Surat Cinta 45

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Nasionalisme, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 7 October 2018

Malam itu bulan seakan begitu bahagia dengan memancarkan cahayanya, terang benderang. Bahkan aku bisa melihat wajahnya dengan jelas tanpa sorotan lentera teras rumah yang menyala redup. Malam itu kami duduk berdua di beranda rumahnya, duduk berjauhan tetapi setidaknya masih mendengar suara satu sama lain, malam itu begitu hening. Tak ada suara jangkrik atau lolongan anjing dari kejauhan, tak ada pula suara berisik-berisik dari dalam rumah. Mungkin mereka lelah menghadapi hari yang melelahkan atau mungkin juga memikirkan anak semata wayangnya yang sekarang duduk di teras rumah memikirkan pria di sebelahnya yang saat ini mengacaukan hatinya.

Aku hanya terdiam, tak sanggup berkata-kata bahkan menatap matanya pun ragu. Surat putih yang kugenggam itu datang bertuliskan namaku dan pemuda lainnya dengan tinta hitam. Tugas Negara telah menanti kami, semua pemuda bangsa diundang untuk membela Negaranya yang masih pontang-panting melawan penjajah.

Tapi sayang, penjajah terlalu kuat hingga kami harus dipanggil untuk dilatih sebagai tentara bantuan yang mau tak mau terserah dikirim ke mana saja. Bahkan keluarga mungkin telah rela jika kami pulang tinggal nama dan hanya bisa jadi bagian sejarah kecil yang tak akan disebut dalam setiap buku sejarah di masa yang akan datang. Yah, kalo masih ada masa depan untuk bangsa ini.

Tapi sayang, hati dan tubuhku tak lagi sejalan menuntutku membuat keputusan dilematis. Tubuhku diundang untuk memperjuangkan tanah air sedangkan hatiku tenggelam dalam kemerdekaan cinta yang kutemukan di hati sang bunga desa, Ainun, yang dengan tulusnya membiarkan pemuda biasa ini mencintainya apa adanya.

Kisah cinta kami berjalan selayaknya kisah cinta orang biasa namun begitu luar biasa bagi si pemuda biasa seperti diriku, yatim piatu yang setidaknya punya pendidikan secetek yang bisa baca tulis dan hitung yang membuatku tak mudah ditipu orang. Aku bersyukur sekali dulu aku dipaksa oleh ibuku untuk masuk di sekolah rakyat sebelum pindah ke desa ini, setidaknya sekarang kerjaku sebagai juru tulis di desaku adalah pekerjaan yang diperhitungkan.

Ainun, gadis itu seakan hidup dalam dunia pendidikan yang sangat ia cintai, mengajar anak-anak desa untuk tahu baca tulis yang ilmunya ia dapat dari kota seberang, jauh dari desa kami. Membangun sebuah pondokan kecil di pematang sawah dan setiap sorenya mengajak anak-anak desa untuk belajar di sana.

Kami bercengkrama dalam setiap surat-surat yang kami kirimkan satu sama lain dengan perantara orang lain tentunya, menuangkan isi hati dalam setiap bait bait puisi yang kami ciptakan sendiri. bulan yang memancarkan sinarnya selalu menjadi bahan kami dalam berkata-kata, seakan cahaya bulan mewakili rasa cinta kami, bulan yang menerangi kegelapan malam dan memberi kehidupan bagi malam yang gelap gulita.

Kami hanya bisa berpandangan dari jauh atau melihat satu sama lain ketika berpapasan. Maklum adat kami, pantang bagi laki-laki untuk memiliki hubungan tanpa ada ikatan yang serius. Maka dengan tekad yang bulat kulamar ia dengan sebuah cincin emas sederhana yang sekarang tersemat di jarinya malam ini.

Setidaknya kami punya status bertunangan hingga pertemuan kami lebih leluasa daripada sebelumnya. Aku pun bisa mengunjungi rumahnya sesekali menambah keakraban dengan keluarganya atau bahkan membantunya mengajar di pondokan kecil yang ia beri nama “rumah bambu”. Yah setidaknya aku sekarang lebih menyukai anak-anak dibandingkan sebelumnya. Ainun mengajariku menemukan dunia anak-anakku kembali.

Aku begitu mencintai dirinya dan dunianya yang ia bagi bersamaku, dunia yang membuka jendela dunia bagi orang lain. Begitu bangganya ketika anak yang kuajar kini sudah bisa membaca dan menulis namanya sendiri. ahh.. betapa beruntungnya diriku bisa menemukan dan memiliki gadis dengan dunia yang menakjubkannya.

Malam itu, cahaya bulan bersinar terang, favorit kami. Namun malam itu sinar bulan membuatku payah. 2 Surat putih itu kugenggam erat, yang satu secara resmi mengundangku untuk maju di medan perang membela Negara sedangkan yang satu akan kuberikan kepada Ainun. perlahan kuletakkan di meja lalu bangkit dan pergi tanpa sepatah katapun bahkan berbalik menatap wajahnya. Dari balik punggungku aku bisa mendengarnya terisak-isak meratapi kepergianku. Inginku berbalik menghampirinya lalu memeluknya untuk menenangkan hatinya yang gundah tapi aku tak mampu melakukannya, bahkan aku pun sendiri tak mampu menenangkan hatiku.

Tubuhku bahkan bergetar hebat ketika pagi buta tadi surat itu sampai di tanganku bertuliskan namaku dan beberapa pemuda desa untuk membantu skuadron terdekat dari sini. Tentara yang menjemputku akan tiba keesokan paginya. Dari jauh aku bisa melihat Ainun dibawa masuk ke dalam rumah oleh orangtuanya yang juga sama sedihnya. Dari jauh pula aku bisa melihat hiasan rumah mereka penuh dengan ornamen janur kuning melili-lilit di depan rumahnya.

Yah, pernikahan kami akan kami laksanakan esok hari, semua penduduk desa akan datang untuk memeriahkan hari itu. Namun segalanya runtuh bagiku, tak tersisa. ketika surat itu datang. Malam itu untuk pertama kalinya surat yang kuberikan pada Ainun semua berisi tentang doa.

“bolehkah kuhentikan waktu agar tak ada hari esok bagi siapapun. Hanya ada malam dan sinar bulan dan waktu untuk mencintaimu lebih lama”
“bolehkah aku mencintai seseorang lebih dari bangsaku sendiri”
“bolehkah aku menjadi pengecut saat ini, agar aku bisa memilikimu seutuhnya. Tapi adalah hal yang sangat kubenci menjadi pecundang di matamu”.
“bukankah ini mimpimu juga untuk menjejakkan kaki di tanah merdeka hingga setiap anak bisa menjadi apa yang mereka mau”.
“biar waktu yang mempertemukan kita kembali, di bawah naungan sinar bulan dimana cinta kita bertemu”.

Pagi itu keberangkatanku telah tiba, sudah ada mobil tentara yang akan mengangkut belasan dari kami. Tak ada isak tangis dari keluarga yang akan ditinggalkan oleh mereka, hanya wajah tegar dan pasrah bahkan bangga pada anak-anak mereka. Tak ada orangtua yang bisa mengantar dan menangisi kepergianku atau sekedar menerima kabar kemerdekaanku atau kematianku. Hanya ada Ainun di hadapanku dengan surat di tangannya lalu memberikannya dan pergi tak sanggup melihatku.

Desa yang kutinggalkan seakan mengiringi kepergianku, angin berbisik menyerukan suara kemerdekaannya. hanya kata merdeka yang bisa membuatku kembali menggapai kemerdekaanku sendiri.

Di barak, aku mulai membaca surat dari Ainun, tulisannya yang indah membuatku selalu menyimpannya, setiap kubaca kalimat demi kalimat menjadi penghiburanku sendiri, menjadi penyemangatku untuk kembali pulang.

“tak ada lagi kata yang bisa kutuliskan untukmu sang pujaan hati, hanya untuk kembali dengan merdeka dan mendapat kemerdekaan dan cintamu di sini”
Ainun

Aku akan pulang Ainun, menjemput cinta yang kutinggalkan.
Perasaan hangat mengaliri tubuhku, seakan darahku kian berdesir untuk maju di medan perang. Aku siap dengan satu doa yang kupanjatkan “aku ingin kembali sekali lagi”. Dentuman senjata memekakkan telinga dan aku siap…

Cerpen Karangan: Rika Anggari
Blog / Facebook: Rika Anggari

Cerpen Surat Cinta 45 merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Akhir Dari Sebuah Cerita Cinta

Oleh:
‘Deb, ntar malam kita nonton bareng mau gak?”, “Aduh gimana ya,…..mama aku pasti gak ngijinin dech”, “Ya ampun sayang, kamu cari alasanlah…mau ibadah, mau ngerjain tugas atau apa. Masak

Untuk Navisya (Sesal Tak Berujung)

Oleh:
Pagi, Saat itu aku baru saja menyelesaikan masalahku dengan dia, sampai akhirnya aku hanya dapat kesedihan, yah kata “putus” itu selalu menghantui setiap hubungan bukan? dia berkata aku hanya

Dia Yang Telah Kembali

Oleh:
Cit, cit, cit, Sinar mentari memasuki sela-sela jendela kamarku, ketika aku mendengar suara burung-burung bersiul di ranting pohon yang terdapat di samping jendela kamarku. “Hoaaaamm,” Aku bangun sambil merentangkan

Cinta Indah Yang Kau Berikan

Oleh:
Adit, itu namaku, aku aku dikenal sebagai anak yang pendiam di kelas tapi kata teman teman ku aku mempunyai wajah yang cukup ganteng, tapi sampai saat ini aku ngak

Di Acara Kawinan

Oleh:
Secercah sinar memasuki indra mataku. Dengan gerakan pelan, mata yang tertutup itu terbuka. Tak ada yang berubah. Dan seperti biasa, aku hanya bangun. Duduk di tepi ranjang, meminum segelas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Surat Cinta 45”

  1. Jeje says:

    Keren!! Kisah cinta tahun 45 sungguh penuh perjuangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *