Stay In Here

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 3 April 2019

Kedua matanya telah terbuka. Bola matanya yang bulat sempurna dengan warna cokelat yang pekat, menunjukkan betapa ia bukanlah turunan warga Indonesia. Tapi namanya, karakternya, dan pendiriannya, berhasil membawa namanya dengan kelahiran Indonesia, untuk menguasai dunia bisnis international.

Bulu matanya yang lentik, beberapa kali berkedip. Menunjukkan betapa lengketnya mata bagus itu. Namun, bayangan di balik retinanya telah banyak gambaran stasitika yang harus ia capai dalam setiap waktu. Dimana, waktu yang terus berjalan adalah bagian dari nafasnya. Dan nafas itu, adalah kemenangan baginya. Kesmpurnaan yang harus ia capai meski waktu dan takdir terus menghalanginya. Sastra. Ya! Sastra Binara. Itulah namanya.

“Siapkan aku makan pagi,” pintanya rendah dengan menghadap ke arah jendela besar yang menunjukkan betapa ia terlalu pagi memulai harinya. Bahkan, mentaripun masih ternyenyak dalam tidurnya.
“Baik, Nona! Kami akan menyiapkan makan pagi untuk Anda. Apakah kami perlu menyiapkan air hangat?,” tanya ketua pembantu Sastra.
“Tidak! Apa kau merayuku dengan melakukan hal yang tidak aku inginkan sebagai bagian dari pekerjaanmu? Pergilah!,” ucap Sastra dingin.

Tanpa adanya suara, sang pemimpin para pembantu itu mengundurkan dirinya dengan langkah pelan. Ia kembali menutup kamar mewah Sastra. Sebisa mungkin, tanpa mengeluarkan suara. Mendengar suara dingin Sastra sudah cukup mengintimidasi meski Sastra masih termasuk golongan orang yang ramah dengan para pekerjanya. Berbeda dengan kedua temannya yang sering datang ke rumah Sastra.

Deringan ponsel, terdengar di atas nakas. Sastra yang tengah terfokus dengan pandangannya saat itu, membalikkan tubuhnya. Melihat nama itu di sana, berhasil membuatnya tersenyum setelah matanya berair beberapa waktu yang lalu. Iapun segera mandi dan membersihkan dirinya. Mempercantik dirinya dan pergi segera tanpa memakan makanan yang sudah ada di atas meja makan. Melainkan, ia berseru kepada pelayan untuk membawanya ke kantor.

“Silahkan masuk, Nona!,” ucap supir pribadinya seraya membukakan pintu mobil pribadinya.
Sastra menganggukkan kepalanya. Ia memilih untuk duduk di bangku belakang dengan memegang tab yang berisi laporan bisnisnya yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Bahkan, senyuman di bibir mungilnya terlihat indah di wajah imutnya.
Sampai akhirnya, ia meletekkan tabnya, dan membuang nafas gugupnya. Kemudian, keluar dari mobil mewahnya, dan masuk ke dalam caffe yang menjad salah satu investasi kecilnya. Baik itu dari segi property maupun jasa. Caffe itupun tak berhenti dari pengunjung. Karena, setiap hari akan ada menu baru dengan resep terbaru. Dimana di dalamnya adalah menu makanan dan minuman yang berdasar dari Italy. Coklat. Benar. Di sanalah tempatnya.

Sastra melangkahkan kakinya. Para pelayan, koki, menundukkan kepalanya hormat saat Sastra memasuki caffe itu. Hingga, semua mata tertuju padanya. Termasuk dia. Yah.. nama yang ada di layar ponselnya tadi pagi.
“Sudah…..” ucapnya mulai menghilang saat ia menyadari kehadiran seseorang yang tak ia kenal.
“Siapa dia?,” tanya Sastra santai.
Sorotan matanya terlihat tenang. Meski hatinya dan pikirannya terus berputar siapakah wanita yang ada di samping laki-lakinya. Tidak biasanya laki-lakinya membawa seorang gadis untuk bertemu dengannya.
“Dia kekasihku,” ucapnya.
Sastra tercekat seketika. Tenggorokannya serasa tak dapat menelan air liurnya. Kehebatan Sastra. Ia tidak akan menunjukkan betapa terkejutnya ia. Wajah imutnya tetap terlihat tenang. Sangat tenang. Tak terguncang dengan apa yang dikatakan oleh laki-laki yang sudah ia jadikan kekasihnya.
Bukan amarah yang menggebu yang keluar. Melainkan, senyuman simpul dan manis seraya matanya menyusuri wanita yang ada di depannya. Tatapan matanya berhasil mengintimidasi hingga wanita itu meremas laki-laki di sampingnya. Yah… laki-laki yang melepaskan Sastra. Brian Vasine Pramana.

Sastra meminum coklat panasnya yang sudah disediakan koki professionalnya meski Sastra tidak memesannya. Senyumannya terlihat begitu licik di balik cangkir lebarnya. Matanya yang bulat seperti kelinci, sejenak melirik ke arah wanita itu. Keringat dinginnya, terlihat bercucuran di kedua pelipisnya. Suasana di sana, sangatlah mengintimidasi.

“Bersenang-senanglah! Aku tidak akan melarangmu. Dan kau, nikmatilah waktumu dengan Brian. Aku tidak akan menghalangi kalian berdua. Aku hanya mengingatkan saja padamu Brian, bukalah matamu sebelum kau sakit,” ucap Sastra dengan senyuman wibawanya. Tetap saja mengintimidasi. Ucapannya yang sedikit mengandung makna yang dalam. Hingga berhasil membuat Brian menaikkan salah satu alisnya. Menunjukkan ia menuntut penjelasan dari Sastra. Akan tetapi, Sastra hanya tersenyum seraya menatap Brian dengan tatapam ‘Kau akan tahu dengan sendirinya. Karena aku diam. Jadi, nikmatilah waktumu dengannya.”

Sastra beranjak dari tempat duduknya. Matanya menatap kekasih baru Brian yang berusaha mengalihkan pandangannya dari tatapan intimidasi itu.
“Ambillah kartuku, atau kau tidak akan mampu membayar minuman coklatmu,” ucap Sastra dengan menyerahkan kartu namanya yang berwarna putih dengan tulisan timbul di atasnya.
“Sastra!!!,” bentak Brian.

Seketika beberapa pelayan datang untuk melindungi Sastra. Namun, telapak tangan Sastra yang mengangkat berhasil menghentikan langkah mereka yang mendekat. Kemudian, datanglah seseorang berjas hitam dengan membawa map hitam tebal. Sastra meraihnya dengan elegan dan memberikannya kepada gadis itu. Mamaksanya untuk membaca. Akan tetapi, Brian mengambilnya lebih dulu dan gadis itu terus menghalangi. Bukanlah Brian jika dia tidak keras kepala.

“Apa kau pikir kau bisa memanfaatkan aku melalui orang-orang sekitarku?,” tanya Sastra mengintimidasi.
“Sastra,” gumam Brian lemah.
Sastra tidak mengubris panggilan Brian. Melainkan ia melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah gadis itu. Menatapnya dengan tatapannya yang mulai menajam. Suaranya yang berat dan rendah, serta hawa kehadirannya yang begitu mencekam.
“Kau pikir kau bisa bermain dengan Sastra Binara?!!! Kau pikir kau bisa memanfaatkan aku?! Kau siapa?!!! Bercerminlah!!! Aku tidak akan memberikan bantuan sedikitpun kepada perusahaanmu dengan caramu yang kotor seperti ini!!! Apakah kau pikir aku licik karena aku telah membantu perusahaan temanmu yang bermusuhan denganku hingga kau melakukan hal yang sama?!!! Kau!!! Tidak tahu apa-apa kenapa aku membantunya. Jika kau ingin tahu, baiklah akan kuberi tahu! Musuhku, suaminya telah membantu laki-laki ini di medan perang hingga ia selamat!!! Kau puas?!!! Kau puas gadis murahan?!!!,” ucap Sastra murka dengan melemparkan map yang berisi ajuan kerjasama perusahaan.

Brian membelalakkan matanya tak menyangka jika gadis yang ia pikir lebih baik daripada Sastra adalah gadis licik yang telah memanfaatkan untuk memperoleh keinginannya. Sastra yang menjauh dan tak dapat dijangkaunya membuat dirinya harus meningalkan gadis gila disampingnya yang berusaha menjelaskan bahwa semuanya tidak benar. Tapi, apalah daya jika bukti sudah menjelaskan semuanya.

Kepalanya yang kacau dan kekawatirannya yang menyelimutinya tentang Sastra berhasil membuatnya tidak tenang. Dengan cepat, Brian memacu gas mobilnya agar cepat sampai di perusahaan gadis kelinci itu. Sesampainya di sana, ia berlari kesetanan untuk mengejar Sastra yang sudah terlihat menaiki lift pribadinya. Tanpa berpikir panjang, Brian mengambil langkah dengan menaiki tangga untuk sampai di ruangan Sastra.
Dan benar saja, Sastra baru sampai di sana. Dengan nafas terengah, Brian memanggil Sastra dengan sisa nafasnya yang terengah-rengah.

“Brian?!,” gumam Sastra tak menyangka.
“Sastra, aku, aku, aku minta maaf karena aku bodoh dengan semua ini. Aku minta maaf kalau aku sudah menyakiti kamu. Aku juga minta maaf karena aku udah bikin kamu marah, semalem aku nggak bales karena… aku, aku, aku minta maaf banget karena aku…”
“Brian,” panggil Sastra menghentikan Brian yang berusaha menjelaskan kenapa ia tak dapat membalas pesan Sastra dikala Sastra sangat merindukan dirinya.
“Aku memang marah kepadamu karena kamu lebih mementingkan gadis itu daripada aku. Tapi aku lebih marah lagi saat kamu menganggap kalau aku masih lebih baik daripada dia. Tapi aku bisa memaafkan semua itu karena kamu tidak tahu apa-apa tentang semua ini. Tidak seharusnya kamu mengikuti arusku dan terlibat dalam permalasahanku. Tidak seharusnya kamu menjad korban dalam permainan pekerjaanku. Tugasmu adalah menjagaku, tapi jika itu sudah tak dapat dilakukan, maka aku yang giliran menjagamu,” jelas Sastra saat langkahnya sudah tepat berada d depan Brian.

“Kenapa kamu membiarkan aku dengannya jika kamu marah? Kamu bisa melarangku. Kamu bilang kalau aku adalah milikmu. Tapi kenapa kamu seakan membuangku dengan cara seperti itu, Sastra?,” tanya Brian dengan matanya yang mulai berair.
“Aku mencintaimu. Bagiku, kebahagiaan orang yang kucintai adalah hal yang utama. Jika memang bersama dengan gadis itu membuatmu bahagia, kenapa tidak? Meski sulit bagiku, setidaknya aku melakukan hal yang benar dalam prinsip hidupku. Brian, cinta tidak dapat dipaksaan, cinta tidak dapat disalahkan karena cinta merupakan takdir. Takdir berasal dari-Nya. Yang kulakukan adalah membenarkan yang salah jika itu dimataku salah. Kalaupun kau tetap memilih gadis salah itu, aku tidak akan melarangnya. Aku akan mengandalkan keyakinanku jika kau akan kembali dengan cepat tanpa aku menggunakan kekuasaanku. Karena aku yakin, kau masih mencintaiku dan memberikan seluruh hatimu untukku. Maka dari itu aku memutuskan untuk menunggumu hingga kau menyelesaikan permainanmu,” jelas Sastra santai.

Brian tidak mengatakan apapun. Ia meraih Sastra dalam pelukannya. Memeluknya dengan erat seraya mencium puncak kepalanya. Menangis dalam diamnya, hingga Sastra kembali menenangkan laki-laki itu dengan membalas pelukannya seraya membelainya lembut. Sastra tersenyum hangat. Ia membanamkan kepalanya ditengkuk Brian. Hidungnya, menghisap aroma tubuh Brian yang selama ini ia rindukan.

Mungkin, tidaklah wajar jika Brian pulang dari tugas perangnya untuk melindungi negaranya dengan niatan meninggalkan Sastra karena masih ada wanita yang siap mendampinginya dan tidak pernah menggunakan kekuasannya dengan semena-mena. Tapi semua pandangannya salah. Sastra, lebih baik dan bahkan jauh lebih baik dari gadis biadab itu. Tidak hanya wajahnya yang baik. Melainkan, hatinya juga sebagai wajah cantik imutnya.

Manusia. Itulah manusia. Rasa syukur yang minim dapat menjadirinya serakah. Menganggap apa yang di depannya adalah hal yang kurang. Akan tetapi pada hakekatnya, sekalipun ia menemukan yang lebih baik. Hal yang kautemukan tersebut tidak akan jauh lebih baik dari sebelumnya. Karena di dunia, tidak akan ada yang sempurna kecuali, diri-Nya.

Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Blog / Facebook: Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Hijab Putih Bertopi)
P.N.Z adalah nama pena dari Pratiwi Nur Zamzani. Bisa dibilang, itu hanyalah nama singkatan. Ia kerap dipanggil Felly oleh khalayak umum karena nama tokohnya selalu menggunakan nama Felly. Yah.. Felly Anggi Wiraatmaja. Nama yang berhasil menggemparkan namanya hingga namanya dapat dijadikan sebagai kunci google saat masyarakat ingin membaca karyanya. Pratiwi, lahir di Pasuruan, 4 Juli 1999. Ia tengah memulai jenjang pendidikannya di Universitas Negeri Yogjakarta di Fakultas Bahasa dan Seni. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia tahun 2017. Menamatkan Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 1 Bangil dan Sekolah Menengan Atas di SMA Negeri 1 Bangil jurusan Bahasa dan lulus pada 2 Mei 2017 . Sejak berumur 15 tahun, Pratiwi terlibat dalam banyak aktivitas, baik aktivitas ekstrakulikuler maupun intrakulikuler. Ketika SD, ia menjadi peraih danem tertinggi di angkatannya pada masa itu, juga sebagai seketaris PMR dan dokter kecil saat SMP. Saat SMA, aktivitasnya merambah ke dunia jurnalistik. Aktivitas yang padat, tampaknya memang telah menyatu dalam kehidupannya.
Prestasi yang telah ia raih lumanyan banyak. Dan itu mulai gemilang pada tahun kedua SMAnya. Ketika SMA, dia juga menjuarai beberapa lomba, misalnya juara III lomba Wall Magazine tingkat Provinsi yang diselenggarakan oleh Hillo Teen, Juara II dalam event menulis cerpen tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh CV. Saweu Pena Publisher di Aceh dengan Tema “Sacrifice Theacher”, Juara III dalam Event Menulis Cerpen tingkat Nasional bertema “Hijrah Ramadhan” yang diselenggarakan oleh Penerbit Al-Qalam Media Lestasi yang ada di Cirebon, Juara II dalam event menulis cerpen tingkat Nasional yang diselenggrakan oleh Penerbit Droft_ArtCort di Klaten Jawa Tengan, serta menjadi Kontributor terbaik dalam penulisan puisi di Amsterdam, dan sebagainya. Tidak hanya itu saja, karyanya juga sering terbit di majalah Spektrum sebagai penulis puisi dan cerpen.
Karya-karya Pratiwi, berupa cerpen, artikel, serial dan cerita bersambung, banyak dimuat di beberapa website seperti, cerpenmu.com, cerpenkita.com, kekitaan.com, dan juga marketbisnis.net dan sebagainya. Demikian juga, ada lebih dari 30 judul buku yang telah ia tulis, dan diterbitkan oleh Penerbit Inrilista, Al-Qalam Media Lestari, Sanasher, IDM Publisher, dan sebagainya. Kini, ia menggawangi Intermedia Pustaka sebagai Lini dari beberapa penerbit yang telah mengajukan kerjasama dengannya. Untuk sekedar meyapanya, ia kerap menggunakan:
Facebook : Pratiwi Nur Zamzani (Hijab Putih Bertopi)
Instagram : pratiwi_nuzamzani
Email : zamzanipratiwi[-at-]gmail

Cerpen Stay In Here merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senja di Bawah Pohon Mahoni

Oleh:
Senja di sore itu. Tidak akan pernah Xiaolia Shan lupakan. Waktu dirinya dan Lyu Chen mengikat janji setia di bawah Pohon Mahoni. Saat itu mereka sama-sama berumur 10 tahun.

Entah

Oleh:
Sesaat, aku keluar dari kelasku yang suntuk dan bengap serta lembap. Disambut oleh pucat kelum senyumnya, depan kelasku yang gersang. Dua setengah detik, mataku berpapasan dengan punyanya. Aku tertegun

Salahku

Oleh:
Aku Ayana, seorang siswi di sebuah SMA Negeri di Bandar Lampung. Hari ini adalah hari pertama aku memijakan kaki di kelas ini, 2 a. Kata teman-temanku, aku orang nya

Nada Nada Cinta

Oleh:
Terlahir sebagai orang tak berbakat seni itu menyebalkan. Seperti aku ini, tidak ada profesionalisme sama sekali dalam bidang nyanyi-menyanyi, tari-menari, apalagi ngegambar-menggambar. Tapi mau nggak mau aku harus hidup

Suatu Siang di Stasiun

Oleh:
Terkadang disaat perasaan ikut dalam suatu percakapan dapat menjadikannya bagaikan jalur kereta yang tidak berujung. Disitulah kami saat itu, di stasiun terjebak hujan dan tak bisa pulang. Namaku Andre

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *