Siti Oh Siti

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Jawa, Cerpen Cinta, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 27 May 2013

Setelah mengantarkan majikannya, Bu Puspita, ke sebuah pusat perbelajaan besar di Jakarta, Eko kembali ke rumah seperti biasa. Tetapi, sesampainya Eko di rumah, rumah itu kosong. Sepertinya Mbok Jum, pembantu rumah tersebut sedang pergi entah kemana. Untung saja, Eko dipercayakan untuk membawa kunci rumah. Kalau tidak, bisa-bisa ia harus menghabiskan waktunya di mobil saja.

Eko adalah sopir keluarga Bu Puspita. Umurnya masih dua puluh lima tahun, masih muda dan gagah. Ia menjadi seorang sopir karena sekolahnya yang berantakan. Nilainya buruk dan terpaksa dikeluarkan saat masih SD. Ayah dan ibunya sudah meninggal setahun setelah ia dikeluarkan dari sekolah dengan meninggalkan banyak utang. Ia pun harus membayar utang-utang tersebut dengan bekerja sebagai buruh panggul. Berhubung semua gajinya terpakai untuk membayar utang, untuk kehidupan sehari-harinya, ia pun bergantung pada belas kasihan orang-orang di kampungnya. Suatu hari, seorang pria yang baik hati menawarkannya pekerjaan sebagai sopir. Tentu saja, Eko ragu-ragu karena ia tidak bisa menyetir mobil. Jangankan menyetir, naik mobil saja belum pernah. Tetapi pria itu meyakinkan Eko bahwa nanti ia akan diberikan kursus. Akhirnya Eko pun setuju. Ia pergi ke Jakarta, mengikuti kursus mobil, lalu di kirim ke keluarga Bu Puspita yang saat itu membutuhkan sopir. Setelah lima tahun bekerja di rumah Bu Puspita, keluarga mereka pun menganggap Eko sebagai keluarga sendiri karena sikapnya yang sopan, jujur, dan bertanggung jawab.

Eko sedang melahap makan siangnya ketika terdengar suara pintu di luar. Rupanya Mbok Jum. Wanita paruh baya itu terlihat membawa beberapa kantong kresek plastik. Wajahnya memancarkan senyum meski peluh terlihat mengalir melalui pelipisnya.
“Bu, sakeng pundi? (Bu, dari mana?)” tanya Eko.
“Sakeng peken (dari pasar),” jawab Mbok Jum.
“Beli apa, Bu?” tanya Eko.
“Ini,” Mbok Jum mengangkat hasil belanjaannya. “Sebentar lagi kan lebaran, pasti pulang kampung. Keponakan saya nitip mainan sama baju.”
“Oh,” Eko manggut-manggut.
“Eh, Ko. Kamu tahu tidak? Tetangga sebelah ada pembantu baru lo. Ayu tenan (cantik sekali),” ujar Mbok Jum.
“Ora ah, Bu. Saya masih belum bisa melupakan Siti,” Eko bangkit dari duduknya lalu mencuci piring bekas makannya.

Siti adalah gadis cantik yang ada di kampung Eko. Ia ingat betul. Di saat keadaannya terpuruk, hanya Siti yang masih mau menemaninya. Meski hidup miskin dan sederhana, nasib Siti masih lebih baik dibandingkan dengan Eko. Karena rajin, ia mampu bersekolah sampai SMP. Ayah dan ibunya pun masih utuh. Tetapi pekerjaan kedua orang tuanya hanyalah sebagai buruh tani yang penghasilannya tidak besar.

Siti sering mengirimkan makanan kepada Eko. Meski hanya nasi putih polos dan air putih saja karena keadaan keluarganya pun berkekurangan. Bagi Eko, apapun makanan pemberian Siti adalah sesuatu yang sangat berharga. Tanpa dia, mungkin Eko harus menderita kelaparan lalu mati.
“Maaf ya, Ko. Aku cuma bisa ngasih ini,” ucap Siti setiap kali memberikan makanan pada Eko.
“Matur nuwun (Terima kasih),” ia menerima makanan pemberian Siti dengan semangat. “Kamu tuh ya… Aku dapet ini aja senengnya udah ndak ketulungan lo.”
“Bagus deh kalo Eko senang. Saya juga senang,” kata Siti malu-malu.
Eko tahu bahwa sebenarnya ayah dan ibu Siti tidak suka kalau Siti terlalu simpati padanya. Ia sempat menguping bentakan orang tua Siti saat melewati rumahnya suatu malam.
“Siti! Bukannya bapak ngelarang kamu buat ngasih makanan ke si anak malang itu! Tapi kamu lihat juga, Sitiii… Kita juga serba kekurangan!” bentak ayah Siti. “Lagipula si Eko kan yatim piatu! Bapak yakin, dia tidak pernah di didik lagi oleh siapa-siapa!”
“Tapi Eko baik kok, Pak,” bela Siti.
“Halah… Hati-hati, Siti…” Ayah Siti memberikan penekanan pada tiap katanya.
“Iya, Pak. Saya akan hati-hati,” jawab Siti. Hati Eko pedih mendengarnya. Ia merasa bersalah pada Siti.

Keesokan harinya, seperti biasa, Siti membawakan Eko makanan. Eko pun untuk pertama kalinya menolak dengan halus. Siti heran dan memaksa Eko namun Eko bersikeras untuk tidak menerima barang pemberian Siti meski perutnya sudah keroncongan luar biasa. Siti tersenyum pada Eko. Ia tak akan pernah lupa senyum dari perempuan itu. Senyum yang indah dan tulus.
“Aku tetep kasih kamu makanan ini. Urusan mau makan atau ndak, itu urusan kamu,” ucapnya sambil berlalu. Eko tertegun menatap wadah sederhana berisi nasi yang dipegangnya. Di dalam benaknya, masih terlintas bayangan Siti yang tersenyum ke arahnya. Sejak saat itu, Eko sepertinya jatuh cinta pada Siti.
Sayang, sejak ia bekerja di Jakarta, Siti dikabarkan merantau juga entah kemana. Mendengar kabar itu, Eko langsung galau. Ia pun memutuskan untuk tidak pulang kampung, bahkan saat lebaran sekalipun. Toh, di kampung dia tidak punya apa-apa kecuali Siti.

“Sudah lima tahun kamu pindah ke Jakarta tapi hati kamu masih di Pekalongan. Ckckck…” Mbok Jum berdecak. Eko tersenyum kecut. Siti… Siti… Kamu di mana sekarang? Aku kangen kamu…

Jam menunjukkan pukul tiga sore. Seperti biasa, Eko harus menjemput anak Bu Puspita di sekolahnya. Ia mengambil kunci mobil lalu berjalan ke luar rumah. Tiba-tiba, matanya melihat sesosok perempuan di rumah tetangga sebelah sedang menyapu dedaunan kering di halaman. Sosok yang tak asing lagi bagi Eko itu pun menoleh ke arahnya. Suasana mendadak sunyi. Hanya desir angin dan debaran hati yang berdentum kencang yang terdengar di telinga keduanya.

“Eko?!”

“Siti?!”

Cerpen Karangan: Cillawibowo
Facebook: Priscilla Wibowo

Cerpen Siti Oh Siti merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lelaki Cengeng Ku

Oleh:
“Suasana kota tengah malam memang paling sempurna. Langit gelap dengan awan hitamnya. Remang-remang cahaya terpancar dari lampu jalanan kota. Merdunya suara kendaraan berlalu lalang. Beberapa orang terlihat mondar-mandir dengan

Mencintaimu

Oleh:
Pesta pernikahan seorang anak dari hartawan bernama Rezky Anderson dilangsungkan dengan meriah, namun terlihat pada wajah Rezky dia sangat sedih kenapa dia harus menikah dengan gadis bukan pilihan hatinya.

Kamu Cewek Aku Cowok

Oleh:
“Ayo ngopi!” Ajak Siget (bukan personel Base Jam loh!) kepadaku siang ini. “Ke mana?” tanyaku santai sepoi-sepoi sedikit jual mahal. “Ke kafe” ujarnya mantap. “Ogah ah, entar dibom sama

Cinta Sejati

Oleh:
Saat itu aku masih duduk di kelas 3 SMP, dan Aku masih nggak kenal Yang namanya “cinta”. Bagiku “pendidikan” itu nomor 1 daripada “cinta”. Hingga akhirnya Aku bertemu dengan

LDR

Oleh:
LDR? aku tak tau LDR itu singkatan dari apa, setidaknya aku tau bahwa maksud LDR itu hubungan jarak jauh. Ya, saat ini aku memang sedang menjalani LDR. LDR tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *