Tanah Air dan Udara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 10 January 2018

“Hey, di mana kamu? Baiklah aku menyerah”. Teriak seorang anak perempuan berumur 6 tahun. “Jadi kamu menyerah begitu saja?” Jawab seorang anak lelaki yang berumur 8 tahun di seberang jalan dari anak perempuan yang merupakan temannya. “Kemari kau!!!” Teriak perempuan itu dan berlari ke arah lelaki tersebut. Namun, sayangnya, ia tidak melihat jalan dan ia pun tertabrak sebuah truk. “Air!!!” Teriak seorang anak lelaki yang segera menghampiri temannya tersebut.

“Nak, apakah kamu sudah sadar?” Tanya seorang wanita yang merupakan ibu anak perempuan tersebut. “Di mana aku? Dan apakah kamu ibuku?” Tanya anak tersebut. “Kamu sekarang sedang di rumah sakit dan aku adalah ibumu dan ini ayahmu” Jawab wanita itu. “Ibu! Ayah!”

Setelah beberapa hari ia pun pulang ke rumahnya dan kembali bersekolah. Aira Putri. Ya itu adalah nama anak perempuan itu. Ia mengalami Amnesia yang cukup parah sehingga saat bersekolah ia merasa asing tetapi ia mulai terbiasa. Selain Amnesia ia juga mempunyai penyakit yang entah apa namanya. Ia lahir pada tanggal 26 Mei 2001 dan kalian pasti tau apa rasi bintangnya. Ya, Gemini. Pastinya ia mudah mengenali lingkungannya kembali tetapi, tidak terlalu percaya dengan apa yang dimaksud dengan rasi bintang. Dan saat di sekolah ia merasa ada yang janggal tetapi, ia tidak terlalu menghiraukannya.

Tahun 2016
Di tahun ini Air sudah menjadi siswa SMA di salah satu SMA di daerahnya.
Dan saat itu masih dalam masa MOS. Ia melihat seorang kakak kelas yang merupakan salah satu siswa terkenal di sekolahnya itu. Lelaki itu merupakan ketua OSIS di sekolahnya, ketua tim basket, dll. Namanya Fatan Alvero. Panggilannya Fatan. Dari pertama bertemu dengan Air, Fatan selalu memperhatikan Air hingga kini yang merupakan bulan Agustus. Air merasa bingung antara risih atau nyaman dan akhirnya ia bertanya dengan Fatan saat pulang sekolah.

“Kak, mengapa kau selalu memperhatikanku dari awal kita bertemu?” “…” “Kak tolong jawab”.
Fatan pun pergi tanpa sepatah katapun yang dikeluarkan. Air merasa kesal dan bergumam “dasar Tanah! Dia memperhatikanku tetapi tak mau berbicara denganku, huuh!” “Apa kau bilang?!” Tanya Fatan yang tiba-tiba datang.”T..t..tidak kak Tanah”. Jawab Air yang langsung menutup mulutnya karena… “Kau ketauan sekarang. Ayo, ikut aku”. Kata Fatan yang langsung menarik Air ke mobilnya.
“Ke mana kau akan membawaku?” Tanya Air. “Sudah diam saja!” Jawab Fatan.

Saat di dalam mobil mereka berdua hanya terdiam. Saat cukup lama Fatan membuka pembicaraan dan melajukan mobilnya. “Kenapa kau memanggilku dengan sebutan Tanah?” Tanya Fatan. Tetapi, Air hanya diam. Fatan menepikan mobilnya dan bertanya lagi “Ayo jawab! Kenapa kau memanggilku dengan kata Tanah!?” Yang agak dibesarkan suaranya. Dengan perasaan yang memaksa, Air menarik dan menghembuskan udara dengan berat dan berkata “Karena suku kata terakhir nama kakak yaitu FaTAN yang aku ubah menjadi TANAH yang merupakan salah satu elemen yang ada di dunia ini! Sudah mengerti!” Jawab air dengan panjang lebar. “Ooohhh” jawab Fatan. “Kau hanya menjawab dengan Ooohhh tetapi bertanya dengan sangat memaksa!” Protes Air. “Baik Air yang juga salah satu elemen di dunia ini”. Jawab Fatan.

Kedaan menjadi hening kembali dan seketika Fatan bertanya kembali “Ngomong-ngomong tentang elemen, elemen apa saja yang kau sukai?” “Tidak tau”. Jawab Air dengan singkat. “Jawablah”. Kata Fatan dengan memohon. “Baiklah, elemen yang aku sukai adalah Tanah, Air dan Udara”. Jawab Air.
“Hhhmmm, aku juga suka dengan ketiga elemen itu. Tetapi, aku sangat suka dengan Air dan kau pasti sangat suka dengan Udara?” Jawab dan tanya Fatan. “Bagaimana kau tau, Kak Tanah?” Tanya Air. “Kau saja menyebut Udara yang terakhir dan jangan sangka bahwa Air itu kamu ya tetapi, elemen Air”. Jawab Fatan sambil menjalankan mobilnya kembali. “Iya. Siapa juga yang mau dan sebenarnya yang paling aku suka itu air dan udara”. Jawab Air. “Sekarang kita ke mana?” Tanya Air. “Ke rumahmu. Aku yang menjemputmu sekarang jangan menolak”. Jawab Fatan. “I..iya”.

“Ini sudah sampai. Sudah turun sana. Apa kamu mau bersamaku terus?” Kata Fatan. “Hey, jangan macam-macam jika bicara!” Jawab Air. “Siapa juga yang mau bersamamu”. Ledek Fatan yang langsung melajukan mobilnya menjauh dari rumah Air. Seketika pula Hujan turun, Air-pun menaruh tasnya di dalam rumah dan langsung bermain hujan dengan tanaman yang berada di situ. Menurut orang-orang udara di saat hujan itu dingin tetapi, menurut Air udara di saat hujan itu hangat.

Semakin hari, mereka berdua semakin dekat. Tetapi, Air mendapat sebuah pesan jika dia harus pergi ke kamar mandi perempuan sekolah sepulang sekolah nanti dan berhubungan Fatan hari itu tidak masuk, Air pun memiliki beberapa waktu luang. Saat pulang sekolah, Air langsung ke kamar mandi perempuan di sekolah itu dan ia menemukan seorang anak perempuan yang merupakan kakak kelas yang bernama Dara. “Jauhi Fatan dari sekarang sampai selamanya!” Perintah Dara. “Apa maksudmu kak, dia itu kan bukan pacarmu!” Jawab Air yang tidak menerima pernyataan itu.
‘Plakk’ Suara tamparan Dara kepada Air. “Jika kamu tidak melakukan itu maka aku akan membunuh orangtuamu!” Kata Dara.

Air langsung pergi dan menemui Udar yang sudah berjanji kepada Fatan akan menjemput Air sebagai gantinya Fatan untuk hari itu. “Kak Udar!” Teriak Air. “Kenapa kamu menangis?” Tanya Udar. “Kak, bagaimana ini? Aku diperintah oleh kak Dara untuk menjauhi kak Fatan dari hidupku”. Jawab Air. “Sudah, ayo ikut aku”. Jawab Udar.

Udar mengantar Air ke sebuah taman yang sudah ditata dengan rapi. “Sana, ke taman itu”. Kata Udar. Air mengangguk dan menuju ke taman itu dan seketika hujan turun. Air merasa hujan turun di saat yang tepat karena hatinya sedang sedih dan Air dipeluk oleh seseorang yaitu… “Sudah jangan menangis lagi”.
Kata seseorang yang sedang memeluk Air. “Kak Fatan! Aku harus bagaimana? Aku diperintah untuk menjauhimu”. Kata Air. “Tidak itu hanya salah satu dari rencana”. Jawab Fatan. Air memukul Fatan dan memeluknya dengan erat. “Ada Tanah. Ada Air. Dan ada Udara. Mungkin menurut orang lain udara saat hujan itu dingin tetapi, menurutku udara saat hujan itu hangat dari dulu dan hari ini sangat hangat karena ada kamu. Aku ingin saat hujan selalu seperti ini tetapi, aku memang harus pergi”. Kata Air.
“Mengapa?” Tanya Fatan sambil melepaskan pelukannya. “Aku akan pergi keluar negeri untuk menyembuhkan penyakitku”. Jawab Air. “Tentang Amnesia dan penyakit itu?” Tanya Fatan. “Bagaimana kau tau bahwa aku mengidap Amnesia dan penyakit lain?” Tanya Air. “Karena akulah temanmu saat kecil lalu pergi saat bermain petak umpet karena kecelakaan itu”. Jawab Fatan. “Hhhmmm. Aku harus pergi. Terima kasih dan maaf atas segalanya”. Jawab Air.

Fatan menerimanya dengan ikhlas walaupun tak sanggup dan Air pun sama.
“Sepenggal lirik lagu IF YOU – BIGBANG:

IF YOU
IF YOU
Ajik neomu neujji anhassdamyeon
Uri dasi doragal suneun eopseulkka

IF YOU
IF YOU
Neodo nawa gati himdeuldamyeon
Uri jogeum swipge gal suneun eopseulkka
Isseul ttae jalhal geol geuraesseo

Artinya:
JIKA KAMU, JIKA KAMU, Jika tidak terlambat, Tidak bisakah kita kembali bersama-sama?
JIKA KAMU, JIKA KAMU berjuang seperti aku, Bisakah kita membuat sesuatu yang sedikit lebih mudah?, Aku seharusnya diperlakukan lebih baik ketika saya milikmu.”

Cerpen Karangan: Shifa Putri D
Maaf ya jika cerpennya kurang bagus karena baru buat cerpen. Tolong kalau ada kekurangan tulid di komentar ya.

Cerpen Tanah Air dan Udara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Untuk Sahabat

Oleh:
Namaku Firga Jeslyn, sering di panggil Firga. Aku siswa di SMU Melati Jaya. Aku siswa kelas X IPA 1. Aku tinggal di Jakarta. Aku anak kedua yang dilahirkan oleh

The Facts And Misunderstanding

Oleh:
“Ya nanti kami akan menyusulmu” ucap Olive. Aku langsung berlari ke Starbucks dan memesan capucinno, dan menangis sepuasnya, aku tak sanggup melihat mereka berdua bersama. Tapi sialnya, saat aku

I Love You Lily

Oleh:
Kau eratkan genggamanmu di tanganku. Detak jantungmu kudengar beradu dengan nafasmu. Kutatap dalam wajahmu, air mata menggenang dalam kedua matamu. Cemas. “Semua akan baik-baik saja, Bram” ucapmu setenang mungkin,

Sesuatu Yang Hilang

Oleh:
Sebelumnya, gue mau ngucapin selamat hari jadi dulu buat gue dan pacar gue, Euis, yang kedua tahun tepat 9 oktober kemarin. Gue bahagia bener, soalnya ini pertama kalinya gue

Hujan Dalam Satu Harapan

Oleh:
Rintikan hujan masih membasahi bumi Jemonistan, bau tanah makin menusuk indra penciuman manusia. Sambil merebah asa di iringi temaram langit kelam di ujung angkasa, seorang diri berjalan menepaki arah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *