Takdir Hati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 7 February 2018

Tidak harus ia mengerti! Cukup aku saja. Aku akan terus dalam posisiku, tak akan mencoba merubah segalanya. Karena aku memang tidak bisa mendahului takdir tuhan untuk masalah ini: hati.
Tidak perlu ia memahami! Cukup aku saja. Aku masih terus berusaha agar perasaan ini tidak muncul di permukaan.

Di luar, gerimis membalut kota ini sejak pagi. Malas dan enggan. Aku harus bergegas menuju kedai yang terletak jauh dari rumah. Aktivitas yang telah aku jalani selam tiga tahun, selama itu aku harus berusaha untuk menahan kemauan hati untuk sekadar menyapa ‘hai’.

“Kau datang terlambat lagi, Tania.” wanita berusia setengah abad itu menegurku. Aku menunduk.
“Cepat masuk! Atau …” kalimat menggantung, aku menghela nafas.
“Baik, saya akan masuk.” ucapku kemudian menuju meja kasir, tempatku mencari recehan uang untuk bertahan hidup.
Wanita bossy itu kembali ke ruangannya. Aku menghela nafas panjang, melirik jam. Dua jam lagi ia akan datang. Memesan makan siang.

Kedai ini terletak di antara dua gedung perusahaan, maka setiap jam besar di taman kota berbunyi sembilan kali. Kedai perlahan ramai. Entah pengunjung-pengunjung itu membeli minuman, atau makanan, bahkan hanya menumpang duduk sembari memanjakan telinga yang telah diteriaki atasan dengan musik jazz yang diputar.

Pintu kedai dibuka, seorang gadis masuk. Ia melangkah mendekatiku.
“Pesan apa, mbak?” tanyaku.
“Dua orange juice dan dua sandwich, tetapi salah satunya tidak pakai mayonise.”
“Itu saja, mbak?” aku memastikan.

“Hmm.. apakah boleh pesanan saya diantar nanti sekitar lima belas menit sebelum jam besar di kota berbunyi?”
“Apa tidak kelamaan, mbak?” gadis itu menggeleng. Perkiraanku usia gadis itu terpaut satu atau dua tahun denganku.
“Kalau begitu, silahkan menunggu.” aku menaruh kertas pesana di kotak yang diletakkan di antara tembok pembatas dapur dan ruang makan kedai ini.

Aku kembali melirik jam tanganku, pukul delapan lebih tiga puluh menit. Setengah jam lagi ia pasti datang, kemudian memesan cappucino dan satu kantong kecil kentang goreng. Ah, aku mencintai dia. Sepasang kekasih masuk kedai, memesan red velvet dan dua milkshake. Aku tersenyum menulis pesanan –membayangkan jika sepasang kekasih itu aku dan dia.

Lima belas menit lagi jam besar di taman kota akan berbunyi sembilan kali. Pengunjung kedai mulai berdatangan. Aku menulis pesana cepat, sesekali melihat ke arah pintu kedai. Berharap ia segera datang, lantas aku akan menikmati senyum yang ia umbar saat bercengkerama dengan teman-temannya di balik meja kasir.

Jam taman kota berbunyi sembilan kali. Kerumunan pengunjung memasuki kedai.

“Saya pesan kentang goreng dan vanila late.”
“Ada yang lain?” aku memastikan.
“Tidak.”
“Silahkan menunggu.”

“Pesan apa?”
“Strawberry milkshake.”
“Itu saja?” tanyaku. Ia mengangguk. Pergi.
Dia datang, mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan kedai. Seperti mencari seseorang. Namun, ia tidak menuju ke meja tempatku berdiri. Ia langsung menuju ke meja dimana gadis berkemeja kuning duduk.

“Aku tidak akan membiarkanmu menangis.” bocah laki-laki kecil memegang bahuku.
“Tetapi, kau akan pergi.”
“Tania, aku pasti akan mengingatmu. Aku janji akan segera menemuimu sepulang dari Amerika.”
Aku menunduk. “Yakinlah, kita bisa melewati ini semua. Aku hanya pergi tiga tahun saja, Tania.”

Mentari bersinar terik, wajah kami berpeluh. Aku tertunduk menatap batu-batuan kecil yang berserakan di sekitar kaki. Tak ingin membiarkan dia pergi. Pasti menyakitkan seperti kematian ayah dan ibu. Lihatlah! kami masih kanak-kanak, tetapi aku merasakan perasaan yang mengukungku.

Aku mendengus sebal.
Kejadian itu kembali berputar dalam ingatanku. Aku ber-puh pelan. Lima menit kemudian dia berjalan ke arahku, aku membenarkan posisi anak rambut –salah tingkah.

“Mbak…” ucapnya menggantung. Aku menatap manik mata miliknya.
“Cappucino dan kentang goreng?” kataku. Dia menyipitkan mata, mengangguk.
“Silahkan menunggu, tuan Tria.” ups… aku menyebut nama itu, dia mengernyitkan kening.

“Kau siapa?” kalimat itu keluar dari mulutnya, aku menggeleng.
“Apa kau…”
“Maaf, tuan. Antrian di belakang anda telah panjang.” sahutku, dia menoleh ke belakang kemudian kembali menatapku. Lalu menuju ke meja tempat gadis berkemeja kuning duduk.

Aku merutuki diri sendiri. Membodohkan mulutku. Tidak seharusnya dia tahu. Cukup saja aku yang memahami keadaan ini. Tiga tahun lalu, saat pertama bekerja di tempat ini, dia dengan gagahnya masuk lalu memesan cappuccino. Hatiku yakin, dia adalah metamorfosa dari bocah kecil yang dulu selalu ada di sampingku.
Itulah alasanku untuk tetap bertahan bekerja di kedai ini. Walau dia tak lagi mengenaliku.

Kedai beranjak sepi. Pukul lima sore, waktunya berkemas-kemas. Pulang.
“Jangan telat lagi, Tania!” perempuan berusia setengah abad, pemilik kedai ini mengingatkanku. Aku mengangguk.
“Saya pulang dulu.”

Genanagan air sisa hujan tadi pagi membuatku harus berhati-hati, aku melangkah menuju halte. Seseorang mencekal tanganku. Aku menoleh. Dia.
“Kau siapa?” Tanya dia.
“Maaf, saya harus pulang.” dia menatap tajam “Tolong lepaskan cekalan anda.”
“Jawab dulu! Kau siapa?” gertaknya. aku menghela nafas. Baiklah, jika ini adalah waktu yang tuhan berikan atas takdir kami. Aku tidak menjawab, namun mengeluarkan kalung yang selama ini bersembunyi di balik seragam kerjaku. Dia menyipitkan mata. Mengamati kalung tersebut. “Tania.” ia menyebut namaku.

“Kau Tania?” dia meyakinkan.
“Yah, aku Tania. Tania Putri.” dia menekan pelipis kanan. “Tuhan, aku menemukannya.” lirihnya. “Kau ke mana saja, Tania? Kau raib begitu saja. Asal kau tahu aku mencarimu, sayang sekali penghuni rumah yang kau tempati dulu, dia membeli rumah tersebut sembilan tahun lalu. Setahun setelah kepergianku.”
“Aku tidak ke mana-mana.”

“Sekarang kau tinggal dimana?”
“Jalan Anggrek.”
“Mbah Karsih?” dia bertanya lagi. Aku menghela nafas, “Beliau meninggal tiga tahun lalu.” lagi-lagi pernyataanku membuat dia terkejut.

“Sebenarnya kau hampir bertemu denganku setiap hari selama tiga tahun. Saat aku baru bekerja di kedai itu, kau masuk memesan cappuccino dan kentang goreng. Aku sangat yakin, kau Tria.”
“Lalu kenapa kau tak menyapaku?”
“Aku kira kau pasti mengenaliku. Sama seperti aku mengenalimu.” dia tersenyum hambar.

“Apa setelah ini kau tetap berada di sampingku? Seperti janjimu dulu.”
“Maaf.” dadaku sesak seketika.
“Gadis yang tadi aku temui di kedai, dia adalah ibu dari anak-anakku kelak.” mataku memanas. “Maaf, pertemuan ini terlambat, Tania. Jika dulu kau menyapaku, mungkin saja kita dapat bersama.” aku mendongakkan kepala. Berharap agar airmata tidak jatuh.

“Kapan?” suaraku bergetar.
“Pertengahan bulan.”
Tidak harus dia mengerti! Cukup aku saja.

Kamar tidurku lenggang. Tangisku reda lima menit lalu. Memang benar, aku takkan pernah bisa mendahului takidr tuhan masalah ini: masalah hati.

Cerpen Karangan: Nana Su’ud
Facebook: insyafiana30[-at-]gmail.com

Cerpen Takdir Hati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kenanganku Bersamanya

Oleh:
Pagi itu terasa sangat melelahkan padahal hari minggu, dan di hari itu juga aku mengenal wanita yang baru dihidupku, maklum aku masih duduk di bangku SMP kelas 8, aku

Love 1 Month (Part 1)

Oleh:
Hari ini, sama seperti hari-hari kemarin. Tak ada yang istimewa buatku. Kecuali, datang ke sekolah pagi-pagi hanya untuk melihat seorang adik kelas yang ku sukai. Namanya Nano. “Kepagian nih

Senja Bersamamu

Oleh:
Embun pagi telah menyusuri celah rumah rita yang masih terlelap. Suara nyaring dari jam alarm tepat di sebelah tempat tidurnya belum mampu membangunkan orang yang dikenal dengan tukang tidur

Dia Yang Tulus

Oleh:
Kelvin menatap tubuh kurus adik perempuannya. Mata sendunya tak berhenti menangis setiap bertemu adiknya. Kalau sudah begini, adiknya hanya tersenyum tipis sambil berkata, “Kakak jangan sedih dong.” Tapi pagi

Si Humor

Oleh:
Namaku yovy cristina aku biasa dipanggil ovie. Aku dijuluki gadis gila. Begitulah karena aku tak takut apa-apa. Aku suka ketawa gak jelas dan suka iseng. Teman-teman ku senang kepadaku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *