Tangga Simfoni

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 20 January 2016

Senja itu selepas jam kuliah berakhir, “Wi, kita mampir dulu di Pocin yuk ngeprint TA (Tugas Akhir) di tempat langganan lo,” ajak Nadia -teman berangkat dan kuliah bareng yang aku dewakan sebagai dedengkot geng “anker” alias “anak kereta.”
“Oke,” jawabku irit. Setelah lulus sekolah, aku sempat mengecap 1 tahun perkuliahan di salah satu lembaga pendidikan professional di Jakarta Selatan.

Setibanya di stasiun kereta Balapan, kami merasa heran, “Mbok ya kita iki naik kereta dari stasiun Kalibata loh ndak nyampe 2 jam sudah sampe toh, di stasiun Balapan lagi iki. Oalah Gusti, iki mimpi apa guyon.” urat sarafku mulai kendor tampaknya. Ku usap mataku dan aku terbangun.
“Oh ternyata tadi mimpi, aku tidak benar-benar ada di Stasiun Balapan, kamu masih ada di Depok wi,” gumamku dalam hati.

Kami keluar stasiun Pondok Cina dan seketika aku langkahkan cepat kedua kakiku menuju printing store langgananku. Aku bak seorang induk bebek dibuntuti anak bebeknya yang berjalan menyusuri hutan menuju sumber mata air dan berhentilah kami. Selesai bergelut dengan kertas-kertas print Tugas Akhir kami, mampirlah ke salah satu Mall di kota Depok. Tangga menuju Mall itu tampak seperti sebuah simfoni yang apabila kita pijakkan kaki ke anak tangga pertama, terdengar alunan biola klasik dan menyusul kerabatnya -gitar, gendang dan seruling yang mengganti suara jejak kaki menjadi alunan musik simfoni yang mengalun mengisi relung hati yang haus akan kasih sayang.

Sebenarnya keberadaan seniman lagu tersebut bukan mengisi relung hati para pejalan kaki yang melintasi anak tangga, tetapi sejatinya mereka betul betul mengisi sebagian ruang untuk kami para pendaki anak tangga. Ku tundukkan kepalaku seraya berjalan menyusuri anak tangga tersebut yang mungkin tak lebih dari 20 jumlahnya -walaupun aku tak sempat menghitungnya, memiliki niatan untuk menghitung anak tangga tersebut pun nyaris tidak ada- berharap ada koinan emas yang terlempar dari wadah para seniman itu. Ah mustahil.

Saat ku nikmati alunan lagu seniman jalanan itu, ku tegakkan kepalaku lantas bola mataku bertabrakan dengan sosok yang sepertinya pernah ku kenal, dulu. Ya 6 tahun yang lalu. Mataku masih menatap binar bola matanya, begitu pun ia sebaliknya. Kami merasa ingin meneriakkan nama satu sama lain tapi mulut terkunci entah mengapa kami hanya melongo dan tertegun seketika. “Uwi..” panggil temanku membuyarkan tegunanku.
“Ayo kenapa diam di situ aja.” Aku pun berlalu dan dia pun berlalu jua.
“Kayaknya tadi aku lihat kakak deh.” kataku. “Kaka? Kaka Slank wi?” tawa Ajeng renyah.

“Kamu sudah selesai belum wi?” tanya temanku Ajeng membuyarkan lamunanku kembali. Ternyata aku sudah terlalu lama berada di depan kaca dan membubuhkan bedak di wajah polosku. Tak terasa bubuhan bedak itu tampak begitu tebal. “Ciye ngelamunin kakak terus sih, jadi ketebalan seperti itu pakai bedaknya,” canda teman-temanku. Aku hanya tertunduk tersipu malu tanpa mengeluarkan sepatah pembelaan kata pun.

Brrt.. Brrt.. getar handphone di saku celanaku. “De, tadi kakak lihat orang mirip kamu. Kamu lagi di mana de?”
“Tuh kan.. kakak ada di sini.. berarti bener.. itu kakak yang tadi itu kakak!” celotehku kegirangan.
“Iya, aku juga lihat orang mirip kakak. Aku di detos kak.” balasku sembari tak sabar menanti balasan sms berikutnya. “Kakak ke situ ya.” Hatiku langsung meledak ledak tak karuan saat ia ingin menemuiku.

Tak lama ku lihat sesosok pria tinggi dengan ransel di pundaknya berada di barisan paling depan. Kami jalan satu baris dan sekarang aku tepat di belakangnya. Sosok yang aku kagumi sejak dulu, gumamku. Sekarang kami tepat berhadapan, mata kami bertabrakan dan saling menatap tapi tatapan itu berbeda dengan tatapan di tangga simfoni. Jelas, sekarang ia sudah tahu kalau ini aku, adik angkatnya dulu di Sekolah Menengah Pertama.

Ya, dan jelas aku sudah yakin kalau itu kamu kak, kakak angkatku -Faisal Syahrudin. Kami agak canggung sampai tak sadar bahwa teman-temanku mem-video-kan momen canggung ini.
“Wi, kita pulang duluan ya,” celetuk temanku kencang.
“Eh.. ehh.. kita kan ba…” Belum sempat kuselesaikan kalimatku, mereka langsung pamit pergi dan menelantarkanku seorang diri. Oh tidak. Tidak seorang diri. Aku di sini bersama Pangeran impianku. “Hey, ko kamu melamun? Pulang bareng kakak aja ya, kakak anterin kamu,”

Jantungku berdegup kencang dan semakin kencang. Aku mengangguk mengiyakan dan di situlah awal semua rasa dimulai.

Cerpen Karangan: Dwiana Vanynda Rahman
Facebook: Dwiana Vanynda Rahman

Cerpen Tangga Simfoni merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Unpredictable Unbelievable

Oleh:
Hari itu seperti biasa, Lisa mahasiswi baru itu datang ke kampus membawa kamera yang dikalungkan di lehernya. Apapun yang dirasanya menarik pasti tidak luput dari jepretan kameranya. Dari memotret

Sambal Pedas Bikin Pulas

Oleh:
“Setahun kita bercinta, suka duka bersama, sejuta asmara penuh pesona… Kau regukan madu cinta, hatiku terlena akan manisnya cintamu getarkan jiwaku… Senyummu adalah laraku, tawamu adalah lukaku, manisnya janjimu

Sesuatu Yang Hilang

Oleh:
Sebelumnya, gue mau ngucapin selamat hari jadi dulu buat gue dan pacar gue, Euis, yang kedua tahun tepat 9 oktober kemarin. Gue bahagia bener, soalnya ini pertama kalinya gue

Akhirnya

Oleh:
– Rama Malam minggu yang menyenangkan. Suasana terlihat padang bulan. Bintang-bintang tersenyum melihat kita bahagia. Aku Ramadhan. Panggil aja Rama. Hari ini malam minggu. Tak lupa kegiatan rutinku adalah

Sahabat atau Cinta?

Oleh:
Pagi yang mendung, aku segera merapikan dasiku. yang ber-motif kotak-kotak warna biru. dangan kemeja berompi kotak-kotak biru, dan rok di bawah lutut kotak-kotak biru juga. Di rompi nya terdapat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *