Tak Terduga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 6 September 2020

Hari ini sangat melelahkan, toko tempatku bekerja sedang ramai-ramainya. Tapi hal itu menjadikanku lupa untuk mengabari seseorang yang disana. Setelah selesai bekerja, aku segera pulang dan pergi ke rumah pacarku.
“Bro, gue pulang duluan yak” tanyaku kepada Rendi.
“Iya, hati-hati di jalan yak” jawab Rendi dengan nada sedikit tertawa.
“Iyalah harus hati-hati, bentar lagi mau nikah koya. Hahahahaaa” sambungku dengan tertawa.
“Emangnya Dia mau kemana, Ren?” tanya Sulastri dengan keheranan.
“Nggak tau tuh, mungkin mau pergi ke rumah pacarnya” jawab Rendi dengan ragu-ragu.

Setelah sampai di rumah, aku langsung segera mandi dan langsung berpamitan ke Ibu. Tapi, sebelum berangkat aku merasa ada hal yang membuatku tidak enak badan. Ah, mungkin aja ini karena aku kelelahan hari ini.
“Bu, aku izin mau pergi ke rumahnya Hani yah?” tanyaku kepada Ibu dengan nada yang sedikit lemas.
“Iya, tapi hati-hati yah. Jangan sampai jatuh lagi” jawab Ibuku dengan tersenyum.
“Iya-iya, Bu” jawabku.

Di perjalanan aku masih terpikirkan akan dirinya, Dia marah ndak ya? Semoga aja Dia ndak marah. Di tengah perjalanan, aku berhenti untuk membeli martabak untuk dirinya.
“Mang, beli martabaknya satu yang special yah” pintaku kepada Mang Si penjual martabak tersebut.
Aku pun duduk di bangku yang sudah disediakan.

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya pesananku jadi juga.
“Joe, ini pesanannya dah jadi. Martabaknya mau buat siapa, Joe?” tanya Mang dengan keheranan.
“Mau buat seseorang yang disana, Mang” jawabku dengan sedikit tertawa.
Setelah membayarnya, aku segera melanjutkan perjalanan.

Beberapa menit kemudian, akhirnya aku sampai juga di rumahnya. Tapi jika dilihat dari depan seperti tidak ada orang di dalam. Tapi aku tak berhenti disitu saja, aku mencoba untuk mengetuk pintu rumah.
Tok… tok… tok… (suara pintu diketuk)
“Assalamu’alaikum” kataku dengan nada sedikit keras.
Tetapi, keadaannya masih tetap saja. Masih hening dan sepertinya tidak ada orang di dalam, masih berdiri di depan pintu dengan diselimuti rasa penasaran yang terus terbayang. Apakah dia sudah pindah ke Jakarta? Semoga saja dia dan keluarganya masih disini. Tapi, semuanya masih tetap saja, tidak ada yang menyahuti salamku dari tadi.

“Dek, kenapa berdiri di depan pintu?” tanya seorang tetangga sebelah.
“Ini saya masih nunggu seseorang, bu” jawabku kepadanya.
“Seseorang? Maksud kamu, Mbak Hani?” tanya ibu tersebut kepadaku.
“Iya, bu. Apakah ibu tau kemana Hani pergi?” tanyaku balik.
“Tadi siang, Hani dan ibunya pindah ke Jakarta. Katanya sih mau menetap disana dan sepertinya ndak akan balik lagi ke Pekalongan” jawab ibu tersebut kepadaku.
“Jadi gitu ya, bu?” jawabku balik.
“Lha adek sendiri mau ngapain kesini?” jawab ibu kepadaku.
“Niatnya saya mau kesini mau ngajak Hani jalan-jalan. Tapi, kok rumahnya sepi kayak gini” jawabku balik kepada ibu tersebut.
“Sebaiknya adek pulang saja. Ini juga sudah malam ndak baik buat anak kecil” kata ibu kepadaku.
“Ya sudah, bu. Sebelumnya terima kasih karena sudah memberitahu” jawabku dengan tersenyum.

Di perjalanan pulang, aku masih terbayang akan jawaban dari ibu tadi. Kenapa Hani tidak memberitahuku? Kenapa dia seperti itu? Ah, lupakan sajalah.

Keesokan harinya, seperti biasa aku berangkat kerja, tapi aku tidak ke tempat kerja melainkan ke stasiun. Aku langsung membeli tiket jurusan Jakarta. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya kereta tujuanku datang juga. Aku langsung masuk dan duduk di dekat jendela agar mudah melihat pemandangan sekitar.

Aku tidak tahu harus tidur dimana nantinya yang penting aku harus tau tentang keberadaannya. Aku mencoba untuk mengirim pesan kepadanya. Tapi tetap saja tidak ada balasan darinya. Setelah beberapa jam, akhirnya sampai juga di Jakarta. Tanpa pikir panjang, aku langsung menuju ke rumah saudaranya. Agak susah untuk mencari rumah saudaranya, tetapi akhirnya ketemu juga.

Aku mencoba untuk mengetuk pintu, tapi yang keluar bukanlah orang yang aku harapkan.
Tok… tok… tok… (suara pintu diketuk)
“Assalalmu’alaikum” kataku dengan nada sedikit keras.
Aku menunggu beberapa detik saja dan akhirnya ada yang menyahuti salamku.
“Waalaikumsalam” jawab seseorang dari dalam rumah.
Akhirnya dibuka juga pintunya, aku pun langsung memberitahu tentang kedatanganku kesini.

“Bu, saya mencari Hani. Apakah ada disini?” tanyaku dengan nada yang ragu.
“Oh, Hani? Kamu temannya yah?” jawab ibu tersebut.
“Iya, bu. Saya temannya Hani” jawabku kepadanya.
“Yaudah kamu tunggu di dalem dulu. Silahkan masuk, dek” pinta ibu tersebut sambil tersenyum.

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya seseorang yang aku harapkan datang juga didepanku.
“Kamu kesini dari kapan? Kok tiba-tiba kamu datang kesini?” tanya dia dengan keheranan.
“Aku berangkat dari Pekalongan jam setengah 7 dan sampai sini setengah jam yang lalu. Aku kesini mau lihat keadaanmu dan seaslinya tadi malam aku ke rumahmu dan mau ngajak kamu jalan, tapi kok rumahmu sepi. Jadine hari ini, aku tidak masuk kerja dan berniat kesini mau lihat kamu. Kamu ndak suka ya kalo aku datang kesini? Yaudah kalo seperti itu, aku pulang ke Pekalongan lagi”. Jawabku dengan perasaan sedikit sedih bercampur gembira.
“Bukannya aku ndak suka kalo kamu datang kesini, tapi aku boleh ngomong jujur sebelumnya?” tanya dia kepadaku.
“Apa yang ndak boleh buat kamu? Silahkan ngomong aja, aku dengerin kok” jawabku kepadanya.
“Seb… seb… sebenarnya” jawabnya dengan terbata-bata.
“Sebenarnya aku sudah dijodohkan sama anak temannya ibu. Ibu memaksa, kalau aku ndak nikah dengan anak tersebut maka aku ndak akan dianggap anak lagi oleh ibuku. Tapi aku ndak bisa nerima akan pendapatnya ibuku” jawabnya dengan sedih.
“Jadi gitu ya? Ya kalau anak itu memang baik, memang bisa diandalkan, memang bisa segalanya buat kamu, kenapa harus takut untuk menerimanya?” jawabku dengan keheranan.
“Jujur aku sayang sama kamu, aku ndak bisa ninggalin kamu gitu aja. Ada banyak pelajaran yang dapat aku ambil dari kamu. Kamu selalu menemani hari-hariku yang sepi ini, kamu selalu menasihati agar aku selalu memakai jilbab walaupun itu hanya pergi ke tetangga sebelah, kamu selalu menasihati agar aku tidak melupakan sholat, selalu menasihati agar selalu mengaji walaupun itu satu ayat saja. Aku pernah ninggalin kamu karena aku takut akan dosa ketika pacaran. Kamu pernah ngomong kalau kamu bakal nunggu aku sampai kapanpun sampai aku bisa kembali lagi ke kamu dan nyatanya kamu bisa menepati omonganmu tersebut. Tapi sekarang, ketika kamu udah punya pekerjaan tetap, udah punya rumah sendiri, udah bisa menghidupi kehidupanmu sendiri, aku tidak bisa menepati omonganku juga. Aku menyesal tidak bisa menjaga hati ini, aku tidak bisa menjadi istrimu. Maafin aku” jawabnya dengan menangis.
“Aku tau akan keadaanmu tersebut. Sekarang turutin saja apa yang ibumu omongin, mungkin itu yang terbaik buat kamu. Kamu jangan nangis gitu rha, senyum” jawabku dengan tersenyum.

“Sekarang aku pulang yah? Kamu jaga diri baik-baik disini, kamu jangan sampai ninggalin kewajiban untuk sholat, jangan lupa untuk mengaji, dan tentunya jadilah seorang istri yang taat kepada suamimu. Semoga saja acara pernikahannya lancar dan tidak halangan apapun. Aamiiin…” sambungku dengan nada sedikit sedih.
“Assalamu’alaikum” kataku sambil keluar dari rumah tersebut.

Aku pun segera pergi dari rumah tersebut, di perjalanan pulang aku masih saja tidak bisa menerima akan kenyataan ini. Kenapa hal ini terjadi pada diriku, tapi apa dayaku mungkin ini rencana Tuhan yang lebih pantas ditimpakan kepadaku.

Kring… kring… kring… (suara alarm berbunyi dengan kerasnya)
“Joe… Joe… bangun udah siang, mau berangkat kerja ndak kamu? Bisa terlambat kamu nanti masuk kerja. Mandi sana cepat, itu sarapannya udah ibu siapkan” kata ibu sambil mematikan alarm yang tadi berbunyi.
“Uh, ternyata hanya mimpi. Semoga saja tidak menjadi kenyataan” kataku sambil keluar kamar.

Cerpen Karangan: M Yusuf Abul Mahasin
Semoga bermanfaat untuk semuanya, kalau mau ngasih saran atau kritik bisa disampaikan lewat email saya…
Terima kasih

Cerpen Tak Terduga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebuah Nama, Sebuah Misteri

Oleh:
Hari ini memang bukan hari yang indah untukku. Aku harus merelakan kepergian sahabat baruku, Cheryl Putri. Hujan air mataku mengiringi kepergiannya. Aku tidak kuat untuk mendampinginya pergi ke sana.

Kesempatan Datang Berkali Kali (Trust)

Oleh:
Sial, aku pulang terlewat malam. Gara-gara si Dila pake acara mau pulang sama pacarnya. Sebenarnya gak malam-malam banget sih, sekitar jam 20.00 WIB, tapi jalanan yang menuju rumahku itu

Untuk Pertama Dan Terakhir

Oleh:
Cerita diawali dari seorang gadis remaja berusia 17 tahun, dia baru saja merayakan hari menetasnya atau yang lazim dikenal dengan sebutan ulang tahun. Gadis remaja tersebut bernama Sili. Sili

Cinta Anak Pramuka

Oleh:
Setetes peluh yang ku keluarkan hari ini mengiringi perpisahanku di tempat ini, di mana tempat ini adalah tempatku menimba ilmu. Yang mempelajari bagaimana kerja lapangan sebenarnya, namaku Safanti Ranah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *