Something Special (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 19 December 2016

Sudah lumayan lama aku mengenalnya. Ini tahun kedua sejak kami tak pernah lagi berbicara. Jelas, kami sudah tak lagi punya alasan untuk berbicara. Hanya seminggu, namun atensiku tak pernah beralih darinya kala kami bersua.

“Fery!”

Ah, itu suara pacarku, Maya. Dia anak yang berkepribadian baik juga memiliki wajah yang cukup manis. Entahlah, aku sendiri tak mengerti kenapa bisa bersamanya. Perasaanku kepada Maya -tidak, hubungan kami terasa hambar.

“Ayo, Fer, aku udah selese.”

Mengangguk, aku menyalakan motor matic-ku untuk mengantarnya pulang ke rumah. Sesaat, tapi jelas sekali, aku kembali menolehkan kepala ke arahnya.

Ke arah seorang gadis berambut cokelat bergelombang. Maniknya berwarna cokelat gelap dengan selaput tipis berkilauan. Nyaris selalu terlihat akan menangis, gadis itu~

Tak pernah bisa membuatku berhenti memperhatikannya.

“Fery, Fery, kamu dengerin aku? Helow, Fery, aku di sini, lho.”
“Kenapa lagi, May? Pulpen kamu mati lagi? Sini-”
“Fery, kamu kok jadi jutek gitu ke aku?”

Maya memotong cepat. Ia menunjukkan ekspresi tak suka saat aku hanya diam dan merebut pulpen yang mati dari genggamannya. Sebenarnya, bukan pulpennya yang mati. Otak Mayalah yang mati.

Menyebalkan sekali dia tak pernah bisa melakukan suatu hal tanpa bantuanku sama sekali. Tak pernah kulihat dia mengerjakan paper tanpa menggangguku. Padahal jurusan kami berbeda.

“Nih, udah. Jadi buruan kerjain.” Kataku menasehati.

Maya mengiyakan tanpa suara. Merasa sudah benar, kubiarkan ia membaca buku referensi lagi dari perpustakaan untuk dijadikan referensi. Aku sendiri kembali ke kegiatanku membaca novel berjudul Me Before You sambil menjaganya.

Hubunganku dan Maya sudah terlalu datar. Aku dan dia~ kami sadar akan hal itu, tapi tak satupun dari kami menyinggung masalah itu. Sejauh ini, mungkin perasaan tak tega melihat ia kesepian yang menjadi alasannya.

Tapi tunggu, sampai kapan ini akan berlangsung? Aku lelah selalu memasang topeng ini. Jika aku boleh jujur, Maya adalah pribadi yang merepotkan. Tidak bisa melakukan apapun tanpa bantuan orang lain. Perkenalanku dengannya juga dimulai dari aku yang membantu dia mengurusi persiapan OSPEK.

Saat itu, Maya salah membawa apel dan aku yang tak tega melihat seorang mahasiswi baru akan di-notice senior dalam artian yang buruk pun membantunya. Kebetulan aku membawa apel merah lebih karena memang menyukainya.

Ekor mataku menangkap sesuatu yang janggal dari Maya dan saat menoleh, benar saja. Kudapati Mata menangis sesenggukan di tengah kegiatannya mencatat hal-hal penting.

“Maya~ May. Hei, Maya, kamu kenapa?”

Tidak ada respon. Aku diabaikan.

“May, kamu nangis, hem?”

Masih diabaikan. Sekarang aku mulai kesal. Kutarik Maya ke dalam pelukanku. Semoga tidak ada yang mengira aku dan Maya berbuat tidak senonoh mengingat ini adalah pojok perpustakaan kampus yang lumayan sepi.

“May, everything is gonna be okay. Udah gak usah nangis. Biasanya juga kamu gak nangis kecuali pas nonton film Titanic.”

“Fery, hiks, kamu berubah. Kita hiks putus aja, ya.”

Aku terperanjat, lalu refleks memberi jarak dengan Maya. “Kamu ini ngomong apa sih, May? PMS, ya? Kok kamu ngomongnya ngelantur, sih?”

“Sadar gak, sih? Sejak awal, kita lebih kayak sahabatan. Ngedate juga gitu-gitu aja. Nyaris sebulan setengah pacaran, kamu tetep gak pernah berbuat spesial ke aku. Kita pacar rasa temen, Fer.”
Maya melepaskan diri dariku yang diam melongo. “May, kamu tau aku bukan tipe cowok yang gitu, ‘kan. Di awal pacaran, aku udah jujur tentang ini ke kamu dan kamu bilang itu gak masalah karena kamu bukan kayak cewek kebanyakan. Tapi ternyata, kamu sama aja.”
“Semua perempuan pasti pengen diperlakuin spesial sama cowoknya. Termasuk aku, Fer.”
“Semua yang spesial pasti bakal diperlakuin spesial.” Aku buru-buru menutup mulut. Tidak menyangka ucapan sekejam itu akan keluar dari mulutku secara langsung. Ya, ucapanku barusan sukses membuat Maya menggelengkan kepala tidak percaya. “Maya~”

“Ternyata putus emang yang terbaik buat kita, Fer.” Ucapnya sambil memaksakan diri untuk menyunggingkan senyum. “Makasih buat semuanya selama ini. Makasih buat perhatian palsu kamu ke aku. Makasih karena tetep gak nganggap aku spesial sampe terakhir.”
“Maya, jangan kekanakkan.” Kataku memperingatkan.
“Lo yang bego, sialan.”
Dan satu tamparan yang Maya berikan adalah satu-satunya hal yang tersisa dari hubungan kami. Aku tidak tahu kenapa, tapi yang aku tahu, ditampar itu sakit. Bibirku sampai sobek karena ditampar oleh Maya.

Bagus sekali. Dia meninggalkanku sendirian di perpustakaan. Dengan berat hati, aku berjalan ke luar dari ruangan angker itu diiringi tatapan bertanya dari sebagian pengunjung perpustakaan yang melihatku. Penjaganya? Beliau yang berusia 50 tahunan itu hanya bisa geleng-geleng kepala takjub.

“Wui, Bro, kenapa itu muka? Ahahahah,” Salah satu temanku menyapa saat kami tak sengaja bersua di teras perpustakaan.
“Kenang-kenangan dari Maya, Lan.”

Alan terbahak keras sekali di bench ketika mendengar semua cerita versiku yang tentunya masih original. Belum ditambah-tambahi bumbu lain.

“Ambil sisi positifnya, Lan,” Aku menyeringai setelah mengelap darah di sudut bibirku menggunakan sapu tangan yang dipinjamkan oleh Alan. “Lu gak sendirian lagi jomblonya. Kita bisa main PS bareng lagi, men.”
“Bego.” Alan menoyor keras kepalaku. “Ayo main ke rumah gue abis ini. Gue baru dibeliin bokap CoD Black OPS III.”
“Wuih, mantep tuh.”

Dengan begitu, aku dan Alan berjalan menuju parkiran setelah konversasi kami diakhiri dengan Alan yang menyombongkan diri. Yeah, terkadang menjalani hari-hari tanpa terikat dari orang lain itu lebih menyenangkan. Aku bebas mengerjakan apa yang ingin aku kerjakan bersama teman-temanku.

Menjalani semua hari dengan tugas kuliah dan bermain game sepertinya bukan hal buruk. Setidaknya, aku bisa mulai hidup hemat sekarang. Dan uang yang biasa aku gunakan untuk mentraktir Maya makan atau membeli bensin untuk menjemputnya pulang kuliah jadi bisa aku belikan game-game terbaru bersama Alan.

Jadi sendirian tanpa terikat status pacaran tidaklah buruk. Aku jadi semakin sering main game dan beban di pundak rasanya mulai beranjak. Aku akan mengakhiri kisah ini dengan sebuah senyuman kebanggaan di masa muda.

END.

Part 2 akan segera di publish secepatnya. 🙂 Hope you enjoy it

Cerpen Karangan: Nafa
Facebook: Akamiya Shinaraika

Cerpen Something Special (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hadiahnya Sepatu Sebelah

Oleh:
Namanya Shimeka Minamato. lahir di Hokkaido, Jepang. ia mempunyai seorang kakak perempuan bernama Ruzima. sekarang, Shimeka dan keluarga tinggal di Jakarta, Indonesia. hari ini, hari ulang tahun Shime yang

Serpihan Hati

Oleh:
Di sudut pintu ruangan dokter itu terlihat seorang gadis yang membungkukkan kepalanya sambil menangis, sosok mungil itu membuatku ingin menghampirinya dan sekedar memberikan sapu tangan yang aku genggam saat

End of Love Story (Part 3)

Oleh:
Hampir seminggu berlalu, gak terasa sudah mau 2 minggu aja off-nya dan bentar lagi harus ke lokasi kerja lagi. Waktu itu Deniz bilang kalau dia akan pindah tugas ke

Sahabat Jadi Cinta

Oleh:
Gua adalah seorang siswi sekolah negeri di tempat gua, gua sedikit tomboy, cuek dan menyebalkan kata teman-teman, hee… oh.. ya sampai lupa nih nama gua Andine Beberapa tahun yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *