Story Girl Alim (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 6 February 2013

Sahabat Hamidah yang bernama Yuni mengajak Hamidah ke rumah barunya, rumah panggung yang dikelilingi rumput hijau nan subur dengan pohon–pohon yang besar menemaninya membuat udara sejuk di rumah sahabatnya itu. Hamidah memandangi dengar segerlap mata dengan cahaya yang menyinari mereka berdua yang tengah berada di depan rumah Yuni itu.

Di saat Yuni mengajak Hamidah masuk ke dalam, Hamidah melihat 2 seorang cowok yang sebaya dengannya tidak jauh dari sana. Cowok pertama berciri–ciri tinggi, kurus dan rambutnya yang rata dan temannya yang satunya tidak ada bedanya hanya saja cowok yg ini pendek. Mereka memperhatikan Hamidah dan Yuni tetapi Hamidah tidak bisa menangkap sosok dua cowok dua itu dengan jelas.

Di dalam rumah, Yuni meninggalkan Hamidah untuk mengambil minuman untuknya dan Hamidahpun hanya berdiri di ruang tamu menatap rumah Yuni yang baru tetapi saat memperhatikannya ada seseorang di belakang Hamidah dan memenendang kakiku yang membuat Hamidah pingsan tetapi anehnya Hamidah mimpi berada di lorong jalanan seorang diri dan dia melihat ada seorang cowok yang lari menuju ke Hamidah dan diapun memeluk Hamidah dengan wajah kaget. Jantung Hamidah berdetak tak menentu lalu Hamidah membalikkan kepalanya ke samping menatap siapa sosok yang memeluknya tetapi sosoknya tak jelas. mukanya tak dapat dilihat hanya rambutnya yang Hamidah tahu bercirikan rambut rata dan sosok yang tinggi. Setelah dia memeluk Hamidah diapun memegang tangannya dan saat itu Hamidahpun terbangun dari mimpiku.

“hah. !ternyata mimpi” kataku sadar sambil mencucurkan keringat karena kaget bercampur geli.
Yah benar, itu hanyalah mimpi. Tapi siapa sosok itu yang masuk dalam mimpiku. Akupun tak tahu menahu, kupun berdoa setelah bangun dari tidurku dan berdiri melangkah ke kamar mandi di samping tempat tidurku untuk pergi gosok gigi dan salat Subuh. Setelah salat subuh, ku berdoa agar Allah SWT menunjukkan kepadaku siapa gerhana di dalam mimpiku karena sungguh aku sangat penasaran sekali siapa sosok itu.

Ayam berkokok meminta semua orang bangun dari mimpinya, Senja pun menyapa bumi pertiwi memberi isyarat akan dimulainya hari baru. Hamidahpun pergi mandi membersikan dirinya yang akan lekas menuju ke sekolah mengejar mimpi di atas langit.
“selesai!” ucapnya yang keluar dari kamar mandi dengan memakai baju sekolah berwarna putih dan rok biru yang menutupi kakinya sampai pergelangan kaki dan tak lupa kudung segitiga yang berwarna putih menutupi kepalaku.
Setelah Hamidah sudah yakin dia rapi, Hamidahpun menuju ke bawah untuk sarapan pagi dan di lihat abi maupun uminya yang telah menunggu di bawah.
“Umi. Abi!” ucap Hamidah menyapa 2 sosok pendampingnya. Umi yang telah mengandungku 9 bulan dan Abinya yang telah mendidikku sampai sekarang.

Abinya adalah orang Mesir dan Uminya seorang perempuan asli Indonesia. Mereka bertemu di kota Mesir saat Uminya menjalani studi beasiswa. Hamidah sangat senang terlahir di keluarga yang sangat berpegangan tinggi dengan agama Islam.

Setelah sarapan pagi,
“Umi, aku pergi dulu yah. Assalamualaikum umiku tersyang” ucap Hamidah dan menyalami Uminya sebelum menuju ke sekolah.
“iya anakku tersayang!Waalaikumsalam, ingat terus ya Allah” jawabnya sambil mengecup dahi anaknya.
Hamidahpun masuk kedalam mobil yang Abinya sudah berada di dalam dan siap meluncur ke Sekolah. Di perjalanan, Hamidah memikirkan tentang mimpinya tadi malam! Sambil nebak – nebak siapa gerhana itu.
“Apa mungkin kak Iqra yah, kan dia tinggi,rambutnya lurus dan kurus ” pikirnya tetapi mengelang–gelangkan kepala lagi menandakan bahwa itu tidak mungkin dan lanjut berpikir lagi “Ataukah kak Yusuf yah kan ciri–cirinya mirip sekali dengan sosok cowok di dalam mimpiku “pikir Hamidah lagi tetapi sejenak dia berpikir lagi bahwa mungkin bukan kak Yusuf dan entah kenapa terlintas di otak Hamidah bahwa cowok dalam mimpinya itu adalah kak Hoki.
“Apa mungkin kak Hoki yah!dia jugakan mirip banget cowok dalam mimpiku tapi itu sanggat tidak mungkin menurutku karena kak Hoki itu sangat tidak menyukaiku”

Kak Hoki anak kelas IX B dan Hamidah anak kelas VIII B. Kak Ardi sangat membenci Hamidah karena kesalah pahaman tapi nyatanya itu tifdak benar. Hamidah sudah berulang kali memberitahu kak Ardi bahwa itu tidak benar tapi kak Ardi tidak percaya dan tetap menuduh Hamidahlah biang kerok masalah ini.

Tak sadar Hamidah sudah sampai di depan gerbang dan Abinya hanya geleng kepala melihat anaknya yang sedang menghayal menatap ke depan.
“Hamidah,kamu sudah sampai” ucap Abinya yang membuat Hamidah tersontak kaget.
“sudah sampai yah Abi, aku pergi dulu yah kalau begitu. Assalamualaikum Abi!” ucapnya tergesa – gesa sambil menyalami ayahnya karena tersadar bahwa sebentar lagi Abinya akan bertanya.

Hamidah membuka pintu mobil lalu berjalan dengan cepat memasuki sekolahnya yang terkenal dengan kebersihannya tetapi baru beberapa langkah, Hamidah mendengar ada suara yang meneriakki menyebut namanya. Sontak saja, Hamidah berbalik dan mendapati sahabatnya Yuni tergopoh–tergopoh menuju ke Hamidah.
“Uhkk. Hamidah kenapa kau jalannya cepet bener?” ucap Yuni memasang muka cemberut yang sudah berada di depan Hamidah
“Maafkan aku, o iya! Kemarin aku mimpi anehloh” tanya Hamidah mengantti topik dan mereka berdua melanjutkan berjalan menuju ke kelas
“STOP Hamidah! STOP ku bilang. Setiap seminggu dalam 4 kali kamu menceritakan kepadaku tentang mimpimu. Bisakah ada yang lain” ucapnya yang tidak sadar membuat Hamidah kecewa

Yah itu memeng benar, Hamidah adalah seorang yang suka bermimpi dan sering mimpinya menjadi kenyataan dan di dalam kelasnya dia terkenal dengan seorang yang suka bermimpi.
“Ku kira kau sahabatku” ucapnya tertenduk lesu dan Yunipun sadar bahwa dia melakukan hal yang salah “Hamidah! maafkan aku. Aku tak bermaksud! Sekarang ceritakan saja padaku tentang mimpimu itu” pinta Yuni merasa bersalah
“BENARKAH!” Hamidah memastikan sambil memasang senyum yang mengembang dan berharap bahwa apa yang di katakan sahabatnya itu benar.
“Iya, itu benar kok!” ucapnya tak kalah senyuman Hamidah yang membuat Hamidah mulai membuka cerita tentang mimpinya dan tebak – tebakannya bahwa mungkin itu kak Ardi. Yuni yang mendengarkannya kaget akan itu ditambah dengan tawa yang ditahan karena geli mendengarkannya.

Pembicaraan Hamidah bersma Yuni berhenti karena sudah ada guru yang akan mengajar siswa kelas VIII B.
“anak – anak sebelum belajar. Tolong dipersiapkan” pinta bu Tia
“Stand Up please. Say greeting to our teacher!” ucap ketua kelas Hamidah
“Good Morning Ma’am” ucap serentak semuanya
Setelah keluar mian, Hamidah melanjutkan ceritanya sambil menuju ke kantin dan saat orang yang mereka berdua bicarakan. Orangnyatuh nongol dan memanggil Hamidah sontak saja mereka berdua menghentikan pembicaraanya
“Hamidah! Ada yang ingin ku bicarakan denganmu?” pinta kak Ardi kepada Hamidah
“Anu kak. aku nggak enak karena akukan sama Yuni!masa aku ninggalin dia sih kak” ucap Hamidah dan Yuni memberi isyarat bahwa dia mau beranjak pergi dan meninggalkan Hamidah bersama kak Hoki.
“Aku pergi dulu yah Hamidah. Aku kebelet pipisnih!” ucapnya beranjak pergi dan belum di jawab oleh Hamidah dia sudah pergi.

Sekarang, hanya ada Hamidah dan kak Hoki tetapi lebih beberapa menit hening tak ada yang bicara maka kak Hoki membuka pembicaraan.
“Hamidah, maaf soal yang dulu!ku kira kau yang membawa adikku pergi tapi nyatanya tidak. Kemarin adikku memberitahuku bahwa bukan kamu yang membawanya pergi tapi dia sendiri yang ingin menginap di rumahmu” ucapnya menyesal
“iya nggak apa2 kak. aku sudah maafkin kakak sejak dulu” ucap Hamidah memasang seulas senyum
Hamidah bertetangga dengan kak Hoki dan Hamidah begitu dekat dengan adiknya kak Hoki yang bernama Leo See. Pasti kalian sudah bisa nebak dia itu orang apa? yah itu benar dia itu orang Indo gabungan jepang dan jangan heran kalo mukanya di atas rata–rata. Semua orang pasti klepek–klepek kalo melihatnya. tetapi walaupun begitu dia orang islam dan Hamidah selalu menjaga pandangannya itulah yang menyebabkan kak Hoki senang berteman dengan Hamidah tidak seperti cewek yang lain.

Semenjak kejadian itu, Hamidah dan kak Hoki sudah dekat. Hamidah yang selalu pergi ke rumah kak Hoki untuk bermain dengan Leo See tetapi pasti ujung–ujungya kak Hoki ikut–ikutan juga tuh main. Hamidah yang keluar rumah dengan memakai kudung panjang.
Sore ini, Hamidah mau pergi ke rumah kak Hoki tapi tertahan karena sahabt kecilnya datang secara tiba–tiba di rumahnya.
“Rahim!” kaget Hamidah melihat sahabat kecilnya yang berada di depan rumahnya saat Hamidah baru mau pergi ke rumah kak Hoki
“Assalamualaikum Hamidah, Gimana kabarmu?” tanyax pada Hamidah.
“Waalaikumsalam! baik – baik ajah koh. Kita ke teras ajah yukk!” ajak Hamidah dan Rahimpun mengangguk dan mereka berduapun duduk di teras yang sudah tersedia 2 kursi.

Sebenarnya Hamidah ingin mengajak Rahim ke dalam rumahnya tapi dia masih ingat perkataan ayahnya kalo Hamidah nggak boleh kasih masuk seorang laki–laki ke rumahnya kecuali persetujuan ayahnya.
Hamidah yang berbincang–bincang dengan sahabat kecilnya tak sadar bahwa kak Hoki sejak tadi memperhatikan Hamidah dan Rahim. Kak Hoki yang melihat itu beranjak masuk ke rumahnya dengan wajah lesu.
“Kakak kenapa! setrika tuhh muka kakak, kusut benerrr” ucapnya yang sedang asyik nonton Spongbob
“Huhh. !”
“Ayoo. !apa mungkin karena kak Hamidah yah” ucap Leo See
“Bukan kok. Sotoyyy banget sih kamu” bantah kak Hoki tapi dalam hati dia mengangguk yah itu sangat benar sekali tetapi tak mau memberitahu adiknya karena takut Leo See memberitahu Hamidah
“Hihihi. kakak jangan bohong yah. Tunggu disitu! Aku akan memberitahu kak Hamidah” ucapnya sigap dan berlari menuju ke samping rumahnya yang disitu rumah Hamidah
“Jangann. . !” teriak kak Hiko sambil mengejar adiknya yang berlari menuju ke rumah Hamida
“KAK HAMIDAH, KAK HIKO MENYUKAI KAKAK” ucapnya teriak dan sudah berada di depan teras rumah dan Hiko yang melihat itu cepat–cepat menutup mulut adiknya
“argghh! maaf Hamidah. adikku sedang bercanda kok” ucapnya sambil menarik – narik tangan adiknya untuk segera pulang ke rumah tetapi Hamidah sadar bahwa yang dikatakan Leo See itu tidak bohong karena dia sungguh sangat kenal betul Leo See.
“iya nggak apa – apa kok!” ucapnya tetapi jantungnya berdetak tak menentu menutupi muka kagetnya
“aku pergi dulu yah Assalamualaikum” ucapnya sambil pulang kembali kerumahnya bersama adiknya dengan memaksa tentunya yang tak sadar bahwa ada Rahim disana.

Setelah Hamidah dan Rahim yang sudah melihat Kak Hiko bersama adiknya sudah jauh, Rahimpun bertanya kepada Hamidah “Hamidah, apa kamu menyukainya!” ucapnya menatap serius
“Memangnya kenapa?” ucap gugup Hamidah yang takut bahwa Rahim tahu bahwa dia menyukai kak Hiko
“KARENA AKU MENYUKAIMU” ucapnya tulus dan lembut
Tidididi. . ! Hamidah yang mendengarx tersentak kaget. Baru pertama kalinya ada orang yang menyatakan cinta padanya tetapi Hamidah tak menyukai Rahim tetapi menyukai Kak Hiko wwalaupun begitu Hamidah sadar tidak ada gunanya menyukai orang karena dia sangat berpegangan teguh dengan agama Islam. Yang menyatakan tidak ada kata pacaran dalam islam. Hamidah tidak tahu apa lagi yang harus dikatakan mulutnya bungkam tak tahu apa lagi yang dia harus katakan. Inilah kehidupan Hamidah, dia baru sadar seebenarnya dia tak boleh dekat dengan cowok sejak pertama karena syetan akan mencari celah agar iman Hamidah rusak. Ya allah, i gimana ini Hamidah malah menyukai kak Hiko dan bagaimana dengan Rahim.

Rahim yang melihat Hamidah tak berkata apa–apa melanjutkan perkataanya “kamu tahu. Sejak kecil aku sudah menyukaimu tapi ku simpan perasaanku karena aku tahu sekali siapa kamu. Seseorang yang sangat berpegangan teguh dengan Agama Islam tetapi hatiku mememintaku memberitahumu bahwa aku sangat mencintaimu” ucapnya tertenduk lesu dan lanjut “maafkan aku Hamidah” ucapnya lalu meninggalkan Hamidah yang tengah menangis.
Hamidah berlari menuju ke tempat tidurnya sambil baring dan mengunci pintu.
“ya allah, maafkan hambamu ini. Aku memang hambamu yang paling berdosa! Aku sangat bodoohh. . kenapa aku melakukan ini. Kalau saja aku tidak dekat dengan kak Hiko waktu dulunya tapi lihat sekarang. Ya allah, apa yang harus ku lakukan aku sungguh sangat menyayangi kak Hiko. Imanku rasanya mulai runtuh, ku mohon ya Allah maafkan aku!” gumam Hamidah menintikkan air mata

Malam harinya, Hamidah sudah memutuskan akan berpindah sekolah ke Pesantren dimana dia bisa menjaga Imannya agar bisa kokoh. Abix dan Umix menyutujui keputusan Hamidah.
“MAAFKAN AKU KAK HIKO DAN RAHIM, aku hanya ingin menghilang dari kalian berdua! Aku tak mau membuat kalian tersakiti dan aku ingin memperkuat Imanku jadi mafkan aku. Semoga kepergianku bisa membuat kalian melupakanku” ucapnya dalam hati.

NEXT TO “Story Girl Alim 2”

Cerpen Karangan: Nur Faida
Facebook: faida idha
namaku faida, anak kelas IX B di SMP Neg. 2 Maros

Cerpen Story Girl Alim (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketika Cinta Terhalang Usia

Oleh:
Terimakasih. Hanya kata itu yang bisa Michella ucapkan. Segala sesuatu yang saat ini ia lihat sungguh tak pernah dibayangkannya. Berdiri di tempat ini dulu hanya sebuah angan. Namun kini

Kamu yang Dulu

Oleh:
Hari ini tepat 11 bulan jika aku dan dia masih bersama. Kami memang satu sekolah, tapi kami layaknya tak pernah mengenal setelah aku meninggalkan mu. Aku masih selalu memikirkan

ich Liebe Zahra

Oleh:
“Kau suka padanya?” tanya Reizh membuyarkan anganku. “Tidak!” “Tapi, kenapa kau menatapnya begitu dalam…” “Ah, perasaanmu saja….” “Benarkah?” Reizh meledekku. “Tapi, sepertinya dia juga suka padamu.” Lanjut Reizh tersenyum.

Batu di Balik Udang

Oleh:
“Felly! Ini berkas yang lo butuhin untuk stock barang dari para klien,” kata Riska dengan menyerahkan map berwarna biru. “Hmmmm.. tumben banget cepet kerjaannya. Biasanya, lo selalu molor kalau

Pelarian Gunung Pelarian

Oleh:
Tanpa pedulikan kondisi pintu yang sudah rusak dan masih dalam kondisi terkunci, kudobrak sekuat tenaga dengan bantuan amarah yang tak terbendung menenggelaman diri dalam nafsu yang hampir tak terkendali,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *