Surat Tanpa Nama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 9 December 2016

Kusapa engkau dari ribuan juta mil jarak “Assalamualaikum engkau pemilik hati.”
Tanyakan kabar pada angin samudera yang menyejukan dan mengenyahkan gundah hatimu. Ia mengatakan kau akan selalu bahagia dan rindu itu senantiasa bersemayam dalam jiwa.
Aku ingin memberi tahumu pada “Surat tanpa Nama,” maukah kau membacanya sekiranya ada minat dipikirmu.

Gundahku pabila nanti ku tak kunjung temukan hatimu pada perualanganku menapaki jejak kehidupan. Setiap jengkal duniamu seiring berjalannya waktu dan kebersamaan yang kita lalui.
Ada harap menyisih keraguan, jangan kau sampaikan lagi pada dewi malam, kiranya kau akan melepas gengaman tangan lalu enyah menghindar.

Dalam diam dalam hening, kusematkan rasa dalam doa semoga ia akan tetap terjaga, separuh hatiku akankah tetap utuh disana? Pertanyaan itu menganggu tidurku.

Sayang. Kau dimana?
Ribuan hari aku menantimu dengan setia, percaya bahwa lukisan takdir di tanganmu akan membawamu kepadaku. Entahlah, pada detik ini atau sampai nanti, aku ingin terus menulis surat rindu untuk dikau pemilik hatiku, lalu akan aku titipkan pada sekelompok burung laut yang siap berkelana menyusuri luasnya samudera.

Sayang? Entah aku sebut namamu di surat ini aku memanggil namamu “Wan.”
Pula ingin aku ceritakan padamu, pada dia, mereka dan pada penduduk bumi. Akan aku katakan kepada alam; aku yang dibuat mengangakan kepala mengagumi ciptaan Allah yang paling sempurna yang bisa kulihat pada sendu matamu, pribadi yang mengagumkan. Denganmu kembali ku mengenal warna dari cinta. Dari kejauhan ribuan mil jarak aku milihatmu, aku bisa melihat senyummu, dan bayangmu melayari lautan mimpiku. Wan, sahabatku, bawalah aku kemanapun kau ingin. Genggam erat tanganku akan kutemani engkau dalam petualangan hidup. Dengan garis bawah “jika kau mau,”

Kini aku berdiri disini di dermaga yang bisu, menatap hamparan lautan berkabut tak bertepi. Udara dingin merasuk ke dalam tulang sendi. Sayang, aku tak menghiraukan dingin dunia pabila cintamu mampu menghangatkan. Katakan kepadaku aku tak peduli katamu itu bohong, aku hanya ingin mendengarnya, sekali saja katakan. Biar aku temukan penawar kerinduan.

Segala penat, aku lepaskan di dermaga ini. Sepiku kini ditemani secangkir kopi. Kubawakan secangkir kopi ini teruntukmu yang dirindukan hati, sesungguhnya aku menunggu kapalmu sandar di dermaga ini, lalu kau dan aku akan bertukar rindu sembari menikmati sepasang cangkir kopi dengan nuansa musim dingin awal januari. Wan, kau akan sandar disini. Aku tahu.

Tak ada yang menyenangkan dimusim dingin, apalah artinya aku pabila tanpa engkau membersamai. Kesunyian hanya mengundang keraguan. Tumpukan buku-buku, lembar tugas dan sisa-sisa harapan tentang petualangan menaklukan samudera mimpi. Aku merasakan hadirmu, ini sebuah kegilaan yang nyata, dan mungkin orang lain akan menganggapku tidak waras menulis “Surat Tanpa Nama”. Banyak kiranya yang ingin kutulis, berikan tempat paling luas untuk mereka beradu kata, mengomentari kekurangan orang lain tanpa mengomentari kekurangan dirinya terlebih dulu. Biar saja kebisingan di luar sana membuat penat dunia.

Dikesunyian, kau dan aku dapat merentangluaskan unsur pemahaman dan cara pandang yang berbeda, menjadikan kita kuat takkala kita tersungkur jatuh. Aku bisa rasa kau akan sandar di dermaga sunyi ini, menemuiku wanitamu yang paling tabah di antara penduduk bumi lainnya.

Sebelum kulanjutkan menulis Wan, iya menulis surat tanpa nama untuk engkau pemilik hati. Sejenak kuteguk secangkir cappuccino. Kuletakkan kembali cangkir itu di atas meja bundar. Pandanganku masih terlempar kesana, aku melihat hamparan laut berkabut itu tak nampak lagi, langit mulai cerah namun aku masih merasa duka-cita dalam gundah. Ku memejamkan kedua bola mata, ini lebih menenangkan. Angin kembali bermain-main sesukannya mengombang-ambingkan rasa hingga tak ada satupun makhluk-Nya memahami apakah arti dari rasa yang singgah dalam jiwa. Berkatalah dan jelaskan kepadaku. Sayang kau harus mengatakannya.

“Dia juga rindu!”
Terdengar sayu suara itu. Aku membuka mata dan mencari-cari siapakah yang baru saja bicara.
Entah ini mimpi atau hasulinasi, mungkin saja suatu fatamorgana bayangmu, atau entah aku sedang bermimpi yang pasti aku senang dengan hadirmu.
“Kamu disini, ini kamu?” Tanyaku dengan detak gemuruh jantung. Seakan hadirmu kini menyulap musim gugur menjadi musim semi.
“Kenapa? Apakah kau tak mau berbagi secangkir cappuccino itu denganku?” Engkau bertanya seraya tersenyum. Dan kau tahu senyummu itu bagaikan bius yang mematikan. Selanjutnya mungkin aku akan tertidur seribu tahun.
“Kau tahu Wan sahabatku, disetiap pagi kala sendiri, menuang bubuk cappuccino ke dalam cangkir lalu kutuangkan air mendidih ke dalamnya. Aku mengaduknya pelan. Ada harapan menyenangkan dalam pulau mimpiku, aku ingin membuatkan secangkir capucino untukmu setiap pagi ketika aku terbangun dari mimpi usai menatap fajar.”
“Aku sangat senang bila nanti yang Maha cinta menyatukan hati kita. Sebelum itu maukah kau bersabar menunggu? Terus menyimpan separuh hatimu sampai ia bertemu dengan separuh hatinya,” katamu dengan ekspresi wajah penuh keyakinan. Kedua bola mata itu menatapku tajam, pun tak merasa saat ini aku berada di musim dingin, karena yang kurasa begitu hangat. Jangan pergi begitu cepat. Wan sayangku, aku masih rindu.

Selanjutnya ada suara lain yang memecah keheningan.
“Jingga, jam berapa ini? Kamu sudah ditunggu Pak Dosen. Kamu lupa kalau tugasmu belum kamu kumpulkan?” Kata itu begitu lantang. Aku tersentak kaget sampai kertas surat ini jatuh ke tanah dan berhamburan. Ah kenapa harus menganggu moment menyenangkan tadi. Oh kau Afi, selalu rempong sendiri. Berisik. Selanjutnya aku menguap dan mendrama: Aku akan mengatakan sedang sakit kepala dan mules.
“Iya Fi, tadi aku lagi nggak enak badan terus tiduran disini. Lagian ini terlalu pagi untuk masuk ke kelas dan berjumpa dengan Mr. Botak!”
“Dasar kau! Pasti lagi berkhayal lagi kan, berkhayal tentang pangeran lautmu itu.”
“Hahha sudahlah kawan, mari kita cus menemui Mr. Botak.”

Maaf Wan. Tadi gegara kedatangan teman rempongku itu jadi buyar obrolan manis kita. Sudah dulu ya, aku lanjut study hard. Nanti aku sambung lagi nulis surat untukmu Wan, iya untuk engkau separuh hatiku.

Salam Rindu
Nicma

Cerpen Karangan: Nicma Faneri
Blog: Nicmafaneri.blogspot.com

Cerpen Surat Tanpa Nama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jodoh Yang Tak Diduga

Oleh:
Pagi itu aku Nayla dan keluargaku bersiap-siap menuju ke tempat hiburan keluarga. Kita ke sana untuk merayakan ulang tahun adik sepupuku namanya Zahra. Kita sekeluarga bersiap-siap menuju sebuah taman

Candrasengkala Cinta

Oleh:
Semburat cahaya lembayung memperindah langit sore itu. Dengan awan merah bercampur orange, serta kabut putih seperti lukisan pigmen di atas kanvas. Semua warga di sekolah itu sibuk mempersipakan untuk

Terpendamnya Cinta

Oleh:
Kisah ini berawal dari bangku SMA teman spesial ku yang ku temui di Yogyakarta, namanya Anton. Masa SMA Anton sangat berkesan untuknya, dia bisa dibilang anak berandal tapi baik

Ketulusan Hati

Oleh:
Hari demi hari terus berlalu yang kian hari semakin menyiksa batinku tersadar aku tentang buaian dunia yang telah membuatku larut dalam khayal cinta. Cinta telah membuatku terluka telah mengusik

Cinta Lain Kali (Part 2)

Oleh:
Dua hari setelah aku mengalami kesialan yang luar biasa, aku harus bersekolah. Seperti biasa, aku berangkat sekolah naik angkot, ku nikmati pagi dan mengumpulkan semangat untuk menjalani hari ini.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *