Takut Melangkah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 17 November 2018

Pagi yang malang. Di saat manusia lemah itu menyeruput kopi pahitnya dengan perasaan bimbang. Sudah lama dia tidak merasakan getaran yang dia rasakan saat ini. Getaran yang membuatnya seperti berada dalam posisi di tengah kesedihan atau kebahagian. Dia ragu, dia rapuh, dia merasa hal ini tidak seharusnya terjadi untuk seorang laki-laki berumur dua puluh satu tahun. “Harusnya aku tidak terbawa suasana.” Gumamnya sambil terus memaki dirinya sendiri.

Pagi yang malang. Di saat manusia lemah itu ragu mengambil langkah hanya karena percaya omong kosong yang diciptakannya sendiri. Asumsi-asumsi kotor menggerayangi langkahnya untuk mengambil perubahan dalam hidup. Terbawa. Terseret. Tidak tahu harus kembali atau lanjut melangkah. Dia mengerti kondisi di mana ketika dia kembali dia hanya akan menjadi seorang pengecut, tapi ketika dia melangkah dia akan tersungkur. Pilihan sulit untuk seorang manusia lemah. Dan manusia lemah itu adalah aku. Eyun.

Cinta. Ini tentang cinta. Aku telah terperangkap dalam satu hubungan yang lebih dikenal dengan sebuatan PDKT. Sebenarnya bukan hal baru untukku. Tapi ini adalah hal yang sudah sekian lama aku tinggalkan sehingga aku menjadi tidak terlalu pandai bermain hal semacam cinta itu.

Masalah berawal sejak semua baru dimulai satu bulan yang lalu. Aku bertemu dengan seorang wanita yang cukup cantik, tidak tinggi, dan lumayan asik. Namanya Aily. Waktu itu aku sedang berada dalam perjalanan menuju Bali untuk kembali kuliah. Aku menyebrang dari Lombok ke Bali dengan kapal laut, melintasi Selat Bali yang jauh. Di kapal laut yang entah aku tak tau namanya itu kami bertemu untuk pertama kali. Di pojok kiri dekat penyimpanan pelampung di tempat duduk lesehan untuk penumpang aku melihatnya duduk sendiri. Bukan modus, bukan apapun, waktu itu hanya naluri lelakiku yang bekerja sehingga aku langsung menghampirinya dan duduk tepat di sebelahnya.

“Kosong?” Tanyaku sambil berharap kalau itu kosong.
“Oh, iya, silahkan!” Oh, man. Ternyata suara dan senyumnya kongruen. Manis.

Aku duduk dengan santai di sebelahnya. Tidak ada percakapan apapun sampai beberapa menit kapal berlalu meninggalkan pelabuhan. Situasi adalah hal yang paling faham kondisi saat itu. Realita bahwa aku tidak akan memulai percakapan karena aku sudah lama menjomblo dan realita bahwa dia tidak akan memulai percakapan karena dia berfikir kalau aku copet. Aku hanya terdiam, membiarkan semua berlalu.

Tapi entah keberuntungan atau apa, tapi waktu itu adalah pertama kalinya aku bersyukur Selat Bali sedang memiliki arus yang tidak baik. Kapal kami bergoyang seperti biduan dangdut yang membuat semua orang di dalam kapal mengingat Tuhan. Semua orang panik karena takut kapal itu akan terbalik dan tenggelam. Tidak terkecuali wanita cantik di sebelahku. Saat itu aku tidak khawatir sama sekali karena aku biasa di laut dan aku berfikir kalau kapal ini tenggelam aku masih bisa selamat. Tapi dia takut setengah mati dan akhirnya menyapaku dengan suara lirih dan agak gemetaran.

“Mas. Aku boleh pinjam pahanya untuk tiduran. Aku pusing.”
Fix. Waktu itu dunia berhenti berputar. Aku hanya bisa menjawab dengan mengangguk dan tersenyum. Tidak bisa. Tidak bisa aku berkata “ya” sekalipun karena aku terlalu bahagia. Hatiku meronta dan memaksaku untuk melakukan selebrasi tapi aku masih bisa menahan dan memang harus kutahan. Sulit dijelaskan namun waktu itu kondisi yang paling memahami situasi.

Di sana. Saat kepalanya di pangkuanku kami mulai cair. Berkenalan dan bercerita banyak hal sampai kami tidak meraskan kalau beberapa menit lagi kapal kami sandar di pelabuhan Padang Bai, Bali. Saat itu juga aku percaya cinta bisa mengalahkan badai sekalipun. Arus mulai tenang, semua orang bersiap untuk turun dari kapal dan dia pun mengangkat kepalanya dari pahaku. Ah. Sial.

Kami berpisah di pelabuhan karena aku menggunakan motor dan dia menggunakan bus. Kami berpisah dengan sebuah kenang-kenangan seperti nomer handphone dan sedikit foto selfie. Di saat itulah kami mulai dekat sampai saat ini.

Dan sekarang. Pagi yang malang. Aku harus menerima kenyataan bahwa aku hanyalah manusia lemah yang tidak berani menyatakan cinta hanya karena aku takut kalau dia tidak merasakan hal yang sama. Padahal mengingat awal pertemuan kami, bisa dibilang menarik dan penuh keromantisan.

“Bagaimana dia tidak merasakan hal yang sama kalau badai saja sudah kalian lewati berdua?” Kata sosok pemberani dalam hatiku.
“Tapi bagaimana kalau dia sudah punya pacar?” Kata sosok pesimis dalam hatiku.
“Ayolah, coba aja dulu. Kita tidak akan tahu sebelum coba.” Kata si pemberani lagi.
Fix. Aku gila karena cinta dan sisi pemberaniku menang.

Aku masih bingung. Sering aku meminta pendapat ke teman-temanku tentang hal ini dan semuanya pasti menjawab “udah, tembak aja” seolah-olah menembak hanya butuh persiapan kata-kata saja. Karena menurutku menyatakan cinta kepada seseorang adalah hal yang membutuhkan persiapan yang harus sangat matang. Tidak bisa semudah membalik telapak tangan. Cinta adalah sesuatu yang sakral menurutku. Sulitnya cinta akan berbanding lurus dengan lamanya kalian tidak mengenalnya. Semakin lama kalian tidak mengenal cinta, semakin lama juga cinta akan mengenal kalian ketika merasakannya. Itu sebabnya aku takut, ragu, dan bimbang.

Namun. Kali ini aku harus mencoba untuk menyatakan. Apapun hasilnya adalah kehendak Tuhan dan cinta itu sendiri. Aku tidak boleh mengecewakan sisi pemberaniku yang sudah menang. Aku harus menyatakannya. Tekadku sudah bulat dan matang sematang telur dadar. Aku memberi semangat kepada diriku kemudian menelponnya.

“Halo. Aily.” Aku takut.
“Iya, Yun. Ada apa?”
“Aku mau ngomong kalau aku suka kamu, kamu mau gak jadi pacarku?” Aku tidak mau berbasa-basi, karena basa-basi akan memperburuk keadaan.
“Mmm, Eyun. Aku minta maaf sebelumnya. Jujur aku juga suka sama kamu, tapi… Aku sudah punya pacar dan aku ga mungkin ninggalin dia. Kita…”
Belum sempat dia menyelesaikan pembicaraannya aku langsung mematikan telepon itu. Ya. Benar sekali. Selamat. Aku ditolak.

Pagi yang benar-benar malang. Menolak dengan alasan sudah punya pacar menurutku adalah tindakan tidak terpuji. Aku merasa sedikit sakit hati dengan hal itu. Tapi setidaknya aku sudah berani mengatakan dan aku sudah berani mengambil keputusan yang optimis untuk melangkah maju. Intinya adalah seperti itu. Walaupun tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan, setidaknya aku sudah berhasil menaklukan diriku dan mengenal cinta. Setidaknya sekarang aku sudah bebas dari belenggu keraguan. Setidaknya sekarang aku bisa meminum kopi pahitku dengan tenang. Setidaknya aku tidak lagi takut melangkah.

Cerpen Karangan: Muhammad Khairul Haafizhin
Blog / Facebook: Eyun Senzala
Hai. Saya Eyun dari Lombok. Saya seorang mahasiswa di Universitas Udayana Bali. Saya suka menulis dan membaca juga sharing tentang apapun dengan orang lain. Bagi saya berbagi adalah hak semua orang. Terima kasih.

Cerpen Takut Melangkah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


About My Love

Oleh:
Aku gak boleh larut dalam perasaan ini. aku takut… benar-benar takut. Di satu sisi aku sangat mencintai kekasihku tapi di sisi lain aku sangat merasa nyaman jika berada di

Remember

Oleh:
Aku adalah seorang penyanyi papan atas dunia. Orang mengenalku sebagai seorang artis dan penghargaan yang ku punya. Begitulah yang aku harapkan. Aku baru saja putus dengan pacarku. Aku rasa

Akibat Cinta Tapi Gengsi

Oleh:
Siang ini mentari menyembunyikan sinarnya di balik awan cumulus. Kejayaannya di gantikan oleh cumulus cumulus tebal di langit. Rinai hujan mengiringi waktu yang berjalan. Gadis berambut pendek sebahu ini

Setengah Penuh Menggapai Candi

Oleh:
Di satu pagi yang cerah, di sebuah kafe seberang kampus di bilangan Kemanggisan, Jakarta Barat. “Ini kesempatan terakhir kamu, aku atau mereka?!”. Itu yang Nadya bilang pada Arman, di

Cinta Karena Harta

Oleh:
Aku masih ingat saat itu kau tinggalkan aku dengan kata-katamu yang sangat menyakiti hatiku. Hubungan kita yang tak direstui oleh seluruh keluargamu yang membuat kau meninggalkanku begitu saja. Kau

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *