Tanah Lengger

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 9 August 2021

Hari itu senja semakin menepi. Entah mengapa Ben ingin berlama-lama disini. Merasakan sepoi angin yang sedikit mengigit. Memang, tidak seperti biasanya.

Kakinya terus melangkah. Menyusuri tepian tanah lapang yang dulu rawa. Kini sudah berubah. Erupsi gunung Bromo yang telah merubah semuanya. Dari rawa menjadi sebuah tanah lapang. “Aku ingin menyulap tempat ini menjadi destinasi yang banyak dikunjungi orang nantinya,” ucap Ben beberapa waktu lalu.
Zuber hanya mengangguk. Dia paham apa yang dimaksud teman sejawatnya itu. Matanya menyapu pohon-pohon mangruve yang tumbuh semakin liar. “Aku mendukung saja Ben. Meskipun aku tidak tahu harus berbuat apa,” sahutnya.

Zuber kemudian terdiam sesaat. Ben orang yang gigih. Tidak mudah putus asa. Sejak dua tahun lalu keinginannya muncul. Dia ingin menjadikan tempat ini menjadi sebuah tempat yang menjadi aset yang bisa dinikmati orang banyak.

Ya, dua tahun silam. Sejak Bromo memuntahkan lahar erupsinya. Ribuan hektar lahan sawah tertimbun tanah bercampur pasir. Termasuk juga rawa itu.
Dulu, tidak satupun orang yang berani menginjakkan kakinya disini. Rawa ini banyak dihuni binatang liar. Tidak jarang, warga juga kerap melihat buaya liar sehingga membuat warga sekitar menjadi takut.

Melihat belasan mahasiswa itu, Ben merasa rindu terhadap kampusnya sendiri. Dia pun pernah merasakan seperti mereka. Hanya saja, di masanya sedikit berbeda. Mereka hanya membuat laporan sebagai formalitas KKN. Tidak ada inovasi. Apalagi melakukan sebuah evaluasi perubahan terhadap Desa, demi kemaslahatan orang banyak. Ben sebenarnya ingin mengajak kerjasama dengan mereka. Namun niatan itu diurungkannya.

Ben menyambar sebuah koran harian yang terbit hari ini. Matanya tiba-tiba terbelalak ketika melihat berita halaman kaki yang mengupas tentang tanah lapang bekas erupsi. Dey, salah satu mahasiswa itu mengaku tertarik untuk mengelolanya. Bahkan, gadis itu mengaku beberapa hari ini telah mencari Ben.

“Aku hampir putus asa. Tidak satu pun orang di Desa ini yang mau memperhatikannya. Pemerintah pun seolah enggan terlibat. Mereka menganggap mengelola tanah bekas erupsi hanya menghambur-hamburkan uang saja,” Ben bercerita suatu hari pada Dey.
“Aku yakin mereka bukan tidak bisa membaca peluang. Tetapi mereka kesulitan untuk mengemasnya. Tanah bekas erupsi itu memang perlu diselamatkan,” ucap Dey.
Kata-kata Dey membuat hati Ben kembali meletup. Dia seperti orang yang kembali bangkit dari keputusasaanya.
“Aku ingin membangun destinasi budaya di tempat itu,” Dey mengusulkan.

Malam itu, Ben mendengar suara alunan. Suara gamelan itu terdengar syahdu di telinga. Begitu lembut sekali.
Di tengah redupnya sang rembulan, Ben nekat menerobos jalan setapak. Mencari asal suara tabuhan gamelan yang terdengar kian bertalu-talu.
Betapa terhenyaknya Ben. Dia melihat gadis itu berada di tengah kerumunan orang-orang. Dia tidak menyangka kidung asmaradana yang dilantunkannya semakin melengkapi redupnya sang rembulan malam itu.

Tanah bekas erupsi itu kini menjadi tontonan. Hampir setiap malam orang-orang tak pernah absen. Mereka menamakannya “Tanah Lengger” yang bisa menghibur orang-orang.
Suasananya semakin terlihat mempesona saat menjelang malam banyak obor-obor menyala disana sini. Tanah Lengger seolah membawa mereka kembali ke jaman “batu”. Jaman feodal yang penuh kesempurnaan klasik.

Entah mengapa ada sesuatu yang berdesir di dada Ben. Sesuatu yang membuat darah Ben mendidih saat melihat Dey berada di tengah orang-orang. Seraya melantunkan kidung-kidung yang silih berganti. Ben tidak menyangka, seorang mahasiswa seperti Dey mampu menghipnotis orang-orang melalui sebuah tarian transgender.

Dua hari yang lalu, Zuber sempat bercerita, gadis itu pernah menanyakan tentang Ben. Menanyakan siapa Ben sebenarnya. Tentang keluarga, tentang dimana Ben kuliah, tentang profesi dan tentang cinta.

“Aku menangkap sesuatu yang tidak biasa Ben,” kata Zuber di sebuah warung kopi.
“Aku tidak mengerti apa maksudnya.”
“Aku juga dapat merasakan. Dari sorot mata gadis itu menyiratkan sesuatu yang dalam. Beberapa kali aku menangkapnya, dia terlihat kikuk,” kata Zuber nyerocos.

Ben sebenarnya bukan tidak tahu. Bahkan dia sudah paham jauh sebelum Zuber bercerita. Hanya saja, sikap Ben yang terlalu dingin terhadap lawan jenis, membuat gadis itu kian keblinger.
Sudahlah. Semua itu menjadi rahasia Ben sendiri. Zuber tak perlu tahu.

Rembulan diatas sana tersenyum sungging. Angin pantai mulai menggigil. Sementara malam merangkak semakin jauh.
Sejak tadi Ben tak melihat Sri – panggilan Dey – sejak dia menjadi penari Lengger. Orang-orang pun bertanya kenapa Sri tidak menari lagi malam ini.
Meski Sri tidak menari malam itu, orang-orang tetap sabar bertahan. Mereka seolah tetap setia menunggu.

Ben terkejut. Pundaknya serasa ada yang meraba. Dia pun menoleh saat Zuber nonggol secara tiba-tiba.
“Dia kecewa, Ben,” suara Zuber terdengar lirih. Matanya nanar menatap sahabatnya itu.
“Aku juga merasakan kekecewaan itu. Dia merasa tidak pernah dihargai selama ini. Dia berjuang. Berkorban hanya untuk kamu. Dia hanya berharap sedikit pengertian darimu.”
Kalimat Zuber berhenti sesaat. Menghela napas dalam-dalam, seolah menghimpun sebuah kekuatan. “Tidak banyak, Ben. Dia hanya butuh sedikit perhatian darimu. Itulah sebabnya, ia kemudian punya alasan dengan memutuskan tidak menari malam ini.”
Ben tak menyahut. Sekilas matanya memandangi orang-orang. Mereka masih tetap bertahan. Namun wajah-wajah mereka terpancar sebuah kekecewaan mendalam ketika Sri tidak melantunkan kidungan lagi.

“Kau kira aku juga tidak sakit?” Ben menepuk dadanya sendiri. Suaranya terdengar bergetar. “Hati ini lebih sakit, Zuber. Sakit…!! Aku tahu keinginannya begitu mulya. Namun caranya yang tidak sepaham denganku. Begitu mudahnya dia menerima ajakan semua laki-laki untuk menari.”
“Bukankah itu yang menjadi cita-citamu?” Suara Zuber seperti mengejar.
“Tidak semua laki-laki bisa menerima ketika seorang perempuan yang dicintainya dengan mudahnya menerima ajakan semua laki-laki. Itu yang membuat aku tidak terima.”
Zuber tersenyum. Ia menangkap rasa kecemburuan itu di mata Ben. “Di dunia Lengger, itu hal yang lumrah. Tidak ada yang aneh.”

Ya, sejak Dey menjadi penari Lengger, tidak sedikit laki-laki yang mengaguminya. Bahkan juga menggodanya. Orang bilang, kehidupan Lengger tak lepas dari tangan-tangan “gatal”.

Ben mencoba mencari kabar tentang Dey. Entah mengapa. Dia merasakan tempurung kepalanya seperti berputar-putar. Bayangan Dey terus berkelebat.

Dalam sekejab tiba-tiba Ben sudah berada di rumah sakit. Dia seperti bermimpi. Matanya menerawang jauh.
Dari balik kaca nako kamar itu, Ben sangat jelas melihat tubuh itu terbaring lemas. Tubuh itu tak bergerak sedikitpun. Hanya denyut jantungnya yang tampak naik turun.
Ben seperti orang linglung. Ia hampir tidak percaya seandainya dokter itu tidak menyapanya. Dia melarang Ben agar tidak masuk ke dalam kamar.

“Dia butuh istirahat total,” Sang dokter itu meyakinkan Ben. Sembari menatap Ben, dokter itu kembali berucap.
“Dia mengalami serangan jantung yang hebat, sehingga membutuhkan penanganan khusus,” katanya.
“Penyakitnya ada keanehan di luar medis. Ini bukan penyakit jantung biasa,” Suara si dokter itu kembali mengalir. “Penyakit jantung terjadi ketika jantung tidak cukup mendapatkan darah yang kaya akan oksigen dan nutrisi. Kondisi ini disebabkan oleh penyempitan atau penyumbatan pada pembuluh darah jantung atau arteri koroner. Kami mempredikasi terjadi irama jantung yang tidak stabil. Dia seperti mengalami tekanan bathin yang maha hebat…”

“Lantas bagaimana dengan nasibnya, Dokter?” Suara Ben menyela. Bibirnya bergetar. Ada bias ketakutan terpancar dari raut mukanya.
“Tidak ada obat yang bisa menyembuhkan. Salah satu cara untuk menyembuhkannya dengan menstabilkan irama jantungnya agar dia kembali tumbuh semangat untuk hidup. Membangunkan semangatnya yang telah mati suri, sama saja memberikan peluang terhadap dia untuk hidup.”

Ben hanya diam. Kalimat dokter itu seperti merajam dadanya. Tiba-tiba telinga Ben mendengar sesuatu yang mengalir. Begitu lembut sekali. Suara itu berasal dari kamar sebelah. Sebuah kidung asmaradana.
Ben tersentak. Dia bagai disambar kilatan petir. Ia lalu beranjak. Menyambar gagang daun pintu. Namun pintu kamar itu terkunci. Ben berpaling, si dokter itu sudah menghilang entah kemana.

“Bangunlah, Dey. Kau harus sembuh…” suara Ben berbisik. Dia tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa mengintipnya dari balik kaca nako yang hanya berjarak dua meter.

Tubuh gadis itu tak bergeming. Matanya masih terpejam. Namun bibirnya terus bergetar mengalun kidung asmaradana yang menggetarkan Tanah Lengger.

Cerpen Karangan: Rama Abu Jibril
Blog / Facebook: Rama Abu Jibril

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 9 Agustus 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Tanah Lengger merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sign

Oleh:
Tes.. Tes.. Tes.. “Oh.. Ramalan cuaca yang benar-benar berhasil” Seru seorang gadis, dia merogoh tasnya dan mengambil sebuah payung. Dengan terburu dia membukanya agar terlindung dari hujan yang mulai

Rindu Yang Menyatukan

Oleh:
Gitar itu terus dimainkan olehnya, dengan sedikit gerakan mengikuti alunan musik yang berbunyi. Ini sudah beberapa kali ia mainkan, ketika musik itu mengingatkan dengan seseorang. Dia sebenarnya bukan tipe

Skenario Tanpa Rencana

Oleh:
Antares keluar dengan wajah masam dari ruang pasien di mana Bella dirawat. Pria berpostur atletis itu mengambil posisi duduk berjarak 2 bangku dari tempat Carina duduk. Suasana sepi ruang

Merindukan Hujan

Oleh:
Kata orang temu adalah penawar rindu. Tapi bagaimana jika merindu namun tidak ada celah untuk bertemu? Memuncak, bertambah, bertumpuk-tumpuk sudah pasti. Sama dengan hari-hari sebelumnya. Hujan menjadi viral di

Melepasmu

Oleh:
“Semakin ku menyayangimu, semakin ku harus melepasmu dari hidupku.. Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini, kita tak mungkin trus bersama..” “Gue sayang sama lu vi”, kata Ryan ke

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *