul 8 pagi barulah pak Surya datang bersama pak Tomo dan bu Risma.
“Assalamu’alaikum” pak Surya masuk bersama majikannya.
“Waalaikum salam” jawab Putri berdiri dari duduknya. “selamat pagi om, tante”
“pagi, gimana kabar ibunya?” Tanya bu Risma.
“udah agak mendingan tante” ujar Putri. “makasih ya om, tante udah jenguk ibu”
“nggak usah sungkan gitu, kamu belom makan kan?” Tanya pak Tomo. “Ma ajak Putri makan dulu nanti dia malah ikutan sakit”

Hari ini pak Surya yang akan menjaga bu Wulan, dan Putri akan kembali ke rumah karena esok harus sekolah, setelah pamit pada bapaknya Putri melangkah meninggalkan rumah sakit, dia berjalan menuju halte yang ad di depan rumah sakit. Dia berdiri sendirian disana menunggu bus yang akan mengantarkannya kembali kerumah, cukup lama dia berdiri disana sampai akhirnya sebuah ninja warna hijau berhenti tetap didepannya.
“hey…! Putri Anjani kan?” Tanya cowok yang mengendarai ninja hijau tersebut sambil membuka helmnya.
“maaf, siapa ya?” Putri bingung karena cowok itu tau namanya.
“ini aku, lupa ya coba inget-inget dulu” canda si cowok.
Sambil mengingat teman cowoknya, diperhatikan cowok tersebut. “hmmmm…! Riko” tebak Putri.
“tuch kan inget” ujar cowok yang dipanggil Riko itu.
“udah lama ya nggak ketemu, gimana kabarnya ko?”
“aku baik, kamu gimana? Mau kemana ato dari mana nih”
“sama aku juga baik, mau pulang nih ko aku dari rumah sakit” ujar Putri.
“siapa yang sakit?”
“ibu ku kemaren jatuh dan masuk rumah sakit ko” ujar Putri.
“yang sabar ya, moga ibu kamu cepet sembuh. Aku antar pulang mau” tawar Riko.
“makasih ko, ntar malah ngerepotin lagi”
“ah, nggak biasa aja”
Saat itu terlihat Pak Toma dan bu Risma keluar dari rumah sakit setelah membesuk ibu Putri, Riko yang mengenal mereka langsung memanggil tante dan om nya itu yang kemudian melangkah menuju mereka yang berdiri dihalte bus.
“om, tante” panggil Riko.
“kamu kenal sama mereka ko” Putri heran.
“ya kenal lah, tante Risma tuh kan adek Mama ku” jelas Riko.
“Riko, kenapa bisa ada disini? Mainlah ke rumah Rizky udah kangen mungkin sama kamu” ujar bu Risma.
“tadi aku Cuma jalan-jalan tan, udah kangen sama suasana disini, iya aku juga kangen sama dia tan” balas Riko.
“oh ya ko, surat pindah sekolah kamu udah selesai?” Tanya pak Tomo.
“sudah om, besok aku udah mulai sekolah disana” ujar Riko.

Hari ini adalah hari pertama Riko belajar di sekolah pindahannya, disana dia bergabung dengan kelas Rizky dan Putri, karena emang udah lama kenal Riko dan Putri terlihat akrab banget. Dan hal itu membuat sepupu Riko cemburu karena diam-diam sebenarnya Rizky menyukai Putri hanya saja dia selalu menyembunyikan apa yang dia rasakan dengan cara menjaili Putri, juga karena dari pertama bertemu Rizky sudah tidak bersikap baik pada gadis itu maka dia jadi jaim untuk mengatakan perasaannya yang sesungguhnya. namun sekarang karena dia merasa ada saingan, Rizky jadi tak tahan melihat kedekatan Putri dengan sepupunya itu. Hingga suatu siang tetapnya saat istirahat Rizky yang sudah terlalu cemburu pada sepupunya sendiri mendatangi Putri yang sedang duduk bercengkrama dengan Riko dan 2 sahabatnya ditaman sekolah.
Tanpa mengatakan apa-apa Rizky langsung saja menarik lengan Putri. “eh, kamu apaan sih ky, lepasin sakit tau”
“ky loe jangan kasar gitu dong sama cewek” ujar Riko.
“diam loe ko, ini urusan gue sama dia. Ikut gue sekarang” kata Rizky. “gue mau ngomong sama loe”
Meronta ingin lepas dari pegangan Rizky. “apaan sih, kalo mau ngomong emang nggak bisa disini apa” Putri kesel.
Tanpa menghiraukan kata-kata Putri dia terus menarik Putri ke koridor sekolah begitu sampai di ujung koridor dan disana Cuma ada mereka berdua menurut mereka. karena tak jauh dari sana 2 sahabat Rizky tengah duduk di bangku taman emang dari tempat mereka tak terlihat, mendengar ada yang datang Raka dan Panji penasaran (ya akhirnya mereka nguping hehehehe).
“kamu tuh apaan sih, kasar banget sama cewek”
“diam” melepaskan tangan Putri. “ada hubungan apa loe sama Riko?”
“aku sama Riko? Buat apa kamu nanya itu nggak pentingkan?” jawab Putri. “ooow…! Jangan-jangan kamu cemburu ya liat aku deket sama Riko”
“kalo iya emangnya ke…!” Rizky tak melanjutkan ucapannya.
“apa? Lucu banget becandanya hehehehe” kata Putri dan bermaksud meninggalkan Rizky.
“mau kemana loe” menahan langkah Putri. “kalo gue seruis cemburu sama loe kenapa? Salah”
Putri terdiam mendengar pengakuan Rizky yang tak pernah disangka sebelumnya. “jawab gue Put, apa salah kalo gue cemburu sama loe?”
“hmmmm…! nggak sih” ujar Putri menunduk tak mau melihat wajah Rizky.
“gue serius Put, gue suka sama loe jauh saat kita pertama bertemu” tutur Rizky.
“tapi…!” Putri sengaja menggantung ucapannya.
Membuat Rizky penasaran. “tapi apa Put? Loe udah punya pacar”
Tersenyum mendengar ucapan Rizky. “tapi kenapa kamu selalu jailin aku, nggak bersahabat sama aku”
“sorry, dari awal kamu sudah jutek sama aku” jelas Rizky.
Mengangkat wajah mendengar Rizky memenggilnya dengan kamu bukan loe. “please…! Kalo kamu emang belom punya pacar kasih kesempatan aku ya buat deket sama kamu”
“tapi kamukan udah punya pacar” tutur Putri.
“pacar…?” Kaget mendengar penuturan Putri. “jadi selama ini kamu memperhatikan aku juga ya” goda Rizky.
“apaan sih”
Saat itu 2 sahabat Rizky keluar dari persembunyian mereka dan menghampirinya, serta menggoda sahabatnya itu. Dari arah taman terlihat Riko, Rara, dan Anissa datang menuju koridor dimana Rizky, Putri, dan 2 sahabat Rizky berada. Sejak saat itu tak ada lagi permusuhan di antara siswa dan siswi SMA 2, mereka semua bersahabat dan geng yang diketuai Siska tetap jadi geng centil yang selalu merebutkan kalau ada siswa baru yang menurut mereka masuk kategori ganteng. Namun kecemburuan Siska tak lagi ada karena dia sadar tak semua orang akan tertarik pada kecantikan seperti yang dia miliki.

==

Cerpen Karangan: Dola Triyana
Facebook: Dola Triyana
Namaku Dola Triyana, aku lahir di Aie Angek yaitu sebuah desa yang terletak di pedalaman kecamatan sijunjung kabupaten sijunjung padang sumatera barat pada 4 juni 1994 silam, dan sekarang umurku 19 tahun, aku anak ke 3 dari 3 bersaudara. aku sangat suka sekali menulis dan membaca, cita2 ku, aku pengen jadi seorang cerpenis ato novelis yang terkenal. karna suatu situasi dulu aku sangat sulit sekali dalam mempublikasikan karya tulisan aku. terimakasih Cerpenmu.com sudah menjadi sahabat bagi para penulis pemula seperti aku. salam kompak selalu :)

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Cinta Cerpen Persahabatan

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply