Tahajjud Cinta Di Langit Darul Ulum

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 20 November 2017

Putih abu-abu menjadi penyedap rasa dalam kehidupan remaja. Semua orang tentu tau bahwa masa remaja adalah masa-masa yang paling indah. Lima belas tahun usiaku saat ini. Kubuka lembar baru penuh harap di sekolahku ini MA DARUL ULUM.
Temen-temen biasa memanggilku Ain. Yups, nama yang simple bukan?. Di Darul ulum ini pernah kulewati tiga tahun lamanya mengenyam pendidikan tingkat MTs. Nah sekarang sudah saatnya ganti almamater dan juga ganti life style.
Seenggaknya buat nambah pengalaman. Yaa kali aja bermanfaat.

Kucoba bergabung di organisasi sekolah. Banyak pengalaman pahit, asam, manis di dalamnya. Dan karena hal itulah yang akhirnya menjadikanku akrab dengan Chozin.
Dia itu temen seorganisasiku. Perkenalan kami pun cukup unik, gimana enggak? Awalnya chozin ngejek aku habis-habisan sampai akhirnya aku nangis deh. Entah karena merasa bersalah atau gimana Chozin meminta maaf padaku lebih dari lima kali.

Dari hari ke harinya banyak hal-hal lucu dan berkesan di antara kami. Lewat pesan singkatnya yang dikirim kepadaku, Chozin mengungkapkan perasaannya. Katanya sih dia suka sama aku, ciyeeee.. Ya tuhan… aku mimpi ya? Tolong bangunin dong kalau emang aku mimpi.

“Gimana jawabannya, mau gak jadi seseorang yang berarti dalam hidupku?” ungkap Chozin di depanku. Kucoba memperlambat waktu “Lho, kamu gak salah, aku gak kan cuma cewek biasa yang gak punya keistimewaan. Terus, alasan kamu ngomong gini tuh apa?” “kita gak butuh alasan buat cinta. kalau kita nyaman yaudah emang itu yang kita cari” tutur chozin.

25 maret 2016. Ya akhirnya kita fix jadian. Sampai kini hubunganku dengan chozin memasuki bulan ke tiga. Sejauh ini banyak banget hal positif yang aku rasain pas bareng chozin.
Tau gak sih? Jam setengah satu malam chozin bela-belain nge-SMS aku. Tau buat ngapain? Buat ngebangunin aku supaya sholat tahajjud. Subhanallah, inikah malaikat berwajah tampan yang engkau kirim intuk hamba?
Gak cukup sampe disitu, tiap harinya chozin sering banget nge-SMS pake kata-kata yang uh… bikin baper abis-abisan. Pokoknya happy banget deh sama dia. Rasanya gak ada lagi yang diharapin kalau udah ada chozin di sini. Hehehe (lebayy)

Nah, yang namanya hidup, biasanya tuh Allah yang nentuin terus kita yang jalanin baru deh orang lain tinggal ngomentarin. Intinya banyak banget yang gak setuju kalau aku sama chozin ada hubungan.
Banyak banget masalah yang datang satu per satu. Dan alahamdilillahnya semua masih bisa kita atasi sama-sama.

Ada satu rahasia yang sampe saat ini belum aku ceritain ke chozin. Tapi apapun yang terjadi aku bakalan berusaha terbuka ke dia. Mungkin sekaranglah saatnya aku cerita ke dia kalau aku bakalan pindah ke asrama panti asuhan. kalau toh dia berubah pikiran mau ngejauh dari aku ya gak papa deh.

“Yank.. aku pengen cerita boleh gak?” tanyaku penuh keraguan. “cerita aja yank.. aku bakalan dengerin kok” “aku gak tau harus mulai dari mana?” ucapku. “ya dimulai dari awal sayang!!”.
“sebenernya aku mau pindah ke asrama panti, aku nerusin sekolah dari biaya panti” “lha terus masalahnya apa?”. Tanya chozin. “ya, aku takut aja kamu malu punya pacar anak panti. Tapi kalau misalnya kamu pengen udahan sama aku setelah aku jujur kayak gini gak papa kok. Aku tuh gak pantes buat kamu” jelasku.
“Yank… dengerin aku ya? Aku sayank kamu itu bukan atas dasar kelebihan kamu. Aku nyaman sama kamu udah itu aja cukup buat aku. Jadi gak usah mikir aneh-aneh”. Mendengar chozin berkata demikian. Oh, ya allah… inikah yang selama ini hamba tunggu? Jika memang benar dia adalah jawabanbya, izinkan hamba menghabiskan sisa umur hamba bersamanya.

Melalui sujud-sujud kecil di sepertiga malam terakhirku, kuceritakan semua yang kualami ini. Melalui butir-butir tasbih nan suci, kupanjatkan do’a semoga kelak memang dia imamku, yang mampu membawaku pada ridla sang khaliq.
Semua berjalan dan mengalir dengan sendirinya. Hingga aku pun tak menyadari bahwa aku telah banyak berubah karena chozin. Di halaman sekolah deni menyapaku “ain, gimana lacar sama chozin?” Basa-basi deni “ya gitu deh, ada seneng susahnya” jawabku seadanya.
Kufikir deni hanya sekedar basa-basi ternyata dia bercerita banyak tentang chozin padaku. Berhubung dia juga temen deket chozin, aku sempatin deh buat duduk santai ngobrol barebg deni.
Dan dari cerita-cerita deni barusan. Aku juga ngerasain akhir-akhir ini sikap chozin berubah. Kucoba menepis negative thinkingku. Tapi kenyataan tak mendukung. Aku merasa chozin sering menyembunyikan sesuatu dariku. Ah, sudahlah.
Tapi gimana yaaa? Chozin udah jarang banget ngingetin aku buat sholat tahajjud. Gak prnah nanya hal-hal positif kayak dulu lagi. Intinya dia lebih sering ngomongin hal-hal yang menurutku gak penting dan akhirnya bikin kita jadi bertengkar.

Sampai pada perdebatanku dengan chozin yang terakhir. “kamu kenapa sih kok sekarang jadi kayak gini ke aku?” aku memulai pembicaraan. “kamu berubah, itu yang gak aku suka” jawabnya singkat. Perdebatan kami tidak berhenti disitu.
Dimana akhirnya aku memilih untuk mundur dan terus meminta maaf padanya. Mungkin aku gak pantes buat dia. Oh ya.. bukannya aku udah tau itu dari awal ya… dan semenjak hari itu aku udak gak pernah lagi contact sama chozin. Bahkan untuk sekedar menyapa pun gak pernah meski kita ketemu tiap hari.

Ya allah, usai hari itu. Kadang aku kangen banget masa-masa bareng dia. Secepat inikah semua berubah? Salah ya kalau aku rindu sama dia? Kangen… Apalagi pas waktu dia marah-marah kalau aku salah. Aku pengen banget dimarahin dia kayak dulu. Iya kayak pas dia ngejewer telingaku waktu aku ngomong ngawur.
Aku merindukan suara lembutnya yang selalu menegurku untuk bertahajjud. Ke mana ucapan lembbut itu? Ke mana tutur kata santun itu yang mengajariku tentang arti berssyukur dalam hidup?
Ke mana seseorang yang merunbah jalan pikiranku? Ke mana dia yang sempat mengisi kosongnya hati ini? Bahkan untuk meminta maaf saja aku tak mendapat kesempatan. Mungkin dia sudah bosan dengan keadaan bersamaku yang monoton ini.
Dia yang pernah bertahta dalam singgasana hati ini, selamanya akan tetap ada di sini. Yang membuatku bersujud di sepertiga malam terakhirku. Sungguh tak peduli seberapa jauh pun ia pergi. Aku di sini tetap menanti kembalinya dengan sejuta harap di hati.

Mengenalnya, pernah bersama dengannya itu sudah lebih dari cukup untukku. Karena dialah yang mampu membuatku bersujud dalam hening. Di bawah langit darul ulum ini akan tergores sebuah sejarah bahwa ain pernah mencintai chozin karena akhlaqnya.

Cerpen Karangan: Siti ainun
Facebook: El Stain FairyDreamer

Cerpen Tahajjud Cinta Di Langit Darul Ulum merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Let Me See Your Smile (Part 3)

Oleh:
Jam istirahat tiba. Kayla melangkahkan kakinnya sendirian menuju perpustakaan. Tadi sih dia udah ngajak Faris. Tapi si Faris ada latihan karate buat kompetisi minggu depan. Hari ini dia akan

Lady Luck

Oleh:
Apakah di dunia ini hanya memandang dan melirik wanita yang sempurna? dalam artian memiliki wajah yang sempurna, kulit yang sempurna, tinggi badan sempurna serta badan yang sempurna. Segalanya serba

Aku Bukan Layang Layang

Oleh:
“Maaf Dany, hubungan kita sepertinya sampai di sini saja!” “Kenapa Nisa? Bukannya beberapa hari lalu kamu sudah berjanji untuk terus bersamaku, bahkan hingga kita menikah nanti?” “Maaf, aku minta

Cintai Aku (Lagi)

Oleh:
Cinta itu unik. Kita tidak akan pernah tau kapan kita akan jatuh cinta. Tidak akan tau siapa yang akan meluluhkan hati kita. Dan tidak akan pernah tau apakah cinta

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *