Stolen Kiss

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 30 September 2015

Alex berdiri di samping jendela lebar, pandangannya menengadah ke langit, memikirkan sesuatu. Sementara itu ruangan arrival di bandara Soetta, semakin ramai dengan orang-orang yang akan menjemput kerabat-kerabatnya. Alex melirik jam tangannya, waktu masih menunjukkan pukul 10.07. Mungkin sebentar lagi. Tak lama kemudian, beberapa orang membawa koper besar berdatangan. Mereka semua baru tiba dari penerbangan transit dari Changi. Alex berusaha mencari sosok itu. Sosok perempuan yang pernah menjadi sahabat kecilnya. Sebuah lambaian terlihat di matanya, ditambah dengan senyuman khasnya yang manis.

“Hai!” sapanya excited.
“Hai! Andrea! Unbelievable!” balas Alex takjub melihat sosok Andrea yang sudah lama tak ditemuinya itu.
“Oh my gosh, Alex!! Apa kabar?!” Tanya Andrea.
“I’m great, woah. Really great! Oh gosh! Udah lama banget kita gak ketemu! Kamu gimana?”
“Yea, udah lama banget kita nggak ketemu! I’m fine!” dengan ekspresi berbinar. “Thanks ya, udah mau jemput aku!” katanya.
“Doesn’t matter! Umm, kita cabut sekarang?!”
“Oke…”
“Sini biar aku bawain koper kamu!”
“Ahh, udah biarin, aku bisa bawa sendiri kok!”
“Ih, bandel! Gak enak dilihat orang, masa ada cewek dibiarin repot bawa barang sendiri! Udah santai aja kali, sini!” kata Alex sambil merebut koper merah besar dari tangan Andrea.
“Well, thanks!”

Alex terbangunkan oleh ponselnya yang bergetar di bawah bantalnya. “Ah, telepon!” tertulis Andrea di layar ponselnya.
“Hmm, ada apa And?” nadanya masih lemas.
“Aku ganggu tidur kamu ya?! Maaf ya, Lex! Nggak jadi deh, nanti aja! Sorry, bye!”
“Wait!!!” teriak Alex, tetapi telat, sambungannya keburu terputus. Alex menghela napas. Langsung dikibaskan selimut yang menutupi tubuhnya, kemudian bergegas ke kamar mandi.

Setelah selesai, bergegas ia mengambil ponselnya kembali untuk menghubungi Andrea,
Tuuutt.. tuuutt.. tuuuutt..
“Hallo?!” sapa suara di seberang sana.
“And! Sorry tadi! Aku baru bangun! Umm, ada apa ya?” Tanya Alex gugup.
“Maaf, ini bukan Andrea, saya Ibunya! Andreanya lagi mandi! Nanti saya suruh dia telepon balik ya!”
“Oh maaf, Tante! Saya kira Andrea! Maaf!” kata Alex malu.
“Gak apa-apa! Oh iya ini dari siapa?!”
“Saya Alex, Tante!”

“Alex?! Temen di Manhattan?!”
“Bukan, Tante! Saya temen di Singapura waktu kecil. Tante masih ingat gak?”
“Alex, alex! Alexander Julian?!”
“Wah, benar sekali, Tante! Syukur Tante masih ingat sama saya!”
“Ya ampun, udah lama sekali ya! Tante jadi penasaran sama kamu sekarang! Sekali-kali mampir sini ya!”
“Wah, padahal minggu kemaren saya ke sini, waktu nganterin Andrea pulang. Tapi Tantenya lagi gak ada, jadi saya belum sempet ketemu Tante deh!”
“Ya sudah, nanti main-main aja ke sini! Eh itu, Andreanya udah selesai! Tante pergi dulu ya Lex!
“Iya Tante”

“Hai! Sorry tadi aku bangunin ya?!” sapa Andrea.
“Ah, gak apa-apa, justru aku harus berterima kasih, karena kamu udah bangunin aku, hehe Oh ya, tadi mau bicara apa?”
“Hmm tadinya sih mau ngajak kamu jalan, aku ingin curhat sama kamu, Lex! Siapa tahu kamu bisa bantu, is it fine?!” Tanya Andrea ragu.
“Gimana ya?! Hmmm..”
“Lagi sibuk ya?! Ya udah lain kali aja deh!”
“Tunggu!!! Oke deh, aku temenin kamu jalan! Emang mau curhat apa?!” Tanya Alex penasaran.
“Beneran nih?! Curhat apa aja deh! Kan udah lama juga kita nggak ngobrol bareng!”
“Iya deh! Ya udah, nanti aku jemput kamu ya?! Jam berapa nih? Sekarang?!”
“Terserah yang mau jemput deh.”
“Ya udah deh, aku mandi dulu. Udah gitu aku langsung jemput kamu ya?!”
“Aduh, makasih banyak ya Lex! Jadi ngerepotin gini deh!”
“gak apa-apa kali! Oke, see you!”
“Bye!”

Sekitar pukul 11.30, sebuah mobil sedan Honda Accord keluaran terbaru, terpakir di sebuah rumah megah di komplek elite di kawasan Kebayoran Lama. Seorang pria keturunan Chinese Indonesia ke luar dari mobil itu, ia membuka kaca mata hitamnya. Kemudian masuk ke halaman rumah megah itu. Seorang satpam menyapanya.
“Selamat siang, Tuan! Maaf ya, Anda mencari siapa?” Tanya satpam itu.
“Selamat siang, Pak! Saya mau menjemput Andrea, apa dia ada di dalam?”
“Oh, non Andrea! Silakan masuk!”

Satpam ramah itu mengantarkan Alex hingga ruang tamu. Kemudian seorang wanita paruh baya dengan stylenya yang terlihat masih muda menyambut tamunya yang baru datang itu.
“Hai!! Ini Alexander Julian? Temen kecil Andrea waktu di Singapura dulu kan?!” sapanya sambil berjabat tangan dengan Alex.
“Iya, Tante! Tante apa kabar?”
“Wah, wah, sudah dewasa sekarang, ganteng pula! Hahaha, Tante baik, Lex! Gimana keluarga kamu, sudah lama Tante tidak berbicara dengan Mamamu, Tante kangen banget! Salam buat Mama kamu ya?”
“Baik semua Tante! Ya, kami semua sekarang tinggal di Singapura, karena Papa sudah ditempatkan di sana. Tapi kita setahun sekali pulang ke sini kok. Nanti saya sampaikan salam Tante!” kata Alex sambil tersenyum.

Kemudian, seorang wanita cantik dengan pakaian girly casual-nya muncul dari dalam ruangan, ia memberikan senyumannya yang manis. Alex membalasnya.
“Mom, aku pergi dulu ya!” kata Andrea pamitan.
“Ya, hati-hati ya sayang! Alex, Tante titip Andrea ya!”
“Iya, Tante. Kami pergi dulu ya!”

Tak terasa senja telah tiba, mereka memilih Ancol, sebagai lokasi terakhir perjalanan mereka hari itu. Hari itu telah diisi berbagai kenangan ketika mereka masih kecil dan remaja dulu. Ya, Alex dan Andrea adalah sahabat dari kecil, saat itu Alex berumur 4 tahun sedangkan Andrea masih berumur 2 tahun, akan tetapi mereka sering bermain bersama. Hingga usia Andrea mencapai 6 tahun, kemudian keduanya berpisah. Andrea harus pindah ke Bandung, bersama orangtuanya yang pindah kerja. Akan tetapi ketika Andrea mulai masuk SMA, ia bertemu lagi dengan Alex di Jakarta dan satu sekolah dengannya. Namun mereka kembali berpisah ketika Alex mulai berkuliah di Lasalle College of the Art di Singapura, dan diikuti Andrea yang memutuskan berkuliah di Manhattan School of Music di New York.

Sore itu di hari biasa, Ancol tidak dipenuhi banyak pengunjung seperti hari-hari libur. Kemudian, keduanya duduk di sebuah papan yang mengantarkan mereka dekat dengan lautan yang tenang. Lembayung senja sudah menghiasi langit Jakarta sore itu, angin sore berhembus lembut.
“So, mau curhat apa nih? Dari tadi kita malah cerita-cerita masa lalu.” Kata Alex membuka percakapan.
Andrea tersenyum. “Aku jadi gak enak harus cerita sama kamu, Lex!”
“Santai aja kali! Aku kan temanmu ini! Daripada dipendam terus nanti jadi jerawat loh!”
“Beneran gak apa-apa aku cerita ke kamu?”
“Ya udah aku pergi aja deh!” kata Alex bercanda.
Andrea cemberut. “Tuh kan, ya udah gak usah deh!”
“Bercanda aku, ayo mulai! Aku dengerin nih!” kata Alex sambil mencondongkan telinganya ke arah wajah Andrea.
“Gak usah gitu juga kali, ihh! Kan aku jadi malu!”
“Oke, oke, serius! Silakan Andrea!” kata Alex mempersilakan.

“Dari mana aku harus mulai ya? Aku jadi bingung sendiri. Well, sebenarnya ini masalah yang gak penting buat dibicarain, tapi aku sama sekali gak merasa nyaman ketika aku mendiamkan perasaan aku ini. Mungkin kamu pernah ngerasain patah hati. Ya begitulah rasanya, sakit banget tapi ini berbeda.”
“Berbeda? Kenapa?” Tanya Alex.
“Ya, we’re still in love actually. I know that very well. He still loves me even when he said that we should be apart. I can see in his eyes and his words. But I don’t know what happened. Aku nggak menyangka dia akan mengakhiri hubungan kami secepat itu. Padahal kami telah merencanakan pesta pertunangan kami di hari Natal tahun ini. Namun semua itu hanya angan-angan kosong saja, everything was done!”
Alex terdiam, kemudian Andrea melanjutkan curahan hatinya.

“Aku tidak tahu pasti apa alasan kuat yang membuatnya mengambil keputusan secepat itu. I wonder mungkin ada wanita lain yang lebih ia cintai daripada aku. Aku hanya bisa pasrah terhadap keputusan yang telah ia buat. Dan aku tidak bisa berbuat banyak untuk merubah keputusannya.”
“Aku tahu jarak telah memisahkan kami, tetapi apakah menurutmu itu bisa dijadikan alasan kuat untuk melepas ikatan ini? Itu yang kini menjadi pertanyaan besar yang menghantui diriku, aku masih ingin kepastian yang jelas dari dia kenapa dia menghancurkan hubungan yang sudah kami jalani selama 3 tahun ini?!”
“Umm Apa harapan kamu, Andrea?!”
“Aku hanya berharap yang terbaik, untukku dan dirinya. Jika memang dia tetap tidak mau menjelaskan alasannya, aku hanya berharap dia bisa menemukan kehidupannya yang lebih baik bersama wanita lain yang lebih baik daripada aku.”
“How about you, what is your wish?”
“And so do I. Aku berharap aku bisa menemukan lelaki yang lebih baik dari dirinya.”

Alex terdiam, tatapan matanya menusuk ke dalam dasar lautan.
“Tapi, aku berharap…” Andrea melanjutkan, namun sesuatu menahan ucapannya itu.
Hati Andrea seketika itu seperti tersambar petir untuk beberapa detik. Jantungnya berdegup sangat kencang, hingga sulit untuk membuatnya bernapas. Tatapan Andrea lurus dengan hati yang terkejut. Alex berlari meninggalkan Andrea seorang diri di sana.
“Damn!!!” teriak Alex sambil berlari.

Sementara itu, Andrea masih terpaku tidak percaya apa yang baru saja terjadi dengannya. Jantungnya masih berdegup dengan kencang, dan ia masih sulit bernapas. Alex baru saja menciumnya, tepat ketika Andrea akan mengucapkan satu harapan lagi yaitu Sean bisa kembali lagi padanya, namun Alex menahan ucapan itu, sehingga Andrea tidak bisa mengucapkan hal itu lagi. Ia hanya terdiam terpaku di sana hingga tak terasa langit pun menjadi gelap.

Sementara itu Alex, tampak salah tingkah di dekat mobilnya. Beberapa kali ia menendang ban mobilnya itu, mengacak-acak rambutnya sendiri, dan berteriak-teriak sendiri, sehingga orang yang melewatinya tampak heran dibuatnya. Kemudian ia menyadari, hari telah gelap, dan Andrea tidak berada di sampingnya. Hampir 3 jam mereka berada di sana sehingga waktu pun sudah menunjukan pukul 9 malam.

Alex mulai panik, dan mencari Andrea ke tempat mereka berada tadi, tetapi Andrea tidak ada disana. Perasaannya tidak karuan, Alex berlari kesana-kemari di sekitar pantai untuk mencari Andrea. Kemudian, sosok yang dicarinya itu muncul dari kegelapan dengan wajah tertunduk. Hati Alex lega, karena ia tidak kehilangan sosok Andrea di sana.
“Kamu darimana?” Tanya Alex panik.
“Hah?!” Tanya Andrea polos dengan tatapan kosong.
“Ayo kita pulang!”

Alex membawa Andrea ke dalam mobilnya. Lalu keduanya berjalan pulang. Tidak ada percakapan selama perjalanan, berbeda sekali dengan perjalanan pada saat berangkat tadi. Suasana begitu hening dan kaku, hanya terdengar suara-suara kendaraan di jalan raya. Mereka pun tiba di rumah Andrea. Alex berniat mengantarkan Andrea ke dalam rumahnya, akan tetapi Andrea menolaknya.
“Thank you for today, Alex!” kata Andrea sambil tersenyum kecil.
“Andrea! Andrea, maafin aku!” kata Alex menyesal.
“No, it’s fine! Good night! Hati-hati di jalan!” salam perpisahan.
“Night, Andrea!” jawab Alex sedikit kecewa.

Andrea melambaikan tangannya sambil tersenyum, ketika mobil Alex melaju pergi. Ada perasaan aneh dan terkejut bercampur baur di benak Andrea. Ia kembali teringat pada kejadian senja hari tadi. Ia tidak percaya Alex menciumnya tepat di saat ia akan mengucapkan harapannya. Beribu-ribu pertanyaan mulai melayang di pikiran Andrea. Malam itu ia tidak bisa tidur, hatinya terus berdegup kencang. Begitu pun dengan Alex, perasaannya bercampur aduk, antara menyesal, bahagia, dan ragu, ia khawatir Andrea akan membenci dirinya setelah itu, tetapi kemudian ia menepis pikiran itu, karena pada saat perpisahan tadi Andrea tidak menunjukkan kebencian padanya, justru ia mengatakan ‘it’s fine’, kemudian Alex tersenyum.

“It’s a good starting for me to steal her heart after I stole a kiss from her lips,” katanya dalam hati.

Cerpen Karangan: Aeri Fujii
Facebook: https://www.facebook.com/aeri.fujii
Just a girl who tries to find a place in this world.

Cerpen Stolen Kiss merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kamu Yang Terakhir

Oleh:
“Kamu yang terakhir”. Itulah kalimat yang selalu muncul di dalam hatiku setelah mengenal dia. Di minggu pagi yang cerah ini aku duduk di taman sambil memandangi layar handphoneku. Tring…

Cinta

Oleh:
Kata orang cinta itu sederhana, dimana dapat ditemukan dari tatapan lalu turun ke hati. Kata orang cinta itu rumit, serumit menentukan tujuan hidup. Kata orang cinta itu indah, saling

Tak Seburuk yang Terlihat

Oleh:
Di Rumah “Cowok itu keren banget, jago olahraga, dan dari yang kulihat dia juga setia banget sama temennya, kaya makin keren gitu kalo dia udah sama temen temennya.” Begitulah

3G (Gara Gara Genteng)

Oleh:
Cermin itu menjadi saksi bisu betapa aku begitu tampan malam ini. Kurapikan sedikit rambut dan kemeja kotak-kotak yang telah melekat di tubuh. Ah sudahlah, diapakan saja aku tetap terlihat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *