Tangisan Tak Berarti

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 1 December 2014

Januari 2014
Aku termenung dalam lamunan ku yang tak kunjung henti. Ada hal yang selalu buat ku tak lelap dalam tidur ku. Kenangan satu tahun silam yang masih menoreh luka di hati ini. Lambat laun ku pejamkan mata. Sampai aku tersadar aku berada di alam yang sangat gelap. “Sosok itu..” batinku. Dia berdiri tepat di hadapanku. Dia wanita yang dulu pernah menjadi seseorang yang penting dalam hidupku. Seseorang yang pergi dengan cara tak wajar.

Aku terbangun dengan nafas yang tak beraturan dan keringat yang mengalir di wajah ku. Aku bangkit dari ranjang ku dan aku terdiam beberapa saat lamanya. Pikiran ku tertuju lagi pada kenangan ku dengan sosok wanita yang ada di mimpiku itu.

Kembali ke masa lalu
Juli 2012
Inilah awal ceritanya. Handphone ku berdering menandakan ada satu pesan masuk. Ku lihat di layar tertera nomor baru yang tak ku kenal. “Siapa ini” batinku. Dengan cepat jariku mengirim balasan kepadanya. Ternyata dia adalah Rama, teman sekelas ku waktu ku masih di bangku SMP. Percakapan kami berlanjut hingga larut malam. Dia mengatakan bahwa dia tidak bisa melanjutkan sekolahnya ke tingkat SMA. Saat ku tanya mengapa, dia hanya menjawab “ada masalah keluarga”. Dia mengatakannya dengan bahagia walaupun ku tahu hatinya hancur. Sebagai anak keempat dari enam bersaudara. Rama adalah anak yang begitu berbakti kepada orangtuanya. Walaupun ku tahu bahwa ibunya tak pernah peduli dengan prestasi yang ia dapat di sekolah. Aku kagum melihatnya, melihat seorang teman yang begitu kuat walaupun tak ada yang perduli kepadanya. Sedangkan aku tak bisa setegar yang ia lakukan.

Sebenarnya Rama bukanlah teman dakat ku atau pun teman sebangku ku. Dia hanya teman biasa yang ku kenal karena kejailannya menjaili teman-temanku, baik itu cowok maupun cewek sekalipun. Dia bahagia melakukan ulahnya yang sebenarnya tak pantas ia lakukan layaknya seorang murid SMP. “Dia benar-benar gila” batinku kesal saat itu. Satu rahasia yang baru ku tahu darinya. Ternyata dia menyukai salah satu teman kami yang bernama Restu. Aku pikir itu adalah gosip semata yang tak penting dibicarakan di hadapanku saat orang-orang yang ada di kelas ku membicarakan tentang mereka berdua. Aku ikut gabung dengan gerembolan teman ku yang sedang asyik menggosip
“ada gosip apa guys” kataku ingin tahu.
“Ihhh Ika ingin tahu aja lah..” kata temanku yang sewot dengan kedatangan ku yang tiba-tiba mengusik mereka. hehehe
“Ya maaf guys kalau gue ganggu. Tapi apa gosipnya dulu barulah gue caw dari sini. OK..” Kataku memelas
“Itu loh si Rama ka, ternyata dia suka loh sama Restu dan katanya uda dari dulu”
“oh yah?”
“ya lah. Uda caw lo dari sini. Just kidding”
“Tapi gue memang mau caw kok dari sini, Gue gak mau nambah dosa gue. Gak baik tau kalau ngomongin orang lain tanpa sepengetahuannya” kataku bak ustadzah di hadapan mereka.
“Ya kan aja lah biar cepat” Kata mereka serentak
Dan aku pergi begitu aja tanpa mendengar lagi ucapan tak penting mereka itu.

Lamunan ku buyar setelah ibu ku memanggil nama ku berulang kali tanpa ku jawab sepatah kata pun. Aku langsung berlari menghampiri ibu ku yang telah siap-siap mengeluarkan omelannya.
“hehehe” aku tertawa di hadapan ibu ku.
“Anak gadis pagi-pagi gini jangan banyak melamun. Ntar kesambet…” kata ibu ku menasehati.
“siiip ok lah bu. Aku mandi dulu. Bye” dengan enaknya aku ninggalin ibu yang masih bicara denganku
“Eh, ini anak di bilangin malah kabur aja. Dasar anak zaman sekarang susah bener ya dinasehatinya” Celotehan ibuku yang bicara sendiri dengan makanan yang sedang di masaknya untuk sarapan pagi ini.

Malamnya…
Aku terdiam lagi dalam lamunan ku tentang Rama.

25 November 2012
Sekitar jam 3 sore…
Kami sepakat untuk reuni di rumah wali kelas kami dulu sewaktu kami SMP.
Aku dan lima temanku bertemu disana. Tak lupa ada juga Restu dan Rama yang juga datang di acara reuni itu. Bukan reuni resmi sihh tapi cuma memperingati hari guru aja. Restu datang dengan teman kami, Sisil.
“Aku bingung, mengapa Restu datang bukan dengan Rama?. Yang ku tau Rama bilang dia akan pergi dengan Restu kesini.” batinku bertanya.

Aku langsung mengirim pesan singkat ke Rama. Rama bilang Restu tak mau menjemputnya karena Restu sudah lebih duluan janji dengan Sisil.
“Res. kenapa lo gak mau jemput Rama. Kasihan dia gak bisa kesini karena gak ada yang nganterin” kataku dengan sedikit kesal.
“Males lah ka. Panas di luar. Elo aja yang jemput dia sana” kata restu sambil menyodorkan kunci sepeda motornya ke aku.
Aku benar-benar kesal dibuatnya. “Menyebalkan” batinku.

Gak berapa lama Rama datang dengan sepupunya yang saat itu juga pergi setelah ia turunkan Rama di depan rumah wali kelas kami. Aku senang Rama datang. Dia membalas senyuman ku. Senyuman yang manis saat itu ku rasa. Senyuman terakhirnya buat ku. Senyuman yang masih meninggalkan rahasia terdalam antara aku dan Rama.

Rama dan Restu bertemu lagi setelah kelulusan kami beberapa bulan yang lalu. Aku tau ada kerinduan yang amat dirasakan oleh Rama terhadap Restu. Aku juga tau mereka saling mencuri pandang. Rama menyibukkan dirinya dengan berfoto-foto dengan beberapa temanku. Mungkin dengan itulah dia mengobati luka dan ridunya kepada Restu. Restu lebih memilih Sisil untuk dijemputnya dibandingkan Rama yang udah jelas-jelas menyayanginya lebih dari yang Restu tau. Dia mengajak ku berfoto tapi entah kenapa waktu itu aku enggan menerima tawarannya.
“Ayo lah ka foto kita yuk.. Buat kenang-kenangan loh ka” katanya merayu ku
“Gak lah makasi” aku menolaknya dengan lembut

Malamnya..
Rama meneleponku setelah pertemuan tadi sore.
“Halo Rama ada apa?” tanyaku penasaran
“gak ada apa-apa. aku cuma ingin curhat aja sama lo”
“ohh.. apaan ceritanya?”
“gue sebenarnya cemburu banget liat Restu lebih milih Sisil dibandingkan gue. Kurang apa gue di mata Restu. Gue kurang cantik ya ka?” katanya dangan nada yang sangat sedih
“elo gak salah apa-apa. Restu aja yang gak bisa liat elo lebih dalam lagi dengan hatinya. Tuh anak emang nyebelin banget, Ram. Udalah gak usah kita bahas ya.” kataku mencoba menenangkannya.

Sabtu, 29 Desember 2012
Seperti biasanya aku dan Rama selalu berkomunikasi walaupun hanya lewat pesan singkat. Malam ini malam minggu, aku tak seperti cewek biasanya yang diapelin cowoknya di rumah. Aku hanya bisa diam di kamar ku sambil sms-an sama Rama. Rama bilang kalau Restu bohongin dia lagi. Kasihan sekali aku mendengar Rama mengatakan itu semua. Hal aneh malam ini dia berikan buatku.
“Aku tidur duluan ya ka” katanya pada ku
Padahal tak pernah ia katakan seperti itu setiap kali kami sms-an, aku tak ada firasat apapun tentang kepergiannya.
“Ok lah kalo mau tidur duluan” kataku polos.
“ya udah, elo jangan tidur malam-malam kali ya. Jangan terlalu terpengaruh dengan fecebook ka, gak bagus tau. Dan satu hal lagi, jangan coba-coba datangin tempat itu (tempat yang tak bisa aku sebutkan “very secret”) “. katanya menasehatiku panjang lebar.
Tak sadar aku bahwa itu adalah kata-kata dia yang terakhir kalinya.

Minggu, 30 Desember 2012
Hari ini adalah hari yang begitu membuatku benar-benar terluka. Nomor Rama menelepon ku, ku pikir Rama tapi ternyata kakaknya.Aku terkejut saat kakaknya mengatakan bahwa Rama meninggal dunia. Begitu hancur rasanya hatiku, tak sadar aku menangis sejadi-jadinya. Aku langsung berangkat ke rumahnya. Ku lihat dia telah terbujur kaku di hadapan ku. “Ya Allah, sepat inikah kau ambil temanku” batinku dalam tangisan ku yang tak berarti lagi ku teteskan karena Rama tak mungkin hidup lagi. Sesuatu hal yang buatku marah dan kecewa adalah.. Restu tak hadir dalam upacara pemakaman Rama. Dia memang tak pernah mencintai Rama sedikitpun. Dia memang gila. Restu pria yang tak punya hati. Bisa-bisanya dia mempermainkan Rama.

Sebelum Rama meninggal, dia sempat bilang kalau Restu selalu mengingkari janjinya saat ia akan bertemu dengan Rama. Rama sedih. Karena ia tau bahwa Restu tak mencintainya. Restu hanya mengatakan sayang kepada Rama hanya untuk memberi harapan palsu. Banyak rahasia yang masih aku simpan disini di hati ini tentang curahan hati Rama kepadaku yang tak bisa aku ceritakan kepada siapapun.

Restu tak tau Rama meninggal. Walaupun tau dia tak mungkin datang karena dia sedang asyik menghabiskan liburan sekolahnya di kampung. Rama meninggal karena kecelakaan sepeda motor di dekat rumahnya. Dia meninggal di tempat dengan luka memar yang ada di tubuhnya. Dia korban tabrak lari. Orang yang telah menabraknya tak mau bertanggung jawab. Keluar darah dari hidung dan mulutnya yang masih saja mengalir saat jasadnya tak lagi bernyawa. Aku menyimpulkan sendiri bahwa Rama pendarahan di otaknya. Hanya kain putih yang menutupi seluruh tubuhnya. Teman yang membonceng Rama tak ada luka satu pun. Aneh memang tapi itulah kenyataannya. Ajal menjemputnya saat itu juga tanpa tau pasti bagaimana kejadiannya.

Hanya ada Cinta yang ia bawa sampai ia menutup matanya untuk selama-lamanya. Hanya tinggal Penyesalan yang ada di diri Restu. Aku masih kecewa dengannya. Marah padanya. Setiap kali aku mengingatkannya tentang Rama padanya dan saat itulah dia tak mau mendengar aku berbicara. Aku hanya tertawa dalam hati. Dan senang karena Restu benar-benar menyesal.

Kembali aku tersadar..
Aku di kamar ku sekarang ini. Mencoret-coret buku harian ku tentang Rama.
Rama yang telah hadir di hariku dulu. Tak sadar kalau saat ini aku begitu merindukannya. Memimpikannya dan menulis puisi untuk dirinya.

Rasa yang kau punya untuknya takkan pernah mati, kawan.
Aku lah yang akan menghidupkan cinta itu untukmu
Mati rasanya hatiku untuk maafkan dirinya
Aku merindukanmu teman
Dari sini ku kirim doa untukmu
Agar kau tenang disana
Nanti ku pastikan kita berjumpa lagi disana
Takkan terlupakan olehku tentangmu
Ini semua ku ciptakan untukmu

Untuk mu yang telah pergi dengan membawa cinta dan luka yang membekas di hati. Aku ingin melihat wajah mu yang pernah ada dibingkai kehidupanku. Walaupun kau telah pergi dari sini. Aku kan selalu ada untukmu.

Temanmu IKA…

THE END

Cerpen Karangan: Ayu Kartika
Facebook: kartika aiiu
hai guys… nama saya Ayu Kartika. Aku lebih suka dipanngil AYKA. Saya sekarang duduk di bangku kelas 2 SMK. Tepatnya di SMK Budisatrya Medan, Sumatera Utara. Semoga bisa di nikmati ceritanya. Kenyataannya memang menyedihkan lohh, waktu itu pernah ku bacakan di hadapan guru ku dan saat itu lah aku meneteskan air mata ku. Karena ini kisah nyata yang tak pernah ku lupakan sampai kapanpun. Thanks a lot. Bye…
satu lagi, Hargai cinta itu ketika cinta itu hidup, jangan sampai menyesal di kemudian hari. Karena sesuatu yang telah hilang dari dunia ini takkan mungkin kembali lagi.

Cerpen Tangisan Tak Berarti merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Selamat Jalan Sahabat Ku

Oleh:
Ini kisah gue saat-saat sekolah. Nama gue Doni sekarang gue duduk di bangku kelas 3 SMA. Satu kelas kami berjumlah 30 orang, gue mempunyai 5 orang teman bisa gue

Pelita Sahabat Di Atas Awan

Oleh:
Berbicara soal awan, pasti tak lepas dengan namanya langit. Ya pastilah, awankan adanya di langit. Namun, cerita ini bukan tentang awan, tetapi kisahku yang layaknya seperti awan di langit.

Dunia Dimana Kamu Tidak Pernah Ada

Oleh:
Aku tidak memiliki tujuan apa pun dalam hidup ini, aku hanya memiliki naluri untuk bertahan hidup, meski sekarang hatiku diisi oleh kekosongan, tapi aku tidak pernah ingin lenyap begitu

Tali Sepatu

Oleh:
Boja, Musim Kemarau 2005 Pemuda itu melepas tali sepatunya. Tak lama setelah ia berhasil, ia memasang kembali tali sepatu itu, kemudian ia lepaskan lagi, dan ia pasang lagi. Aku

Janji Tahun Baru

Oleh:
Asap putih keluar dari dalam kopiku. Menandakan kalau kopi ini masih panas. Dan secara tidak langsung memerintahkanku untuk menunggunya sedikit lebih lama agar dingin dulu baru bisa meminumnya. Tapi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *