Suatu Hari Nanti

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 29 May 2013

“Bagas, tunggu aku.” Teriakku. Aku berlari sekencang mungkin mengejarnya. Ia menghentikan langkahnya dan menatapku. “Ada apa Sasa?” tanyanya. “Kamu jahat, mau pindah aku tidak diberitahu.” Keluhku sambil mengerucutkan bibir. “Maaf, Ibu juga mendadak memberitahuku.” Ujarnya, sambil menyodorkan sebuah boneka beruang. “Kalau kamu menyimpannya, berarti kamu masih mengingatku.” Lanjutnya. Aku menerimanya dan memberinya mobil mainan buatanku sendiri. “Mobil ini memang sederhana, hanya dari kayu. Tapi aku ingin kau menyimpannya.” Ia mengambilnya. “Terimakasih. Selamat tinggal, Sasa.” Ia melambaikan tangannya.

Lima tahun kemudian
“Kamu mau nggak jadi pacarku?” ujar Radith sambil menyodorkan setangkai mawar. “Maaf, Radith. Aku nggak bisa.” Tolakku lalu berpaling. “Kenapa, Sarah? Apa ada yang kurang dariku?” tanyanya dengan penuh harap. “Aku Cuma nggak mau pacaran.” Balasku lalu pergi. Aku heran dengan semua orang yang menembakku. Aku tidak bermaksud sombong, tapi hampir setahun disini sudah belasan orang yang aku tolak. Fina, sahabatku sampai heran denganku. “Cantik iya, pinter banget, tajir udah, Cuma pacar yang kurang.” Tuturnya sambil mengaduk soto dihadapannya.
“Apaan sih. Suka-suka gue dong. Ini hidup gue.” Keluhku. “Sekali-sekali kek, lu punya pacar. Biar lu tuh tau, rasanya diperhatiin sama pacar. Kayak gue nih. Udah lima mantan gue.” Ceritanya panjang. Aku berpikir, sebenarnya orang pacaran itu apa sih yang di cari? Nggak ada untungnya. “Sekarang gue tanya, lu udah pernah jatuh cinta?” tanyanya lagi. Aku terdiam sejenak. “Udah, waktu SD.” Jawabku. “Jiah, itu mah namanya cinta monyet. Kalo boleh tau, sama siapa?” lanjutnya. “Namanya Bagas, Fi. Tapi dia pindah rumah waktu mau lulusan.” Aku mengenang saat-saat terakhirku dengan Bagas.
“Sayang banget. Terus, dia ngasih apa buat lu?” “Boneka beruang.” “Haaaahaaaa…” tawanya meledak saat aku menjawab pertanyaannya. “Namanya juga anak kecil, gimana sih lu!” ingatku kepadanya. “Lagipula, dia juga ngasih surat kok. Isinya gini, suatu hari nanti kita akan bertemu lagi walau harus terpisah dengan identitas.” Lanjutku. “Eh, gue punya itu lagu.” Teriaknya tiba-tiba. “Lagu?” “Iya, lagunya Suju ada tuh yang kayak gitu.” Fina ini penggemar berat boyband Super Junior. Semua lagu ada deh di HP & Leppy-nya. “Mana coba?” aku menagihnya. Lalu ia mengeluarkan HP nya dan memainkan sebuah lagu yang galau.
Aku mendengarkannya dengan seksama. Bahasa korea? “Ini tuh artinya sama kayak surat lu tadi.” Jelasnya. Aku manggut-manggut. “Minta dong. Kirim bluetooth yah?” pintaku. “Oke sip.” Balasnya.

Setiap hari aku memutar lagu itu di leppy. Aku ini tidak pernah mau menggunakan HP. Karena sejak aku masuk SMA ini, banyak sekali cowok-cowok yang ngirim sms ke aku. Aku males balesnya, pulsaku juga abis ntar. Jadinya HP ku sering aku matiin. Sebenarnya, alasan lain aku tak pernah menerima mereka-mereka adalah karena Bagas. Anak laki-laki yang selalu memenuhi pikiranku sejak kecil.

Esoknya, dikelasku kedatangan murid pindahan. Namanya Rasyid. “Sarah, boleh juga tuh.” Bisik Fina. “Apaan sih?” balasku. “Nanti aja.” Bisiknya lagi. Ku lihat Rasyid yang memperkenalkan diri. Sesekali ia melirikku. Jangan lagi, jangan sampai aku menolakmu juga, batinku.

Saat istirahat, kembali aku dan Fina duduk di Kantin. “Rah, Rasyid lumayan juga ya.” Ujarnya memulai percakapan. “Lumayan apanya?” tanyaku. “Semuanya deh. Kayaknya dia juga naksir sama lu.” Lanjutnya. “Udah deh, gue udah kebanyakan nolak cowok.” Keluhku. “Nah, berarti ini saatnya lu nerima cowok.” Ujarnya mengomporiku.
“Permisi, boleh aku duduk sama kalian?” sebuah suara tiba-tiba datang dari belakang. Aku menoleh, dan ternyata itu Rasyid. “Oh, boleh kok. Santai aja.” Jawab Fina seraya mempersilahkan Rasyid duduk. “Aku belum kenalan sama kalian. Namaku Rasyid.” Ujarnya. “Gue Fina.” Balas Fina senang. “Sarah.” Ujarku pendek. Aku tak mau membuatnya betah denganku agar ia tidak menembakku. “Maaf yah, Rasyid. Sarah ini sebenernya nggak sejudes ini kok. Dia baik.” Kata Fina sambil menyikut lenganku. “Nggak papa, aku tau kok. Dia itu sebenernya baik. Kelihatan dari wajah cantiknya.” Ujar Rasyid yang membuatku semakin cuek dengannya.
“Wah, mau dong di puji sama cowok ganteng kayak gitu.” Fina berlagak seperti gadis anggun. “Lu ngapain, Fi? Biasa aja kali.” Ketusku. “Nggak papa lagi, Rasyidnya aja nggak merasa keganggu kok.” Sanggah Fina. “Ehm… sebenernya aku nggak terlalu suka cewek yang kebanyakan dandan.” Tutur Rasyid yang sukses membuat Fina cemberut. Aku tertawa terbahak-bahak melihat usaha Fina sia-sia. “Hahahaha… makanya jadi cewek jangan sok kecakepan.” Ejekku sambil tertawa. “Cewek itu kalo lagi ketawa emang manis yah.” Ungkap Rasyid. Aku terdiam mendengar ucapannya. “Udah deh, kita ke kelas aja.” Ajak Fina.

Tiga tahun kemudian
Di sebuah bangku di taman yang asri ini, aku menunggu Rasyid yang ingin mengatakan sesuatu yang penting katanya. Sudah sepuluh menit aku menunggu, kenapa ia tak muncul juga? Bukankah jam kuliah sudah berakhir? Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki. Itu pasti Rasyid. “Maaf ya, Sarah. Aku kesulitan memilih bunga yang cocok buatmu.” Tuturnya setelah mengatur nafas. “Bunga? Buat apa?” tanyaku penuh heran. “Sarah, sudah lama aku mencintaimu. Sejak pertama aku menatapmu, aku mulai merasakan benih cinta. Maukah kau menjadi kekasihku?” pernyataan yang membuatku kaget bukan kepalang.
“Maaf Rasyid. Tapi aku belum bisa melupakan sesorang disana.” Ungkapku. Ia kelihatan kecewa, kecewa sekali. “Tapi, kalau kau bisa membantuku menemukannya. Aku mau menjadi pacarmu.” Sambungku. Ia tersenyum. “Baiklah, apapun akan ku lakukan untukmu.” Ujarnya. Aku duduk lagi di bangku itu. Ia juga duduk disebelahku. Ditangannya ada sebuah buket bunga mawar putih juga sebuah mobil mainan dari kayu. “Sasa, kau dimana? Aku merindukanmu.” Gumamnya yang terdengar olehku.
“Sasa? Siapa itu?” tanyaku. “Kau tak akan mengerti walau aku jelaskan berkali-kali.” Balasnya yang kini bersenandung kecil. “Eojenganeun uri dasi mannari Eodiro ganeunji amudo moreujiman Eonjenganeun uri dasi mannari Heeojin moseup idaero.” Ia mengulang-ulang kalimat itu. Itukan someday milik Suju yang sering aku putar. “Rasyid, kamu nyanyi lagu apa?” tanyaku hati-hati. “Super Junior – Someday.” Balasnya. Benar tebakanku, itu someday. “Kamu penggemar K-pop juga ya?” tanyaku lagi.
“Nggak kok, lagu ini mengingatkanku kepada seseorang yang sekarang entah dimana…” ia menggantung kalimatnya. “Namanya Sasa, dia teman masa kecilku. Setiap hari, kami selalu bermain bersama. Suatu hari, aku terpaksa harus pindah tanpa memberitahunya. Namun ia mengetahuinya dan segera menghampiriku. Ia memberiku ini.” Ia lalu menunjukkan mobil kayunya. “Aku membalasnya dengan memberi sebuah boneka beruang. Juga sebuah surat yang aku tempelkan dipunggung boneka itu. Aku menuliskan, suatu hari nanti kita akan bertemu lagi walau harus terpisah dengan identitas.” Ia mengakhiri ceritanya.

Aku ingin menangis rasanya, akhirnya aku bertemu dengan orang yang selama ini aku cari. Bagas, kau ada dihadapanku sekarang. Tapi kenapa kau tak menyadarinya? “Rasyid… boleh tahu… nama lengkapmu?” tanyaku terputus-putus karena menahan air mata. “Rasyid Bagas Pratama.” Kini aku tak bisa membendung air mataku. “Kenapa Sarah? Kok kamu nangis?” tanyanya sambil memelukku. Aku melepaskan pelukannya dan mengambil sesuatu di tasku. “Ini… boneka yang… kau ceritakan… iya kan?” tanyaku dalam tangis.
Ia mengambil boneka itu. Dan akhirnya ia memelukku lagi. “Sudah kuduga, kita akan bertemu lagi. Walupun harus terpisah dengan identitas.” Katanya dalam pelukan. “Bagas…” bisikku. “Sasa, aku merindukanmu.” Ujarnya. “Aku juga.” Balasku. “Nah, karena kamu sudah bertemu dengan orang yang kamu cari. Kamu maukan jadi pacarku?” tanyanya lagi. “Tentu saja aku mencintaimu.” Ungkapku. “Aku lebih mencintaimu.” Balasnya. “Karena kau, cinta pertama dan terakhirku.”

Tamat

Cerpen Karangan: Dhia Fauzia Rahman
Facebook: www.facebook.com/dhiaphrotman
Nama : Dhia Fauzia Rahman
Asal Kota : Klaten, Jawa Tengah

Cerpen Suatu Hari Nanti merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Where Love Sleeps

Oleh:
Ini adalah kisah cinta antara manusia dan robot, antara Eiry dan Rachel. Eiry adalah pemuda yang tak punya waktu banyak untuk hidup di dunia ini sedang Rachel adalah robot

The Elementer’s Games

Oleh:
“Yak! Latihan hari ini cukup sampai di sini. Kerja bagus semuanya!” Seru Petra, pelatih di Elementers Academy. “hei kau!” Seorang gadis bertubuh mungil berbalik. “Aku?” Tanyanya. “Iya kau! Latihlah

Sena

Oleh:
“kata orang cinta itu indah cinta itu anugerah paling indah dan cinta dapat membuat pasangan bahagia namun apa yang terjadi jika salah satunya pergi?” “aku mencintaimu, sangat mencintaimu” “jangan…

Merah Jambu di Lereng Pandan

Oleh:
Sudah dua tahun aku menjalani masa latihan kerja sebagai guru sementara di sebuah sekolah yang teletak di lereng Gunung Pandan Tepatnya di SMPN 2 Gondang, yang akrab disebut SMP

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *