Skizofrenia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 12 December 2015

Dokter Herman menuliskan sesuatu pada layar i-pad di pangkuannya. Garis wajahnya terlihat serius. Dengan kacamata dan tumpukan berlipat keriput kulit di dahinya, membuatnya tampak terlihat lebih tua dari umur sebenarnya. Sedangkan Vani, gadis bersweter biru itu, hanya berdiam beku di kursi hadapannya, menatap takdim pria berkepala hampir botak itu. “Sepertinya usia memakan habis setiap helai rambut kepalanya.” bisik Luky ke telinga Vani. Vani terkikik kegelian.

Dokter Herman berdeham, “Sepertinya akan turun hujan ya,” ia membuka percakapan, “bagaimana kabarmu hari ini, Vani?” tanyanya formal, seperti biasa.
Vani tak menjawab. Matanya menatap tajam pada sosok pria di depannya itu -tak ubahnya seperti minggu-minggu sebelumnya.

Merasa sedikit resah, Dokter Herman mengalihkan pandangan seraya menghembuskan napas lelah. Ia sangat mengerti, keadaan gadis ini tidak mungkin dengan mudahnya dapat terbuka padanya dalam waktu dekat. Minggu ini, adalah ketiga kali mereka melakukan sesi terapi bertahap terhadap Vani. Gadis terdiagnosis Skizofrenia, penyakit kejiwaan yang lumayan sulit untuk ditangani. Bahkan mustahil untuk disembuhkan.

“Vani sayang..” lirih suara di sampingnya. Ia menoleh, menengadah ke arah pemilik tubuh tegap tengah berdiri itu.

Pemuda tampan itu tersenyum manis, kala pandangan mereka bertemu. Senyumnya begitu sejuk dan selalu mampu menenangkan hati gusar Vani. Bagi Vani hanya itulah satu-satunya hal yang sangat ia butuhkan untuk saat ini. Luky. Sahabat imajinasinya. Di mata Vani, Luky bukanlah sosok imajinasi sama sekali. Dia nyata, ia dapat mendengar suaranya, ia tersentuh, dan yang paling penting ia setia berada di sampingnya sejak dahulu hingga sampai detik sekarang. Dan Vani menyayanginya melebihi apapun di dunia ini.

“Sekarang waktunya, Vani sayang,” Luky mengangguk seraya melempar senyum 900 watt-nya kepada Vani. Jika saja saat ini kondisi Vani berbeda, senyum itu biasanya selalu manjur menjadi obat bius bagi dirinya. Menenangkan, melambungkan, dan mendamaikan jiwa gusarnya. Tetapi, tidak untuk kali ini.

Telapak tangan Vani kian lembab. Kucuran keringat dingin semakin menjalar, deras turun di kening dan balik kerah bajunya. Napasnya memberat. Tersengal-sengal, putus asa ingin sekali dihirupnya udara yang semakin sulit oleh karena degup jantungnya yang seakan-akan hampir loncat ke luar kerongkongan. Sebenarnya ia tidak suka saat Luky menyuruhnya melakukan hal yang tidak seharusnya ia akan lakukan.

“Luk-y, a-a-aku ta-kut,” suara Vani bergetar, terbata-bata, “aku tak bisa!”
“Ada apa, Vani?” tanya Dokter Herman. Dahi keriputnya semakin berlipat, “apakah Luky sekarang di sini?”

Selama ini ia telah berusaha meyakinkan pasiennya itu, bahwa sosok Luky bukanlah sosok yang nyata, sebatas imajinasi, ilusi, tipuan yang otak Vani ciptakan. Tentu saja hal itu membuat Luky geram dan membenci Dokter Herman. Apa yang Dokter itu coba perbuat kepada kekasihnya, hanya akan menambah kegusaran seorang Vani. Dokter ini berusaha memisahkan dirinya dengan Vani, dengan omong kosong dan pil-pil laknat yang dicekokkan kepadanya. Luky tidak bisa terus diam. Ia harus bertindak.

Untuk itulah. Sekarang saat yang tepat untuk menghentikan terapi sialan ini. Dengan sebuah pistol yang bertengger dalam tas Vani. Ia yakin sekali, sebentar lagi, akan ada sebuah pertunjukan seru di depan matanya. Luky pun menyeringai, sorot matanya bak perompak seusai menjarah sepuluh kapal saudagar. Kemenangan mutlak akan segera terulang kembali, bisik hatinya.
“Ayo, Van. Sekarang saatnya” desis Luky tak sabaran. Nadanya berapi-api, penuh semangat.
“A-aku tidak bisa, Luk” sahut Vani sesenggukkan, “aku takut…” suaranya terdengar rapuh, tak berdaya.

“Jangan dengarkan Luky, Van. Dia tidak nyata. Apapun yang dikatakannya, tolong jangan didengarkan, Nak,” sela Dokter Herman merujuk. Ia sangat paham dengan pasiennya yang kini sedang berbicara dengan sosok imajinasinya tersebut. Firasatnya mengatakan, apapun itu, pastilah bukan perihal baik.
“Vani!” gertak Luky, “sekarang!”
Vani menjerit kaget. Spontan, terlonjak bangkit dari kursinya, sempoyongan. Tubuhnya bergetar hebat. Ia menangis, menjerit-jerit. Histeris.

“Vani, tenang Van … tenang,” Dokter Herman mencoba menenangkan. Ia meregangkan uluran tangan mencoba meraih Vani yang tersudut ketakutan di pojokan tembok.
“Tidak apa-apa. Luky tidak akan menyakitimu. Bapak di sini.. Bapak tak akan membiarkannya melukaimu. Sini Nak… sini…”
“Melukai Vani?” lirih Luky, “yang benar saja!”

Wajah Luky memerah. Emosinya meluap, darahnya terasa memanas. Ia menatap ganas sosok Dokter Herman, seolah Sang predator siap menyerang mangsa. Dokter itu benar-benar menguras habis tetes kesabarannya. Sorot tajam matanya seolah mengatakan “Dia harus mati sekarang!”
Pandangan Luky menangkap sosok gadis yang tengah mendekap tubuhnya di pojokan. Tubuhnya masih bergetar, seperti orang menggigil kedinginan.

“Vani, kalau kau tak mau melakukannya. Aku akan pergi untuk selama-lamanya” ancam Luky, “aku tak akan lagi berada di sampingmu. Dan kau akan hidup sendirian bersama orang-orang kejam tak peduli padamu itu. Apa itukah maumu, ha!?” cecarnya sinis.
Vani menggeleng-geleng, “tidak Luk, tidak. Jangan pergi… tolong jangan biarkan aku sendiri lagi. Aku mohon Luk. Aku mohon… jangan pergi…” ia merengek sembari melambai-lambaikan tangannya.

Luky menatapnya tajam, “Kalau begitu lakukan. Sekarang!”
Dan kemudian Vani mengeluarkan sebuah pistol dari dalam tasnya, menggengam erat benda hitam tersebut di kedua tangannya, lalu menodongkannya ke arah Dokter Herman. Seperdetik, ia menarik pengaman dan menekan pelatuknya.

Dorr!

Dokter Herman tersungkur, jatuh ke bawah lantai berkeramikan putih susu. Seketika itu juga cairan merah mengalir mengenangi tubuhnya yang sudah tak bernyawa. Kepalanya berlubang.

“Dia semakin parah, dia tidak normal!” teriak sebuah suara seorang pria.
“Tapi dia anak kita, Pa” sahut seorang wanita.
“Kalau begini terus, aku bisa gila. Sama seperti dia,” geram si pria terdengar frustasi.
“Papa! Nanti Vani dengar!”
“Biar saja dia dengar. Biar ia tahu bagaimana susahnya mengurus anak cacat seperti dia…”

Vani menutup rapat-rapat daun telinganya. Berharap menjadi tuli ketimbang mendengar percakapan Ayah-Ibu angkatnya di luar sana. Namun nihil, gendang telinganya menyerap detil isi pertengkaran mereka. Pertengkaran rutin yang membuat hatinya bertambah gusar dan pikiran menjadi semakin kacau. Yang ia hanya sanggup lakukan, hanyalah bersembunyi di bawah kolong ranjang, sampai mereka usai saling teriak.

“Vani sayang, udah dong, jangan nangis,” ujar Luky yang sedari tadi berada di sampingnya, “bagaimana kalau kita main permainan saja” tawarnya mencoba menghibur Vani. Gadis itu tak sadar matanya tengah mengucurkan air bak kran air.

Vani menatap wajah tampan Luky. Tangisnya kini mulai mereda. Seperti biasa pemuda itu selalu dapat memenangkan hatinya. Luky memang belahan jiwa Vani, penyelamatnya, pelindungnya. Ia sungguh sangat beruntung memiliki seseorang seperti Luky. Vani pun mengangguk, tersenyum tipis. Merangkak ke luar dari kolong bawah ranjangnya. Luky mengulurkan sebelah tangannnya, “Baiklah, ayo sini.” Luky membuka laci lemari Vani. Diambilnya benda hitam berlapiskan metal yang teronggok di atas tumpukan baju Vani. Kemudian menyerahkannya kepada Vani. Sebuah pistol.

“Kita akan tetap bersama. Kita tidak butuh siapa-siapa” ucapnya santai.
“Apa maksudmu Luk?” mata Vani menyipit, “aku tidak mengerti”
“Mereka menyakitimu sayang, mereka membuatmu menangis. Mereka pantas dihukum” tuturnya tegas.
“Ta-ta-tapi aku tidak mau melakukannya lagi Luk, aku takut.”
“Jangan takut sayang, aku akan selalu di sini, menemanimu. Ayolah, tinggal tekan pelatuknya lalu kita bisa bersama untuk selama-lamanya” bujuk Luky. Matanya serius sekaligus begitu lembut.

Vani menggeleng-geleng, tidak setuju. Dilepaskannya genggaman tangan Luky, “tidak. Aku tidak mau.” Tolaknya menghindar. Ia melangkah mundur, menjauh dari jangkauan Luky.
“Ada apa, Van. Kenapa kau seperti ini?” tanya Luky, “sudah beberapa hari ini sikapmu sangat aneh?”
“Apa karena obat-obat laknat yang rutin kau minum itu?” telitiknya terlihat kesal.
“Entahlah Luk, aku bingung.”
“a-a-aku hanya …. cape.” Vani mengarang alasan.

Beberapa hari terakhir setelah kematian Dokter Herman, Vani diam-diam rutin meminum obat anjuran mendiang mantan Dokternya itu. Dan hasilnya, entah mengapa pikiran Vani semakin kacau balau. Semakin banyak pemikirkan tentang Luky yang tak tahu harus bagaimana menyikapi. Mulai dari: kenapa ia tidak pernah melihat Luky makan, tak sekali pun Luky pulang ke rumahnya sendiri, dan bagaimanakah cara Luky dapat dengan sekejap mata, hadir di hadapan Vani saat ia membutuhkan bahkan sekedar merindukannya saja. Begitu banyak keganjilan-keganjilan dan pertanyaan yang membuatnya ragu akan keberadaan Luky. Apakah ia nyata? Atau benarkah segala yang dikatakan Dokter Herman selama ini?

Luky mendekati Vani, “Sayang, kau tidak apa-apa?”
Vani mengangguk lemah. Tiba-tiba tubuhnya terasa sangat letih.

Di luar, masih terdengar argumen orangtua angkatnya. Mereka bertambah heboh. Bahkan terdengar suara benda-benda dihancurkan. Air mata Vani kembali berlinang. Didekapnya tubuhnya erat-erat. “Ayo, ambilah sayang,” Luky menyodorkan kembali pistol itu kepadanya, “akhiri semua ini.”
Vani menatap dalam-dalam wajah pria yang sangat dicintainya itu. Air matanya kian tumpah. Sungguh takdir sangat pintar mempermainkan jalan hidupnya. Tidakkah cukup mereka merampas nyawa orang-orang di sekitarnya?

Orangtua kandung Vani. Telah berpulang, sebab pistol yang sama seperti kejadian Dokter terapisnya. Kemudian Kakak perempuannya, Cintya. Sengaja ia tikam ketika pulas tertidur di suatu malam. Semuanya yang terbunuh memiliki alasan yang sama. Alasan sepele, namun sangat serius di mata Luky. Mereka membuat Vani menangis. Maka Luky pun menyuruhnya menghabisi nyawa mereka. Luky tidak suka sekali saat Vani, kekasihnya bersedih. Begitu besar cintainya terhadap gadis bermata hitam itu. Telah membuatnya gelap mata. Begitu pula sebaliknya, tidak usah dipertanyakan seberapa dalam cinta Vani. Seperti sebutir debu. Baginya ke mana pun angin membawanya, ia akan setia mengikutinya. Yang pada akhirnya satu keputusan harus diambilnya. Demi putihnya cinta dan tali kasih sesama.

Ia merentangkan tangan, menerima pistol dengan tangan gemetaran dan keputusan final. Digenggamnya erat benda hitam itu, ujung moncongnya terasa dingin ketika ia tempelkan pada kening di bawah kulitnya. Setetes bening air mata jatuh di pipinya, lantas ia berkata, “I love you, Luky.”

Dorr!!

“Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya seorang wanita. Ia terlihat gelisah.
“Dia semakin membaik,” Dokter Herman menjawab seraya melempar senyum ke arah Luky.
Luky tertunduk sembari terus memainkan jari-jemarinya di atas pangkuannya.

Semenjak kejadian 3 bulan yang lalu. Kondisi Luky semakin membaik. Obat-obatan dan segala terapi penyembuhan telah ia lakukan sesuai perintah para dokter. Mereka mengatakan, bisa jadi penyakit Skizofrenia yang diderita pasien Luky, hanya sebatas sebuah gejala awal yang masih dapat dicegah. Atau mungkin penyakit kejiwaan Luky bukanlah yang seperti terdiagnosis. “Luky memiliki kesempatan untuk sembuh.” Ujar Dokter Herman, pada minggu yang lalu.

Luky menatap kosong jemari tangannya. Hatinya hampa tak bertuan jiwa dalam raga. Ia kini hanyalah seonggok daging bernapas, beralirkan darah dalam urat nadinya. Tetapi sebenarnya, ia telah pergi jauh bersama Vani kekasihnya ke negeri mimpi sana. Di negeri mimpi sana sosok Vina, telah menghabisi mereka semua. Membalaskan kebencian terpendam yang tak pernah mampu ia ungkapkan. Dalam negeri mimpi pula hatinya terluka parah. Ia harus menerima kenyataan dimana ia sadar kekasihnya telah tiada.

Vani pergi dengan membawa cintanya dan cinta Luky. Pengorbanan atas nama cinta telah Vani putuskan. Karena takdir begitu kejam. Mereka saling mencinta dalam dunia imajinasi. Sosok cantik Vani hanyalah sekedar bayangan bagi Luky, begitu pun sebaliknya. Kisah mereka tak akan pernah diakui. Ketika mereka berkata sembuh, berarti saat itu pula mereka dipaksa berpisah. Semuanya hilang, hampir sudah tak berbekas lagi. Vani terhapus, Luky pun menghilang. Cinta tak membutuhkan wujud. Ia hadir saat kita membutuhkan. Dan berlalu, ketika kelopak mata tertutup.

The End

Cerpen Karangan: Mella Amelia
Facebook: Yukatan

Cerpen Skizofrenia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bloody Angel

Oleh:
Aku adalah sebuah pisau dapur. Aku dibuat untuk para ibu-ibu yang ku pastikan memakai jasaku melayani suami dan anak mereka. Sebesit pikiran melintas, terbayang seorang ibu-ibu bertubuh gempal bercelemek

Vampir Virtual

Oleh:
“Ayo! Ayo! Kalahkan mereka vampirku!”, kata Ran dari kamarnya. Ini sudah lebih dari jam 12 malam, jam tidur untuk anak sepertinya seharusnya sudah lewat dari tadi. Tapi anak yang

Laki Laki Pemilih

Oleh:
Aku terus memandangi laki-laki yang tak pernah kutemui sebelumnya itu, tak ingin melepas pandangan kemana dia pergi. Laki-laki tampan dan menawarkan pesonanya kepada setiap perempuan. Tubuhnya yang tinggi membuatku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *