Tak Memiliki

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 1 February 2017

Di sore hari sabtu itu ketika aku di rumah hanya seorang diri, mama dan adikku pergi entah kemana sedangkan aku di rumah sendirian. Hari itu adalah hari ulang tahunku bertepatan tanggal 10 september pada hari sabtu, aku berharap orang yang pertama yang mengucapkan “selamat ulang tahun” sesudah orangtuaku adalah dia, aku tidak berharap diberi hadiah olehnya yang aku harapkan dia orang pertama yang mendoakanku.

Ketika pukul 17:42 datanglah seorang perempuan yang memakai kerudung berdiri di hadapan rumahku sambil membawa bingkisan, ternyata perempuan itu adalah tetehku. Tidak lama berdiri di depan pagar rumahku akhirnya aku pun menyuruhnya untuk masuk, “ayo teh masuk” sautku.
“Iya dil ini teteh juga mau masuk” jawab tetehku, karena aku penasaran apa yang dibawa oleh tetehku, akhirnya aku pun bertanya “teh itu apaan? Bingkisan, buat siapa?” Tanyaku, “ini kue buat dila, happy birthday ya dila, inj mamah dila yang beliin” jawab tetehku, “makasih teh, terus sekarang mamanya dila mana” tanyaku penuh bahagia, “lagi di rumahnya teteh” jawab tetehku, “oyaudah ayo duduk teh, silahkan minum” sautku sambil basa basi.

Karena aku puasa pada saat itu, akhirnya mama aku pun pulang dan karena beberapa menit lagi adzan magrib dan waktunya aku berbuka puasa, aku pun bergegas menanyakan kepada mamaku, “mah kenapa mamanya teteh enggak diajak ke sini” tanya ku, “iya bentar lagi kali dil” jawab mamaku.

Pada akhirnya aku pun pamitan kepada mama dan tetehku, kalau aku ingin memanggil mamanya tetehku untuk hadir di acara ulang tahunku, “mah dila manggil mamanya teteh dulu ya, assalamulaikum” ucapku, “iya cepat ya dil” jawab mamaku.

Sesampai aku di rumah tetehku, tanpa basa basi aku langsung baca “assalamulaikum bi” ucapku, “waalaikum salam dil, aya naon atuh dil” jawab bibiku, “ayo ke rumah dila bi, dila mau potong kue” jawabku tergesa gesa, “bibi mah enggak bisa dil, gimana febri teh datang ke rumah kamu” tanya bibi ku, “dila teh engga tau bi, febrinya dila bbm malah ceklis” jawabku lemas, “ya udah atuh dil, kamu teh tunggu aja di rumah” ucap bibiku, “iya bi” jawabku.

Adzan pun berkumandang “allahukbar allahuakbar” aku pun langsung berbuka puasa di rumah bibiku dengan segelas air putih, “kamu teh enggak makan dil” tanya bibiku, “enggak bi dila teh mau balik aja mamah udah nungguin” jawabku “iya udah hati hati ya dil” ucap bibiku “iya bi, assalamulaikum” jawabku.

Sesampai aku di rumah kue ulang tahunku pun telah dibuka dan ditaruh di depanku, “mah bentar dulu, dila nungguin teman bentar” ucapku sambil seperti tidak bersemangat, “iya” jawab mamaku.

Akhirnya aku mendengar suara motor lalu aku keluar dengan harapan itu adalah orang yang aku tunggu tunggu febri. Tidak salah lagi ternyata benar itu febri, “febri ayo ke rumah” ujarku, “febri mau ke rumah teman dil, ya udah dila potong kue aja sama mama di rumah” jawab febri, “ya udah hati hati ya feb” ujarku. Setelah aku merayakan ulang tahunku yang ke 16 tahun ini bersama keluargaku, aku pun bertanya kepada mamaku, “ma boleh gak entar selesai ini dila pergi sama febri bentar gak lama kok gak nyampe jam sembilan” ujarku dengan berharap aku diizinkan, “ya udah tapi cepat ya” jawab mamaku, “Ok ya udah dila pergi dulu, ayoo teh”.

Febri pun dan teman temannya telah menungguku dekat warung pada malam minggu itu, “ayo dil, dila sama febri, biar teteh sama ucup” ujar febri, “ayo tapi jangan sampe jam sembilan ya feb” jawabku, “tenang aja diliya”. Dalam perjalanan menuju ke cipinang aku dan febri seperti batu beku, di dalam hatiku ingin sekali ngobrol sama dia.
Sesampai di cipinang di rumahnya Ari, aku turun dari motor, aku dan tetehku dan teman temannya tetehku, kami hanya duduk di sofa di luar.

“Dil febri ke toilet bentar” ujar febri, “iya feb” jawabku, setelah beberapa menit kemudian terbukalah pintu rumahnya Ari dan febri pun menyanyikan lagu selamat ulang tahun sambil membawa kue yang bertulisan “Happy birthday dilla”, pada saat itu hatiku merasa senang sekali karena febri memberi suprise di depanku. Di malam itu pun kami sempat berfoto ketika pemberian kue, potong kue, dan suap suapan kue.

Bercampur dengan perasaan gelisah aku pun melihat jam (hari pun telah menunjukan pukul 20:16). “febri ayo pulang” ujarku gelisah, “iya dil ayo”. Di perjalanan pulang handphone teteh aku pun berdering, tanda bbm masuk, ternyata bbm itu dari kak mega yang pada saat itu sedang berada di sekolahan, “fen buruan pulang dila dicariin mamanya” ujar kak mega di bbm, “iya otw” jawab tetehku.

Sesampai di dekat rumahnya tetehku, motor pun berhenti aku dan tetehku pun turun di situ, “daah dil” ujar febri sambil memegang kepalaku, “iya feb hati hati, makasih ya buat yang tadi”, ujarku, “iya dil febri jalan dulu”.

Keesokan harinya ketika aku sedang menyetrika baju, “dil kamu ngapain pergi sama cowok tadi malam bikin malu keluarga kamu” ujar mamaku marah. Ketika itu aku hanya bisa menangis dan tak bisa ngomong apa apa, keesokan harinya setelah sholat idul adha aku mencoba menjelaskannya kepada ayahku tentang apa yang terjadi, “pak dila kemarin kena marah sama mama, gara gara dila pergi sama febri, padahal mama awalnya udah ngasih dila izin untuk pergi pak, dila enggak tau cara ngejelasinnya ke mama dan ke febri gimana, dila enggak mau jadi anak durhaka pak, dila juga enggak mau nyakitin perasaan febri” ujarku sambil menangis, “dila yang sabar, sifat mama dila itu emang begitu enggak bisa menghargai orang, dila jelasin aja ke febri, kalau dila enggak mau nyakitin febri dila harus berani menjelaskan yang sesungguhnya sama febri” nasihat ayahku.

Kesana kemari aku menangis hingga aku tidak makan karena mikirin masalah ini, dalam sholat aku menangis, dalam doa aku menangis, aku takut kehilangan dia yang aku cintai, walaupun sampai saat ini kami hanya berteman. Tetapi aku benar benar takut akan kehilanfan febri. “PING!!! PING!!! PING!!! PING!!! PING!!!, febri dila mau ngomong penting” ujarku sambil menangis di bbm. Ketika dua jam kemudian hanphoneku berdering dan bbm masuk, ternyata itu dari febri “mau ngomong apa dil” ujar febri penasaran, “dila mau ngomong jujur tapi sebelumnya dila minta maaf ya feb” ujarku menangis, “iya ada apa udah ngomong aja” jawab febri, “feb sebenarnya itu mama marah sama dila, mama juga marah sama febri, mama itu takut febri ngapa ngapain dila, mungkin dila dalam beberapa hari ini enggak bisa ngasih kabar feb, dila ngelakuin ini karena dila enggak mau jadi anak durhaka tapi dila juga enggak mau nyakitin febri” penjelasanku sambil menangis, “udah dila enggak usah mikirin febri, dila mikirin mama aja, kalau mama takut terjadi hal yang enggak baik sama dila itu wajar” jawab febri, “dila mintaa maaf ya feb, atas sikap mama dila” ucapku sambil menangis, “iya dil gak papa”.Ketika itu pun febri langsung mengganti foto dp bbmnya, yang awalnya fotonya adalah foto kami suapan kue. “feb febri marah kan sama dila, buktinya febri langsung ganti dp” tanyaku sambil nangis, “enggak dil, udah febri off ya dil dah” jawab febri.

Aku enggak tau apa sebenarnya yang dirasakan oleh febri, yang aku tau pasti dia kecewa atas perkataanku.

Cerpen Karangan: Mike aldilla
Facebook: Mike aldilla

Cerpen Tak Memiliki merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rumah Duka

Oleh:
Gemerlap lampu alun-alun kota mewarnai pekat malam. Di jalanan, pedagang-pedagang kaki lima berjajar. Segerombol orang terbirit-birit, datang untuk menyaksikan ludruk di alun-alun kota. Elwi, sebagai pelakon perempuan pada ludruk

Tak Lagi Sama

Oleh:
Berjalan perlahan melewati pagar hitam yang tiap pagi harus ku lewati untuk masuk ke sekolahku. Saat ingin melangkah ke kelas, terlihat tak jauh dari kelasku yang hanya dibatasi dengan

Dad Is My Hero

Oleh:
Aku bernama Sherilla Cintyana. Aku mempunyai seorang Dad. Mom-ku sudah 3 tahun lalu meninggal. Dad-ku sangat menyayangiku. Ia sangat setia mengurusku. Tapi, Dad-ku juga selalu mengajariku disiplin. Menurutku aku

Jugendliche

Oleh:
Aku Bintang Farelina, terlahir dalam sebuah keluarga yang cukup bahagia, walau harus hidup jauh dari seorang Ayah. Hidup jauh dari seorang Ayah, bukanlah hal yang mudah. Untung saja, aku

Rekayasa Cinta

Oleh:
Ini merupakan sebuah kisah pribadiku yang menceritakan pengalaman yang sungguh menyimpan kenangan yang paling indah dalam hidupku. Sepuluh tahun sudah berlalu saat itu aku menginjakkan kakiku di sekolah menengah.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *