Strawberry Rasa Cokelat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 4 March 2016

Seperti sebuah cokelat yang sangat manis untuk dirasakan. Tak ada satu orang pun yang ingin menjauh dari kemanisan ini. Sebuah kata-kata yang terukir indah pula karenanya. Mungkin aku tertarik juga. Satu rasa untuk seribu cerita. Sebuah cinta yang sangat manis seperti kelihatannya. Aku memandangnya, laki-laki di hadapanku yang sangat manis dengan senyumnya. Rivaldi. Satu nama yang selalu ku kenang. Nama yang sedang ku ukir indah dalam hidup ini. Karenanya, aku mengenangnya sebagai pertanda cinta. Sebagai kehidupan yang lebih indah selain cinta. Dan aku ingin hidup untuk bersamanya.

2013
“Marsha?” panggilan itu? Aku sudah sangat jelas mengenalnya. Suara jelek dari Rivaldi membuatku enggan menengoknya. Hanya berhenti dan terdiam. “Di sini dulu dong.. asal pulang aja!” memang sengaja aku pura-pura tidak melihatnya. Melewatinya dan temanku yang lainnya begitu saja. Perintahnya membuatku berbalik arah dan bersandar di tembok. “Sha, lo cantik deh hari ini. Serius!” aku hanya diam meresponnya. Aku tidak dapat terjebak lagi dengan semua ini. Pujiannya yang membuatku sampai ke ujung langit, lalu tanpa isyarat menjatuhkanku sampai patah tulang. Memang benar-benar aku ingin membunuhnya.

“Menurut gue dia manis hari ini.” sahut Alga. Tak kalah dari Rivaldi.
Aku selalu berpikir bahwa laki-laki yang satu ini telah mendapat pengajaran khusus dari Rivaldi tentang bagaimana caranya membully seorang perempuan.
“Lo memang benar.” gayanya membela Alga. “Karena terlalu manisnya, sampai-sampai semut di dinding pindah ke punggung dia.. Hahaha… wkwkwk.”
Haaa.. lagi-lagi satu kekonyolan yang sangat tidak melawak. Sangat sepi, seperti suara jangkrik yang tak direspon. Krikk.. Krrikkk..

“Sha, gue saranin deh, lo mending pindah aja ke Papua.”
“Ya.” satu kata yang cukup pantas untuk Rivaldi.
“Atau nggak, lo ke Korea aja.”
“Oh!” satu kata lagi yang lebih singkat untuknya.
“Gue yakin, lo bakal jadi pemenang di sana. Juara satu kategori cewek paling jelek!!! Haha.”
“Lo juga bisa jadi pemenang.” Matanya mulai melirik saat aku mulai membalasnya. “Juara satu kategori cowok pembully cewek! Puas!!!” langkahku semakin cepat meninggalkan dia dan teman-temanku yang lain. Lagi-lagi satu hari yang sangat ku benci. Hanya satu laki-laki itu yang dapat menimbulkan hari seperti ini, Rivaldi, I hate you!

Mei, 2014
Akankah kebencian untukmu akan tetap menjadi kebencian yang luar biasa? Kadang aku sangat berharap dia lenyap secepat mungkin untuk hari ini.
“Sha?” aku hanya menoleh dan tetap fokus dengan jalanku. Laki-laki itu dengan segera menyamai jalanku.
“Ulangan tadi dapat berapa?” lanjutnya bertanya.
“Lo dulu.”
“Ok.. 92. Lo berapa? Pasti jelek! Paling juga lebih banyak gue.”
“Berani taruhan?” balasku menantang.
“Oke. Yang menang nraktir kebab pulang sekolah nanti.”

“Hah? Taruhan macam apa?”
“Haaahaa… iya.. iya.. Lo berapa?”
“Guee.. 95.. yeee.. yuhuuu.. kebab.. kebab.. kebab.. kebab.. hahaha.” lanjutku menjulurkan lidah kemenangan di hadapannya.
“Cuma beda dua angka doang!”
“Dua angka itulah yang bisa buat gue dapet kebab gratisss.”
“Semoga kebabnya habis!”
“Nggak ada alasan!”

Juni, 2014
Seperti sebuah barang yang tertinggal. Aku merasa ada satu barangku yang hilang. Kadang aku terus merasakan sebuah kerinduan dalam hidup ini. Hingga membuatku berpikir, siapa orang yang aku rindukan? “Heh, plankton! Ngelamun aja lo!” suara Lira memang sangat mengagetkan untukku.
“Siapa yang ngelamun? Gue lagi berpikir ini.” balasku membela diri.
“Aku tak percaya.” lagaknya seorang penyair.
“Mengganggu konsentrasi belajarku aja lo!”
“Siuhh siuhh.” mengusirku begitu saja. Aku berdiri dan terdiam menatap sekitar. Sedikit berpikir lalu kembali duduk di samping Lira. “Lo mau denger cerita nggak?”

“Bilang aja kalau lo mau curhat!”
“Tahu aja.”
“Silahakan mendongeng putri.”
“Pertama-tama, gue mau tanya dulu.”
“Tanya apa?”
“Rivaldi sedang di Bali ya?”
“Kenapa? Lo kangen?”
“Boro-boro kangen, gue malah bersyukur dia ngilang. Gue berharap dia bakal hilang selamanya!” jawabku meski berbohong.

“Hemm.. udah deh, lo jujur aja. Tadi mau dongeng apa?”
“Nggak jadi!”
“Soal siapa? Valdi kan?” aku terdiam saat Lira menyebut nama Rivaldi. “Ayo!”
“Ayo apa?”
“Tadi.”
“Gimana menurut lo?”
“Apanya?” Lira semakin bingung ku buat.

“Kenapa gue malah ngerasa sepi saat Valdi nggak ada ya?”
“Tuh kan.. lo suka kan sama dia?” spontan dua telapak ini menutup mulut Lira.
“Bisa lo kecilin nggak suara lo?!”
“Santai Sha, rumah gue kan dekat sama dia, pasti gue kabarin deh kalau ada info.” ucapnya sambil nyengir.
“Tapi, ya gitu deh.. nggak gratis untuk setiap info yang bisa lo dapat. Harganya juga berbeda-beda, tinggal kapasitasnya.”
“Cewek gila!” teriakku lalu lari. Mungkinkah aku merindukannya. Untuk satu bulan di bulan ini juni. Mungkin, aku juga perlu merindukannya.

Juli, 2014
Apakah yang akan terjadi dengan Juli ini? Aku semakin takut menghadapinya. Bahkan untuk bertemu laki-laki itu. Karena untuk merinduinya, aku sangat menyesalinya telah merasakan perasaan itu. “Apa lo kangen sama gue?” suara itu lagi. Apakah aku harus terbengong seperti yang dilakukan di setiap drama?
“Enggak.” cuek memang pilihan terbaik. Lalu memberanikan diri untuk berbalik dan menatapnya.
“Oh ya? Padahal gue sangat kangen sama lo. Apalagi satu bulan nggak ngebully lo, rasanya bibir ini menahan gatal.”
“Apa kehidupan lo hanya untuk membully gue?”
“Haaha.. tidak juga.”

“Bukannya lo ke Bali bertemu para gadis bule? Kenapa lo nggak bully aja mereka?”
“Tidak bisa! Khusus mereka, harus dirayu dengan manis, bukan malah dibully.. emangnya lo!”
“Dasar! Gue bingung, kenapa lo selalu saja bully gue? Padahal juga ada Lira dan yang lain. Kenapa lo nggak sekalian bully mereka?”
“Karena lo lebih istimewa dari mereka.” jawabnya standar.
Aku sedikit terdiam mendengarnya. Bahkan aku sudah menahan diri agar tidak terhanyut dalam rayuannya. “Oleh-oleh!” ucapku menagih.
Aku melihatnya merogoh saku di sebelah kirinya. Lalu hanya memberi kepalan kosong di dalamnya. “Apaan? apa lo hanya membawa angin dari Bali untuk oleh-oleh?”
“Lo lihat, tadi gue ngeluarinnya dari sebelah mana?”
“Kiri.”

“Itu artinya, gue sedang ambil hati gue dan gue kasih ke lo.”
“Kenapa nggak sekalian lo donor jantung lo sekalian?
“Gue masih hidup, woy? Apa lo mau gue mati?”
“Iya. Bahkan gue berharap lo benar-benar hilang saat di Bali.”
“Agar gue tidak dapat bully lo lagi gitu?”
“Haaa.. haaa.”

“Sha, minggu kemarin gue lihat lo?”
“Bagaiman bisa? Minggu kemarin lo masih di Bali.”
“Memang. Tapi ini seirus.”
“Di mana?”
“Di foto.. haha.. mau gue lihatin? Gue punya semua koleksi foto lo. Mulai dari yang jelek sampai yang paling jelek.”
“Heh! Gue juga punya koleksi foto lo yang paling cantik!”
“Mana?” Aku membuka layar ponselku dan memperlihatkannya. Foto Rivaldi yang paling cantik dengan jilbab di kepalanya. Dia tercengang saat aku menunjukkannya. Kemarahannya tertunda saat dia mendekatkan ponselnya yang layarnya masih menampilkan fotoku dengan ponselku.

“Lihat? Mirip sekali kita.” ucapnya bangga. “Lo tahu apa artinya itu?”
“Kita saudara.” jawabku asal.
“Dasar bodoh! Bahkan kita tidak ada ikatan apa pun.”
“Mungkin saja.”
“Sudah! Lo lihat saja.. itu artinya kita jodoh.”
“Mimpinya.”
“Ini serius.”
“Lalu, apa yang akan lo lakukan jika kita jodoh?”
“Aku akan menikahimu nantinya?”
“Hah? Kalau tidak?”
“Aku tidak akan menikahimu. Gadis bule masih banyak di Bali. Bahkan aku bisa bolak-balik ke Bali untuk bertemu mereka, kenapa aku harus memilih perempuan seperti lo?”
“Dasar, cowok Gila!”

Aku mengejarnya. Untuk balas dendam. Aku harus bisa menangkapnya, lalu menghajarnya dan menguburnya. Mungkin memang perlu bagiku untuk mencintainya. Sangat membosankan apabila aku harus selalu membencinya. Satu kata yang telah ku ukir dalam diri ini, Rivaldi. Memang benar-benar sebuah cokelat yang berada di dalam strawberry. Saat aku mulai merasakan kemasaman hidup strawberry, kini aku menemukan manisnya cokelat di dalamnya. Bahkan di dalam diri Rivaldi, aku menemukan cinta untuk bersamanya.

Denpasar, 16 Juli 2014
Rivaldi – Marsha

Cerpen Karangan: Anjar Desynta Arum
Facebook: Anjar Desynta Arum

Cerpen Strawberry Rasa Cokelat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Salting Ala Gia

Oleh:
Bibirnya kelu, tangannya bergetar, jantungnya seolah berhenti berdetak ketika teman-teman kerjanya menyangkut-pautkan dia dengan laki-laki gagah dan ganteng itu. VMJ (Virus Merah Jambu) mulai menyebar di diri seorang perempuan

Jendela (Part 1) Membuka Jendela

Oleh:
Kamu tahu apa filosofi hujan? Pernahkah kamu memahami apa maksud gelombang merah senja? Atau mungkinkah kamu akhirnya tahu, Tentang perwujudanmu dalam semesta.. Kamu dan langit atau sekedar kamu dan

Short Love

Oleh:
“ann… buka pintu lo ann!” teriak mira dan nam sembari menggedor-gedor pintu kamar ann. Sebenarnya ann malas membukakan pintu untuk kedua sahabat anehnya itu, habisnya mereka pasti akan mengacak-acak

Mine

Oleh:
Mata laki-laki itu terlihat memutar dengan malas. Bola matanya yang berwarna biru terlihat indah dari jauh. Aku hanya diam di sini. Menunggu kejadian selanjutnya lagi. Dan sudah kutebak, pasti

Takdir Teridah

Oleh:
Separuh nyawaku terasa hilang, buliran bening air mata turun tak terbendung membasahi pipi, hati kalut dan dipenuhi kekawatiran yang dalam, ketika engkau melambaikan tanganmu di dalam bis yang akan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *