Takdir Bintang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 31 August 2021

Aku memggeram kesal dan kembali menatap senja di taman. Namun kali ini dengan tatapan sayu yang kentara. Mata berkedut, dengan bibir yang menipis selalu menjadi ciri khas diriku.

“Lihatlah, kamu tidak pernah berubah Dra.”
Seseorang berbicara di sebelahku. Tubuhnya yang kecil dan kurus terlihat semakin kurus. Bukankah dulu dia tidak sekurus ini?

“Berhenti bicara padaku,” kataku menggeram kecil. Aku berdecak, perempuan ini masih sama. Selalu tidak bisa membaca situasi di sekitarnya.
“Tidak bisa. Aku sudah berjanji padamu. Disini, tepat disini. Sepuluh tahun yang lalu,” perempuan di sebelahku berbicara ringan. Amat ringan. Tanpa rasa bersalah.

Aku menatap kesal sosoknya yang menatap wajahku. Wajahnya yang kecil namun chubby. Bibirnya yang kecil dan penuh. Alisnya yang terangkat menatapku intens. Aku terdiam. Kembali merasa seperti dulu. Seperti saat aku tidak bisa mengendalikan diriku yang mengagumi sosoknya. Menyukainya dan berharap selalu bisa melindunginya.

Ah, sial.
Seorang Eirish Putri memang selalu berhasil membuat Indra Pradita terlena.

Aku mengalihkan wajah darinya. Berdeham kecil dan berkata, berusaha dingin, “pergi dari sini, Rish. Aku gak mau liat kamu.”
“Kamu malu,” katanya pelan dengan pipi yang merona. Melenceng dari topik pembicaraan. Tangannya terkatup di balik punggungnya. Wajahnya berusaha menatap mukaku.

Aku semakin menjauhkan wajahku darinya, “urus saja urusanmu sendiri. Pergi dan jangan pedulikan aku. Seperti dulu, kan?” Aku meneguk ludah. Memang benar. Eirish Putri akan selalu menatap Alan Mackenzie. Bukan aku, Indra Pradita.

Perempuan itu, Eirish, tampak gusar dan mengerutkan alisnya kecil. “Aku gak pernah gak peduli sama kamu ya, Indra Pradita. Nyatanya, aku peduli sama kamu. Sama pedulinya aku dengan Alan,” perempuan itu berkata kesal dengan nada meninggi. Aku mengabaikannya. Berusaha mengabaikannya.
“Cih, terserahlah.”

“Indra!”
“Apa?” Kataku menatap langsung dirinya. “Apa?” Tanyaku lagi dengan intens menatap matanya. Eirish bungkam, terlihat linglung.
Perempuan itu seketika terlihat baru-baru, “aku harus pergi. Sekarang,” katanya cepat, tersengal.
Aku menatap sosoknya yang berbalik arah dariku. Langit terlihat sudah gelap dan udara menjadi dingin. Aku menatap bingung.

“EIRISH, TUNGGU!” Kukejar dirinya dan menarik pelan tangannya. “Apa sih? Kenapa baru-baru?”
Eirish tidak menatap mataku. Barangkali tidak sudi. “Bukannya kamu tadi yang menolak kehadiranku? Sekarang aku mau pergi. Seperti yang kamu mau,” katanya datar.
“Lepaskan tanganku.”
Ultimatum itu membuatku merelakan tangannya. Tangan yang dulu sering menjahiliku. Tangan yang dulu sudi berdiri berdampingan denganku. Tangan yang dulu selalu menarik bajuku khawatir ketika aku terkena masalah.

Aku menarik napas panjang. Benar, ini yang aku mau. Ini yang aku harapkan. Mengapa aku harus merasa sedih dan tidak rela? Eirish sudah menyakitiku, seharusnya aku tidak mengasihaninya. Ini yang aku mau.

Atau mungkin bukan.

“Selamat ulang tahun, Indra.”
Aku menatap kaget. Mulutku terbuka lebar, bingung.
“Ayo kita berpisah. Benar-benar berpisah. Seperti katamu dulu.”
Aku ternganga. Walau merasa tidak terima, aku merasa itu adalah hal yang pantas dilakukan. Itu adalah hal yang harus dilakukan. Sejak dulu.

Ayo, Bisikku dalam hati mengiringi langkahnya yang menjauh. Yah, mungkin ini sudah jadi takdirku. Takdir seorang bintang. Bintang yang tidak akan pernah bisa menggapai semesta.

Dan bintang itu adalah aku.
Indra Pradita.

TAMAT

Cerpen Karangan: Rin-A1

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 31 Agustus 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Takdir Bintang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Nathan & Renata

Oleh:
Renata’s POV “Ren… bangun ” “Hmm” “Sekolah! ini udah jam berapa! liat!” Gue liat jam menunjukan pukul 06.00 “Heh malah bengong cepetan siap siap” “Ma, Rena berangkat dulu ya”

Pukis

Oleh:
Dua puluh dua tahun aku hidup. Sembilan belas tahun bagiannya aku merasa benar-benar taat pada Tuhanku. Sedangkan menginjak di tahun ke dua puluh hidupku, Tuhan telah menuliskan pertemuanku dengan

Sahabat Jodoh Kita

Oleh:
Nama gue Tiza, gue sekarang udah punya suami namanya Tora. Sekarang gue mau cerita soal pertemuan gue sama Tora sampai akhirnya kita menikah. Gue kenal Tora dari zaman SD

One Day

Oleh:
18 APRIL 2013 karena aku jauh, aku memberikan perhatian kepadamu lewat setiap kata kataku. ya, walaupun kadang tidak terdengar seperti perhatian. Kamu bosan atau ada orang lain yang menarik

Antara Cinta dan Benci

Oleh:
4 Juni 2013 Di sebuah Desa terpencil, tepatnya di Desa Asmara ada seorang gadis cantik yang pendiam, anggun, pintar, baik dan ramah pada siapa pun. Namanya Mawar. Dia anak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *