Still Memories

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 23 November 2015

Seorang ahjumma mengambil sebuah kotak kotor yang telah berdebu di gudang rumahnya. Ia meniup pelan debu-debu, membuat debu-debu itu berterbangan. Dibukanya kotak itu perlahan. Diraihnya isi kotak itu. Beberapa foto telah berada di tangannya. Ia tersenyum bahagia, mengingat masa lalunya yang indah.

“Oppa!” teriak seorang Yeoja sembari berlari-lari mengejar seorang namja tampan. Keringat bercucuran, karena sedari tadi dirinya tak berhenti berlari.
“Sehun Oppa!” kali ini, yeoja itu berteriak lebih keras lagi. Namja itu langsung berhenti. Ia tersenyum geli. Ia menoleh perlahan ke arah yeoja itu.
“Hana-ya, kau sudah lelah?” tanya Sehun sambil mengelap keringatnya. Hana, si yeoja itu, mengangguk dengan cepat. Kakinya telah pegal karena harus mengejar Sehun.
“Kalau begitu, kita berhenti berlarian. Ayo, kita pergi membeli es krim,” ajak Sehun. Ia mengulurkan tangannya. Hana tersipu. Ia memainkan poninya.
“Hana, mau tidak?” Sehun menyadarkan Hana. Hana langsung menggenggam tangan Sehun.

Hana dan Sehun tiba di depan toko es krim langganan mereka.
“Hyung, satu es krim cokelat,” pesan Sehun.
“Mianhe, Sehun. Semua es krim telah habis. Mianhe,” ujar si penjual. Hana langsung terlihat kecewa. Sehun bisa merasakan itu. Ia segera menarik Hana pergi.
Sehun mendudukkan Hana di kursi taman.
“Hana, tunggu di sini. Oppa akan segera kembali,” kata Sehun meyakinkan, lalu meninggalkan Hana sendirian.

Beberapa menit kemudian, Sehun belum juga muncul. Hana telah lama menunggu. Ia menghentakkan kakinya, kesal karena pacarnya itu belum kembali juga.
Tiba-tiba, ia merasa sesuatu yang ringan menyentuh kepalanya dari belakang. Ia langsung menoleh. Matanya langsung berbinar. Sehun telah berdiri di belakangnya dengan balon berbentuk es krim di tangannya.
“Mian, aku hanya bisa memberimu hari ini. Besok aku akan memberikan yang lebih bagus dari ini,” kata Sehun berjanji. Hana tersenyum geli.
Mereka pulang bergandengan dengan balon es krim di antara tangan mereka.

Hana Ahjumma duduk di ruang makan. Ia menatap balon es krimnya yang telah kempis dari waktu ke waktu. Lalu, Hana Ahjumma mengeluarkan beberapa foto yang diambilnya tadi. Salah satu foto itu menggambarkan suasana indah. Hana dan Sehun yang berpose di depan patung yang mirip sosok mereka berdua.

Hana melihat Sehun sedang asyik memahat patung di belakang rumahnya. Ia mendekati patung itu dan melihatnya dengan seksama.
“Oppa, siapa 2 orang ini?” tanya Hana heran. Sehun menghela napas. Ia menunjukkan nama yang tertera di patung itu. SEHUN LOVE HANA.
“Ini patung yang ku buat untukmu. Ini bukti bahwa cinta kita akan abadi, meskipun suatu saat nanti kita terpisah oleh maut,” terang Sehun.
“Yaak! Oppa, hidungku mancung!” seru Hana yang tak setuju dengan patung dirinya yang diukir dengan hidung pesek. Sehun tertawa. Ia mengapit hidung Hana.

“Bagaimana bisa hidung seperti ini dibilang mancung, eoh? Babo,” ejek Sehun.
“Oppa, hajima. Lepaskan hidungku,” pinta Hana. Sehun justru menarik hidung Hana.
“Dengan begini, mungkin kau bisa mancung,” celetuk Sehun.
Hana dan Sehun kejar-kejaran, diikuti tawa canda. Setelah mereka merasa lelah, Hana mengeluarkan ponselnya.
“Oppa, ayo kita berfoto,” ajak Hana.
Lalu, mereka berpose di depan patung mereka. Hana.. deul.. set! CKLIIK!

Hana Ahjumma telah berada di luar rumah, menyentuh patung cintanya yang dipajang di depan rumahnya. Meskipun telah beberapa tahun, namun patung itu masih bagus. Tak berubah sedikit pun. Angin cukup kuat hari ini. Namun, Hana Ahjumma tak perduli. Ia menggali tanah di dekat patung itu menggunakan tangannya sendiri. Di sana, tersimpan sebuah surat. Surat berwarna kuning. Di bagian depan terdapat berbaris–berbaris tulisan, dan di belakangnya terdapat gambar hati yang memenuhi kertas. Hana Ahjumma membaca kembali surat-surat itu. Ia tertawa kecil.

Di sekolah, di hari valentin. Di sekolah Hana dan Sehun, ada sebuah tradisi. Saat valentin, laki-laki harus mengirim surat ke orang yang disukainya. Dan ini adalah hal yang berat untuk Sehun. Ia tak pandai berkata-kata. Ia menyendiri di ruang musik. Ia menatap lemah kertas kuning yang tengah dipegangnya. Ia ingin melempar kertas itu, namun diurungkannya. Ia menutup mata, mencoba mencari inspirasi. Dan ide melintas begitu saja. Ia langsung menulis. Sepuluh menit kemudian, ia selesai. Tak lupa ia menggambar bentuk hati di belakang kertasnya. Sreeek! Pintu dibuka. Sehun dengan sigap langsung menyembunyikan suratnya di balik badannya.
“Oppa, di mana?” tanya seorang yeoja yang ternyata Hana. Tanpa perlu Sehun menjawab, Hana langsung menemukannya. Ia langsung duduk di samping Sehun.
“Oppa, bagaimana dengan suratmu?” tanya Hana penasaran. Sehun adalah orang yang pemberani. Ia langsung memberikan suratnya kepada Hana.

Hana merasa cukup gugup membaca surat untuknya itu. Ia mulai membaca kalimat-kalimat di surat itu. Dan tak lama kemudian, Hana terkekeh. Sehun yang melihat, langsung memalingkan wajahnya. Kalian mau tahu, apa isi tulisan itu? Isinya adalah.. Berpuluh-puluh kalimat SARANGHAEYO yang memenuhi kertas.
“Oppa, apa ini? Tidak bisakah Oppa lebih romantis? Tidak bagus!” seru Hana, membuat Sehun menjadi agak kecewa. Namun, Hana menatap lembut ke arah Sehun.
“Tapi aku bisa merasakan cinta Oppa. Aku menyukai surat ini, Oppa,” kata Hana jujur.
Sehun terpana. Ia menyenderkan kepalanya di bahu Hana. Mereka tersenyum malu.

Hana Ahjumma termenung. Ia memikirkan sesuatu. Fyuuuh.. angin meniup surat itu, membuat surat itu terbang. Hana Ahjumma berusaha mendapatkan kembali surat itu. Angin pun berhenti, membuat surat itu mendarat di atas kolam ikan yang indah. Hana Ahjumma terhenti. Ia menatap sedih kolam ikan itu.

Seorang namja menginjak genangan air. Ia menoleh ke belakang.
“Sehun-ah, di sini juga ada genangan air. Kita mau duduk di mana?” tanyanya kebingungan. Seseorang langsung memukul bahunya, yang ternyata adalah Sehun.
“Kita bisa cari tempat lain. Iya, kan?” tanya Sehun kepada Hana. Hana mengangguk. Ia menunjuk kolam ikan.
“Kita duduk di sana saja,” usul Hana. Luhan dengan ceria langsung berlari mendekati kolam ikan yang berada di rumahnya dan rumah Sehun itu.

Sehun membuka tas miliknya yang ia bawa. Ia mengeluarkan cemilan-cemilan enak. Hana dan Luhan saling bercanda.
“Oppa, ayo kita berfoto,” ajak Hana. Luhan langsung berdiri di samping Hana dan mereka berpose dengan imut. Sehun yang melihat, berusaha diam menyaksikan pemandangan yang membuatnya kesal.
“Hana-yah, coba lihat ini,” Luhan menunjukkan foto mereka berdua. Mereka merapat dan tertawa melihat foto mereka yang aneh. Sehun semakin kesal melihatnya.
“Hana-yah, ayo berfoto lagi,” ajak Luhan. Mereka kembali berpose.

Namun, pose mereka membuat Sehun marah. Luhan merangkul Hana dengan akrab, dan mereka menempelkan kepala mereka. Sehun langsung menghampiri Luhan dan mendorongnya ke kolam. Hana yang melihat sangat terkejut.
“Sehun-ah, wae?” tanya Luhan kesal.
“Jangan pernah merangkulnya atau mendekatinya! Hana itu akan menjadi dongsaeng-mu!” seru Sehun marah.
Hana merasa semua ini keterlaluan. Tak peduli dengan Sehun yang akan marah padanya, ia menolong Luhan. Kaki Luhan terkilir, sehingga ia merangkul Luhan. Sehun benar-benar kecewa.
“Oppa, ini semua sudah keterlaluan. Aku tahu kau cemburu, tapi tak perlu seperti ini. Oppa keterlaluan!” Hana membentak Sehun.

Sehun bertambah marah, Ia meninggalkan mereka berdua. Hana memandangi kepergian Sehun dengan sedih. Air mata ingin terjun dari matanya, namun ia mengusap matanya. Ia meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak menangis. Mereka berdua duduk di pinggir kolam. Hana menahan tangisnya, ia tak ingin Luhan melihatnya.
Tapi, Luhan tetap bisa melihat itu. Ia memeluk Hana untuk menenagkannya. Hana terpana. Pelukan Luhan sehangat pelukan Sehun, membuat air matanya turun. Air matanya semakin deras. Di dalam pelukan Luhan, ia mengeluarkan semua kesedihannya.

Hana Ahjumma telah menangis. Matanya telah memerah. Ia menangis terisak. Tak jauh dari sana, seorang namja paruh baya melihatnya. Namja itu mendekati Hana Ahjumma.
“Yeobo, wae?” tanya namja itu.
Hana Ahjumma menoleh. Ia tersenyum lembut.
“Oppa..”
Namja itu mengulurkan tangannya. Tangan itu membuat Hana mengingat hari yang tak pernah ia bisa lupakan.

Hana masih menangis karena kejadian tadi. Malam itu, dirinya menangis sejadi-jadinya di kamarnya. Bantal harum miliknya telah basah oleh air matanya. Sesekali ia menarik napas panjang, tak sanggup bernapas karena dirinya yang terus menangis. Kriiing! Kriiiing! Telepon rumahnya berbunyi. Ibu Hana mengangkatnya.
“Yeoboseyo?”
Hana berdiri di depan fotonya dengan Sehun dengan patung cinta mereka sebagai latarnya. Ia telah mencetaknya dan memajangnya di kamar. Air mata kembali bergulir. Saat itu, tiba-tiba Ibu Hana membuka pintu, membuat hana terkejut.
“Hana, ada telepon dari Luhan. Ia ingin memberikan kabar buruk!”

Deg! Perasaan Hana menjadi tak karuan. Ia merasa sesuatu yang amat buruk terjadi. Dengan gemetar, ia mengangkat telepon.
“Yeo.. yeoboseyo?” kata Hana terbata-bata.
“Hana-yah, ada berita buruk! Sehun kecelakaan barusan! Kini ia ada di rumah sakit Asan Medical Center. Cepat ke sini!”
Hana terkejut. Ibu Hana menatap Hana khawatir. Tiba-tiba, Hana langsung berlari keluar rumah.
“Hana!” teriak Ibu Hana.
Hana tak menghiraukannya. Kini yang di pikirkannya hanyalah bertemu dengan Sehun. Orang yang dicintainya, orang yang disayanginya, orang yang telah tertanam di hatinya. Air matanya turun dengan deras. Ia membelah keramaian.
“Sehun Oppa..”

Kenangan-kenangan perlahan kembali. Ketika Sehun memberikannya balon, ketika Sehun memahat patung cinta mereka, ketika Sehun menulis surat cinta untuknya. Dada Hana terasa sesak. Ia tak menyangka Sehun akan seperti ini. Luhan menunggu dengan cemas di depan ruang operasi. Ia melihat jamnya. Sudah 2 jam Sehun berada di dalam dan belum ada keterangan dari dokter.
“Luhan Oppa!!”
Luhan menoleh. Ia melihat Hana berdiri di ujung lorong rumah sakit dengan penampilan yang telah acak-acakan. Hana berlari mendekatinya.
“Oppa, bagaimana keadaan Sehun?” tanya Hana khawatir. Luhan menggelengkan kepalanya, ia tak tahu keadaan Sehun sekarang.

Mereka berdua terus menunggu. Hana berharap Sehun baik-baik saja. Ia ingin meminta maaf kepada Sehun. Satu jam kemudian, dokter ke luar. Hana dan Luhan langsung menghampiri dokter itu.
“Dokter, bagaimana keadaan Oh Sehun?” tanya Hana.
“Saat ini kondisi Sehun makin kritis. Ia kehilangan banyak darah. Kita butuh donor darah,” ujar Dokter.

Hana tertegun. Mata cantiknya berkaca-kaca. Ia ingin menangis kembali. Luhan tak suka melihat keadaan Hana dan Sehun sekarang.
“Dokter, ambil darahku. Kami sama golongan darah B. Kami keluarga,” kata Luhan tegas. Hana menoleh terkejut. Luhan tersenyum kepada Hana.
“Aku ingin menyelamatkan kalian,” bisik Luhan.
Hana melihat Sehun dari balik pintu. Ia melihat Sehun yang terbaring lemah tak sadarkan diri. Tangan Sehun memegang erat sesuatu. Sebuah kertas berada di genggaman Sehun.
“Luhan Oppa, terima kasih,” ucap Hana. Luhan tersenyum lembut.

Hana terus memperhatikan tangan itu. Ia tak sadar, bahwa namja itu memperhatikannya dengan pandangan aneh. Namja itu melambaikan tangannya di depan wajah Hana.
“Hana.. Hana..”
Hana tersadar. Ia tersenyum malu.
“Oppa, aku senang hidup denganmu. Ayo kita bahagia selamanya,” ujar Hana tersenyum manis. Namja itu tersenyum. Hana menggenggam tangan namja itu.
“Kajja, Luhan Oppa.”
Namja itu ternyata adalah Luhan. Luhan Ahjussi dan Hana Ahjumma berjalan bersama.

Luhan pergi ke sebuah ruangan untuk diambil darahnya. Luhan terlihat tegang.
“Luhan Oppa, hwaiting!” bisik Hana. Luhan mengangguk.
Tiba-tiba, seorang perawat menghampiri sang dokter dengan terburu-buru.
“Dokter, jantung Oh Sehun berhenti berdetak!”
Hana terkejut. Ia gemetar. Dirinya langsung berlari menghampiri ruangan Sehun. Namun, ia tak bisa masuk ke ruangan itu.
“Sehun Oppa! Oppa! Oppa jangan pergi!” teriak Hana histeris. Luhan berusaha menenangkannya, namun kali ini Hana tak bisa diam.

Ia menggedor-gedor pintu. Ia ingin menemui Sehun dan menyadarkannya.
“Oppa tidak bisa pergi sekarang! Oppa, saranghaeyo Oppa! Mianhae, mianhae!”
Saat itu, air mata jatuh dari mata Sehun. Dan Hana melihat itu. Ia tak ingin Sehun menangis. Ia berusaha masuk ke dalam.
Dokter berusaha menyadarkan Sehun. Semua orang di ruangan itu berusaha menyelamatkan Sehun.
“Oppa! Sehun Oppa, mianhae!”
Dan akhirnya, dokter ke luar dari ruangannya.
“Hana-ssi, anda boleh masuk.”

Hana terdiam. Luhan mengajaknya masuk, namun Hana menolak.
“Aku tidak mau masuk.. Luhan Oppa, selamatkan Sehun Oppa,” pinta Hana dengan terisak.
“Hana, ayo masuk. Sehun-ah pasti ingin bertemu denganmu.”
Akhirnya Luhan berhasil membujuk Hana. Hana berdiri di samping Sehun. Ia menyentuh wajah Sehun. Ia mengusap air mata Sehun. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Sehun.
“Oppa, mianhae.”

Hana menangis pilu. Dirinya tak kuasa menerima semua ini. Di ruangan itu, hanya terdengar tangisan Hana. Semua orang merasa sedih melihat Hana seperti itu. Luhan pun ikut menangis, ia menangis tak bersuara. Hana mencium pipi Sehun. Ia melihat kertas di tangan Sehun. Ia mengambilnya, lalu membacanya. Mianhae, mianhae, mianhae, mianhae, mianhae, mianhae, mianhae, mianhae, minhae, mianhae, mianhae, mianhae, mianhae, mianhae. Membaca itu, tangisan Hana makin kuat. Ia memanggil-manggil nama Sehun dengan perih di hatinya.
“Sehun Oppa! Jangan pergi, Oppa!”

Luhan Ahjussi dan Hana Ahjumma duduk berdua di tangga depan rumah mereka. Luhan Ahjussi memeluk Hana Ahjumma.
“Ayo, kita hidup bersama dengan kenangan tentang Sehun-ah. Ayo kita terus mengingatnya,” kata Luhan.
Hana Ahjumma mengangguk. Mereka berdua tersenyum bahagia.

The End

Cerpen Karangan: Knaraxo
Seorang pemulis pemula amatir yang terus berusaha untuk bisa mencapai impian.

Cerpen Still Memories merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia

Oleh:
Terkadang aku bertanya, “Siapakah dia sebenarnya?” Dia yang sering membuatku tertawa, marah dan sedih. Dia yang memberi warna dalam hari-hariku yang kelabu. Dia dengan segala perhatian dan sikap over

My Name Is Angel (Last Part)

Oleh:
“Hey Van” sapa Angel kepada Vano yang tampak sedang melamun. “Eh Sabel.. Udah siap bikin minumnya?” jawab Vano tampak terkejut. “Udah nih Van” kata Angel sambil meletakkan minum tersebut

Kertas Putih

Oleh:
Semalam sudah aku menantikan kehadiran sesosok pangeran yang aku dambakan di malam spesialku ini, aku berharap dia hadir dalam acara sweet seventeenku, Davit itu nama yang tak pernah asing

Seperti Mentari

Oleh:
Tiga ratus lima puluh delapan… tiga ratus lima puluh sembilan… tiga ratus enam puluh… tiga ratus e.. “Demikian akhir ceritanya. Untuk mengenang kisah cinta mereka, mentari berjanji akan terus

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *