Takkan Percaya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 16 September 2016

“Dokter!,” panggil seseorang saat Felly hendak memasuki mobilnya.
“Iya?,” tanya Felly.
“Anda ada jadwal dengan pasien hari ini.”
“Pasien? Saya free hari ini.”
“Iya saya tahu. Awalnya, memang begitu. Tapi, jadwal anda berubah. Karena, pasien baru datang hari ini. Sebenarnya, pasien ini ditangani oleh Prof. Rendy. Mengingat beliau masih ada di Perancis. Sehingga, dilempar ke Dokter didikannya.”
“Tapi, masih ada Bram, Billy dan Riska kan selain saya sebagai Dokter didikannya?”
“Mereka tidak dapat menanganinya, Dok.”
“Apa?! Separah itukah pasien hingga tak mampu ditangani oleh tiga orang?”
“Mungkin.”
“Oh Tuhan, nasib apa lagi ini?!,” ucap Felly dengan nafas yang lemas. Menandakan lenguhan capek yang melekat di dalam dirinya.
“Baiklah. Saya akan kembali ke ruangan saya.”
“Baik, Dok. Oh ya, anda bisa langsung ke ruangan pasien. Ruangannya, ada di ruangan Anggrek, Dok.”
“Ok, ok.”
“Baiklah kalau begitu, saya tinggal dulu, Dok.”
“Iya.”
Mereka pun berpisah.

Dengan langkah lemas, Felly berjalan ke arah ruangannya. Kemudian, memakai jasnya kembali dan meletakkan tasnya. Setelah itu, keluar ruangan dan menuju ke kamar pasien yang sudah disebutkan oleh suster barusan.
“Sayang banget ya… udah ganteng, CEO lagi.”
“Iya. Gue kira nih, orang yang kayak begituan nggak bakalan punya penyakit.”
“Yah.. secara ya… uang udah banyak. Bisa kontrol ke rumah sakit tiap hari.”
“Namanya aja takdir. Siapa sih, yang bisa menghindari takdir kalau Yang Di Atas udah berkehendak?!,” ucap salah satu suster kepada teman-temannya yang tengah bergosip mengenai salah satu pasien.

Selama di perjalanan menuju ke tempat yang dituju, Felly berulangkali mendengar gosip tentang topik yang sama. Sehingga, hal tersebut mengundang Felly untuk menanyakan hal itu kepada orang-orang yang tengah asik bergosip dan menyayangkan korban gosip.
“Apakah, CEO itu ada di rumah sakit ini?,” tanya Felly ragu.
“Iya, Dok. Baru saja datang.”
“Oh.. begitu.”
“Iya, Dok. Oh ya, Dok. Dokter tadi dicari sama Dokter Riska dan Dokter Bram.”
“Benarkah? Apakah kalian tahu dimana mereka sekarang?,” tanya Felly serius.
“Felly!,” panggil seseorang.
Seketika Felly menoleh ke arah sumber suara.
“Itu Dokter Bram dan Dokter Riska,” ucap suster itu dengan menunjuk ke arah mereka yang tengah berlari menghampiri Felly.
“Lo kemana aja, sih? Di telepon nggak diangkat, dicari nggak ketemu-ketemu.”
“Iya. Sorry nih, ponsel gue lowbat. Jadi mana gue tahu kalau kalian telepon.”
“Udah, Bram jangan banyak bicara. Kasihan noh Billy di ruangan pasien. Nungguin kita,” ucap Riska dengan nafas yang terengah.
“Cabut, yuk!,” ajak Bram.

Saat mereka berada di depan ruangan, Bram dan Riska masuk terlebih dahulu. Barulah Felly yang masuk dengan urutan terakhir. Mata Felly tampak begitu bingung dengan mata yang sinis. Bagaimana tidak? Ia melihat teman sejawatnya begitu menyedihkan. Dengan kemeja yang kusam, wajah yang stress, dan rambut yang acak-acakan.
“Felly, help me!,” rengeknya dengan wajah yang memelas.
Felly pun menghampiri Billy yang tengah berhadapan dengan pasien yang masih terbungkus rapi dengan setelan jas. Tidak kusam sama sekali. Dari belakang, terlihat begitu elegan dan freesh.
“Bisakah kalian keluar?!,” tanya Felly saat ia berhadapan dengan pasien.
“Ok,” ucap Billy dengan menepuk pundak Felly. Seakan, memberikan kekuatan dan semangat untuk menangani kasus itu.
Felly menganggukkan kepalanya ramah dengan napas yang terdengar begitu berat.

“Kenapa kau bisa masuk ke sini, hah?! Apakah kau sengaja melakukan ini?!,” tanya Felly kepada pasien saat Bram, Billy dan Riska telah ke luar ruangan.
“Kenapa kau jadi menyalahkan aku. Salahkan saja keluargaku. Gue nggak sakit ditaruh ke tempat beginian. Gara-gara lo juga, gue nggak bisa nemuin klien hari ini. Apalagi, semua pegawai gue nggak ada yang bisa dipercaya.”
“Kenapa sekarang jadi gue yang kena semprot?!”
“Ya lo sih, nggak ngeluarin gue dari sini!”
“Arka, ada ya jaman sekarang CEO punya penyakit mental?! Lo pikir, gue akan percaya gitu aja?! Nggak!,” ucap Felly dengan meninggalkan ruangan.
“Hhhhh bagus deh kalau dia begitu. Keluar sono! Kalau gini, kan gue bisa kerja!,” gumamnya dengan merapatkan dasinya saat Felly telah meninggalkan ruangan.

Dengan langkah yang cepat, Felly meninggalkan Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Mantan kekasihnya tujuh tahun yang lalu. Ia tidak menyangka akan bertemu kembali dengan laki-laki itu. Ditambah lagi, Arka yang sehat bugar dan penuh bahagia harus sakit dengan prosedur ia yang memegangnya.

Tanpa basi-basi, Felly meraih tasnya dan berjalan ke arah parkiran. Saat ia hendak memasuki mobil, suster yang memanggilnya tadi bertanya mengenai kondisi pasien. Dengan cekatan, Felly menjawab bahwa pasien telah sembuh. Karena sebenarnya, pasien tidak memiliki penyakit apapun.

Felly menjalankan mobilnya santai hingga sampai di apartemennya. Sesampainya di sana, Felly langsung memasuki kamar mandi dan merendam badannya ke dalam bathtub yang berisi busa beraroma teraphy. Seperti biasa, sebelum beristirahat ia selalu meminum coklat panas untuk membuat tidurnya nyenyak.

Dengan bantal dan tempat tidur yang empuk. Ia merebahkan tubuhnya di balik selimut tebal. Cuaca di luar begitu dingin setelah turunnya hujan. Selang beberapa saat, ponselnya berbunyi begitu nyaring. Beberapa kali ia merejeck panggilan masuk. Akan tetapi, orang itu tidak ada putusnya untuk menelepon Felly. Sehingga, mau tidak mau Felly mengangkat teleponnya.

“Bram,” gumamnya dengan mata setengah tertutup.
“Hallo? Apaan?!,” lanjut Felly setelah menekan tombol hijau di ponselnya.
“Felly! Lo ke rumah sakit sekarang! Kita semua butuh bantuan lo! Please,” ucapnya panik.
Felly pun memutar kepalanya untuk mencari jam dinding.
“Aduh, Bram ini masih jam 3 pagi. Ngapain ke sana?! Tuhan…,” keluhnya dengan suara yang serak.
“Udah ah lo jangan kebanyakan cocot. Kena laporan rumah sakit ke Prof. Rendy baru tahu rasa lu!”
“Iya-iya. Gue ke sana.”
“Cepetan! 10 menit!”
“Hah, 10 menit?!!! Lo…,” katanya terputus saat Bram memutus teleponnya dengan sengaja.

Dengan napas yang berat, ia masuk ke dalam kamar mandi. Cepat-cepat bersiap tanpa sarapan terlebih dahulu. Sesampainya di sana, ia telah ditunggu oleh Riska.
“Apaan sih? Pakek nungguin gue?!”
Tanpa menjawab, Riska menariknya dan mengajak Felly berlari ke tempat yang mereka tuju. Sesampainya di sana, matanya dikejutkan oleh kejadian yang ada. Arka. Ia memukul keras pegawainya. Tidak hanya itu saja, Billy dan Bram kewalahan untuk menghentikan aksinya.
“Arka!,” panggil Felly dengan suara yang tegas.

Seketika pukulannya berhenti. Arka menoleh ke arah Felly. Tatapannya begitu tajam dan penuh dengan kebencian serta amarahnya. Felly mendekat ke arah Arka. Spontan, Arka mengepalkan tangannya hendak memukul Felly. Namun, pukulannya terhenti tiba-tiba. Entah apa yang telah terjadi. Ia hanya menghembuskan nafas beratnya dengan alis yang merapat ke satu arah. Ke luar ruangan dengan hawa tubuh yang penuh amarah.

“Lo kenal sama pasien itu?,” tanya Billy dengan meringis karena kesakitan di sudut bibirnya.
“Dia, mantan kekasih gue!,” ucap Felly dengan menatap ke arah luar jendela.
“Apa?!,” jawab Riska dan Bram bersamaan .
“Gue akan kembali,” ucap Felly dengan meninggalkan teman-temannya. Setelah Felly keluar, Riska membantu ketiga laki-laki yang ada di dalam ruangan untuk mengobati lukanya.
Sedangkan Felly, ia berjalan ke seluruh sudut rumah sakit untuk mencari Arka. Entah mengapa, simpati yang ada di dalam dirinya mulai muncul setelah melihat kekerasan yang baru saja ia lihat.
“Kenapa kamu sendiri di sini?,” tanya Felly dengan mengulurkan ice cream yang baru saja ia beli di kantin rumah sakit.
Arka melirik ice cream itu. Menerimanya tanpa membukanya. Matanya kembali menatap bunga-bunga yang berwarna gelap karena hanya ada remang-remang lampu layaknya warna senja.
“Kau boleh tidak menjawab pertanyaanku, tapi setidaknya hargai aku dan makan ice cream ini!,” ucap Felly gemas setelah membukakan bungkus ice cream dan memasangkannya di tangan Arka yang masih menggenggam erat.
“Makan…,” pinta Felly manja dengan menggerakkan tangan Arka mendekat ke mulutnya.
Sejenak, Arka menatap Felly yang duduk di sampingnya dengan tajam, penuh amarah, dan kebencian. Namun, semuanya berubah saat cream ice cream tadi menempel ke bibirnya yang terkatup dan menjilatnya dengan lidah.
“Kenapa kau ada di sini? Pergilah!,” ucap Arka.
“Tidak! Aku akan menemanimu.”
“Tch! Menemani katamu? Apa kau pikir aku akan percaya? Tidak!!!,” kata Arka ketus.
“Aku tahu, kau marah. Tapi aku akan tetap menemanimu.”
Tanpa menjawab, Arka beranjak dari tempat duduknya. Hendak meninggalkan Felly. Sejenak, Felly merasa begitu sakit hatinya. Bukan karena tersinggung. Entah apa itu namanya, ia tak tahu. Felly tak mampu menghentikan Arka. Sehingga, sekarang adalah giliran dia yang duduk terdiam sendiri di taman. Sedangkan Arka, entah kemana ia pergi.

“Bagaimana dengan pasien tadi?,” tanya Riska saat memasuki ruangan Felly dan melihat Felly merebahkan kepalanya di kursi dengan menatap langit-langit.
“Hhhhhh, entahlah! Gue bakalan cari tahu tentang semua ini,” ucap Felly pasrah.
“Bagus deh! Lo pasti belum makan kan gara-gara telfon Bram yang dadakan. Nih! Gue belikan makanan kesukaan lo! Kita makan bareng yuk!,” ajak Riska dengan senyuman ramahnya.
Felly hanya terdiam. Tapi, ia menjawabnya dengan senyuman lega dan bersahabat. Ia duduk tegak dengan benar. Kemudian, mereka pun makan bersama. Sekaligus, bergurau bersama setelah ketegangan yang baru saja terjadi.
“Felly! Ini kelengkapan data Arka!,” ucap Bram dengan menyerahkan map berwarna biru.
“Ok thank you, ya..,” ucap Felly dengan senyuman.
“Sip. Gue tinggal dulu, ya. Bye.”

Dengan sigap, Felly membuka map itu. Melihat semua data keseluruhan tentang diri Arka. Ia menyudutkan dirinya dengan data yang ia dapat. Semuanya terasa biasa. Ia merasa, bahwa kejadian kemarin adalah salah satu dari bawaan sifat Arka tersendiri. Bukan penyakit kronis ataupun yang lainnya.
Akan tetapi, matanya tertuju pada data dimana ia mengungkapkan alasan umum namun memiliki keidentikan tersendiri. Dengan cermat, Felly membaca satu persatu kata dan juga ciri-ciri Arka saat ia melakukan tindakan kekerasan terhadap orang lain. Hatinya terasa begitu bimbang saat ia harus menyimpulkan bahwa itu adalah penyakit.
Bagaimana tidak? Arka selalu melakukan tindakan kekerasan saat orang yang berinteraksi ataupun bersosialisasi tidak sesuai dengan apa yang orang itu bicarakan. Kebanyakan laporan yang ada adalah, Arka melakukan tindakan kekerasan pada saat pegawainya melaporkan apa yang tidak sesuai dengan kenyataan meskipun itu kenyataan.

“Bisakah aku bertemu dengan pasien bernama Arka?”
“Bisa, Dok. Kebetulan, beliau sedang menyendiri di taman.”
“Baiklah, terimakasih Sus!,’ ucapnya dengan menutup telfon kabel rumah sakit.
Pagi hari itu juga, Felly melakukan aksinya sesuai dengan rencana yang ia miliki. Tanpa menginterograsi seperti yang dilakukan Billy atapun menyelundup seperti yang dilakukan oleh Bram dan Riska.

“Apakah kau tidak menemukan tempat untuk menyendiri hingga kau harus kembali?”
“Pergilah! Aku ingin sendiri,” jawab Arka ketus.
“Ok. Aku akan pergi, karena aku tidak mau kau campakkan kedua kalinya. Tapi, aku ingin menanyakan sesuatu.”
“Kau tahu, aku memberikan ice cream itu karena aku tulus padamu. Aku…”
Seketika tangan Felly menghentikan telapak tangan Arka yang hendak menamparnya.
“Ok. Aku akan pergi. Bersenang-senanglah!,” ucap Felly dengan senyuman puas.

Setelah itu, Felly kembali ke tempat duduknya. Ia merenungkan kejadian tadi dengan pikiran analisis dan sesuai dengan logis. Beberapa kali, ia menuliskan kata kunci di atas kertas bersih. Sesaat, ia merasa stress dengan pikirannya. Akan tetapi, kunci kata yang terakhir telah membuatnya berubah saat ia melihat tulisan ‘refleks’ di daftar kata kuncinya. Dengan cepat dan giat, ia menyatukan seluruh alasan logisnya. Dan, berhasilah ia menemukan pertanyaannya selama ini.
Namun, jantungnya seketika terasa berhenti saat ia tahu definisi penyakit itu. Selain itu, dadanya terasa sesak, badannya gemetaran, bibirnya terkatub rapat, matanya terasa panas, dan hatinya serasa teriris. Yah… benar-benar terasa sakit saat ia menemukan kata Capgras Delusion (Capgras Syndrome).

Capgras Syndrome adalah suatu kelainan di mana seseorang mengalami delusi keyakinan bahwa seorang teman, pasangan, orang tua atau anggota keluarga dekat yang lain, telah digantikan oleh orang lain (penipu). Capgras Syndrome digolongkan sebagai sindrom misidentification delusion, suatu keyakinan delusional yang melibatkan salah mengidentifikasi orang, tempat atau benda. Sindrom ini dapat terjadi secara akut, temporer, atau kronis. Nama sindrom ini diambil dari penemunya, Jean Marie Joseph Capgras, psikiater Perancis.

Mata Felly tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Entah mengapa, ia tak tahu. Yang ia rasakan hanyalah sakit, sakit, dan sakit di dadanya. Akan tetapi, ia sadar bahwa ia harus melakukan sesuatu. Felly pun menekan tombol ‘3’ di telepon kabelnya. Bram.
“Gue udah nemuin apa penyakit Arka. Lo dan anak-anak ke sini, ya?! Gue butuh bantuan lo!,” ucap Felly dengan suara yang serak.
“Ok,” ucap Bram tergesah.
Tak lama kemudian, Bram, Billy dan Riska datang. Felly pun menjelaskan apa yang terjadi. Kemudian, mengemukakan cara-cara untuk mengatasinya.
“Fel, kalau dia terus terpenjara di dalam ruangan maka sindrom itu akan menebal karena ia terus menganggap bahwa semuanya penipu dan memiliki buktinya dengan mengurung dia,” ujar Billy.
“Kalau obat-oabatan saja, dia nggak akan sembuh total sesuai dengan target kita. Obat hanya akan bisa menenangkannya. Bukan menyembuhkan kalau kasusnya seperti ini,” ucap Riska.”
“Dan, sentuhan fisik yang bermotivasi kekerasan dan penekanan akan semakin memperparah mentalnya. Kemungkinan, jika ia tidak kuat menahan tekanan, ia akan gila permanent. Bukan hanya memiliki sindrom ini saja,” tambah Bram.
“Terus, gue harus pake apa?”
“Sentuh dia dengan hati. Berilah dia kepercayaan.”
“Caranya?”
“Cari tahu asal mula ia menumbuhkan rasa ini,” ujar Billy.
“Nih! Gue punya datanya!,” ucap Bram dengan menyerahkan beberapa kertas.
“Maksud lo?!,” kata Felly terputus saat melihat laporan Bram dengan mata yang melotot.
“Gue tahu, kalian pasti masih ada rasa meskipun sedikit. Lagipula, semua ini bermula dari lo! Dia mulai menumbuhkan ini semua pada saat lo meninggalkan dia. Padahal, sebelumnya lo udah janji sama dia kalau lo bakalan selalu ada di sisinya meskipn berjauhan tempat, atau waktu. Tapi, lo mengingkari janji lo dan terus memberontak untuk meneruskan kuliah lo di Jerman. Dia menekan dirinya dengan menyendiri tanpa mencari pendamping. Sehingga, sindrom ini terus tumbuh subur tanpa ada rem yang menghalanginya,” jelas Bram panjang lebar.
“Kalau dipikir lagi nih, dia tadi sempat berhenti melakukan kekerasan saat bersama lo kan waktu di ruangan? Bisa jadi, semua terjadi karena cinta. Memang, keluarga dan orang-orang sekitarnya memberikan dukungan dan kasih sayang. Namun, yang ia butuhkan adalah cinta dari lawan jenisnya atau ia tidak dapat menahan hasrat amarahnya hingga menumpuk seperti ini,” lanjut Riska.
“Kalau kalian terus cari alasan yang tepat, kapan bertindaknya? Semakin cepat semakin baik, kan? Jadi, ayolah kita lakukan bersama. Jangan Felly melulu meskipun Felly memiliki kemampuan dan status yang cocok untuk penyakit dan orang yang terkena. Kita bantu dia sedikit-sedikit dengan tindakan. Bukan dengan mulut yang hanya bisa berbicara,” ujar Billy.

Sesuai dengan rencana mereka melakukan rencana itu hari ini. Felly mulai mendekati Arka. Dan seperti biasa Arka selalu mengacuhkannya. Entah itu dari kata-kata yang ketus, atapun hendak menampar dan memukul. Namun, Felly terus mendekatinya hingga Arka merasa risih dan memberontak. Mau tak mau, Billy dan Bram beraksi. Mereka berdua mengikat Arka dengan tali di pinggiran tempat tidurnya.
“Billy, Bram! Cukup!,” teriak Felly dari ujung pintu kamar Arka dirawat.
Seketika Billy dan Bram menoleh. Mereka menghentikan aksinya. Sedangkan Felly, ia berlari ke arah Arka. Memeluknya dengan begitu erat. Tangisannya tak dapat terhenti hingga membuat Billy dan Bram keheranan. Tapi Riska, dapat memahami sahabatnya itu. Riska mengajak Bram dan Billy ke luar dari ruangan. Membiarkan Felly dan Arka terjun ke dunia mereka sendiri.
“Felly!,” gumam Arka lirih. Terdiam, tak memberontak.
Felly melepaskan pelukannya. Menatap mata Arka yang sendu. Penuh dengan beban dan juga, penuh dengan kasih sayang yang tertutupi dengan kebenciannya. Felly tak tahu mengapa ia bisa melihat semua itu di mata Arka. Namun, tatapan matanya mulai membuat Arka memberontak. Felly pun merangkak mundur.
“Kenapa kau melakukan ini?!,” tanya Felly tanpa rasa takut saat Arka hendak memukulnya. Dengan menatap matanya, Felly mulai bernafas teratur.
Tanpa menjawab Arka meninggalkan Felly . Namun, Felly menghalanginya dengan menarik lengannya.
“Jawab aku Arka!!!,” bentak Felly dengan nada yang mulai meninggi.
“Seharusnya kau yang menjawab aku! Bukan aku! Kemana saja kau pergi?! Kemana saja kau saat aku membutuhkanmu?! Membutuhkan pelukanmu?!!! Kemana saja kau, hah?! Jikalau kau memang berniat pergi, kenapa kau masih ada di dalam kehidupanku meski aturan mengikatmu. Kenapa kau mau menyembuhkan aku?! Jika memang kau pergi, pergilah sesukamu! Tak usah mempedulikan aku! Aku membencimu, Felly! Aku ingin kau mati!!!,” jawabnya tak kalah tinggi nadanya.
Felly hanya bisa berdiri mematung memandang mantan kekasihnya dengan reaksi itu. Untuk pertama kalinya, Felly melihat Arka mengeluarkan segala isi hatinya. Tak lama, Arka tertunduk lemas dengan lutut yang tertekuk. Spontan, Felly menahan tubuh Arka dengan melingkarkan kedua tangannya ke arah punggung Arka.
“Aku gila dengan semua ini,” ucap Arka lirih.
Felly merasa hangat saat wajah Arka jatuh di pelukan Felly.
“Arka…,” ucap Felly lirih dan penuh dengan air mata. Bagaimana tidak? Untuk pertama kalinya, Felly melihat Arka yang begitu kuat dan cool bisa menangis.
Tanpa berkata apapun, Felly kembali mendekap Arka dengan begitu erat. Seakan, ia tak mau melepasnya. Felly menangis begitu keras dengan desisan sakit yang ia rasakan di dalam hatinya. Hatinya terasa begitu sakit. Bahkan, lebih sakit dari sebelumnya. Ia menyadari, bahwa ia masih mencintai kekasihnya itu. Masih menyayangi kekasihnya.

Mereka cukup lama berpelukan dengan posisi itu. Hingga tanpa Felly sadari, Arka pingsan di pelukannya. Felly pun memapahnya ke atas tempat tidur. Menunggu Arka hingga Arka bangun.
“Kenapa kau di sini?,” tanya Arka datar.
Felly tak menjawab. Tubuhnya bergerak secara refleks. Ia mencium kening Arka tanpa seizin pemiliknya. Arka sempat menatapnya dengan amarah, namun mereda saat tangan Felly menggenggam telapak tangan Arka.
“Ayo menikah!,” ucap Felly dengan mata yang nanar.
“Menikah? Apakah kau pikir aku percaya?! Kau menolakku untuk melamarmu dan memilih pergi ke Jerman. Sekarang…,” ucapnya terputus saat Felly menatapnya dengan linangan air mata.
“Berhentilah menangis,” ucap Arka dengan mengsap air mata Felly.
“Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku! Aku mohon! Maafkan aku, Arka. Aku memang gadis bodoh telah meninggalkan cinta tulusmu. Maafkan aku.. Maafkan aku…,” ucapnya dengan menangis dan menepelkan keningnya di telapak tangan Arka.
Namun, Arka tidak menjawab apapun. Ia membelai rambut Felly dengan begitu lembut. Felly memberanikan untuk menatap mata Arka. Ia tersentak saat ia sudah tidak dapat melihat sorot amarah dan kebencian di dalamnya. Di waktu hitungan ke empat, Arka membingkai bibirnya dengan senyuman. Begitu juga Felly. Sejak saat itulah, kondisi Arka semakin hari semakin membaik dengan perawatan intensif yang diberikan oleh Felly.

Awalanya, mereka tidak percaya bahwa cinta memiliki kekuatan. Akan tetapi, semuanya berubah saat mereka ingin mempercayai apa yang ada di depan mereka. Cinta. Cinta tak butuh untuk hanya diucapkan. Melainkan, tindakan. Untuk apa cinta diucapkan jika tak ada tindakan? Karena cinta sesungguhnya, bukan hanya sekedar janji. Melainkan Ikatan hati.

Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Facebook: Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Kerudung Putih)
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani[-at-]yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Cerpen Takkan Percaya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Setetes Tinta (Part 2)

Oleh:
Seperti sepasang kekasih. Alissa menghela nafas berat sambil mengelus dada. Hatinya terasa mulai retak. Alissa menghela nafas lalu berbalik dengan cepat. Ia ingin segera berlari, namun malah menabrak seseorang.

Satu Jam

Oleh:
Kalau orang yang sedang sakit hati pasti sangat membenci yang namanya cinta, tapi beda tahu sama yang namanya orang lagi jatuh cinta, enggak ada bosan-bosannya dia ngomong masalah cinta,

Pria Di Persimpangan Jalan

Oleh:
Dia adalah seorang pria biasa yang baru lahir dari waktu. Ini adalah waktunya untuk berani berjalan menelusuri dunia yang belum pernah ia ketahui sebelumnya. Berawal dari waktu kehancuran tempat

Hujan Dan Segelas Hot Cappucino

Oleh:
Pagi ini hujan lagi, Namun aku tetap harus berangkat sekolah. Oh iya kenalin nama gue Lorenzi. Pagi ini gue harus jemput sahabat gue sifa, gue bersahabat sejak kelas 6

Antara Cinta dan Persahabatan

Oleh:
Mentari dan rembulan, mereka tak pernah bertengkar, mereka tak pernah bertabrakan saat muncul di langit, mereka tak bersahabat tapi saling melengkapi. lalu bagaimana dengan persahabatan di bumi? mereka selalu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *