Table No 5

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 12 February 2018

Sebuah Caffetaria berdiri tepat di seberang pertigaan biasa aku bekerja, di sinilah mataku berlabuh pada sosok semampai yang tengah duduk termangu berpangku tangan di lengan kursi besinya. Matanya memandang kosong seolah mencari sesuatu yang tak terlihat olehnya. Wajah berparas asia dengan meja yang sama setiap seminggu sekali, pemuda yanag telah lama menempati ruang kosong hatiku. Sesekali dia akan menutup matanya, meneliti setiap garis wajahnya, penegasan pada tulang-tulang rahangnya, bahkan sinar mentari yang hampir menenggelamkan dirinya pun ikut setuju dengan balutan putih membungkus tulang dagingnya. Sungguh mahakarya Tuhan yang sempurna hingga ditata sedemikian rupa.
Kursi nomor lima bersekat dinding kaca di sebelahnya, selalu jadi tempatnya.

“Mbak!” panggilnya menatap ke arah barista di belakang starbucks sambil mengangkat tangannya.
Apa? Aku? Aku hanya melongo di tempat.
“Mel!”
“Ha?”

“Ini anak kumat lagi. Dipanggil tuh,” Barista yang sering dipanggil Rara menegurku sambil menunjuk arah dengan dagunya. Aku bergegas lari ke tempatnya.

Jujur ini pertama bagiku selama setahun belakangan ini hanya bisa melihatnya dari balik starbucks. Ini hal yang lama aku tunggu walau sebenarnya aku sangat gugup sekali. Entah hal bodoh apa yang nanti aku lakukan di hadapannya.

“Mbak, boleh saya meminjam bulpoinnya? Kebetulan milik saya ketinggalan.”
“He? Ah, ya sebentar.”
Otakku benar-benar lamban. Aku sudah tahu ini bakal terjadi, bakalan kelihatan idiot. Berani bertaruh dia tahu betul aku sangat gugup sekali.

Setelah kembali, aku memberikan bulpoin kepadannya. Oh Tuhan, aku tak sengaja memegang tangan dinginnya, jantungku berpacu begitu cepat. Aku bergegas pergi sebelum jantungku akan lompat keluar melihatnya begitu dekat denganku, kurasa sangat dekat atas dasar ukuranku yang belum pernah jatuh hati. Sepertinya dia suka musik, atau dia meman seorang penyanyi? Karena setiap kali dia datang, dia membawa tas gitar yang ditanggalkan di bahunya. Apa dia sedang menulis lagu? Dia melihat ke arahku.

Aku hanya tersenyum manis dan langsung membuang muka, mengutak-atik barang, sok sibuk. Padahal aku sedang malu tiba-tiba dia melihat begitu intens. Walau terbilang sangat konyol, hanya sebuah kebetulan tatapan terjatuh pada arahku, aku kadang merasa sangat senang sekali. Ini kebahagiaan tersendiri buatku.

Ya, hanya ini yang bisa aku lakukan selama ini. Aku pertama kali melihatnya di caffe ini, sehari setelah aku di terima bekerja di sini oleh Om Bimo, pemilik Caffetaria sekaligus adik dari ibuku. Awalnya aku tidak mau bekerja di sini. Membosankan. Setelah saudara kembarku meninggal karena sebuah kecelakaan dua tahun lalu, aku jadi gadis yang menyendiri. Aku satu-satunya yang begitu dekat dengan saudaraku, dia bukan hanya saudara melainkan menggantikan mendiang ayah. Jadi aku begitu kehilangan saat dia pergi juga. Aku menutup diriku di kamar selama berbulan-bulan, lalu aku berusaha bangkit lagi dan menyibukkan diriku dengan pekerjaan berat. Tak salah jika ibu selalu memarahiku jika aku jatuh pingsan karena kelelahan.

Tidak lagi setelah cintaku datang. Dia yang pertama kali masuk di balik pintu caffe ini, menggendong tas gitarnya yang besar berjalan seolah memberi senyuman paling manisnya. Sejak itu aku sering melihatnya duduk sendiri di kursi yang sama sambil melihat lalu lalang puluhan mesin yang bergerak di balik kaca bening itu.

1 minggu kemudian.
Di minggu kedua ini aku berharap dia datang dengan gitar besar di punggungnya. Harap-harap cemas. Tepat pukul 13.00, biasanya dia sudah sampai di sini. Aku mengedarkan pandanganku. Ah itu dia, Oh aku sangat merindukannya. Dari jauh dia menyisihkan rambut gondrongnya ke belakang dengan berjalan melewati trotoar. Aku rasa rambutnya makin panjang, mungkin satu senti?
Dia membuka pintu dan suara lonceng lembut menyambut kehadirannya yang seminggu kemarin telah absen.

Seperti biasa, dia masih memesan specialty espresso dengan one shot dan disajikan ala macchiato dengan buih. Sementara aku masih mengurus pembayaran dari kartunya, dia tiba-tiba berbicara padaku. “Sepi sekali, nona?”
“Oh, sebenarnya hari ini kami buka agak siang karena seseorang menyewa tempat ini,” Jawabku sedikit terbata-bata.
“Begitu,”
“Ya.”

“Ngomong-ngomong, nona bukannya yang minggu lalu mengisi musik di sini?”
Bagaimana dia bisa tahu? Bukannya kemarin dia tidak datang. Apa dia kemarin datang tapi aku tak melihatnya datang?
“Minggu lalu saya tidak ke sini, tapi teman saya kemarin mengambil vidio nona saat sedang menyanyi,” Apa? Vidio?

“Ada apa, nona? Apa nona sedang sakit? Wajah nona pucat sekali,” tanyanya khawatir.
“Ya? Oh tidak apa-apa. Waktu itu penyayi yang biasa di sini sedang sakit, jadi..” Aku tak meneruskan ucapanku karena bos memanggil.
“Em, tapi suara nona indah sekali.” Astaga, dia bilang apa tadi? Aku rasa wajahku sudah seperti udang rebus menahan malu. Aku tersenyum kikuk ke arahnya.

Sepulang kerja kepalaku rasanya pening sekali. Rasanya tak kuat lagi menopang tubuhku, kuseret-seret tubuhku dan sedetik kemudian aku tak ingat lagi kapan terakhir kali aku merasakan kakiku di bumi. Seakan tersesat, aku tesadar di ruangan bercat ungu usang yang tak asing lagi. Kamarku. Dan jam berapa sekarang? 10 malam? Tak kalah terkejut lagi saat petama kali aku melihat tatapan meneduhkan yang selalu menjadi candu bagiku melemparkan tatapan lega padaku. Kerutan di dahinya menghilang. Butuh beberapa menit untukku mencerna semuanya termasuk keberadaannya di sini yang tak aku mengerti. Setelah mendapat seluruh kesadaranku, dia menjelaskan dengan begitu telaten dan lembut padaku. Katanya dia melihatku pingsan di depan caffe saat dia kembali untuk mengambil barangnya yang tertinggal di sana dan mengantarku pulang dengan KTP di handbagku, perlahan aku mengerti semuanya. Aku hanya bisa tertunduk dengan rasa malu dan terima kasihku. Dan tentu saja, ibu uring-uringan, tapi dari situlah aku mengetahui namanya yang setahun terakhir ini duduk meja nomor lima, Reyma. Namanya Reyma atau sering dipanggil Rey.

Semenjak saat itulah kami sering bertegur sapa. Ternyata ada untungnya aku pingsan waktu itu, aku jadi bisa banyak bicara dengannya. Aku mulai terbiasa dengan itu. Banyak hal yang aku ceritakan padanya termasuk saudara kembarku. Disitulah aku tahu bahwa dia seorang komposer, anak tunggal, keturunan Korea-Bandung. Wow, dan tentunya alasan seminggu yang lalu dia tak hadir. Ternyata itu adalah hari peringatatan tiga tahun tunangannya meninggal dunia karena penyakit yang dideritannya. Dan alasan kenapa pula sekali seminggu dia datang ke Caffetaria di meja yang sama, nomor lima. Karena itu tempat dimana dia melamar kekasihnya itu. Aku merasa bersalah tahu itu.

Tiga bulan kemudian, setelah beberapa minggu mengenalnya. Kita jadi semakin dekat, sering keluar bersama, saling mengirim pesan, bermain musik bersama, saling bicara banyak hal tentang negara kelahiran ayahnya, Korea, dan duduk di meja nomor lima. Aku masih seperti dulu, selalu sibuk dengan pekerjaanku. Tapi jika pengunjung sepi kami akan duduk berdua, bercanda dan bergurau bersama. Kadang-kadang sampai lupa waktu kalau banyak pengunjung yang datang sampai kena omel sama teman baristaku di sana.

Sampai suatu hari, di hari yang buruk. Aku mendapat masalah dan bertengkar dengan ibu. Juga dia yang pertama kalinya membawa temannya yang seorang wanita luar biasa cantik. Melihatnya beriringan dengnnya membuatku sangat tersudut. Begitu serasi. Tapi jujur aku cemburu. Aku marah. Aku tidak suka. Dengan senyum tipis kupersembahkan saat dia dan wanita itu memesan minumannya. Seperti biasa Rey memanggilku untuk bergabung dengannya tapi, entahlah egoku begitu besar sehingga tak tahu dari mana asalnya aku melemparkan ekspresi seolah tak menyambutnya dengan baik. Aku tak bermaksud, tapi aku tak bisa menghentikan diriku.

“Apa yang terjadi, Melody?”
“Tidak, Hanya saja saya sedang banyak pengunjung. Kalian silahkan lanjutkan saja dulu. Saya harus melayani pelanggan.”

Sebelum bibir itu meluncur, aku segera melesat menuju starbucks melayani pengunjung yang datang sambil sesekali memperhatikannya bersenda gurau dengannya. Sesekali sang wanita memegang tangan Rey dan mendekatkan wajahnya untuk membisikkan sesuatu. Oh ayolah? Ini terlalu jelas untuk mengatakan cemburu di dalam hatiku. Siapa wanita itu? Apa itu pacar barunya?

Sepulang kerja, Key menungguku pulang tak seperti biasanya. Dia menawarkan untuk pulang bersama sambil berjalan kaki. Sepanjang perjalanan dia banyak bicara hal-hal yang gak jelas juntrungannya, aku hanya menanggapinya dengan anggukan dan sesekali seringai. Sampai di tengah jalan, raut wajahnya berubah. Ada apa? Tiba-tiba berhenti. Aku yang menyadari langkahnya berhenti ikut menghentikannya. Tidak, apa dia marah karena aku tak begitu menggubrisnya dari tadi.

“Aku akan kembali ke Korea minggu depan.” Apa? Tenggorokanku rasanya tersumbat kerikil lancip saat itu juga. Jiwaku seolah rontok semua. Sekuat mungkin kutahan bendungan dalam mataku. Untung kegelapan jalanan menyamarkan duka dalam wajahku saat ini.

Setelah ucapannya yang akan kembali ke korea beserta segala penjelasannya tentang lagu-lagunnya. Seolah aku memintanya memberikan alasan itu padaku, mungkin, harusnya tak ia katakan. Sepanjang jalan menjadi sunyi karenanya. Sesekali hanya suara detukan hak sepatu masing-masing atau geraman kendaraan di sepanjang trotoar. Sampai di depan rumahku, dia memberikan selembar gulungan kertas. Untuk kenang-kenangan katanya, siapa tahu suatu hari bertemu lagi. Dia bahkan mengucapkan seolah tak akan bertemu denganku lagi. Sialan. Mungkin suatu hari nanti dia akan menyesal mengatakannya setelah nanti malah lupa saat bertemu denganku.

Setelah hari itu aku tak lagi melihatnya ada di meja yang sama, pesanan yang sama, waktu yang sama. Semua pergi begitu saja disapu air mataku yang setiap hari semakin terasa miris di ulu hati. Hanya tersisa meja dan bangku yang kosong di ujung sana. Menjadi kesepian tanpa tuannya. Aku jadi sering kembali melamunnkan keberadaannya. Seramai apapun pengunjung rasanya masih sepi sekali. Kalau pengunjung tak ada, giliran aku yang menggantikannya termagu di sana, menerawang jalanan yang sama selama setahun setengah ini. Rasanya aku ada di posisinya dulu, mungkin memang ini yang dirasakannya dulu, atau jauh lebih sakit saat seseorang yang kau biasa lihat dan terbiasa dibayangan pupilmu seketika hilang, kurasa itu kadar rasa yang biasa di lidahmu jadi sebuah kebiasaan yang amat kau sukai dengan kadar yang kafein yang amat tinggi.

Lima bulan setelahnya aku masih di tempatku duduk. Masih di tempat yang sama, tak merubahnya sedikitpun. Dengan kegalauan yang sama lima bulan lalu saat dia mengatakan kepergiannya. Tahu begitu aku tak akan mengacuhkannya. Aku sangat menyesal tak mengatakannya lebih awal. Perasaanku. Karena rasa takutku, semua jadi berlalu sia-sia.

Aku membuka lagi handphone yang lama singgah bersamaku itu menggetikkan namanya, lalu ribuan blog menunjukkan segala kabar kesuksesannya sebagai komposer muda yang berbakat dan kembali berkarya setelah kematian tunangannya, tentu saja. Dan gulungan itu, aku tak pernah berani membukannya, hanya takut kalau-kalau hanya sebuah salam perpisahan yang membuatku makin terluka.

Aku kembali menerawang pertigaan jalan yang sudah mualai lelah terbalut mentari. Suara lagu mulai menggema di ruangan itu, itu artinya sudah jam lima sore, itu artinya sehari ini akan berlalu lagi, dan waktu akan semakin memakan ini semua dengan cepat. Rasanya bahkan seperti lagu yang belum tuntas untuk kau dengarkan. Kau tak akan tahu apa isi lagu itu sebenarnya. Namun seketika suaranya kembali menggema dalam hidupku.
“Hai!”

Beledu itu menelusuk dadaku, menjahit sobekan di dalamnya. Menekannya lebih dalam lagi tapi dengan tekanan yang menyembuhkan. Aku tak tahu apa ini sungguh atau tidak. Dia kembali di hari yang aneh, berdiri tepat di depan mataku.

“Lama tak bertemu. I miss you.” Seketika laguku berputar lagi memberiku ruang untuk memahami segalanya kembali.
Ya, dia kembali. Tentunya dengan gaya yang berbeda. Korea asli. Hari itu terjawab sudah segala kesalah fahaman yang terjadi termasuk pertanyaan, pernyataan, maupun kenyataan yang ada. Dia, maksudku Rey juga menyukaiku. Oh ayolah ini bukan lelucon. Tapi ini yang memang terjadi. Bahkan sejak lama aku bekerja di sana. Kertas itu adalah lagu yang diciptakan untukku. Dia mengatakan semuanya. Ternyata kita sama-sama payah tak berani menghadapi akhir lantaran takut akan sebuah penolakan. Sekarang aku mengerti isi lagu itu. Bukan masalah akhir tapi bagaimana kau melewatinya dari pada hanya berdiam diri bermangu dan menatapnya di balik rasa malumu. Itu akan membuatmu merasa menyesal dua kali dari pada sebuah penolakan yang tiba-tiba. Aku menyesal tak menyadarinya dari awal. Tapi sekarang aku akan lebih berani, tidak untuk menyesal kedua kalinya. Memang apa salahnya sebuah penolakan? Apakah itu berarti dia akan menusukmu dengan bambu runcing? Siapa yang tahu akhir dari lagu itu begitu manis? Atau melankolis?

Tamat

Cerpen Karangan: Anggun Septa Devita Sary
Facebook: Anggun Sedery (Jung Soo Kyung)

Nama saya Anggun septa devita sary atau yang sering di panggil dengan Anggun atau bung-bung (Karakter dalam drama korea) oleh teman-temanku. Aku tinggal di Lamongan dan sekolah di SMAN 1 Karangbinangun pada tahun kedua(kelas XI).
Instagram: anggun0609
Id Line: sookyung06

Cerpen Table No 5 merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Our Promise

Oleh:
“Auryn, nanti kamu nggak langsung pulang kan?” tanya seorang anak laki-laki. “Eh? I-iya enggak. Kenapa Va?” balas gadis bernama Desviana Auryn itu. “Aku… aku mau ngomong sesuatu. Tapi, nanti.

Penyesalan Cinta

Oleh:
“Esti, kamu harus move on dan kembali seperti Esti yang dulu” pinta Rina. “Gak mungkin bisa Rin, aku dan Alan itu sudah pacaran selama 5 tahun dan dia mengkhianati

Bintang 14 Hari

Oleh:
Dua hari lagi liburan kenaikan kelas usai. Semua berlalu tanpa terasa. Hari-hari yang kulewati bersamanya terasa begitu cepat. Bagaikan asap menantang angin, hilang tak tersisa. Bukan, bukan karena tak

Sahabatku Cintaku (Katakan Cinta)

Oleh:
“Sudah menunggu lama tuan bawel” suara itu menghentikan lamunanku memandangi langit sore penuh keindahan, Pandanganku yang begitu lepas tanpa hambatan apapun membuat jiwaku begitu tenang, dan dia yang aku

Aku Yang Tersakiti

Oleh:
Cinta yang tak pernah kumengerti terkadang mengajariku arti memahami segalanya, memahami sebuah rasa, tanggung jawab bahkan arti saling menerima satu sama lain. Aku yang masih berada di sini, kembali

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Table No 5”

  1. Nur Syahira says:

    Aku suka, ending yang manis:))

  2. Dwi widyaningrum says:

    suka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *