Tak Bisakah Kita Hanya Bersahabat?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 28 January 2017

Kenalkan namaku Bintang, saat ini tengah menempuh kuliah semester 4 di salah satu Universitas Swasta. Aku tidak sendirian, ada sahabat baik yang selalu setia menemaniku. Namanya Dion, pria bertubuh kurus, tinggi, dan berambut hitam lurus. Kita sudah bersahabat lama, lebih tepatnya semenjak duduk di bangku SMA.
Dimanapun aku berada, pasti ada Dion. Semua teman-teman mengetahui tentang persahabatan kami. Mereka juga tau, kalau kami tidak dapat dipisahkan. Bahkan dalam berbagai kegiatan sekolah, kita berdua selalu terlibat bersama-sama. Kalau Dion tidak ikut, maka aku pun akan melakukan hal yang sama. Begitu pula sebaliknya.

Aku masih ingat betul, persahabatan kami mulai diuji waktu kelulusan sekolah tiba. Awalnya Dion menemuiku, dan mengatakan keinginannya untuk melanjutkan kuliah ke luar kota. Terang saja, aku kaget dengan keputusannya. Namun usai berpikir selama beberapa hari, ternyata aku tidak sanggup jauh darinya. Aku merasa ada yang kurang dalam hidupku.
Aku takut tidak bisa bertemu maupun bercanda tawa lagi dengannya. Sebab cuma bersama dia, hari-hari yang kulewati terasa menyenangkan. Aku bisa melakukan berbagai hal konyol, tanpa merasa canggung sedikitpun. Dia pun juga dapat mencairkan suasana hatiku yang sedang buruk.

Malam itu aku pergi ke rumahnya, untuk memintanya tidak pergi dan tetap tinggal di kota ini saja. Beruntung, Dion menyanggupi permintaanku. Alhasil dia mengubah keputusannya, dan memilih tinggal. Kami pun akhirnya masuk ke Universitas yang sama. Hanya saja jurusan yang diambil berbeda. Aku memilih jurusan Ekonomi, sementara Dion memilih jurusan Teknik Sipil. Meskipun berbeda jurusan, tapi tidak jadi masalah. Asalkan kita masih bisa saling bertemu dan menghabiskan waktu bersama.

Persahabatan kami terus berlanjut, Dion selalu menyempatkan waktu untuk menemuiku di sela-sela kuliahnya. Tak hanya sekedar mengajak untuk makan bersama, juga membicarakan kejadian-kejadian lucu di kelasnya. Aku pun selalu dibuat tertawa terbahak-bahak oleh ceritanya. Kebiasaan kami tidak berubah sedari dulu, melainkan masih terbawa hingga sekarang. Dia juga sering mengantarku pulang dengan sepeda motornya.

Sampai suatu saat sikapnya mulai berubah. Dia jadi dingin terhadapku, dan tidak pernah menemuiku lagi. Beberapa kali kami berpapasan, namun dia langsung pergi begitu saja tanpa berucap apapun. Aku jadi merasa bingung dan cemas. Sebab tidak biasanya dia bersikap seperti itu. Dan ini sudah waktu yang cukup lama kalau memang dia marah, karena kejadian beberapa minggu lalu.

“Bintang! Tunggu!” teriak Dion menarik tanganku.
“Apa? Aku harus bergegas pergi!”
“Kenapa kau buru-buru sekali? Baru juga ketemu, udah mau pergi lagi?” keluhnya.
“Iya aku tau, tapi Lintang sudah menungguku,” sahutku cemas, memikirkan Lintang yang sedang menungguku di taman.
“Lintang lagi, kapan kamu ada waktu buatku?!” sentaknya melotot ke arahku. Baru kali aku melihat sorot matanya yang nampak kesal, tidak seperti biasanya.
Aku kembali berpikir, mengapa dia menanyakan hal itu. Bukankah dia tau kalau aku dan Lintang berpacaran, jadi waktuku sudah pasti akan lebih banyak bersamanya. “Nanti kalau urusanku dengan Lintang udah selesai, aku pasti menemuimu lagi.”
“Ya, terus saja begitu. Dari kemarin kan kamu juga selalu bilang begitu, tapi ujungnya kamu tidak lagi menemuiku!” ketusnya membuatku makin bingung.
“Dion, kenapa kamu berbicara seperti itu? Kamu tau kan, aku dan Lintang pacaran. Bahkan kamu adalah orang pertama yang mengetahuinya.”
“Iya aku tau kalau kalian pacaran. Tapi apa kamu lupa, kalau aku yang lebih dulu mengenalmu dari pada dia!”
“Apa maksudmu? Kau tau dengan pasti, kalau kita sudah saling mengenal sejak dulu. Lalu kenapa sekarang, kau mempertanyakan apa aku lupa atau tidak?”
“Kalau kamu ingat, lalu kenapa hanya untuk mengobrol denganku saja kau tidak ada waktu?”
Benar juga ucapannya, semenjak jadian dengan Lintang, aku memang lebih sering menghabiskan waktu bersama pacarku, ketimbang dengan Dion. Bahkan kami juga jarang mengobrol seperti dulu. Aku jadi merasa bersalah padanya. Tapi aku tidak bisa membiarkan Lintang sendirian terlalu lama. “Dion, aku mohon mengertilah. Bukan begitu maksudku, tapi saat ini waktunya sedang tidak tepat. Lintang lagi nungguin aku.”
“Ya, oke aku mengerti. Pergilah!” usirnya memalingkan muka.
Aku jadi merasa makin bersalah padanya. “Dion, jangan bersikap seperti ini donk?” pintaku sambil menyenggol lengannya.
“Kamu sekarang benar-benar berubah. Tidak seperti Bintang yang aku kenal dulu!” lanjutnya berbalik menatapku, nampak kesal.
“Apa maskudmu? Aku masih sama dengan Bintang yang kamu kenal. Tak ada yang berubah dariku.”
“Tidak! Kamu bohong! Kamu berubah, semenjak kenal dengan cowok itu!” serunya menatap tajam mataku. Aku pun jadi bergidik melihat tatapannya yang penuh kemarahan.
“Kamu ngomong apa sih?!” sahutku bingung dengan perkataannya.
“Aku pikir, setelah memutuskan untuk tetap tinggal buat kamu. Kamu akan terus berada di sisiku. Nyatanya tidak! Kamu justru semakin jauh, lebih tepatnya sejak kenal Lintang. Kamu jadi sering menghabiskan waktu dengannya, dari pada bersamaku.”
Mendengar ucapannya membuatku semakin bingung. Apa yang tengah ia bicarakan, menurutku ini diluar batas kewajaran sebagai seorang sahabat. Kalau dia memang benar sahabatku, harusnya dia mengerti keadaanku. Dan membiarkanku menghabiskan waktu bersama Lintang, karena memang dia itu pacarku.
“Dion, hentikan! Apa yang kamu bicarakan? Omonganmu sudah ngelantur kemana-mana!” bentakku. Dion pun menatapku heran, aku lekas mendekatkan wajahku padanya. “Dion mengertilah, kau adalah sahabatku. Begitu pula sebaliknya, aku ini sahabatmu. Kita tidak akan terus bersama-sama, apalagi sekarang. Lintang adalah pacarku, pastilah aku mengutamakan dia. Bukannya aku tidak memikirkanmu, tapi mengertilah kalau aku juga harus ada buatnya,” jelasku sembari memegang bahunya.
“Wushh…!!!” Dion menyingkap tanganku dari pundaknya, dan ngeloyor pergi tanpa berucap apapun. Aku terus menatap punggungnya yang perlahan menghilang dari pandanganku.

Semenjak itulah, kita tidak lagi saling bertegur sapa satu sama lain. Dion tidak lagi mendatangi ataupun mengajakku pergi. Aku memang berpacaran dengan Lintang, kita sering keluar bareng. Sekedar untuk nonton film maupun makan malam bersama. Tapi entah kenapa, akhir-akhir ini justru pikiranku dipenuhi oleh bayangan Dion. Canda tawanya, tingkahnya yang konyol, serta perhatiannya memenuhi isi kepalaku. Aku sampai tidak sadar, kalau sedari tadi Lintang ada di sampingku.

“Bintang, kamu paham kan dengan apa yang aku bicarakan?” tanyanya.
“Hah… apa?” kagetku bingung tidak mengerti sama sekali.
“Kamu melamun ya? apa ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya Lintang lagi, meraih tanganku.
“Sedikit…”
“Apa kamu masih memikirkan soal Dion?”
“Aku cuma kepikiran, kenapa sikapnya mulai berubah. Kamu lihat sendiri kan sikapnya kemarin? Waktu kita papasan sama dia?”
“Iya,” sahut Lintang mengangguk. Kemarin kita memang sempat bertemu dengan Dion, tapi dia langsung melengos waktu melihat aku bersama Lintang.
“Sudah beberapa minggu ini, sikapnya dingin padaku. Kita juga tidak lagi saling mengobrol. Kamu tau kan, kalau dia sahabat baikku. Melihat sikapnya seperti sekarang, tentu saja itu mengganggu pikiranku.”
“Iya aku paham,” sahut Lintang menarik tubuhku dan menyandarkan kepalaku di dadanya. Dengan lembut ia mengusap kepalaku. “Besok, coba kamu temui dia. Ajak dia bicara baik-baik. Siapa tau, dengan begitu hubungan kalian bisa kembali membaik,” lanjutnya. Inilah yang membuatku nyaman bersamanya. Sikapnya yang penuh kasih, menjadikanku terus ingin bersamanya.

Keesokannya aku langsung menemui Dion, sesuai saran dari Lintang. Seperti dugaanku, dia menghindariku. Namun aku tidak menyerah begitu saja, dan bergegas mengejarnya. Menurutku persoalan ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Aku masih belum paham, tentang sikapnya yang mendadak berubah.

“Dion! Tunggu!” teriakku menarik lengannya. Langkahnya pun terhenti.
“Apa?!” sahutnya ketus.
“Kita harus bicara, aku tidak bisa melihatmu terus menghindariku!”
“Aku rasa tidak ada lagi yang harus kita bicarakan. Lagian bukankah ini maumu?”
“Tidak Dion, kamu salah!” bentakku.
“Apanya yang salah? Kamu sendiri kan yang bilang, kalau kita tidak akan terus bersama-sama! Aku paham maksudmu. Jadi pergilah, temui pacarmu itu!”
“Dion, kamu salah paham. Bukan itu maksudku!” aku menghela napas sejenak, mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan maksudku padanya. “Dion kau adalah sahabat baikku, jadi mana mungkin aku tidak memikirkanmu. Pastilah aku memikirkanmu. Tapi kau harus mengerti, kalau sekarang aku berpacaran dengan Lintang. Sudah pasti waktuku terbagi untuknya. Nanti kalau kamu bertemu seorang wanita yang mampu membuatmu jatuh cinta, kau pasti juga akan memberikan waktumu untuknya, bukan lagi untukku. Maka dari itu aku bilang, kalau kita tidak akan bersama-sama terus. Karena suatu saat kita akan menemukan tambatan hati masing-masing.”
“Aku paham maksudmu Bintang, jadi biarkan saja semua seperti sekarang!” ketusnya melangkah melewatiku.
“Mana bisa aku membiarkanmu terus menghindariku?!” teriakku.
Ia pun berbalik dan berjalan mendekatiku. “Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanyanya menatapku tajam.
“Aku ingin kita seperti dulu, bisa bercanda tawa bersama lagi.”
“Tidak Bintang. Aku tidak bisa.” sahutnya menggeleng.
“Kenapa tidak?”
“Kamu tidak akan pernah mengerti. Kamu menganggapku sahabat bukan? Itulah mengapa aku bilang kalau kamu tidak akan pernah ngerti.”
“Apanya yang tidak aku ngerti? Kalau kamu bilang, pasti aku ngerti.”
“Oke! Kalau itu maumu, aku akan mengatakannya padamu,” tukasnya. Nampak ia sedang mengambil sesuatu dari kantong celana. Ternyata Dion mengeluarkan sebuah dompet, tapi aku masih tidak mengerti maksdunya. “Kamu lihat?!” serunya menyodorkan dompet, terlihat ada fotoku bersama dirinya.
“Itu kan foto kita?”
“Iya memang benar ini foto kita. Tapi kamu tidak tau kan, kenapa aku menyimpannya di sini?” aku pun menggeleng. “Kau menganggapku sahabat bukan?” tanyanya, aku mengangguk pelan. “Tapi aku tidak begitu, aku menganggapmu lebih dari sekedar sahabat. Kau mungkin masih belum paham tentang apa yang aku rasakan. Karena aku tidak bisa mengatakan perasaanku dengan mudah. Namun aku masih berharap, kalau suatu saat kau akan mengerti.”
Rasanya seakan mendapati letusan kembang api, yang mampu menggetarkan hati. Begitu pula dengan yang tengah aku rasakan sekarang ini. Jantungku berdebar tidak karuan, makin penasaran dengan apa lagi yang ingin ia katakan.
“Aku sudah mencoba mengatakannya padamu, ketika aku memutuskan untuk tetap tinggal di kota ini. Apa kau tau, kenapa? itu aku lakukan buat kamu! Aku tidak ingin meninggalkanmu. Karena keputusanku pula, perasaanku padamu jadi semakin bertambah. Andai saja, waktu itu kau tidak menahanku. Mungkin saja aku bisa mengakhiri perasaanku saat itu juga.”
“Dion…” ucapku lirih tak menyangka, kalau Dion bakalan mengatakan hal demikian.
“Ya Bintang, kau sudah mengerti bukan sekarang?”
“Bagaimana bisa kau memiliki perasaan sedalam itu padaku. Bukankah kita selama ini bersahabat?”
“Iya aku tau kalau kita bersahabat. Lalu aku harus gimana, kalau nyatanya perasaan itu muncul begitu saja dalam hatiku?! Katakan!!!” gertaknya menatap mataku. Aku melihat kemarahan dalam matanya, yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Aku pun cuma tertunduk, tidak berani menatap matanya.
“Tapi aku mencintai Lintang… dan aku tidak mungkin meninggalkannya…”
“Aku paham! Karena itulah, aku menjauh darimu!”
“Dion, tidak bisakah kita hanya sekedar bersahabat? Aku tidak ingin kehilangan sahabat sepertimu…”
“Tidak Bintang! Tidak lagi! Lebih baik kita saling menjauh, dari pada harus terus bersama!” tandasnya melangkah pergi meninggalkanku.

Kini aku sadar, mengapa beberapa minggu ini sikapnya dingin terhadapku. Ternyata dia mencintaiku, hanya saja tidak mengatakannya padaku. Aku pun juga tidak pernah melihatnya sebagai seorang laki-laki yang menunjukkan perhatian kepada wanita yang dicintainya. Aku hanya melihatnya sebagai sahabat.

Cerpen Karangan: Putri Andriyas
Blog / Facebook: www.putriandriyas.wordpress.com / Putri Andriyas
Saat ini tengah sibuk membuat cerpen dan aktif berbagi cerita yang inspiratif juga menyenangkan lewat blog. Untuk mengetahui lebih lanjut, bisa kunjungi blog pribadi saya.
www.putriandriyas.wordpress.com
Ingin kontak saya? bisa via email maupun facebook.
Email : putriandriyas[-at-]gmail.com
Facebook : @putriandriyas

Cerpen Tak Bisakah Kita Hanya Bersahabat? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I Miss You Boy

Oleh:
Rintik hujan malam ini mengingatkanku pada sebuah kenangan tentang seseorang yang pernah mewarnai kehidupanku. Dia adalah sosok lelaki dengan penuh kehangatan kedua setelah ayahku. namun sayangnya aku bodoh, telah

Kok Sama Sih!

Oleh:
“Hei, kalian lihat nih! tas baruku. Mamaku membelinya di paris loh.” kata viona sambil menunjukkan tas barunya itu. Tak perlu menghitung menit, semua anak langsung mengerubungi viona. “Huuh… viona

The Gift

Oleh:
Pagi ini aku terbangun dari fantasi malamku, sejenak aku terdiam mencoba mengingat kembali alur demi alur cerita di dalam mimpiku tadi malam. Dan sampailah aku kepada satu bagian mimpi

Surat Pembawa Luka

Oleh:
Sepulang sekolah, Pandu dikagetkan oleh secarik kertas terlipat persegi dari dalam tasnya. Warnanya hijau muda cerah dengan sedikit hiasan samar seperti goresan tinta batik tipis berbentuk bunga. Dibolak-bolik kertas

Sahabatku Seorang Penyihir

Oleh:
Claire menghela nafas kelelahan. Seperti biasa, di hari libur ia melakukan aktifitas olahraga pagi dengan cara jogging di taman kota. Di bawah pohon taman yang cukup rindang itu, Claire

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *