Siti Nurbaya Metropolitan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 22 March 2017

“Plis, Ma, Pa,” rengek perempuan itu sambil melirik kedua orangtuanya secara bergantian, “Kalila bukan hidup di zaman Siti Nurbaya!” katanya sambil bangkit dari meja makan, meninggalkan kedua orangtuanya yang belum selesai berbicara pada anak bungsunya. Ada sirat mata kecewa dari semua orang yang berada di sana, termasuk saudara perempuannya.

Mungkin Kalila terlalu terkejut mengenai kabar bahwa dirinya akan dijodohkan dengan seorang laki-laki dari relasi perusahaan keluarganya. Pasalnya, Kalila baru duduk di bangku kelas 3 SMA dan umurnya baru menginjak 18 tahun. Bayangkan saja, diumur yang semuda itu pada jari manis Kalila harus bertengger sebuah cincin tunangan yang mengikatnya untuk tidak berhubungan dalam konteks yang lebih dari teman dengan laki-laki lain– selain dia, tentunya.

Kabar yang lebih mengejutkan lagi adalah laki-laki yang dimaksud kedua orangtua Kalila merupakan teman sekolahnya. Seorang laki-laki yang paling Kalila tidak suka karena sikapnya yang angkuh dan menyebalkan kendati parasnya lumayan tampan. Memang, ada firasat buruk saat seminggu lalu kedua orangtua Kalila mengajaknya makan malam bersama kerabat mereka, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang membawa anak-anaknya selain orangtua Revan dan orangtua Kalila sendiri.

“Serius lo mau tunangan sama Revan?!” tanya Luna –teman Kalila– dengan histeris membuat Kalila memasang jari telunjuknya di depan bibir sebagai gerakan nonverbal agar sahabatnya mengecilkan volume suaranya mengingat suasana kelas tidak segaduh biasanya. Yang ditanya hanya mengganguk lesu sambil memijat pelipisnya kemudian menyandarkan bahunya di kursi belajarnya.

“Mau nolak sebenernya, tapi, Mama sama Papa terus maksa gue,” kata Kalila terus terang, “katanya ini semua udah direncanain dari awal bahkan dari gue sama Revan masih kecil.”

“Lah terus kenapa harus lo?” tanya Luna, “maksudnya, kenapa nggak Kak Kiara aja tuh yang dijodohin?”

Kalila mengedikkan kedua bahunya. “Entahlah, gue juga bingung. Gue di sini kayak korban terus mereka yang antagonis,” ia menghembuskan napasnya frustasi, “hidup gue udah kayak novel-novel remaja zaman sekarang.”

Luna menepuk pundak sahabatnya sebanyak dua kali kemudian menatap Kalila dengan iba. Apa boleh buat, Luna tidak bisa berbuat apa-apa agar pertunangan Revan dan Kalila tidak terjadi. Luna hanya bisa membantu dengan doa agar sahabatnya bahagia —bahagia karena seseorang akan mulai masuk ke dalam hidupnya.

“Lo bayangin aja, Revan yang nyebelin, jail, kasar, dingin, jadi tunangan gue!” teriak Kalila semakin frustasi. Kedua tangannya mengusap wajahnya kemudian jari tengahnya bergerak memijat pangkal hidungnya. “Gue— sumpah! Gue aja ngebayanginnya udah pusing duluan.”

Luna tertawa mendengar ocehan Kalila. “Jangan gitu, nanti lama-lama juga jadi terbiasa dengan kehadirannya, bener?”

Dengan cepat Kalila memasukkan semua alat belajarnya ke dalam ransel, ia bangkit dari kursinya kemudian menuju halte depan sekolah, menunggu mobil yang biasa menjemputnya.

Tapi, dimenit kelima Kalila duduk bosan di kursi halte, seorang laki-laki menghampirinya kemudian menarik tangannya dengan kasar membuat perempuan itu memberontak. Rupanya, saat kepala Kalila mendongak sosok laki-laki itu adalah Revan.

“Lo gila apa?! Main tarik tangan orang sembarangan!” sentak Kalila.
Revan melepaskan cengkraman tangannya dari tangan perempuan itu. “Gue disuruh Mama buat pulang bareng lo, sopir lo nganterin Om Adi ke bandara,” kata Revan tenang, berbanding terbalik dengan Kalila yang emosinya sedang naik sampai ubun-ubun.

“Papa emang mau kema— mending gue naik taksi aja daripada semobil bareng lo!”

“Nurut aja sama calon tunangan,” kata Revan dingin dengan seringainya yang lebar.

Mendengar kata “tunangan” keluar dari mulut Revan, serta-merta Kalila mencibir dalam hati.

Bukan cengkraman seperti tadi lagi yang dirasakan Kalila, tapi perempuan itu merasakan tautan jemari yang lebih besar dan lebih panjang darinya membuat dirinya tunduk dan bangkit dari kursi halte, mengikuti langkah kaki di hadapannya walau dengan hati yang bergemuruh. Sepersekian menit jari mereka bertautan, Kalila tersadar akan sesuatu sehingga ia melepaskan tautan tangan mereka dengan menghempaskan tangan Revan.

“Punya hak apa lo pegang-pegang tangan gue?!”

Kemudian cercaan dan ocehan lainnya keluar dari mulut Kalila sepanjang perjalanan.

Revan menghiraukan berbagai macam kata, frasa, klausa, kalimat, sampai paragraf yang keluar dari mulut Kalila yang membuat kupingnya terasa gatal, bukan karena kotoran yang menyumbat telinganya tapi karena suara Kalila yang keras dan nyaring membuat ia semakin membutuhkan korek kuping saat ini juga.

“Iya, sama-sama,” kata Revan sarkastik bermaksud menyindir perempuan yang hendak membuka pintu mobil dari kursi sebelahnya tanpa mengucapkan apa-apa.

“POKOKNYA KALILA GAK MAU TUNANGAN SAMA REVAN, TITIK GAK PAKE KOMA!” teriak Kalila saat menaiki anak tangga hendak menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua, “REVAN NYEBELIN, KALILA GAK SUKA!”

Mama muncul dari arah ruang kerja menghampiri perempuan berambut lurus sepunggung itu. “Kalila, duduk dulu.”

“Kalo Mama ngomongin tentang tunangan aku sama Revan, Kalila gak mau!” tolak Kalila enteng.

Sang Mama hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku anaknya yang terkadang seperti anak kecil. “Mama minta kamu duduk dulu, sebentar.”
Menyerah, akhirnya Kalila menghampiri Mama yang sudah duduk terlebih dahulu di sofa dekat kamarnya berada. “Kalo Revan lagi, Kalila beneran gak bisa ngebayangin kalo nanti—”

“Diem dulu!” kata Mama menginterupsi.

Kalila mengerucutkan bibirnya.

“Bantuin keluarga kita, ya?” kedua alis Kalila bertautan, tidak mengerti kemana arah pembicaraan Mama. “Rencana perjodohan kamu sama Revan emang udah dari tahun-tahun sebelumya,” saat ini Kalila mulai mengerti perihal yang dibicarakan Mama. “Janji adalah janji, membatalkan pertunangan ini sama saja memutus hubungan antara keluarga kamu sama keluarga Revan, sedangkan perusahaan kita saling membutuhkan, mutualisme. Kamu ngerti kan maksud Mama,” tutur Mama panjang lebar, “jadi, harus ada di antara keluarga kami yang saling mengikat.”

Setelah beberapa detik mencerna ucapan Mama, Kalila bersuara. “Terus, kenapa harus Kalila? Kan harusnya Kak Kiara yang dapet jodoh duluan, orang udah semester tiga.”

Mama terkekeh pelan. “Karena kamu sama Revan seumuran, kalo dijodohinnya sama Kiara nanti Revan jadi brondong.”

Terhitung 5 bulan sejak Kalila menerima kabar perjodohannya dengan Revan kemudian menyetujuinya, hubungan mereka sangat berbeda 180 derajat dari sebelumnya. Hal ini dimulai ketika mereka berada dalam mobil yang sama, kendati pada awalnya mereka tidak menyukai satu sama lain tetapi lama kelamaan mereka terjebak dalam zona “saling mencintai”.

Entah Kalila yang pertama kali membuka hati lalu dengan cekatan Revan memasuki hati Kalila atau Revan dengan aura jantannya berhasil meluluhkan hati Kalila, entahlah, yang jelas kini Kalila dan Revan sering bersama seperti layaknya remaja yang sedang kasmaran padahal mereka tidak mempunyai hubungan sama sekali— selain calon tunangan.

Revan yang dingin, kasar, dan menyebalkan berubah menjadi Revan yang hangat, lembut, dan pengertian jika berada di dekat perempuan yang sebentar lagi akan terikat dengannya. Kalila yang manja, cerewet, dan mudah marah menjadi Kalila yang lucu, imut, dan menggemaskan jika berada di dekat laki-laki yang sebentar lagi akan menyandang predikat sebagai tunangannya. Intinya, mereka akan saling mengikat dengan cincin yang melingkar pada masing-masing jari manisnya.

Kini, mereka berdua sedang berada di salah satu kursi cafe dengan minuman yang dipesan masing-masing. Lucunya, mereka sama-sama menyukai Vanilla Latte.

Terhitung sudah 7 lagu yang menemani mereka sejak mereka memasuki cafe ini secara bersamaan. Kedua insan itu mendadak bisu dan kaku, tidak ada yang memulai pembicaraan, hanya alunan lagu dan dentingan bel yang menandakan seseorang telah masuk ke dalam ruangan ini. Entah atmosfer apa yang menyelimuti mereka, hanya saja tiba-tiba mereka menjadi canggung satu sama lain.

Ini semua gara-gara Revan yang sebelumnya memberitahu kepada Kalila kalau ia akan berbicara serius dengannya perihal pertunangannya yang akan diselenggarakan bulan depan, setelah Ujian Nasional terlaksana. Setelah mengetahui itu, jantung Kalila berdetak melebihi ritme yang semestinya ketika menunggu Revan mengeluarkan sepatah kata atau lebih, tapi laki-laki di hadapannya tak kunjung membuka suara sampai lagu ke 8 berganti menjadi lagu ke 9. Kalila iseng menghitung lagu yang sudah terputar, omong-omong.

Tak tahan dengan kebisuan yang entah kapan akan berakhir, Kalila memutuskan untuk bersuara lebih dulu, memecah keheningan. “Katanya mau ngomong?”

“Iya, ini lagi ngomong,” jawab Revan sekenanya, bukan karena sisi menyebalkan Revan muncul lagi, tapi, karena saat ini ia sudah mulai grogi berada di depan perempuan pilihan keluarganya itu.

Hanya saja, Kalila memandang Revan dari sisi yang menyebalkan. “Plis deh, kalo lo ngebisu terus gue balik,” kata Kalila sinis, sudah berancang-ancang akan beranjak dari tempatnya duduk.

“Gue beneran serius sama lo, Kal. Gue–” kata Revan dengan satu tarikan napas. “— Gue sayang sama lo … mungkin?”

Kalila tidak bisa mendengar jelas apa yang dikatakan Revan karena laki-laki itu terlalu cepat mengucapkannya kendati dengan samar telinga Kalila dapat menangkap beberapa kata yang terlontar dari mulut Revan.

Tak puas karena Kalila tidak bisa mendengar keseluruhan kalimat dari suara bariton Revan, perempuan itu memintanya untuk mengulang kata demi kata dengan intonasi dan pelafalan yang jelas.

Sebelum Revan memenuhi permintaan Kalila, ia menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan, menyiapkan mental terlebih dahulu sebelum mengakui perasaannya di depan perempuan yang selama beberapa bulan terakhir ini telah menyelinap ke dalam hatinya secara tidak sengaja.

“Gue sayang sama lo, Kalila,” kata Revan pelan dan penuh penekanan pada setiap katanya. “Lo beda, lo kayak anak kecil, menggemaskan walau kadang menyebalkan. Tapi di sisi lain lo bisa menyikapi sesuatu yang menuntut lo melakukan itu padahal lo gak mau itu terjadi.”

Kening Kalila berkerut samar, bingung. Menyadari ada sedikit perubahan dari raut wajah Kalila, Revan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tidak menemukan kata yang pas untuk memperjelas kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya.

“Jadi, maksudnya tuh—”

“Oke, gue paham,” sela Kalila, “contohnya gue nerima dijodohin gitu aja padahal gue gak mau?”

“Salah satu contohnya,” jawab Revan, “tapi, setelah gue telaah ternyata lo emang bisa menyikapi sesuatu dengan baik walau kadang kekanak-kanakan.”

“Oke, kita cuma ngomongin salah satu contoh dari yang gue sebutin tadi,” kata Kalila, “itu awalnya karena Mama ngejelasin dari A sampai Z, jadi, ya, gue nurut aja,” lanjutnya terlampau jujur lalu detik berikutnya ia tertawa kecil.
“Lo juga kok mau-mau aja gitu nerima perjo— ralat, pertunangan ini?”

Revan terlihat bepikir sebentar sebelum menjawab pertanyaan yang membuatnya cukup bingung. “Karena,” jeda Revan, “awalnya gue iya-iya aja apa kata orang tua gue karena gue pikir gue bisa membatalkan pertunangan ini dengan mudah, tapi, semakin sering lo ada di ruang lingkup hidup gue, semakin gue merasa nyaman juga.” Revan merubah posisi duduknya, mencari kenyamanan pada setiap gerakannya. “Sampai saat ini gue belum menemukan alasan yang pas kenapa lo bisa dengan mudah masuk ke hidup gue, dengan mudah gue memberikan celah, atau lo yang membuka celah duluan lalu gue masuk?” kata Revan diiringi kekehan kecil.

Kedua sudut bibir Kalila tertarik ke atas, membuat seulas senyuman yang memberikan Revan sugesti untuk balas tersenyum.

“Gue gak nembak ya, karena bulan depan juga lo akan jadi milik gue. Jangan geer.”

Refleks, kaki kanan Kalila menendang tulang kering Revan, yang ditendang pun mengaduh kesakitan. “Siapa juga yang mau ditembak sama lo!”

“Ya siapa tau lo nunggu gue memberikan status yang pasti.”

Suara tepuk tangan dan sorak sorai gembira mulai memenuhi semua sudut ruangan saat prosesi pemakaian cincin itu berlangsung. Tak ayal, keduanya terlihat bahagia satu sama lain dengan senyuman manis dan ramah yang selalu bertengger pada wajah muda mudi yang memakai pakaian senada itu. Yang perempuan memakai gaun abu-abu polos selutut namun elegan dengan rambut dibiarkan tergerai, sedangkan yang laki-laki memakai kemeja putih dengan jas abu-abu dan rambut yang tidak dimodif sedemikian rupa melainkan dibiarkan seperti biasanya.

Kendati awalnya mereka menolak, namun jika Allah menyetujui, pada akhirnya mereka akan menerima. Seperti kata Tere Liye, “Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus dimengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus.”

Cerpen Karangan: Dara Muthia
Facebook: facebook.com/profile.php?id=100009036096055

Cerpen Siti Nurbaya Metropolitan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Separuh Bagian yang Hilang

Oleh:
Ini adalah bagian titik lelahmu telah hadir sepenuhnya. Bukan karena sepanjang waktumu perihal seputar dengan pekerjaan. Bukan juga pada banyaknya tuntutan yang kamu selalu ambisikan. Namun kepada lebih ke,

Great or Lazy

Oleh:
Kisah tentang seseorang di mana seseorang itu mempunyai sifat yang rajin, dan ada pula seseorang yang mempunyai sifat yang malas. Anna, siswi kelas XII IPA 3 yang mempunyai sifat

Kita Selesai Tanpa Cerita

Oleh:
Kalau pada akhirnya kita tidak dapat Bersama, Mengapa tuhan mentakdirkan kita untuk bertemu? Aku mempunyai seseorang yang Bernama Arga, dia indah Ketika ditatap begitu dalam, dia sangat hangat untuk

My Love (Part 2)

Oleh:
Setelah sampai di rumah sakit aku langsung ditempatkan di kursi duduk, rasanya aku tak kuat lagi duduk, aku hanya ingin berbaring. tapi aku hanya bisa menunggu. Setelah Aku berbaring,

Sayap Cinta

Oleh:
Wajah lelaki itu tak asing bagiku. Sepertinya aku pernah mengenalnya di masa lalu. Tapi begitu banyak yang berubah darinya. Bagaimana mungkin aku seorang perawat yang bertugas di rumah sakit

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *