Surat Undangan H -3 (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 20 January 2018

Masih terlihat sama seperti musim panas sebelumnya. Hanya bisa tergolek lesu di bawah balutan selimut, setiap kali menghabiskan liburan di kampung halaman. Waktu menunjukkan pukul 2 sore, namun tak sedikitpun tubuh mungilnya memiliki kekuatan untuk bangun.

6 jam sudah terlewat. Sesaat setelah kakinya menginjakkan rumah. Dia langsung menuju kamar kesayangnya. Menyendiri dengan raut muka kusut, seakan ada beban berat yang sedang merasuk dalam jiwa dan raganya. Beberapa kali sang Ibu menyempatkan diri masuk ke kamar anak gadisnya ini. Perasaan bingung, gelisah dan bertanya-tanya tersirat jelas di wajah sang Ibu saat melihat kondisi anaknya yang hanya berbaring di ranjang.

“Raa… Mira…” Panggil Sang Ibu sambil duduk di sebelah anaknya lalu memegangi dahi dengan lembut dan mengecek kondisi tubuh Mira.
“Hmmmm, iya bu…” Sahut Mira lesu. Pandangannya silau saat membuka mata dan melihat Sang Ibu di sebelahnya tersenyum.

Sinar matahari masih cukup terik siang ini. Masuk dari celah jendela kamar Mira yang gordennya tidak tertutup rapat. Dia pun berbalik badan, perlahan membangunkan tubuhnya ke posisi duduk dengan bersandarkan bantal.

“Sayang… sering sekali Mira seperti ini setiap pulang? Apa ada masalah di tempat kerja? Ibu hanya kawatir. Kalau mau, Mira bisa cerita sama Ibu.” Tegas Ibunya memulai pembicaraan. Mengusap lembut wajah Mira. “Mau Ibu buatkan kue kesukaan Mira?” tambah ibunya menghibur. Seakan tahu, apa yang sedang terjadi pada Mira.

Dulu waktu masih sekolah kalau sedang sedih Mira pasti minta dibuatkan kue kering dan teh hangat untuk mengembalikan mood semangatnya. Selain itu, orang sakit biasanya kelihatan dari kondisi suhu tubuh yang panas. Tetapi berbeda dengan Mira, Dia hanya lesu tapi fisiknya baik-baik saja. Ditambah lagi sepanjang hari hanya di kamar. Ibunya bertambah khawatir.

“Mira baik-baik saja bu, Mira hanya lelah, istirahat lagi sebentar pasti baikan. Ibu tenang saja” Jawab Mira meyakinkan dan kembali merebahkan tubuhnya ke posisi tidur. Sang Ibu hanya mendesah pelan dan tak bisa berkata apa-apa. Dengan perasaan masih was-was ia pun beranjak meninggalkan kamar Mira.

4 jam berlalu lepas dari pukul 2 sore. Mira terbangun. Mencoba mengangkat badannya perlahan. Kepalanya masih terasa sempoyongan ketika kaki Mira menyentuh lantai kamar. Menatap kosong ke arah jendela. Dia melirik jam dinding dan mendekatkan tubuhnya ke jendela. Berlahan dibuka seluruh pintu jendela. Udara sepoi-sepoi sejuk menyentuh kulit tubuhnya yang halus. Pandangan jauh ke arah matahari terbenam. Garis langit yang berwarna orange kehitaman, seakan memberikan satu kekuatan dalam benaknya. Sudah cukup bermalas-malasan hari ini.

Tidak heran jika Mira sangat senang berada di kamar ini. Bisa dibilang ini adalah kamar Favoritnya. Ruangan yang sudah dia tempati 25 tahun lebih. Meskipun hanya berukuran 3×4 m tetapi penataan barang dan aksesoris kamarnya benar-benar tidak kalah zaman. Setiap 6 bulan sekali dia rutin merombak setiap sudut kamar sesuai seleranya. Ditambah lagi dia sudah lebih banyak menghabiskan waktu di Kota, tempat ia bekerja dan tinggal sekarang. Pulang ke kampung halaman untuk beberapa hari sangat membuat dia rindu dan nyaman berada di kamarnya. Selain itu ruangan favoritnya ini berada di lantai 2. Tinggal di area pedesaan yang masih asri dan dikelilingi area persawahan dan pegunungan membuat rumah orangtua Mira ini sangat nyaman dan sejuk. Meskipun masuk area pedesaan tetapi banyak warga yang memiliki lahan sempit, membuat rumah minimalis 2 lantai menjadi lebih memungkinkan dan efisien.

“Sudahlah… penantian ini tidak akan pernah ada ujungnya. Penantian yang tidak pasti.” Gumamnya dalam hati. segera ia meraih hp di atas meja di samping tempat tidurnya. Sesaat setelah itu dia membereskan tempat tidurnya. Lalu membuka setiap laci meja. Memeriksa setiap sudut colokan listrik. Ia mencari sesuatu dan tampak kebingungan.
“Duh… ke mana lagi ini charger?” gerutunya sambil kesal dengan dirinya sendiri. Ia, Mira memang sedikit pelupa. Segera ia bangun dan hendak keluar mencari Ibunya.

“Kringgg… Kringgg…” terdengar panggilan masuk dari no tidak dikenal. Hpnya yang masih bisa hidup, bertahan dengan daya baterai 5 %. Meskipun suara low bat tidak berhenti memperingatkan dari tadi. Diurungkan niatnya membuka pintu dan kembali duduk di kursi depan meja belajar yang digunakannya waktu masih sekolah dulu.

“Hallo…” Mira menjawab dengan cepat. Takutnya panggilan ini penting dari tempat kerjanya di Kota. Karena saat ini Mira cukup lama mengambil cuti libur.
“Ini Mira ya?” terdengar suara lembut seorang perempuan bertanya balik.
“Ia benar, saya Mira.” Mira penasaran. “Ini dengan siapa? Ada yang bisa saya bantu?” Lanjut Mira kembali bertanya.

“Raaa, astaga, Mira ini aku Tari, teman sekelasmu dulu!!!” Jawabnya bersemangat. “Masih ingat kan? Teman sebangkumu. Aku yang dulu sering nyontek PR mu, hehehhe,” lanjutnya meyakinkan Mira.
“Oalahhhh… dasar, ya pasti lah kenal banget, haha,” keduanya tertawa ringan.
“Dasar Ratu Siput!!! ke mana aja kamu? Aku kangen banget, semenjak kamu pergi aku tidak punya teman curhat sebaik kamu.” Sambung Mira meluapkan unek-uneknya.
“Iya, maaf ya Putri Kodok ku. Aku menghilang sangat lama. Tapi aku juga kangen kamu. Sungguh!!!” Jawab Tari menghibur.

Jelas sekali wajah Mira terlihat sumringah mendapat telepon mengejutkan dari sahabat lamanya ini. Entah kejadian apa yang dulu pernah terjadi sehingga mereka mendapat julukan seperti itu di kelas. Diiringi tawa mereka kembali mengingat masa-masa dulu SMP. Rasa lesu yang seharian ia rasakan berubah drastis. Mira kegirangan dan terasa semua masalah yang sedang dia hadapi memudar dan hilang. Berpisah setelah lulus SMP karena Tari melanjutkan SMA dan tinggal di Bogor bersama paman dan bibinya. Meskipun mereka 1 kampung halaman, semenjak Tari pergi, Mira sangat kesepian. Mira sempat beberapa kali ke rumah Orangtua Tari yang rumahnya berada di dekat kota. Sesekali membawa kue untuk Ibu Tari yang dipesannya dari Ibu Mira. Ibu Mira pintar membuat kue dan setiap ada acara keluarga, pasti memesan di Ibu Mira.

“ke sini lah main. Biar dapat ngobrol. Hampir 10 tahun berlalu banyak hal yang ingin aku ceritakan. Aku benar-benar kesepian.” Tambah Mira meyakinkan. “Oh ya, kamu masih kuliah? Apa sudah kerja? Sekarang tinggal di mana?” Mira melanjutkan lagi dengan banyak pertanyaan.
“ehm, aku sudah lulus kuliah. Sudah kerja. Sekarang liburan lama, mau kangen-kangenan di kampung dulu sama keluarga. Dan… Sudah dapat jodoh juga. hehehe…” Tari menjelaskan dengan malu-malu. Mira hanya sesekali menggoda Tari “ciehhhh!!!”

“Aku beberapa hari lalu sempat kerumahmu. Sekalian pesan kue juga. Tapi kamu masih di kota. Hanya ketemu sama Bu Yani saja, lama ngobrol sama beliau dan sebelum pulang aku dikasi banyak kue enak.” tambah Tari.
“Jadi hanya bisa dapat nomor hp mu saja. Sorry ya baru sempat kabari. Aku ganti no beberapa kali. Hp sempat rusak, semua kontak hilang. Semenjak kuliah aku jarang pulang kampung karena bnyak kegiatan di kampus. Dan sekarang di sini, aku juga sibuk urus ini itu.” Jelas Tari panjang lebar meyakinkan keraguan Mira.

“Iya deh, santai aja. Yang penting kamu sudah kembali sekarang. Aku 4 hari kedepan masih libur juga. Kalau kamu sibuk, gak apa-apa, aku saja yang main ke sana ya? Okey…” jawab Mira dengan pasti.
“Iya… iya… boleh lah, atau kalau begitu sekalian aja nanti pas 3 hari lagi ke sini ajak bapak ibu sama adik Mira yahh.” Balas Tari membuat Mira penasaran.
“wahhh… bakalan ada pesta nie, asikkk!!! Tapi kan bulan ini bukan ultahmu. Ehmm, Pesta penyambutan kamu pulang ya?” tanya Mira lagi
“hahahha… nggak Ra, Bu Yani belum ada cerita ya sama kamu. Aku mauuu… aku mau nikah… ” Samar-samar suara Tari terdengar seperti petir menyambar telinga Mira dan seketika Mira tanpa ekspresi. Kaget bukan main, lama tidak bertemu dan mendapat berita yang luar biasa dari sahabatnya ini.

“What???” Respon Mira kaget. “Serius??? becanda kamu ah…” Bantah Mira Lagi tidak percaya.
“Iya serius, 3 hari acara resepsinya. Kamu harus datang. Awas kalau tidak datang!!!” Balas Tari mengancam dengan nada yang sedikit tinggi.
“Dadakan gini, bikin shock saja, surat undangan tidak ada, ehmm, terlalu… kamu!!!” Sambung Mira

“Iya waktu aku ke rumahmu, aku lupa kartu undangannya. Niatnya mau ketemu kamu langsung, ehh kamunya gak ada, ya begitu… kayak gak tahu aku aja, masih sama seperti dulu..” Balas Tari membela diri.
“hahaha… iya aku mengerti lah. Orang kita sama. Dasar pelupa. Haaahahha…” Gelak tawa keduanya semakin menjadi setelah percakapan tersebut.

“Siapa nie Calonnya? Orang mana? Teman kuliah atau teman Kerja? Ayo dong cerita???” Mira memulai pembicaraan lagi dengan memelas.
“Teman SMP kita, si Ag…”
– HP MIRA MATI –
“Aishhhh…siallll!!!” Mira menggerutu dan segera lari ke luar kamar mencari Ibunya.

“Bu… ada lihat charger Hp Mira? Tadi pagi rasanya masih di kamar, Mira cari tidak ketemu tadi.” Ibunya masih sibuk membuat Kue di dapur bersama Rani adik Mira.
“Aku tadi yang pinjam kak, maaf tidak bilang. Kak Mira masih tidur jadi Rani tidak berani ganggu. Chargernya ada di kamar Rani, ambil saja sudah selesai kok dipakai” Jawab Rani menjelaskan.
“Ohh… okay.” Balas Mira lega. “Bu… katanya Tari sempat ke sini ya?” Sambung Mira lagi dan menyandarkan tubuhnya di kursi. Di depan Mira terlihat meja makan penuh dengan baskom tempat adonan kue Ibu Mira.
“ehmmm… yang lain semua sudah pada laku, Mira saja yang masih seperti ini.” Mira mulai bergumam tidak karuan. Ibunya saling pandang mata dengan Rani sambil tersenyum.

“Bukannya tidak laku sayang.” Perlahan Ibunya mendekat ke arah Mira. Membuka selop tangannya yang penuh bekas adonan kue. Dibelainya lembut wajah Mira dengan kedua tangannya.
“Kamu Cuma belum punya keberanian untuk membuka hatimu sekali lagi untuk orang lain yang sedang menunggumu. Suatu saat nanti pasti juga kamu akan menikah. Jangan pernah berhenti melangkah. Percayalan pada dirimu sendiri. Jalan di depan masih panjang. Umur bukan batasan. Pasti Mira akan menemukan orang yang tepat. Asalkan…” Ibu Mira menghentikan pembicaraan. Nasehat Sang Ibu menusuk sanubarinya yang paling dalam. Mira hanya diam terus memandang wajah yang penuh kehangatan didepannya ini. Ingin rasanya menangis. Tapi Mira belum siap untuk menceritakan apa yang terjadi dalam kehidupannya di luar sana. Ibu Mira kembali tersenyum melihat ekspresi wajah lugu anak pertamanya ini.
“Asalkan kamu mau membuka hatimu, percayalah.” Lanjut ibunya sembari menunjuk kearah dada Mira. Mira pun terhanyut menerawang entah ke mana pikirannya saat ini.

“Oh ya Mira. Ibu hampir lupa. Tadi siang ada teman SMPmu nitip sesuatu. Katanya surat, sepertinya penting.” Ibunya segera beranjak ke arah tempat kulkas dan mengambil sesuatu yang tergeletak di atas kulkas sedari tadi. Sebuah amplop berwarna coklat. Mira semakin penasaran. Bergegas ia menghampiri ibunya. Tidak ada teman SMP yang ia kenal dekat selain Tari. “Zaman sekarang masih pakai surat-suratan? Ada-ada saja.” Katanya dalam hati.
“Yang ke sini laki-laki, pakaiannya rapi sekali. Ibu kira itu Bos Mira. Ehh.. ternyata bukan. Ibu juga lupa siapa, belum dapat ngobrol apa-apa karena dia buru-buru.” Lanjut Ibunya dan menyerahkan amplop itu ke Mira. Hari ini begitu banyak hal-hal mengejutkan. Dibulak balik amplop itu dan bergegas Mira membuka isinya.

Ekspresinya sekarang perlahan mulai aneh. Matanya sedikit melotot tak berkedip memandang apa yang dipegangnya. Badannya kaku. Sebuah surat undangan berwarna merah hati dan terselip juga sepucuk surat tulis tangan berwarna merah muda di belakangnya. “Surat undangan lagi!!!” gerutunya dalam hati. Perlahan ia buka surat itu. Tangannya gemetar penuh rasa penasaran.

“AGUS DWI PUTRA & TARI MAHARANI”

“nyessssss…” hatinya seperti sedang teriris saat membaca undangan itu. Jantungnya berdebar kencang. Sesekali dikedipkan matanya untuk memastikan nama yang tersirat di kartu undangan itu. Tapi ini nyata. Bukan hanya masalah nama yang tertera, tetapi bertambah shock bukan main ketika melihat foto di dalam undangan itu. Foto seseorang yang yang ia kenal 1.5 tahun lalu di tempat kerjanya, seseorang yang setahun ini terus dia pikirkan, seseorang yang terus membuat dia menunggu kepastian. Dan sekarang…
“Iya benar, itu memang Tari, tapi laki-laki di sebelahnya itu!!?? Yang merangkul mesra Tari… adalah…”
Kaki Mira lemas, kaget setengah mati, dadanya sakit, nafasnya seperti terhenti, Mira memegang sisi pintu kulkas di sampingnya dan jatuh bersimpuh di lantai sambil menitikkan air mata.

“Mira…aaa..!!!” “Kak.. Miraa..aa!!!” Sontak Ibu dan Adiknya menghampiri Mira dengan kaget. Mira masih menangis, menunduk, diam tak bicara saat dipanggil oleh Ibu dan Adiknya. Dia terus menangis tersedu-sedu tak tertahankan.
“Mira sayang ada apa? Mira ayo… lihat ibu! Miraaa… Mira…!!!” Segera Ibu memeluknya. Diusapnya rambut mira yang menutupi wajah Mira. Mencoba menyadarkan anaknya yang histeris. Dan Rani pun hanya diam terpaku melihat kakaknya seperti ini. Tidak seperti Mira yang biasanya ceria. Mereka pun membopong Mira ke kamar.

Sejam berlalu, Mira hanya duduk di meja belajar dalam kamarnya sambil memandang kedua surat yang ia terima tadi. Rasa tidak percaya masih membalut pikirannya. Roh seperti tidak lagi dalam tubuhnya. Hanya bengong. Walaupun tidak sehisteris di luar tadi, dia masih tersedu pelan. Matanya merah bengkak karena menangis. Nafasnya masih tersendat-sendat dengan hidung yang sedikit mampet karena lama menahan tangis setelah di kamarnya sendirian. Sesekali diusapnya lembut pas bunga mawar putih kesukaannya yang ada di samping meja. Moodnya sangat kacau hari ini. Perasaan yang dari lama tertahan sekarang berakhir dengan luapan air mata kesedihan. Entah harus bahagia karena sahabat baiknya menikah. Atau harus sedih karena pria yang ia tunggu kabarnya dari setahun ini akan menikah dengan sahabat dekatnya sendiri. Dunia sungguh sempit.

Bingung dan sedih. Haruskan ia baca surat berwarna merah muda di depannya itu? Akankah ada jawaban dari untaian kata di surat itu untuk penantiannya selama ini.

Semua berawal saat Mira dipindah tugaskan ke store oleh-oleh yang berlokasi di area Pariwisata Denpasar Selatan. Panjang cerita ia bertemu dengan Dwi saat mereka dalam 1 Bus perjalan ke tempat bekerja yang kebetulan satu lokasi di area pariwisata tersebut. Hari bergati bulan, tiba bulan ke-6. Dwi dipindah tugaskan ke luar kota karena ia karyawan teladan di perusahaan. Diberikan peluang besar dan semangat dari keluarga serta rekan kerjanya. Ia menerima tawaran jabatannya itu. Ia sempat ragu karena disaat yang bersamaan ia berencana mengungkapkan sebuah rahasia pada Mira. Tapi hal tersebut tak bisa seindah yang diharapkan. Hari terus berlalu, tanpa kabar berita. Komunikasi terputus dan perasaan yang menggantung. Yang Mira rasakan dari satu pihak membuat ia semakin jauh semakin sakit hingga sekarang. Ia tidak berharap lebih hanya ingin mendapat kepastian karena dia pernah duluan menyatakan rasa sukanya pada Dwi.

“Mungkin surat ini adalah jawaban dari penantianku. Kalaupun sudah tidak bisa kenyataan ini dirubah setidaknya aku tahu perasaanya dulu dan aku bisa tenang melanjutkan jalan hidup ku.” Mira mencoba menyemangati dirinya sendiri. Banyak hal yang membebani kepalanya sekarang. Apa yang harus dia lalukan? Datang ke pernikahan Dwi dan Tari, apakah bisa? Apakah Mira bisa kuat melihat mereka? Dalam suasana bahagia mereka apakah Mira pantas meneteskan air mata di sana. Ia pun tak kuat memikirkan semua itu dan menangis lagi.

Setidaknya masih tersisa secuil keberanian dan Mira pun perlahan membuka surat tersebut.
“Mira ini aku Dwi. Apa kamu masih ingat? Maaf mungkin ini sedikit mengagetkan karena aku kembali bersama surat undangan pernikahanku dan Tari. Ceritanya sangat panjang. Setelah aku berangkat ke Bogor dipindah tugaskan. Aku setiap hari menunggu kabarmu. Maaf… tak seharusnya aku berbicara seperti ini. Tak pantas sepertinya karena aku rasa kamu sudah tidak pernah mengingatku lagi. Aku tidak pernah melupakanmu. Mungkin saat bersamaan setelah aku pergi tanpa pamitan langsung, kamu pasti marah besar dan tidak memaafkanku. Aku setiap hari hanya bisa menunggu dan berharap kamu meneleponku ke no hp baru, yang aku sisipkan di surat terakhir yang aku titip di tempat kerjamu. Saat kamu cuti dan aku harus pergi ke Bogor esoknya. Banyak hal yang ingin aku bicarakan, banyak hal yang ingin aku luruskan. Sebelum hari H, 3 hari lagi. Bisakah kita bertemu sebentar saja? Sungguh aku ingin bertemu denganmu. Ini no hp ku 087757341564. Jika kamu tidak keberatan, aku harap kamu bisa meluangkan sedikit sisa waktumu untuk bertemu sebelum terlambat.
Please…

Salam Kangen,
Dwi”

Hanya sakit dan pedih yang tersisa, hatinya bimbang tidak karuan. Perasaanya benar-benar hancur. Air mata tak henti menetes dari matanya. Setelah itu Mira pun bergegas dan pamitan akan ke kota saat itu juga untuk memastikan satu hal. Ibunya tak bisa menghentikan dan Mira pun bergi tanpa persiapan dan bekal apapun.
“Tuhan semoga surat dari Dwi yang dulu, masih ada di rumah” ia tak hentinya berdoa dan berharap kesalah pahaman ini bisa terselesaikan.

TO BE CONTINUE

Cerpen Karangan: Ni Luh Sukariati
Facebook: iluhria[-at-]ymail.com

Nama: Ni Luh Sukariati
tanggal Lahir: 18 Juli 1991
Alamat: Denpasar, Bali
jenis K: Perempuan

Agama: Hindu
Pekerjaan: Karyawan Swasta
Status: Belum menikah
Gol. Darah: o

Cerpen Surat Undangan H -3 (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Takdir Kekuatan Cinta

Oleh:
Malam ini tepat pukul 19.00 aku datang ke acara reunian SMA-ku. Ketika aku tiba di tempat reunian ini, aku banyak disapa oleh teman lamaku dan mereka juga memberiku ucapan

Gadis Lili Putih

Oleh:
Hans memandang ke cangkir kopi di hadapannya. Kini cairan hitam pekat itu tinggal bersisa seperempat dan pemuda pirang tersebut hanya perlu meneguknya sekali agar substrat kental dengan kadar kafein

1 Hati 2 Cinta

Oleh:
Perjalanan cinta memang tidak bisa pernah ditebak. Cinta itu datang dengan tiba-tiba dan tanpa disadari. Terkadang kita sudah terbuai dn teracuni didalamnya. Seperti Adila yang terjerat sebuah cinta ketika

Berakhir Kata

Oleh:
Seperti sebuah kata yang bergantung pada kata-kata selanjutnya, seperti itu pula aku bergantungan padamu. Selalu ingin di sampingmu, meski aku tak pernah tahu tentang kejelasan perasaanmu terhadapku. Masih mengambang

Kupercayakan Pada Udara

Oleh:
“Felly!,” seru seseorang yang tidak asing lagi bagi Felly. Yang tengah berlari menuju Felly dengan nafas yang terengah-rengah. “Bram!” “Hufffttt, lu tuh ya, kocek banget jadi cewek. Cantik-cantik kocek!”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *