Stay With Me

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 16 December 2016

Di suatu sore, terlihat seorang gadis duduk sendirian di sebuah kafe dengan ditemani secangkir kopi hangat sambil menatap orang-orang yang berlalu-lalang di depan kafe tersebut. Sambil menyeruput kopinya, gadis itu sesekali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Kebiasaan!” Gadis itu berucap dengan wajah kesalnya. Sepertinya gadis itu sedang menunggu seseorang. Sekali lagi dia melihat ke arah jam tangannya, sedetik kemudian dia mulai mengambil tasnya dan beranjak dari duduknya. Saat tiba-tiba, “hey maaf telat, ini untukmu.” Orang yang ditunggupun akhirnya datang juga. Seorang lelaki yang sedikit lebih tinggi dari gadis itu berdiri di hadapannya dengan menyodorkan bunga di depan gadis tersebut. “Ini untukmu, ambillah.” Sekali lagi lelaki itu meminta gadis tersebut menerima bunga darinya. Gadis itu pun hanya menatap datar lelaki di hadapannya sambil melirik bunga yang dipegang lelaki tersebut.
“Sudah kukatakan berulang kali padamu, aku tidak suka bunga!” Gadis itu berucap pelan tapi dengan nada yang ditekankan seolah sedang menahan emosi dalam dirinya.
“Kau ini aneh. Mengapa perempuan sepertimu tidak suka bunga?”
“Itu urusanku. Apa harus selalu ada alasan untuk tidak menyukai sesuatu?”
“Haha, kau memang keras kepala. Bukankah kau sendiri yang pernah bilang padaku bahwa sesuatu yang terjadi itu selalu ada alasannya. Lalu bagaimana dengan ketidaksukaanmu itu? Beralasankah?”
Lelaki itu bertanya seolah meremehkan gadis yang masih berdiri di depannya itu. Terlihat sekali dari tatapan matanya jika gadis itu terlihat sangat kesal dengan lelaki tersebut.
“Sepertinya kau sangat emosi padaku. Haha, duduklah. Apa kau tidak capek sedari tadi berdiri seperti itu?”
Lelaki itu berucap dengan tersenyum seolah semua baik-baik saja. Gadis itu pun mulai duduk dan menatap lelaki itu dengan tajam.

“Ini bungamu”
Lelaki itu masih tersenyum ramah tetapi gadis itu masih terdiam.
“Mengapa kau selalu membuatku marah, Riyan?”
“Kau cantik jika sedang marah, Triya!”
Lelaki itu berucap masih dengan senyum.
“Seperti itukah kau memperlakukan pacarmu sendiri? Selalu membuatku marah jika kita bertemu?”
“Aku senang melihatmu marah”
“Mengapa tidak kau bunuh saja aku? Biar kau lebih senang”
“Apa kau sudah gila? Mana mungkin aku membunuh orang yang aku cintai”
“Kau mencintaiku?”
“Tentu saja!”
“Heuhhh” Triya hanya menyunggingkan senyum sinis.

“Oh iya, tumben sekali kau mengajakku bertemu?” Tanya Riyan sambil meminum kopi milik Triya.
“Memangnya aneh jika aku ingin bertemu dengan pacarku sendiri?”
“Tentu saja tidak! Aku hanya heran, biasanya kan kau tidak pernah ‘memulai’ jika tidak ada sesuatu.”
“Seperti itukah diriku?”
“I think so.”
“Okey baiklah. Ada yang ingin kukatakan padamu.” Triya mulai serius.
“Katakanlah!” Riyan menatap Triya sambil melipatkan kedua tangannya di atas meja.
“Entah benar atau hanya perasaanku saja, kau berubah”
“Berubah? Maksudmu di belakang punggungku ada jubah seperti Spiderman? Atau badanku berubah warna menjadi hijau seperti Hulk? Haha.”
“Riyan, aku tidak bercanda!”
“Okey maaf.” Riyan menahan tawanya.
“Jadi maksudmu aku berubah seperti apa, pacarku?”
“Kau sekarang mulai jarang menghubungiku, kau jarang mengajakku jalan, bahkan untuk kita sekedar bertemu saja kau mulai jarang.” Jelas Triya.
“Seperti itukah? Ahh mungkin iya. Tugas kuliahku banyak, tapi bukankah aku tetap menghubungimu walau tidak sesering dulu, jadi mengertilah.” Riyan menggenggam tangan Triya.
“Aku mengerti. Aku bahkan sangat mengerti dengan keadaanmu. Aku pun tidak ingin tugas kuliahmu terbengkalai. Aku juga tidak ingin egois dengan memikirkan diriku sendiri, tapi aku rindu” Triya mulai mengeluarkan uneg-unegnya.
“Rindu? Apa yang kau rindukan?”
“Dirimu!”
“Diriku?” Riyan terlihat bingung.
“Ya, aku rindu dirimu. Aku rindu dirimu yang dulu. Aku rindu dirimu yang selalu ada untukku, aku rindu perhatianmu, aku rindu nasihatmu, aku rindu cerita-ceritamu, aku rindu kekonyolamu, aku rindu kau memarahiku, aku rindu kau membantuku mengerjakan tugasku, aku rindu semuanya. Bahkan aku rindu saat kau panggil aku ‘oon’.”
Triya menggenggam erat tangan Riyan seakan tidak ingin kehilangan lelaki itu, terlihat sedikit senyum di bibirnya.
“Benarkah? Kau rindu diriku? Aku kira kau tidak peduli denganku.”
“Tidak peduli? Maksudmu?”
“Sikap cuekmu yang membuatku berfikir seperti itu.”
“Aku cuek? Kukira kita mempunyai sifat yang sama seperti itu.”
“Aku jarang menghubungimu karena aku ingin kau yang menghubungiku terlebih dahulu. Selama kita pacaran, aku rasa, aku yang selalu memulai semuanya. Bahkan, kau tidak pernah menghubungiku jika tidak ada keperluan? Kenapa? Apa menurutmu aku tidak penting untukmu?” Riyan pun juga mulai mengeluarkan uneg-unegnya.
“Aku… aku takut mengganggumu.” Dengan ragu Triya menjawab.
“Menggangguku? Aku bahkan senang saat kau menggangguku. Bukankah dalam sebuah hubungan komunikasi sangatlah penting?”
“Ya benar.” Triya menunduk.
“Saat aku tidak menghubungimu, tahukah kau, aku sedang menunggumu. Aku sedang menunggu teleponmu, aku menunggu kabarmu, aku menunggu perhatianmu, bahkan aku menahan rinduku padamu. Saat aku mulai lelah menunggu, akhirnya aku mengalah, dan aku yang selalu memulai semuanya terlebih dahulu.”
Triya yang mendengarkan penjelasan Riyan masih menundukkan wajahnya seolah tidak berani menatap lelaki di depannya.
“Aku merasa terabaikan saat itu. Aku merasa kau tidak peduli denganku. Aku merasa tidak dianggap ‘ada’ olehmu. Aku merasa hanya aku yang mempertahankan hubungan ini. Sampai akhirnya, aku mencoba pergi darimu.”
“Pergi?” Triya mulai mendongakkan wajahnya.
“Jadi selama ini kau menjauhiku?” Tanya Triya seolah tidak percaya.
“Bukankah kau juga seperti itu?”
Mendengar penjelasan Riyan, Triya hanya menggelengkan kepala pelan.
“Aku seperti ini karena aku ingin kau sadar akan keberadaanku. Aku ingin diperhatikan olehmu, aku ingin dianggap layaknya pacar yang sesungguhnya, bukan pelarian yang hanya akan kau datangi saat kau bosan.” Riyan melihat wajah Triya yang sudah mulai meneteskan air mata. Triya tidak menjawab apa-apa. Dia hanya diam dan menangis mendengar penjelasan Riyan.
“Maaf, aku memang egois. Aku terlalu menuntut perhatian darimu tanpa aku memikirkan perasaanmu. Seharusnya aku pun bersikap layaknya pacarmu, bukan…”
“Sudahlah” Riyan mendekati Triya dan memeluknya.

“Seharusnya aku tau, sikapmu menjauhiku itu beralasan. Aku yang terlalu ingin diberi tanpa aku memberi. Aku terlalu egois. Aku emang gak pantas buat kamu. Aku…” Triya terisak.
“Kamu pantas buat aku. Sudahlah, jangan menangis.” Riyan menghapus air mata Triya.
“Okey, aku sadar aku salah. Jadi sekarang semua keputusan ada di dirimu. Aku terima jika kau ingin memutuskan hubungan denganku, aku emang gak baik buat kamu.”
“Jika aku ingin memutuskanmu, mungkin itu sudah kulakukan sejak dulu. Selama ini aku bertahan, karena aku menyayangimu tulus. Aku menjauhimu karena aku hanya ingin kau sadar. Tapi percayalah, aku tidak bisa jauh darimu.” Riyan berkata sungguh-sungguh.
“Tapi aku sudah terlalu jahat padamu.”
“Kau tidak jahat. Kau hanya perlu ‘peka’ pada keadaan. Asal kau mau berubah, semua akan baik-baik saja.”
Riyan tersenyum, mencoba menenangkan hati Triya.
“Aku akan berubah. Janji. Aku tidak akan mengecewakanmu lagi, aku akan selalu ada untukmu, aku akan menganggapmu layaknya pacar yang sesungguhnya, bukan seseorang yang akan aku datangi ketika aku merasa bosan. Aku janji.”
“Kita akan memulai semuanya dari awal lagi.” Ucap Riyan yang membuat Triya tersenyum.

“Ada lagi yang ingin kukatakan padamu.”
“Apa?” Tanya Riyan.
“Don’t leave me, again.” Triya berkata dengan sungguh-sungguh.
“Enggak akan!” Jawab Riyan.
Merekapun berpelukan.

Cerpen Karangan: Umitriyan
Facebook: Umi Triyani (umitriyan)

Cerpen Stay With Me merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kado Terindah Untuk Dinda

Oleh:
Adinda Salwa Nahila, begitulah nama gadis itu. Gadis remaja berusia enambelas tahun. Meski usianya masih belia, namun pemikirannya sudah seperti orang dewasa. Kata-katanya santun, perangainya lembut, pun banyak disenangi

Raindrops

Oleh:
Hari ke 1 Aku anak baru di kota ini, kota yang sangat terik dan panas, di kota ini memang terkenal dalam satu tahun total hujan hanya turun tidak lebih

Destiny

Oleh:
Namaku Amala, aku adalah anak kelas 3 di SMA. Semua teman-temanku memanggilku “Si Macan Jones” Hei!!! Siapa yang mirip macan?!!! Walaupun aku tidak suka sebutan itu, tapi aku harus

Pantaskah

Oleh:
Terlahir dari keluarga yang sangat sederhana membuatku terbiasa hidup terasingkan juga penuh caci, mencoba menghadapi rintang kehidupan dengan genggaman tangan keluarga. Merasakan hidup lebih dari sekedar susah telah ku

Filloshopia

Oleh:
Derasnya air hujan tak menyurutkan amarah yang ada dalam diri Fillo. Pasalnya, kekasihnya yang telah menjalin hubungan dua tahun lebih dengannya, baru saja memutuskan sesuatu yang sangat penting tanpa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *