Suatu Siang di Stasiun

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 14 February 2018

Terkadang disaat perasaan ikut dalam suatu percakapan dapat menjadikannya bagaikan jalur kereta yang tidak berujung. Disitulah kami saat itu, di stasiun terjebak hujan dan tak bisa pulang. Namaku Andre dan ini adalah kisah paling indah bersama pacarku Natya. Kami bertemu pertama kali di halte bus dekat kampus. Entah kenapa saat itu aku menebak-nebak nama gadis itu, dan dengan bodohnya aku memanggilnya “Natya bukan?”. Sontak Natya kaget dan bertindak waspada terhadapku yang saat itu berpenampilan lusuh layaknya gembel. Entah mengapa 2 tahun setelah kejadian tersebut kami menjadi semakin dekat dan akhirnya kecupan pertama kami di mobil memastikan hubungan kami yang sudah semakin serius.

Sebulan akhirnya berlalu dan di sinilah kami, di stasiun kereta terjebak hujan. Selama sebulan kami berpacaran kami tidak pernah punya waktu untuk melakukan percakapan yang panjang. Diriku yang sibuk dengan tugas akhir dan Natya yang sibuk dengan teater di kampus menyebabkan kami berjalan di rel kami masing-masing berharap ada persimpangan yang mempertemukan kami seperti hari ini. Di sana akhirnya aku tahu banyak tentang dirinya begitupun dia yang tahu banyak tentang diriku.

Percakapan kami dimulai saat turun dari kereta, aku memulai dengan mengajaknya untuk berteduh. Sambil menutupi badannya dengan jaketku kami mencari tempat teduh dan sepi di sisi-sisi rel. Di sanalah kami, duduk berdua dalam keheningan sampai akhirnya dia mulai bertanya “kamu mau di sini sampe kapan?”. Pertanyaan tersebut pun memecah kesunyian kami berdua dan dalam hatiku sejujurnya aku ingin berkata bahwa aku ingin selamanya berada di situ dengan perasaan yang kami miliki. Namun aku hanya kuasa menjawab “Sampe hujannya selesai”. “Aku gak pingin hujannya selesai” Yah, itu yang natya katakan selanjutnya. Ternyata apa yang aku rasakan tidak berbeda jauh dengan apa yang dia rasakan. Dan akhirnya aku membalasnya “eh aku mau cerita sesuatu tapi ini teori yang konyol sih” dan akhirnya aku memulai menjelaskan teori konyolku tentang perasaanku padanya. “jadi teorinya kaya gini” ucapku dan melanjutkan ucapanku tersebut. “Jadi kamu tau kan kalau kita hidup di alam yang terdiri dari sekitar 11 dimensi bahkan lebih. Nah kamu tau kan kalo dimensi 1, 2, 3 itu ruang?”, “iya aku tau, terus?” balas natya. Aku pun membalas ucapannya “nah kalo dimensi ke 4 kamu tau gak itu apa?”. “enggak ndre, lanjut coba jelasin” Natya menjawab dengan tiba-tiba mengubah posisi seperti sedang serius ingin mendengarkan. Mata coklatnya yang indah seakan-akan seperti lubang hitam yang menghisap segalanya, sekali terhisap seperti tidak bisa keluar. Seperti diriku yang terjebak dalam keindahan bola matanya untungnya panggilannya sontak menyadarkanku kembali, “Ndre ayo jelasin”.

Aku pun akhirnya melanjutkan gombalan teori konyolku kepadanya “ya udah, aku lanjut cerita ya tapi kamu harus denger. Jadi dimensi ke 4 itu waktu Nat dan beberapa dimensi di atasnya itu dimensi-dimensi yang bisa bikin waktu itu kembali, bahkan memberikan kemungkinan-kemungkinan masa lalu dan masa depan yang berbeda seperti halnya waktu yang kita jalanin sekarang bisa aja masa lalu kita berbeda di dimensi itu. Nah, kita sendiri sebagai manusia sampai saat ini baru bisa ngerasain itu cuma sampai dimensi ke 4. Berarti itu ada 3 dimensi ruang dengan 1 dimensi waktu yang berjalan lurus terus itu kan. Tapi ke 4 dimensi itu sebenernya saling melengkungkan nah kalau menurut Einstein dimensi waktu melekungkan dimensi ruang akan menghasilkan apa yang kita sebut gaya gravitasi”.

Tiba-tiba sontak natya memotong ceritaku “kamu mau ngajarin aku fisika?”, aku pun tertawa dan membalas “belum selesai nat, aku lanjutin ya. Tadi kita udah ngomongin soal alam semesta sekarang pindah ke manusia. Kamu kuliah di psikologi tau kan kalau manusia itu kompleks banget bahkan setiap manusia itu punya kompleksitas yang berbeda-beda. Kalo kamu perhatiin kita ini mirip kaya alam semesta. Contoh aja nih, kita bahas gravitasi kaya tadi. Kamu pernah gak sih sayang sama orang?”. “pernah, sama kamu sekarang sayang kok” aku pun melanjutkan pertanyaanku “nah, kamu bisa deskripsiin gak rasanya gimana?”. “susah sih, aku juga bingung tapi aku suka” jawabnya. “nah itu mirip kaya gravitasi nat, anggep lah hati kita ini planet dan hati orang yang kita sayang itu komet. Saat ada komet yang ngedeketin planet tentu di sana gravitasi bakalan bekerja yang artinya kamu pasti bakalan ngerasain ada sesuatu yang terjadi di hati kamu anggep aja itu gravitasi yang mulai bekerja. Nah tapi kadang komet yang mendekat itu gak cukup kuat jadinya cuma mengorbit aja di hati kamu bahkan bisa cuma lewat gitu aja, itu biasanya jadi kenangan nantinya. Terus kalo kometnya itu cukup kuat biasanya bakalan nabrak terus ngelebur jadi satu bahkan bisa ampe bikin kehidupan baru di planet itu. Nah kalo kamu udah ketemu yang kaya gitu berarti itu belahan jiwamu, kamu tau gak sih waktu pertama kali kita ketemu di halte bus? mungkin waktu itu aku udah ngerasa ada gaya gravitasi yang kerja tapi jalur kometmu waktu itu belum mengarah buat ngorbit ke aku. Ya sekarang tinggal tunggu apa komet itu bakalan nabrak atau cuma mengorbit aja. Aku sih pengennya nabrak, menurutmu gimana teoriku?” begitulah ceritaku yang kuakhiri dengan pertanyaan untuk mengetahui pendapatnya.

Natya pun terlihat keheranan memperhatikan ucapanku barusan dan hanya bisa berkata “sebenernya aku agak bingung karena kompleks banget, tapi aku suka. Aku sayang kamu Ndre”. Kata-kata terakhirnya membuatku tiba-tiba seperti melayang. Setelah itu akhirnya kami terus berbincang di stasiun walaupun hujan telah usai. Kami bercerita tentang semuanya di sana dan itu menjadi hari terbaik yang pernah aku dan Natya lewati selama ini.

Cerpen Karangan: Andy Saputra
Blog: andygatot.blogspot.com
contact me via ig: andyysptr

Cerpen Suatu Siang di Stasiun merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Yang Singkat

Oleh:
Cinta mungkin bisa dikatakan ilusi tapi nyata dan berbentuk, yang berawal dari kenyamanan dan kelembutan. Hari pertamaku dipertemukan denganmu, hari pertamaku mengenalmu, mengenalmu dalam diam, mengenalmu dari kejauhan dan

Skenario Terindah

Oleh:
Matahari di kota Jogja pagi ini seolah tersenyum menyapa ku dengan begitu manisnya. Semanis hatiku yang saat ini sedang berbunga-bunga, karena kemarin aku baru saja lulus sidang skripsi dengan

Pacar Dunia Maya

Oleh:
Jam menunjukan pukul 23.30 wib. Aku masih sibuk memainkan game di smartphoneku… Ughh terasa berat mata ini, setelah melakukan aktifitas rutin seperti biasa dipagi hari yaitu kerja. Perkenalkan namaku

Aku Bukan Orang Setia Dan Baik (Part 1)

Oleh:
Kata simbahku kalau ketemu wanita, melihat jangan sampai memalingkan muka. Salah satu petuah yang sangat berat melaksakannya bagiku. Apakah bapak dari ibuku itu, begitu kuat seperti yang dikatakannya. Tetapi

Sampai Menutup Mata

Oleh:
Senja kini telah berganti malam dan aku masih saja memikirkan hal yang buta itu. Angin semilir sore berganti angin dinginnya malam tapi aku masih saja menyimpan hal yang semu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *