Takdir Dibalik Pengkhianatan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 21 June 2015

Malam ini Elsa duduk terdiam, di bawah malam tak berbintang. Ia mengharapkan hujan datang menemani hatinya yang sedang berduka. Ditemani sebuah buku diary hadiah ulang tahunnya yang ke 17, yang dibeli dirinya untuk dirinya sendiri. Dan sebuah ipod yang melantunkan lagu-lagu mellow.

Tak henti-hentinya dia mengutuki dirinya karena kemalangannya. Keadaan keluarganya sudah diambang kehancuran. Orangtuanya terancam bercerai dan dia sama sekali tidak mengerti apa penyebabnya. Berulang kali Elsa mencoba mengajak mereka berunding tapi selalu berujung pada percekcokan antara ibu dan ayahnya. Dan berakhir dengan bantingan pintu kamar ibunya dan pintu mobil ayahnya yang melesat keluar dari pekarangan rumahnya, meninggalkan Elsa yang terdiam membisu di ruang tengah tempat mereka menghabiskan waktu bersama dulu sewaktu Elsa masih kecil.

Elsa masih terngiang-ngiang akan tawa renyah kedua orangtuanya yang melihat tingkah lucu Elsa. Tapi sekarang itu hanya sebuah album usang di dalam lemari lapuk. Kisah cinta Elsa pun tidak berjalan semulus yang diharapkannya. Hendra, orang yang dia percayai selama 3 tahun tega mengkhianatinya. Pikirannya melayang ke masa-masa SMA-nya.

Tepat 3 tahun lalu. Elsa berjalan di Lapangan sekolah bersama sahabatnya, Linda, menuju ke kantin saat jam istirahat. Tanpa sadar sebuah bola basket mendarat tepat di kepala Elsa, yang menyebabkan gadis manis bertubuh tinggi itu terjatuh dan ia merasakan gerhana matahari tiba-tiba, dunia menggelap, ia pingsan. Benar, Elsa si jangkung yang cantik pingsan terlempar bola basket. Seakan melihat seorang pangeran berdiri tegap, Elsa mengedipkan matanya berulang-ulang. Ini tidak mimpi, ini benar benar nyata. Dan sang pangeran terlihat sangat cemas. “Ada apa denganku?”, batin Elsa. Ia juga melirik di sebelah sang pangeran ada sahabatnya, Linda, dan ada juga beberapa guru yang tersenyum lega melihatnya. “Akhirnya kamu siuman juga nak Elsa, kami sangat khawatir, baru saja kami berencana untuk membawamu ke rumah sakit kalau nak elsa masih tetap tidak sadarkan diri”, salah satu guru berkata. Linda bergerak mendekatinya dan memeluknya, “kamu nggak papa kan? aku khawatir”, isaknya hampir menangis. Elsa mengangguk sambil berusaha untuk bangun namun dicegah oleh gurunya. “Nak Elsa istirahat saja dulu disini ditemani teman temannya sampai jam pelajaran berakhir, kami para guru akan membuat laporan untuk orangtua nak Elsa kalau kalau ada sesuatu yang terjadi atas kejadian tadi pagi”. Setelah itu beberapa guru itu pun pergi. Meninggalkan Elsa, Linda dan sang pangeran yang tidak diketahui identitasnya oleh Elsa. Ia teringat sesuatu, tadi pagi seperti ada sebuah pesawat yang menyerbu kepalanya. Dan seketika itu pun ia tahu kalau itu adalah sebuah bola basket. Ia menggeram dan melotot pada Linda yang menjadi saksi kejadian itu. “Lin, siapa yang berani melempar bola ke kepala gue? siapa Lin? lo liat kan? awas tu orang kalo gue tau, gue telanjangin, gue botakiiinnn!!!”, Linda berteriak seperti orang kesetanan, darahnya sudah sampai ubun ubun. “emm hemm, gue gak liat jelas Sa, tapi kata dia…” refleks tangan Linda menunjuk ke cowok yang di bilang pangeran oleh Elsa. Pandangan Elsa berpaling ke cowok itu. “Sebenarnya yang ngelempar bola itu gue, tapi gue gak sengaja kok, sumpah deh”. “Gue cuma ngeover tu bola ke temen gue tapi temen gue gak bisa nangkepnya, makanya jadi kena elo. Maaf ya, maafin gue banget” mohon si cowok. “Gilaaa, gimana bisa gue marah sama cowok semanis ini, muka baby face banget, gue sukaaa”, teriak Elsa kegirangan dalam hati. Dan akhirnya Elsa pun memaafkan si cowok yang bernama Hendra yang usut punya usut ternyata anak baru di sekolahnya cuma beda kelas doank. Mereka jadi sering jalan bareng berdua walaupun terkadang Linda ikutan juga. Nggak jarang Elsa cerita tentang Hendra pada Linda, sahabat yang dipercayainya, yang mengetahui luar dalam Elsa. Mereka sahabatan dari bangku SMP hingga sekarang udah hampir lulus SMA.

Setelah masa PDKT berakhir, Elsa dan Hendra pun jadian. Mereka melewatkan masa SMA dengan sangat cepat. Hingga lulus dan tiba waktunya untuk mengecap bangku perkuliahan. Hendra dan Linda akan melanjutkan kuliah di salah satu universitas di Jakarta, namun lain halnya dengan Elsa. Ayahnya bersikeras menyuruhnya kuliah di Australia, di universitas terkenal pilihan ayahnya di negara kangguru tersebut. Elsa tahu tidak ada gunanya membantah keputusan ayahnya. Alasan Ibunya pun tidak mampu menggoyahkan keinginan ayahnya yang katanya ia akan sangat merindukan anak satu satunya itu kalau kuliah disana. Namun sudah ditetapkan Elsa harus berangkat. Itu artinya ia harus berpisah dari Hendra dan Linda. Tapi dengan bujukan Hendra Ia yakin kalau Hendra dan dirinya akan kembali dipersatukan, walaupun berhubungan jarak jauh itu tidak akan membuat kepercayaan dan kesetiaan mereka goyah.

Hari hari berjalan seperti biasa, mereka sering telpon telponan, chat di media sosial. Elsa tidak pernah lupa memberi kabar pada Hendra jika ia mempunyai waktu luang. 2 tahun sudah mereka menjalin hubungan. Tidak jarang ia memakai uang sakunya sendiri untuk membeli tiket Australia-Jakarta tanpa sepengetahuan orangtuanya sehingga ia harus mengirit uang sakunya. Ia selalu memberitahukan Linda kalau ke Jakarta karena ia akan tidur di kosnya Linda. Tidak mungkin ia pulang ke rumahnya atau tidur di kos Hendra, karena itu dilarang keras oleh agama. Hingga suatu ketika Elsa datang ke Jakarta tanpa sepengetahuan Hendra dan Linda. Ia berencana untuk memberikan kejutan pada Hendra di hari ulang tahun kekasihnya itu. Ia datang ke kosnya pagi subuh, dan ia langsung mengetuk pintu tanpa suara dengan sebuah kue beserta lilin di tangannya. Ia membayangkan betapa bahagia wajah orang yang dicintainya melihatnya menyanyikan lagu selamat ulang tahun di depannya nanti. Elsa tersenyum senyum sendiri membayangkan sambil terus mengetuk pintu. Terdengar langkah kaki terseok-seok dari dalam kamar dan terbukalah pintu di hadapan Elsa. Seorang wanita dengan rambut acak acakan, memakai kemeja putih yang ia beli tahun lalu untuk Hendra tanpa memakai celana. Disusul oleh seseorang dari dalam sambil berkata, “siapa yank? pagi pagi gini…”. Belum selesai lelaki itu berkata, dia ternganga seakan tak percaya apa yang dilihatnya. Dia hanya memakai celana tidur pendek. Keduanya diam tanpa kata di depan Elsa. Elsa tanpa sadar menjatuhkan kue di tangannya. “Linda, elo… Hendra, apa yang kalian…”. Belum selesai Elsa berkata ia sudah mengerti apa yang terjadi. matanya berkunang kunang, perutnya tiba tiba mual. Kemudian dia berbalik dan pergi. Tidak peduli dengan suara yang memanggilnya yang berusaha menjelaskan.

Dia berlari, menangis, melewati semua aktifitas pagi di kota Jakarta. Sampai di suatu tempat yang ia tidak tahu namanya. Ia menangis, meraung sejadi jadinya. Masih belum percaya kekasih dan sahabatnya sendiri tega mengkhianatinya.. Ia duduk di salah satu cafe, diam membisu, memflashback semua kenangan bersama Hendra dan Linda.

Sekali melihat jam tangan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Astaga! Sudah berapa jam ia di cafe ini, sudah berapa gelas minuman yang ia teguk. Sekarang ia bingung mau kemana, balik ke australia tidak mungkin. Ia sudah memesan tiket untuk 2 hari di Jakarta. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Setelah ia yakin tidak ada bekas air mata dan membasuh wajahnya, ia bergegas pulang ke rumahnya menggunakan taksi.

Sampai di rumah, di luar pintu, sayup sayup ia mendengar percekcokan dari dalam. Ayah dan ibunya sedang terlibat argumen yang serius. Dan tiba tiba pintu rumah terbuka dan ayahnya keluar. Begitu terkejut ayahnya melihat putrinya berdiri mematung di luar pintu rumahnya. “Elsa? Kamu ngapain disini? Kapan kamu datang?”, cerca ayahnya. “ohh.. Emhh Elsa libur yah, tapi cuma 2 hari sih, Elsa kangen rumah makanya Elsa pulang”, Elsa membuat alasan. “Ayo masuk, kenapa gak ketuk pintu? Sudah lama kamu di luar?” ayah kembali masuk rumah sambil menuntun Elsa. Ibu Elsa pun sama terkejutnya melihat Elsa dan memberikan pertanyaan yang sama dengan ayahnya. Elsa pun menjawab seadanya dan permisi ke kamar alasan capek.

Di kamar Elsa tak habis pikir, apa yang terjadi dengan hidupnya. Kenapa semuanya terjadi bersamaan. Dia tidak bisa mendengar jelas apa yang orangtuanya debatkan. Itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Ini pertama kalinya terjadi sehingga Elsa pun tidak bisa berkata apa apa. Belum lagi handphone Elsa berdering dengan nama yang tertera di layar, 2 nama yang tidak ingin diingatnya. Perjalanan cintanya berakhir di tahun ke-3. Semuanya ternyata sia sia. Sampai akhirnya ia harus kembali ke australia.

Bulan demi bulan sudah terlewati dan liburan semester akhir pun dimulai. Elsa pulang ke indonesia, di rumah ia sama sekali tidak bisa tenang. Ada saja hal yang membuat ibu dan ayahnya perang mulut. Dan malam ini, dia duduk di bawah langit malam menanti datangnya hujan. Menggoreskan pengalaman hidupnya di buku diary. Tidak ada lagi Linda, teman curhatnya. Elsa tersadar dari lamunanya ketika rintik rintik hujan menyentuh kulitnya. Dia menutup diarynya yang sudah penuh dan mengganti dengan yang baru. Begitu juga hidupnya, ia berjanji akan memperbaiki keadaan keluarga dan takdir cintanya.

Ia bangkit dan berjalan menuju kamarnya dengan perasaan baru dan senyum penuh semangat. Keesokan paginya Elsa bangun pagi pagi dan pamitan kepada orangtuanya untuk menengok neneknya yang ada di Bandung, dimana ia menghabiskan masa TKnya di desa neneknya. “Mungkin disini aku bisa menjernihkan pikiran, dan ketemu cowok baru” batinnya sambil senyum senyum.

Ia yang ditemani sang nenek minum teh di beranda rumahnya terkejut ketika mendengar suara anak kecil berteriak “kak endluuu, tungguin bimooo”. “endluu?”, Elsa melirik neneknya. Nenek seakan ngerti maksud Elsa, tersenyum menjelaskan “Andrew, anak lulusan USA yang sekarang lagi liburan. Temen kamu yang waktu kecil itu lo, kamu malahan nggak mau pindah ke Jakarta dulu gara gara nggak mau pisah sama andrew. Kamu teriak teriak dulu kalo kamu janji bakal balik ke sini dan menjadi pengantin wanita nak andrew, masak kamu lupa? hihihi” nenek tertawa terkekeh. Elsa membelalak dan memuncratkan teh yang baru disruputnya itu. “Itu kan 18 tahun yang lalu. Apa iya Andrew masih ingat?” Elsa bergumam.

“Nenek, apa kabar? Sehat? Pengantin wanitaku sudah datang ya?” seorang pria tampan, tinggi, alis tebal dan sorot mata tajam tapi menenangkan tiba tiba muncul di hadapanku, dia menggendong anak kecil yang tadi berteriak. Sambil mencium tangan nenek ia berkata sambil mengerlingkan mata padaku. Mata kami bertemu dan wajahku memerah. “Hai Elsa…” sapanya. “inilah takdirku”, jiwa Elsa menjawab.

Cerpen Karangan: Desi Ardina
Facebook: Desy Ardinayanti

nama penulis: Ni Komang Desi Ardina Yanti
lahir: 1992
alamat: singaraja – Bali
hmm.. hai.. tumben nulis sieh, baru belajar. ini cerpen pertamaku.. tolong di post or dikomen.. mohon saran n kritiknya 🙂

Cerpen Takdir Dibalik Pengkhianatan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Anime in Love (Part 1)

Oleh:
Anime Satu kata itu tidak terdengar asing di Telingaku. Ya, mungkin karena aku penggemar anime. Suka nonton film-filmnya, suka jadi cosplay salah satu karakter (nggak sering juga, sih), dan

Gadis Mungil Dari Stand Alphabet

Oleh:
“perhatian, pada seluruh ketua stand harap menuju sumber suara” kataku menggunakan TOA yang aku pegang. Sudah 15 stand yang sudah melapor padaku selaku ketua pelaksana kegiatan bazar yang diadakan

Lighter (Part 2)

Oleh:
Orang yang meminjam korek padaku itu, dia adalah beranda rumah yang menyambutku, dan Ipunk pria dari BBm group yang sekarang berteman denganku dia adalah api yang membakar kerasnya kepalaku

ECHO

Oleh:
Pagi ini, aku dibangunkan oleh kesepian dan kesunyian. Tidak seperti biasanya, duniaku saat ini sangat sepi. Aku melongok ke jendela di sampingku, matahari sudah bersinar dengan terangnya ditemani langit

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Takdir Dibalik Pengkhianatan”

  1. avika rahayu says:

    Ceritanya membuatku terharuu..
    Pokoknya is the best..

  2. Made Tasya says:

    aku suka banget cerpennya, walaupun cerpen pertama tapi keren banget kok, semoga kedepannya bisa nulis cerpen-cerpen lain yang lebih keren yaa 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *