Some

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 9 June 2021

Malam semakin larut. Suara kendaraan bermotor kian berkurang di jalan. Lorong-lorong mulai sepi mengikuti aturan waktu yang meminta. Beberapa kamar terisi sunyi, sedang yang lain beriring bunyi tetes dan denging mesin.

“Aurora.”
Seseorang mengguncang bahunya pelan. Aurora mengerjap, lehernya terasa pegal dari bagaimana ia tidur dengan posisi asal-duduk dengan kepala tertunduk di atas tangannya yang terlipat. Memijat belakang lehernya, Aurora mengangkat kepalanya dan menemukan Sinta berada di sampingnya sambil memasang senyum.

“Pulang dulu, gih! Biar gue yang jagain Kakak,” ujar Sinta sambil mengelus pundak sahabatnya yang terlihat letih itu. Aurora mengerang-merasa sedikit nyaman dengan elusan Sinta juga ketika ia memijat lehernya sendiri. “Gak papa, besok gue masuk siang kok,” tolaknya kemudian-memberikan senyum terbaiknya yang dibalas senyum sendu Sinta.
“Lo perlu tidur nyaman sekali, Ra. Udah dua minggu ini lo tidurnya gak nyaman terus, minta dibeliin koyo pula kaya bapak-bapak.” Sinta membuat sedikit lelucon. Aurora tertawa pelan karenanya, tapi masih berusaha tinggal.
“Udah biasa, kok. Gak papa, ya, gue di sini?” Aurora memberi tatapan memohon. Sinta menghela napas. Ia bisa saja membiarkan Aurora tetap tinggal seperti biasanya, tapi ia tahu kakaknya tidak akan senang dengan kebiasaan baru sahabatnya-yang juga kekasih kakaknya itu.
“Pulang aja, ya? Lo gak kangen Nessie apa? Akhir-akhir ini makannya gak pernah habis, kayaknya kangen sama kalian. Kalau Nessie sampe sakit dan Kakak tahu, nangis pasti dia. Nessie ‘kan anak kesayangannya banget!” Ujar Sinta berusaha membujuk. Aurora terlihat berpikir. Ia pandangi wajah Amar, kekasihnya, yang masih betah terpejam di atas ranjang rumah sakit. Denging mesin pendeteksi jantung yang biasanya membalas cerita tentang harinya sangat setia berada di samping Amar-lebih setia darinya. Aurora tersenyum tipis dengan pemikirannya.
“Iya, juga, ya. Dia bahkan lebih sayang Nessie daripada gue.” Gadis itu tersenyum lirih-masih memandangi wajah kekasihnya sembari memainkan jemari si lelaki yang tergelak lemah di samping tubuhnya. “Gue pulang dulu, ya? Kasihan anak Kakak kalau kurus nanti gak empuk kalo kata Kakak.” Aurora terkekeh kecil. Ia menggenggam erat jemari yang tadi ia mainkan. “Bangun, kalo Kakak gak bangun-jangan salahin gue kalau Nessie… gak jadi, deh! Yaudah gue pulang, ya?”
Aurora mengguncang tangan Amar pelan, berusaha terlihat ceria. Ia bangkit kemudian, menerima tasnya yang ternyata sudah dirapikan oleh sahabat yang merangkap calon adik iparnya itu.

“Gue pulang dulu, ya? Titip Kak Amar. Besok pagi biasanya ada perawat yang nyuntik obat ke infus sambil ngasih baskom air anget. Bilasnya bagian yang agak jauh dari perban. Terus pas bilas punggung, miringin ke kanan aja, soalnya-“
“Biar luka di dada kirinya gak ketekan. Ok, I got that, Ra.” Sinta memotong ujaran Aurora. “Gue ‘kan sering perhatiin lo juga. Udah sekarang pulang, ya? Kami udah 20 tahun tinggal bareng dan dia masih napas sampe sekarang, jadi jangan khawatir.” Aurora tersenyum kecut mendengar kalimat Sinta-dan lawan bicaranya menyadari salah bicaranya.
“Lawakan lo garing. Yaudah gue pulang dulu.”

Aurora memperhatikan Amar sejenak dari kejauhan, lalu tersenyum sendu dan berbalik pergi. Namun, belum sempat pintunya ia tutup kembali, panggilan Sinta membuatnya melongok dari balik pintu.
“Kakak sayang sama lo, Ra. Dia berjuang hidup buat lo.”
Aurora tersenyum tipis. Pandangannya teralih kepada yang masih terbaring.
“I hope so.”

Malam itu, Aurora tidur terlalu nyenyak. Dengan Nessie yang mendengkur di sebelahnya, Aurora terbangun pukul sepuluh tanpa mendengar alarm yang ternyata lupa ia setting. Buru-buru ia membersihkan dirinya dan bersiap ke kantor dengan melewatkan sarapan-tapi tak melewatkan makanan Nessie. Sesampainya di kantor, tiba-tiba saja ada meeting dadakan yang mengharuskannya ikut serta. Setelah istirahat makan siang, Aurora tiba-tiba diajak atasannya untuk menemui client di luar kantor. Ponselnya ternyata kehabisan baterai, jadi ia memutuskan menggunakan tablet seharian.

Semua pekerjaan akhirnya selesai pukul delapan malam-lebih malam dua jam dari jam kerjanya. Kepadatan hari ini membuatnya sedikit teralih dari kekasihnya. Ia juga sedikit bersyukur karena memiliki tidur yang nyaman tadi malam, jadi hari ini ia tidak terlalu lelah.

Lorong rumah sakit sudah sepi ketika ia datang. Hanya ada pak satpam yang sempat ia sapa di pintu depan tadi. Aurora tidak tahu siapa yang menjaga Amar sekarang secara ponselnya masih mati karena belum sempat dicharge. Jadi, ketika ia membuka pintu dan menemukan ranjang yang kosong dengan selimut yang tergeletak tidak rapi, rasa khawatir meledak begitu saja.
“Kak Amar?!”

Aurora yang panik tidak berinisiatif memanggil dokter, tapi malah mengambil ponselnya yang tadi sedang ia isi daya dengan powerbank dan menelepon Sinta. Belum sempat ponselnya menyala dengan benar, suara pintu kamar mandi yang terbuka mencuri atensinya.
Pintu itu terbuka dengan begitu pelan-seolah yang di dalam sedikit kesulitan membuka karena pintunya ditarik ke arah dalam. Aurora fokus dengan dada berdebar keras-menggema ke telinganya karena suasana yang begitu sunyi tanpa denging mesin detektor.
Tunggu dulu! A-apa…?

Di sebalik pintu yang berhasil terbuka, ada seseorang yang tersenyum begitu lebar-bangga karena berhasil membuka pintu, dengan tangan kanannya yang memegang tiang infus. Dan ketika pandangan keduanya bertemu, Aurora tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis.

“Kakak?”
Yang dipanggil pulih dari keterkejutannya-tersenyum manis pada yang ditatap.
“Hai, Dek.” Panggil Amar kemudian yang membuat Aurora kehilangan kekuatan kakinya. Ia tiba-tiba saja berjongkok dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya-menangis.

“Hei…” Amar berjalan perlahan menuju Aurora. Kekehannya terdengar pelan-menertawakan sang kekasih yang bukannya menyambutnya dengan pelukan malah ditinggal jongkok. “Dek, gue gak bisa jongkok buat meluk lo. Tolong bangun aja napa,” ujar Amar diselingi guyon. Aurora mendengung, masih sibuk terisak. “Gak mau, takut. Tiba-tiba udah bangun, kaget.”

Amar tertawa, tapi air mata turun tanpa diminta. Siapa yang tidak bahagia bisa selamat dari maut dan bertemu kembali dengan seseorang yang dicintai? “Ya, makanya bangun dulu. Liat ini asli apa gak,” ujarnya kemudian sambil satu tangannya yang bebas mengusap pipinya sendiri.

Aurora terdiam. Mengumpulkan kekuatan kakinya yang terasa lemas, ia akhirnya bisa bangkit dan bertatapan kembali dengan kekasihnya.
“Malu banget nangis,” kalimat pertama Amar untuk Aurora setelah sekian menit hanya bertatapan. Aurora tersenyum lebar, tidak perduli air matanya yang malah turun semakin deras.
“Bodo amat.”
Dan ia memberi pelukan yang disambut hangat.

One chapter of story, fin.

Cerpen Karangan: Sekar Pinestri

Cerpen Some merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Arif Part 2

Oleh:
Hari itu, aku merasakan lelah. Sudah 5 bulan aku tidak lagi ketempat mas arif bekerja. Mas arif pun mengerti, hingga tidak banyak menggangguku kecuali dengan sms setiap malam itu.

Jodoh Pasti Bertemu

Oleh:
“jangan terlalu mengumbar janji, karena apabila kita tak mampu menepatinya akan membuat hati seseorang terluka” Raka terdiam mendengar perkataan Azwa. “apakah kamu kecewa dengan mas?” tanya Raka. “kecewa?” tanya

Aku Suka Kamu

Oleh:
Ketika cinta yang kita beri pada seseorang, namun dengan gamblangnya dia katakan tidak pada kita, disitulah jati diri kita yang sebenarnya yang akan meluluhkan hati yang beku. “Ra, liat

Empat Kata Terindah (Part 1)

Oleh:
“Hari ini, kamu akan ikut casting di Plaza Mall” Ucap Bu Natasya pada sang anak “Dan ingat! Kali ini kamu harus dapat peran itu!” Lanjutnya. “Ya, Mah” “Pagi, Mah.

Bukan Karena Cinta Kak

Oleh:
Percayalah kak, ini bukan kisah cinta, dan bukan pula karena aku mencintaimu. Memang teman-teman sering menafsiriku bahwa aku tengah jatuh cinta sama kamu. Tidak…! Itu salah kak, jangan pernah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *