Suddenly

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 11 September 2015

Khusus kelas tiga B di SMP Jaya melakukan refreshing. Itu dilakukan usai Ujian Nasional bulan Mei lalu. Rencana atau ide tersebut merupakan hasil dari rundingan ketua kelas tiga B bersama teman-teman, jadi tidak melibatkan seorang Guru. Di antara mereka pun ada yang memilih liburan sendiri. Di sudut sekolah yang sepi, Rina salah satu siswi kelas tiga B berjalan sendiri. Hari masih terasa pagi dan teman-temannya masih sedikit yang berangkat. Rina saat itu mengenakan jaket merah, celana panjang dan sepatu berwarna biru. Tas kecilnya berisi ponsel, parfum, kamera digital dan uang yang tak begitu banyak.

Tiba-tiba saja, matanya melotot kaget melihat sosok cowok yang ia kagumi menghampirinya bersama teman kelasnya, Alvin.
“Alvin, kenapa kelas tiga A bisa ikut?” Tanya Rina tegang.
“Kenapa? Adit kan sahabat aku juga” Jawab Alvin.
“Boleh kan Rin?” Adit memastikan.
“Oh, iya iya” Rina main pergi begitu saja.
“Alvin, Rina cantik kenapa tuh? Kok tegang gitu”
“Mungkin dia nervous dekat kamu.”
“Apa mungkin dia suka sama aku?” Adit.
“Mungkin aja, ya udah kita ke Bus yuk” Ajak Alvin setelah melihat teman-teman banyak yang berkumpul.

Rina duduk bersama Sinta di bangku nomor empat. Mereka merupakan sahabat dekat. Bahkan Sinta dan Rina saling curhat saat mereka butuh teman curhat. Kemanapun mereka pergi seringnya bersama. Di saat susah, senang, sedih pun mereka saling melengkapi satu sama lain. Sesampai di sebuah Benteng Vander Vick di Gombong, Rina dan Sinta turun dari Bus. Sebelum melangkah lebih jauh, Alvin dan Adit memanggil Rina. Mereka berempat pun berkumpul dan ngobrol.
“Rin, aku minta nomor Hp-mu dong..” Pinta Adit.

Rina langsung merasakan detak jantung yang kencang. Cowok yang selama ini ia kagumi, akhirnya mendekatinya juga.
“Oh, iya” Rina mengambil ponselnya di tas kecilnya dan memperlihatkan nomor tersebut. “Ini..” Ia terus memandangi wajah Adit.
“Makasih ya Rin,” Ucap Adit sambil tersenyum ramah.
“Iya. Ya sudah, aku beli tiket masuk dulu ya,” Rina pun menggandeng tangan Sinta ke tempat pembelian tiket masuk.
“Cie.. masih senyum-senyum aja..”
“Gue seneng banget Sin. Dia yang gue kagumi, akhirnya deketin gue.”

Tiba-tiba ponsel Rina dering.
“Aduh, siapa nih yang telpon” Rina melihat nomor baru di layarnya. “Halo, siapa nih?”
“Ini aku. Adit.” Adit melihat Rina yang ada di hadapannya, di tengah keramaian orang-orang pengunjung. Jadi Rina tak melihat Adit.
“Kamu di mana?”
“Lihat sini deh,” Adit melambaikan tangan. Rina pun tersenyum melihat Adit. “Ya sudah. Sampai ketemu di dalam ya?”

Setelah semua membeli tiket, mereka pun masuk. Di dalam, Adit dan Alvin mencari sosok Rina. Tak lama pun mereka bertemu.
“Rina…” Panggil Adit. Rina menoleh ke belakang dan membalikkan badannya.
“Eh, A..Adit.” Ucap Rina terbata-bata.
“Boleh aku jalan sama kamu tidak?” Ajak Adit sambil tersenyum. Belum sempat Rina jawab, pergelangan tangan kanannya diraih oleh adit dan dibawanya ke suatu tempat.
“Eh, Rina mau dibawa ke mana?” Teriak Sinta. “Terus aku sama siapa dong?”
“Sinta, pokoknya kamu jangan ganggu Adit ya? Dia mau nembak Rina tuh. Biar teman kamu gak jomblo terus.” Alvin.
“Terus, lo mau jalan bareng gue?”
“Gak apa-apa kan?”
“Hih, ntar dikira pacaran lagi.”
“Ya bagus dong.”
“Gue udah punya pacar ya! Jadi jangan macam-macam sama gue. Awas lo!” Bentak Sinta.
“Tenang aja deh..”

Rina tidak menyangka akhirnya tangan Adit menggandeng lengannya juga. Betapa bahagianya, ia terus tersenyum-senyum sambil melihat tangannya yang sedari tadi digandeng Adit. Langkah Adit berhenti. Rina pun berhenti di samping Adit.
“Kita naik bebek onthel yuk..” Ajak Adit.
“Tapi kan, uangku cuma dikit.”
“Udah tenang. Biar aku yang bayar.”

Mereka pun naik bebek onthel berdua. Mereka mengayuh dari tepi kolam yang besar sampai di tengah kolam. Mereka selalu bercanda dan tertawa. Setelah lelah tertawa, mereka pun saling terdiam. Tak lama Adit pun bicara.
“Rin.”
“Ya.”
“Kita foto-foto yuk..”
“Boleh.”

Saat Adit mengambil gambar Rina, Rina bergaya dengan cantik dan imut. Kamera digital pun Adit turunkan. Ia memandang wajah Rina yang begitu cantik dan polos. Semenjak kelas tiga, Adit sudah mengagumi Rina. Ternyata mereka berdua sudah saling mengagumi. Namun belum ada yang berani mengungkapkan.
“Rin.”
“Apa?”
“Kamu cantik banget.”
“Masa sih. Kamu juga tampan, Upss.” Rina keceplosan.
“Aku sudah menyukaimu sejak dulu.” Ucapnya menatap Rina.

Rina tercengang. Hatinya menjerit bahagia, sangat-sangat bahagia. Kalau Adit menembakku sekarang, dia akan menjadi pacar pertamaku. Batin Rina.
“Rin.” Panggil Adit sambil terus menatap bola mata Rina.
“Iya.” Rina sangat tegang. Matanya sedikit melotot. Jantungnya berdegub sekencang mungkin. Tiba-tiba telapak tangan kanan Rina diraih Adit dan ditempelkan di depan dadanya. Itu semakin membuat Rina berdebar.
“Kamu bisa merasakan detak jantungku kan Rin?” Rina mengangguk. “Rin, kita pacaran yuk. Aku cinta kamu. Apa kamu menyukaiku?” Tanya Adit.

Rina langsung menggigit bibirnya. Ia tersenyum.
“Aku.. Aku mengagumimu sejak dulu. Aku menyukaimu Adit.”
Adit langsung merangkul pundak Rina.
“Yes, kita udah jadian kan?” Adit tersenyum bahagia. Setelah lama putus dengan pacarnya, kini Adit kembali punya pengisi hati.

Rina merasa itu semua terlalu cepat. Ia tak menyangka kalau Adit berani mengungkapkan perasaannya, secara tiba-tiba lagi. Setelah sekian lama mereka tak saling mengenal, kini sudah mengenal dan menjalin hubungan spesial.
“Akhirnya, aku punya pacar juga. Adit, kamu adalah pacar pertamaku. Jadi jaga hubungan ini baik-baik ya?”

The End

Cerpen Karangan: Endang Wiji Astuti
Facebook: Endang Wijia Wijia

Cerpen Suddenly merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Merindukannya

Oleh:
Silih berganti, datang dan pergi. Hari demi hari, ada saja yang datang dan pergi. Namun mereka tak berarti apapun, semuanya tetap sama walau ada yang datang dan pergi. Mereka

Kisah Cinta Si Bisu

Oleh:
Seorang remaja berkaca mata besar sedang membaca sebuah buku di perpustakaan. Kakinya yang di bawah meja, bergoyang-goyang seakan-akan dia menikmati suasana ini. Pupil matanya yang coklat bergerak bolak-balik dari

Penaluna

Oleh:
Aku bersandar di dinding dapur. Ini sudah hampir setengah jam tapi Mama ngga juga berhenti mengoceh. Aku muak. Aku benar-benar muak dengan semua perkataan Mama. Banyak hal yang Mama

Dika, Zaki Dan Wahyu (Part 1)

Oleh:
Di hari yang sangat cerah begini, aku sudah ada di sekolah. Sekolah ini bukan sekolah biasa. Banyak tanaman-tanaman hijau, dan ada lapangan sepak bola, walaupun bukan milik sekolah lapangannya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *