Tambatan Hatiku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Romantis, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 8 September 2017

Aku melirik jam dinding. Masih jam 8. Masih ada banyak waktu untuk mengerjakan semuanya. Aku sedang mencari-cari buku di rak belajarku untuk sumber makalahku. Akhirnya aku menemukannya juga. Buku yang sudah agak lama. Kubuka buku itu untuk melihat daftar isinya. Buku yang tepat, lengkap, semuanya ada di sini. Tidak rugi aku menyimpannya selama ini. Lalu, kubuka lembar-lembar halaman itu dan… Sebuah foto berukuran 4×6 terselip di buku ini. Gadis kecil berambut lurus sebahu dan mata lebar dengan senyum yang mengembang. Ah, kenapa foto ini bisa ada di sini.

Litta. Gadis imut bermata lebar itu membuatku tidak bisa melupakannya. Sudah lima tahun kami tidak bertemu. Waktu itu aku harus pindah ke luar kota karena pekerjaan ayahku dan melanjutkan kuliah di sana. Dia masih SD waktu itu dan aku SMA. Kami bertetangga sehingga bisa selalu bersama. Aku yang selalu membantunya ketika dia kesulitan belajar. “Kakak hati-hati di jalan ya” kata-kata itu, yang aku dengar sebelum aku pergi ke kota ini, masih terngiang di telingaku sampai sekarang. Gadis itu pasti tumbuh besar sekarang. Ah, aku begitu merindukannya. Tapi, apa mungkin ia masih mengingatku? Entahlah, tapi debaran halus selalu muncul setiap kali aku mengingatnya.

Kubayar buku yang ada di tanganku ini ke kasir. Akhirnya dapat juga buku yang kucari. Saat aku keluar, rintik-rintik air turun. Tampaknya semakin lama semakin deras. Kenapa harus hujan. Sial. Tidak ada pilihan lain bagiku selain menunggunya agak reda di depan toko buku ini. Kulihat beberapa orang melakukan hal yang sama.

“Aaah kenapa harus hujan?” kata seorang gadis berseragam yang baru saja keluar dari pintu toko. “Maaf, bu aku sepertinya pulang telat. Aku masih di depan toko buku, terjebak hujan. Ibu jangan curiga padaku ya. Kututup dulu ya, bu” Lanjutnya sambil mendekatkan handphone di telinganya dan kemudian memasukkan benda itu ke saku.

Entah kenapa pandanganku selalu tertuju pada gadis berseragam itu. Aku terus memandangnya dari belakang, kuperhatikan gadis yang ada satu meter di depanku ini. Ia memakai tas ransel merah muda, rambutnya hitam lurus, salah satu kakinya sesekali digerakkan, kedua tangannya saling memegang siku, sepertinya dia kedinginan. Cukup lama. Tiba-tiba dia berbalik, mata itu, mata lebar coklat itu. Kami berpandangan. Debaran halus muncul lagi di dadaku. Ya Tuhan. Apa aku sedang bermimpi? Aku tidak salah kan? Aku tidak sanggup menahan kakiku untuk melanglah ke arahnya.

“Litta” kuucapkan kata itu di depannya. Dia tampak bingung, seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. Setelah beberapa lama.. sepertinya aku akan kecewa, dia melupakanku.
“Kakak, benar ini kak Eric?” tanyanya padaku ragu sambil mengamatiku.
”Seperti katamu, ini aku” jawabku sambil menatap mata coklatnya.
“Waah, kakak..” Ia pun memelukku tanpa canggung. Aku jadi gugup. Aku tidak menyangka. Apa ini? Degupan di dadaku semakin keras. Saat-saat seperti ini, waktu seakan-akan melambat, bisakah hujannya jangan berhenti.

Akhirnya, kemudian ia melepaskan pelukannya. Hujan tetap deras.
“Kakak, aku tidak menyangka kita bisa bertemu lagi. Kakak tinggal di mana?” tanyanya.
“Tidak terlalu jauh dari sini, di perumahan nasional gang melati, kamu?” aku balik bertanya.
“Kenapa bisa sama ya, aku juga gang melati 19 E, baru pindah seminggu lalu. Kita akan jadi tetangga lagi kak” jawabnya senang. Ya Tuhan, apa ini sebuah kebetulan? “Kakak pasti kuliah ya? fakultas apa?” tanyanya kemudian.
“FKIP, prodinya matematika” jawabku.
“Apa itu kak? Sepertinya aku pernah mendengar”
“Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Jadi alumninya bisa jadi guru nanti” aku menjelaskan sedikit.
“Oh, begitu. Nah, kebetulan ni aku butuh guru les privat matematika, soalnya nilai matematikaku bagus banget kak, dapet telur dadar terus sampe bosan bawa pulangnya, nyampe rumah selalu kena marah ibu” katanya. Suasana menghangat.
“Hahaha, pasti kamu pinter banget di kelas sampai langganan telur dadar ya”
“Iiih, kakak ini, mentang-mentang pintar” dia cemberut, bibirnya manyun, telihat lucu sekali. Aku menatapnya. Dia masih sama seperti dulu. Imut, lucu, ceria, dan polos.

Kubuka jaketku dan kupakaikan di tubuhnya. Aku tidak tahan melihatnya kedinginan dari tadi.
“Ah, tidak perlu kak aku tidak dingin” katanya menolak.
“Bohong, jelas-jelas kamu dingin” kataku sambil memakaikan jaketku.

“Kakak, bisa jadi guruku kan?” tanyanya tiba-tiba. Mata coklatnya menatapku. Ah, mata itu.
“a-iya” jawabku terputus-putus. Litta ternyenyum padaku, manis sekali. Aku pun membalas senyumnya.
Hujan mulai reda. Sepertinya aku akan meleleh hari ini.

Cerpen Karangan: Hastarika Purwitasari
Facebook: Hastarika Purwitasari

Cerpen Tambatan Hatiku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lorong Thania

Oleh:
Rintik hujan menemaniku.. Ya, perlahan aku berjalan di lorong ini.. Lorong cintaku bersama Thania.. Lorong yang mempertemukan kami, merajut kisah kami menjadi hubungan cinta dua orang remaja.. Dulu kami

Sahabat, Aku Cinta

Oleh:
Ridho sudah berjam-jam duduk termenung dibawah pohon rindang di depan rumah sakit tempatnya praktik. Masih jelas diingatannya kejadian 6 tahun yang lalu. Saat itu dia masih duduk di kelas

Dibalik Jendela

Oleh:
Namaku Muhammad Fadlilah, teman-temanku biasa memanggilku Fadli. Begitulah jemahan terhadap namaku yang menurutku adalah kado yang indah dari orangtuaku. Hari ini pertamaku menginjakkan kakiku di dunia yang baru yaitu

A Series of Ropes

Oleh:
Ini adalah awal dimana kita tidak saling mengenal. Dan butuh waktu lama untuk kita saling mengenal. Masih terlintas memori saat aku mengirimi kalimat dalam sebuah pesan. Tentu, untuk seorang

Secangkir Kopi (Kopi 1)

Oleh:
Ingatan tentang hujan di Kedai Arch membuahkan rasa yang aku sebut cinta. “Ini kopimu!” Tangan besar menyuguhkan aku secangkir kopi pesanan. Aku mengira kamu adalah pelayan langganan. Ternyata sosok

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *