Spektrum Ilusi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Pengorbanan, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 25 April 2019

Terdapat sebuah rasa takjub bercampur iri manakala terpampang cerahnya langit pagi bersama hilir mudiknya koloni burung burung gereja, mereka terbang dengan bebasnya tanpa terbelenggu ikatan adat maupun kepercayaan. Pergi terbang mengitari setiap inci demi inci meninggalkan sarang demi mencari rizki yang memang telah diciptakan Tuhan bagi mereka. Merekapun tahu benar bagaimana mengisi kekosongan perut mereka dan anak-anak mereka, cara mereka memberi kehidupan bagi kehidupan selanjutnya

Pagi ini sungguh cerah, selepas kuhabiskan segelas kopi bersandar di teras rumah. Para burung-burung gereja membuat tubuh ini merasakan benar pelajaran tentang apa yang namanya “gairah” seakan membuatku lupa tentang apa yang terjadi semalam. “yah,..” saya pun malas mengingat apa yang terjadi semalam. Kutaruh gelas kopiku beranjak menuju kamar mandi untuk kemudian pergi bekerja.

Semalam, redup cahaya lampu jalan selayaknya menjadi payung bagi diriku yang berdiri di bawahnya, di persimpangan jalan. Memandang sekitar dengan tatapan penuh harap menunggu datangnya sang pacar. Inspirasi demi inspirasi kata benar benar tengah merasuk di hampir separuh isi benak. Seperdua kesadaranku mulai disibukan dengan angan yang coba aku rangkai dalam kalimat kalimat cinta teruntuk sang pacar, sampai genangan air memuncrat ke wajah ulah pengendara mobil yang melintas, barulah mengembalikan sepenuhnya kesadaran diri.

Aku pun meraih handphone dari dalam saku celana, waktu terpampang pukul 21.15, sudah hampir 2 jam aku menunggu Ayudia, wanita yang kupacari tepat satu tahun. “yuph” malam ini seharusnya kami merayakan anniversary dari sebuah hubungan. Perasaan khawatir sudah tentu berseliweran memenuhi perasaan disamping dugaan dugaan.

“0,8,1,2,9,”
Belum tuntas aku memencet digit nomor telepon Ayudia, kulihat taksi berwarna biru berhenti di samping sebelah kananku. Ayudia, tampil dengan sangat cantiknya turun dari dalam taksi biru itu.
“maaf,” tutur ayudia dengan halusnya sambil mendekat ke arahku
“gak apa apa kok,” balasku. Selayaknya pria yang terselubungi perasaan saking cinta cintanya. Seberapa salah pun pacarnya pasti akan dianggap bukan suatu kesalahan.
“kamu sudah nunggu lama ya bim? Tadi aku,”
Belum habis ucapannya, aku sudah menghentikannya. “Bim” sapaan dari namaku “Bima.”
“Sudahlah, kita langsung saja,” aku memotong perkataan Ayudia, “sudah larut, dan saya juga sudah menunggu kamu untuk waktu yang tidak sebentar.” Kami bergegas menuju ke sebuah rumah makan yang memang tepat di belakang aku menunggu. “satu hal ya yu,” kami saling pandang. Aku merasakan dengan jelas sorot mata kecemasan dalam diri ayudia. Untuk beberapa saat waktu seperti berhenti. “kamu terlihat cantik sekali malam ini,” akupun meneruskan perkataan yang terputus. Memerah padam bercampur beberapa tetesan keringat terekam di wajah ayudia berekspresi agak malu.
“Mulai deh…”
“Mulai apa?” sahutku.
“Gombal,” terang ayudia sembari melempar pandangan dan wajahnya kearah wajahku sangat dekat hingga tercium aroma parfume, rose essentielle yang begitu istimewa.

Burung burung gereja benar benar mengharuskan aku berterima kasih, karenanya terletup gairah dalam diri ini. Keramaian suasana perjalananku menuju tempat bekerja sama sekali tak mampu menjadi pengusir kesepian yang sedang aku alami. Hanya satu hal yang coba disampaikan para koloni burung gereja bahwa melanjutkan kelangsungan hidup adalah sebuah pesan dari hidup itu sendiri. Kupacu sepeda motorku menuju tempat bekerja yang berjarak 19 km dari rumahku, kira kira 45 menit waktu perjalanan.

Motor yang aku kendarai dengan kecepatan rendah. Desiran angin memasuki setiap celah celah helm. Suasana seperti ini membawa aku dalam sebuah pergulatan batin berusaha menemukan jawaban dari banyaknya pertanyaan dalam pikiran.
“Sedari kecil ayah selalu mengajakku berkeliling kota disetiap waktu liburnya. Ayah sering membawaku pada acara keadatan kami, mendatangi pertunjukan “ondel ondel” sebuah tradisi dalam adat betawi. Penjelasan ayah tentang makna dibalik topeng ondel ondel masih sangat membekas dalam ingatan. “cobalah kau maknai bagaimana orang dalam kostum ondel ondel itu,” terang ayah. “begitulah juga kita, kita sering memakai topeng topeng adat dalam kehidupan kita sebagai tanda ketaatan kita pada tradisi, yang justru seringkali menutupi pemikiran pemikiran kita sebenarnya. Bayangkan bila kita hidup tanpa tradisi, pemikiran pemikiran liar kita malah justru akan membinasakan kita dengan cepat, tradisi adat lah yang mampu menutupi ke-aib-an. Sejatinya pemikiran kita adalah senjata yang siap membunuh diri secara perlahan, dengan tradisi adat kita mengetahui batasan-batasan dari langkah-langkah yang kita ambil. Walaupun seringkali tradisi adat membawa hal hal kurang menyenangkan pada kepribadian. Tapi kita tak akan mampu memberontak pada adat sebab adat sejatinya perjanjian kita pada moyang moyang kita untuk membentuk sebuah peradaban. Dan manusia berharga diri hanya jika ia memegang teguh perjanjian.” Penjelasan ayah menjadi alasan bagiku untuk menahan diri.”

Sampailah aku pada tempat kerjaku, kuparkirkan sepedah motorku di halaman kantor tempatku bekerja. Sambil berjalanan ke arah ruang kerjaku, aku mengambil handphone dari saku celana.
“Aq kangen sama kamu bim, aq mau bicara langsung sayyaaannnggg.” Begitu isi pesan whatsaapp terakhir yang dikirim ayudia padaku. Kulihat laptop di meja kerja sudah siap menjemputku dengan banyak hal pekerjaan yang harus aku selesaikan.

“Bim, hellow bim,” panggil Andhita, rekan kerjaku sambil melambai lambaikan tangan tepat di depan wajah. Pandangan kosongku menatap layar monitor sedang pikiranku berkelana jauh meninggalkan tubuh. “invoicenya harus sudah siap pagi ini… tolong ya diselesaikan biar saya bisa melanjutkan proses ke pengiriman,” terang Andhita. Kemudian pergi’
“Dita,” panggilku seraya berdiri. Andhita menoleh dengan dahi yang mengernyit menyimpan tanya. “saya sedang tidak enak badan, kepala saya pusing, sepertinya saya harus izin dengan atasan. Mau ya kamu mem-back up pekerjaanku dulu?” lanjutku. Dengan memasang ekspresi berat enggan Andhita menghampiriku.
“Kamu sakit?” tanya andhita menegaskan. “kenapa kamu berangkat ke kantor? Seharusnya kamu menelepon sebelumnya meminta izin supaya rencana kerja tidak jadi berantakan karena kamu.”
“Maaf Ta,”
“Ini untuk yang pertama dan terakhir kali ya Bim,” Andhita memberi persetujuannya. Senyumpun terpasang di wajahku.
“Thanks Ta,” Aku bergegas meninggalkan ruang kerja.
“Bima,” kali ini Andhita yang memanggil saat aku berjalan meninggalkan ruang kerja.
“Iya Ta,”
“Password akunnya?”
“Ayudiaku90”

“Tak seharusnya sikapku seperti ini,” aku berkata kata dalam hati sambil berjalan menyusuri lorong kantor. “ternyata aku memang tak mampu semerdeka koloni burung-burung gereja itu, akalku tidak mampu mengakali perasaan agar tetap bergairah dan melupakan semua yang terjadi. Ah, kalaulah bukan karena adat yang menjadikan semua ini begini, tentu sudah kulakukan pemberontakan.”

Sampailah aku menghadap atasan untuk meminta izin padanya. Aku menceritakan tentang alasanku meminta izin padanya. Ternyata beliau tak mengizinkan aku pulang. Dia memintaku membeli obat dan beristirahat di area kantor. “Saya mengizinkan kamu untuk istirahat tapi tidak mengizinkanmu untuk pulang. Kalau sudah membaik kembalilah bekerja. Jika tidak juga, beristirahatlah sampai habis jam kerjamu,” terang atasanku.

Aku terhenti ditengah perjalananku menuju kantin kantor. “Sepertinya gedung ini dan aktivitas di dalamnya membuat pandanganku terbatasi dinding dinding, begitu pula menjadikan hasratku tak mampu memandang luas.” Hingga akhirnya aku memutuskan untuk mencari keluasan pandanganku dengan keluar dari gedung kantor.

Tertujulah sebuah warung kopi di seberang kantor, aku menghampiri warung itu. Di luar aku bebaskan mataku memandang apapun yang mampu terjangkau. “sewaktu kecil aku diajarkan menggambar, tentang bagaimana caranya menuang penglihatan di atas kertas. Kala itu aku diajarkan menggambar sebuah jalan lengkap dengan pepohonan di kanan kirinya. Dari sebuah sudut jalan itu dimulai, dengan garis lurus, jalan itu semakin menjauh dari titik tolaknya maka semakin membesar. Begitulah ibuku mengajarkan aku sebuah perspektif . Setelah dewasa rasanya aku tak menggambar lagi dengan teknik yang sama. Sebab aku mulai memahami adanya sudut lain bagiku mengambil sebuah perspektif. Dengan berdiri di atas tempat yang tinggi, aku memahami bahwa jalan itu sebenarnya dapat tampak sama” aku putuskan menghabiskan waktu istirahatnya di warung kopi itu.

Sebuah warung kecil semi-permanent berwarna hijau, setengah badan bangunannya mengambil hampir separuh trotoar. Secangkir kopi hitam hangat mulai ku pesan. Tersaji lebih cepat bila saat memesan kopi di coffe shop. Aroma kopi mulai menenangkan penatku. Lamunanku membawaku kembali pada malam tadi.
Saat ketika ayudia menggenggam tangan ini berusaha menenangkan perasaanku.
“Orang bijak sering mengatakan dalam tulisan mereka tentang pentingnya berfokus pada saat sekarang, bukan kemarin, besok apalagi lusa.”
Sudah sebisa bisanya aku untuk melupakan kejadian malam tadi. Seperti manusia lain, aku punya hati yang seringkali menjadi pembagi rasio dan rasa. Untuk saat ini rasaku lah yang pegang kendali terbesar. Terlarutnya aku dalam rasa, mengkerdilkan rasio sebenarnya tanpa tersadari.

Sayup sayup terdengar di kejauhan sebuah suara lantunan alat musik tanjidor, suara yang menghanyutkan aku akan kenangan masa kecil bersama ayah. Suara itu mengajaku untuk peduli melihatnya. Tak berselang lama tampaklah iringan anak anak kecil seraya mengerumuni boneka raksasa dengan warna merah sering menjadi identitas dominannya, adat kami menyebutnya “ondel-ondel”
Semakin jelas kulihat iringan ondel-ondel itu mendekat kearahku. Kali ini aku tak sedang terfokus untuk melihat atraksi ondel-ondel, melainkan sibuk mencari sumber dari suara tanjidor. Mata ini berkeliling mencari dimanakah kiranya sumber suara dari tanjidor itu sampai pada mata ini tertuju pada sound system besar yang ditarik diatas gerobak oleh sekitaran lima orang pemuda.
“Sama halnya seperti not musik yang dapat diturunkan atau dinaikan pada nadanya, begitupun sebuah tradisi. Dengan tanpa menghilangkan fungsi dari suara tanjidor, para seniman ondel-ondel ini pun telah menggantinya dengan rekaman bunyi musik.”
Ondel-ondel itu cukup menghipnotis rasa kegalauan ini untuk beberapa saat.

Bisa saja dedaunan itu gugur meninggalkan tangkai dari pepohonan,
Tapi itu bukan satu satunya bukti pepohonan itu telah mati

Cuaca saat ini cukup panas. Tak terasa dua jam sudah aku meghabiskan waktu di warung kopi ini. Kopi di cangkir pun sudah aku habiskan. Rasanya sudah tak punya alasan lagi untuk tetap berada di sini. Kubayar harga dari secangkir kopi itu kemudian bergegas kembali ke kantor.

Perasaan enggan menyelimuti diriku untuk kembali ke meja kerja. Di halaman gedung kantor aku duduk. Kali ini penglihatanku kuarahkan pada hijaunya dedaunan. Sendiri ditengah aktifitas para karyawan.
“Rupanya kamu di sini Bim,” samar kudengar suara. “saya mencarimu kemana-mana Bim.” Kali ini dapat kupastikan ini suara Andhita. Dan kudapati dia berdiri di belakangku.
“Iya Dit, saya di sini,” sahutku. “maaf ya dit, saya merepotkanmu saja.”
“Gak apa Bim,” terang Andhita. Dia pun duduk di sebelahku.
“Kok kamu di sini?” tanyaku. Andhita menengok ke arah jam tangannya.
“Ini sudah jam dua belas lewat Bim, jadi sudah istirahat,” jawab Andhita. “Saya cari kamu karena tadi gak sengaja saya membaca e-mail masuk,”
“Paling surat penawaran Client Dit, sudah biasa kan itu. Jadi kenapa harus minta maaf sampai merepotkan mencariku segala?”
“Bukan Bim, tapi dari Ayudia,” jelas Andhita. Sontak aliran nafasku seperti terhenti beberapa saat. Tatapan mata penuh tanya kuarahkan pada diri Andhita.
“Kenapa E-mail? Kenapa gak WA atau SMS atau mungkin telepon,” gumamku. Andhita membalas dengan gelengan kepala. Kemudian aku pun merogoh saku celana. Mataku membesar terpaku. Aku meraba ke sekeliling tubuhku. “HP nya,” aku berkata penuh tanya. Andhita melihatku dengan wajah yang seakan ingin bertanya “Ada apa.”
Tanpa pikir pikir, aku segera berlari menuju warung kopi hijau tadi. Andhita mengikutiku dengan berlari kecil.

“Mbak, apakah mbaknya liat handphone saya?” tanya saya pada pemilik dari warung kopi itu. Si pemilik memberikan tatapan kosong seakan ingin menegaskan bahwa ia tak tahu menahu soal ini. “tadi itu kan hanya ada tiga orang yang berada di warung ini, saya duduk disini…” terangku sambil menunjuk tempat dimana aku duduk tadi.
“Maaf mas, pekerjaan saya cukup banyak, gak sempat saya memperhatikannya,” terang pemilik warung.
“Tapi kejadiannya belum lama,” timpahku
“Loh, masnya kan sudah cukup besar untuk tau apa yang harus dilakukan, masa iya saya harus ngeliatin masnya sepanjang berada di sini, nanti malah masnya merasa tidak nyaman.”
Mendengar pernyataan pemilik warung itu membuat tubuh ini bergetar geram.

Andhita yang mengikutiku meraih tanganku.
“Bim, dengarkan saya,” pinta Andhita. “Berapa lama lagi waktu yang ingin kamu habiskan untuk menanyakan tentang sesuatu yang memang sudah tiada lagi? Tidakkah kau ingin melihat E-mail yang dikirim Ayudia untukmu?”
Aku terdiam beberapa saat.
“Ayo Bim,” tegas Andhita. Kami pun bergegas.

Sampai pada ruang kerja kami. Andhita tampak terengah-engah, tanda kelelahan terlihat di wajahnya. Dia mengikuti berjalan dengan cepat setengah berlari.
“Saya mencoba menghubungi handphonemu berkali-kali tapi tak ada jawaban,” kutipan isi dari e-mail. “terkadang pepohonan akan menggugurkan daun-daunnya sebelum tumbuhnya buah-buahan yang sangat manis,” lanjut isinya.
Isi pesan Ayudia membawa ingatanku lagi ke kejadian malam tadi.
“Aku harus mengatakan ini Bim,” ucap Ayudia di malam itu, ketika kami bertemu di sebuah rumah makan. Dia mengatakan dengan suara yang bergetar, mata yang sayup sambil memegang es coffee latte. “orangtuaku mengajarkanku menjadi seorang yang beragama, mereka menanamkan nilai nilainya sejak saat aku kecil. Dan saat ini aku harus taat,” lanjutnya.
“Sekalipun yang kamu korbankan ini cukup besar, kamu sudah mengorbankan cinta,” sambungku.
“Awalnya aku pun tak mampu memahaminya,” lanjut Ayudia. “aku bahagia bersamamu Bim. Tapi,”
“Lantas kenapa kamu harus membuang kebahagiaan itu?”
“Karena kebahagiaan bukanlah satu satunya yang harus dicari dalam hidup ini.”
“Kamu terlalu klise yu,”
“Kehidupan ini juga klise, kehidupan ini ambigu, sampai kita bertemu Tuhan. Yang saya tahu saat ini bagaimana nilai dalam keluarga dan agamaku tetap hidup dan aku yakini. Keluargaku memintaku untuk berpasangan hidup dengan pria yang satu keyakinan agama. Maafkan aku Bim,” Ayudia menunduk sambil membendung air matanya.
“Setelah sebegini lama, setelah satu tahun hubungan kita. Kamu baru mengatakannya sekarang? Apa kah kamu sadar dari semua hal ini akan meyakiti hati ini, cinta kita terkhianati.”
“Mengertilah Bim, ketika kita terlalu fokus dalam keadaan yang membahagiakan. Kebahagiaan itu akan terus menerus menggerus kebenaran mengatasnamakannya.”

“Bim,” panggil Andhita, mengembalikan aku dari ingatanku tentang kejadian semalam. Aku kembali melanjutkan membaca e-mail .
“Seorang penonton pertandingan terkadang mampu melihat sisi lain yang tak terlihat oleh pelaku tanding…” Andhita tiba-tiba berkata padaku.
“Maksudnya?” tanyaku.
“Seorang temanlah yang mampu melihat sisi lain dari yang tampak olehmu,” sambung Andhita. “Kamu sudah mengenal sosok wanita hebat seperti Ayudia. Jujur saja saya iri padanya. Saya tahu dia sangat menyayangi dan mencintaimu. Dia hanya takut rasa sayang dan cintanya padamu mengalahkan rasa cintanya kepada Tuhan.”
Aku mengarahkan pandangan teduh tanda setuju.
“Dan dia mengambil perspektif yang belum pernah aku lihat sebelumnya,” sambungku. “Dan tidak seharusnya perasaanku tersakiti karenanya.”

Cerpen Karangan: Danang kristianto
Facebook: facebook.com/danang09.kristianto

Cerpen Spektrum Ilusi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Claudy And Shine

Oleh:
Dia adalah Violina Estian, banyak orang yang menginginkan hidupnya seperti kehidupan Violina, karena orangtua Violina adalah seorang wiraswasta yang sukses bahkan mereka mempunyai banyak cabang perusahaan di luar negeri.

Ketika Cinta Tak Bisa Menuggu

Oleh:
Matahari mulai kehilangan cahaya teriknya yang menandakan langit sebentar lagi akan gelap. Perlahan cahaya mulai meredup, tapi entah mengapa mentari seakan sulit untuk menenggelamkan dirinya seperti menjaga seseorang agar

Emma

Oleh:
Hari ini aku melewati jalan yang cukup ramai. Tujuanku adalah toko bunga. Ketika hendak membuka pintu toko, tak jauh dariku sepasang sahabat saling bercanda. Wajahnya terlihat kebahagiaan masing-masing. Sebuah

Pantaskah

Oleh:
Terlahir dari keluarga yang sangat sederhana membuatku terbiasa hidup terasingkan juga penuh caci, mencoba menghadapi rintang kehidupan dengan genggaman tangan keluarga. Merasakan hidup lebih dari sekedar susah telah ku

Semua Tentang Senyum

Oleh:
DUGHH!! Sebuah bola basket mendarat di kepalaku diikuti dengan tawa brengsek dari seorang cowok yang juga brengsek. Siapa lagi kalau bukan Ivan, si mantan pacar yang sok ganteng itu.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *