Tanpa Aku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 24 December 2012

“Aku rindu saat-saat itu. Saat semuanya masih baik-baik saja, tentunya tanpa kehadiran sosok lain yang kini singgah di hatinya.”
Malam demi malam yang kulalui rasanya semakin sunyi saja. Tanpa ocehanmu, tanpa omelanmu, tanpa candaanmu, dan tanpa kehadiranmu. Mungkin inilah jawaban dari semua tanda tanya yang melekat di pikiranku. Mengapa kamu jarang mengabariku lagi? Mengapa kamu seperti menjaga jarak denganku? Mengapa kamu berbeda? Mengapa kamu tak peduli lagi denganku? Ahh, aku mulai kacau dengan pertanyaan-pertanyaan itu.

Kejadian sore tadi sudah cukup menjawab semua pertanyaanku tentang perubahan sikapmu. Sosok lain. Yaa! Sosok lain yang kini mulai menggeser posisiku di hatimu. Apa yang salah? Apa yang membuatmu berpaling lagi padanya? Apa yang harus kulakukan agar kamu kembali?

Pertanyaan lain pun mulai mengacaukan pikiranku. Satu pertanyaan terjawab, tapi pertanyaan lain pun muncul lagi. Aku lelah denganmu, dengan hubungan ini, dan aku lelah memahami sikap-sikapmu yang sama sekali bukan kamu yang kukenal. Entahlah, otakku sudah sangat kacau.

“Sayaang…” panggilku sok mesra padamu.
“Ada apa?” sahutmu tanpa menoleh sedikit pun ke arahku. Matamu masih tertuju pada laptop yang masih menyala di meja depanmu. Sedangkan jari-jarimu masih menari-nari liar diatas keyboard. Sesekali kamu menyunggingkan senyummu pada layar. Entah sedang apa dirimu, aku tak berani bertanya.
“Kamu kenapa? Cuek banget sama aku.” Jawabku sambil mencari pusat perhatian lain agar aku tak begitu menatapmu.
“Tidak apa-apa, perasaanmu saja, Key..” Aku mencoba melirik diam-diam ke arahmu. Kamu masih fokus pada kesibukanmu sedari tadi, tak memperdulikanku sama sekali. Dan lebih parahnya kamu memanggilku apa tadi? Key? Hahahaa, aku sama sekali tak percaya. Ya memang benar namaku Keyna. Keyna Larissa.

Tapi aneh aja, biasanya kamu memanggilku Honaa, panggilan sayangmu untukku. Mungkin kamu memang sudah tidak sayang lagi padaku. Yahh, mungkin.. Aku segera beranjak dari sofa yang sedari tadi menopang tubuhku.

Mungkin dia sama sepertiku, lelah menahan semua beban ini, dan kami sama-sama mencoba bertahan. Kulangkahkan kaki meninggalkanmu yang masih sibuk dengan urusanmu yang entah apa itu. Aku berjalan pelan dan berharap kamu akan mengejarku dan meminta maaf padaku. Tapi ternyata hingga aku sampai di depan pintu keluar pun, tetap saja tidak ada reaksi apa-apa darimu. Kecewa? Ya pastilah. Padahal baru saja kau meneleponku agar datang di cafe depan kampus untuk menemanimu makan siang. Tapi apa yang kudapat? Peduli padaku saja tidak.

Bahkan aku pun tidak jadi makan siang denganmu. Kulihat kamu masih asyik dengan laptopmu, tak tahu apa yang sedang kau lakukan. Terserah, aku sangat kecewa.

Sore ini hujan mengguyur kota kecil tempatku sejak lahir. Aku hanya termenung menatap jendela kamarku yang mulai basah. Kulihat titikan embun menempel disana. Aku baru sadar sedari tadi aku tengah memangku netbook putih kesayanganku. Berkali-kali aku menaik-turunkan scrollbar di profilmu. Aku sendiri juga tak tahu apa yang kulihat. Mencoba stalk status-status kamu? Hmm kurasa tidak. Kulihat terakhir kali kamu meng-update adalah berminggu-minggu yang lalu. Dan tulisan-tulisanmu juga tidak ada yang menarik perhatianku. Semuanya tentang bola, dan aku sama sekali tak mengerti. Entah kenapa tiba-tiba aku tertarik untuk membuka account facebok-mu. Yahh semenjak awal jadian kita memang bertukar password, kamu yang memintanya. Aku sendiri tak mengerti apa gunanya. Mungkin agar kita saling percaya?? Hahaa, aku selalu percaya padamu kok.

Aku segera mengetikkan email dan passwordmu, mulai menelusuri setiap kata yang dilewati oleh kedua bola mataku. Lebih tepatnya aku mulai menelusuri masa lalumu, membaca pesan dinding yang entah kapan datangnya. Aku tersenyum-senyum sendiri melihat awal perkenalan kita. Ya, kita memang berkenalan lewat dunia maya.

Sangat aneh, saling kenal di dunia maya tetapi bisa bertahan dengan status pacar, sampai sekarang. Jari-jariku mulai jahil, aku membuka pesan masuk fb-mu. Aku tak merasakan apapun ketika membaca setiap pesan yang masuk untukmu. Tetapi satu nama mulai mengusikku. Kubaca percakapan itu tanpa terlewat satu pun. Awalnya mungkin hanya sekedar bertanya kabar. Hatiku mulai berdebar. Apalagi saat namaku mulai disebut-sebut.

Arina Putri : Bagaimana dengan pacarmu?? Kurasa kalian sangat cocok.. :))
Theo Nugraha : Maksudmu Keyna?
Arina Putri : Ya, tentu saja. Kalian bertahan cukup lama, bahkan melebihi kita :O
Theo Nugraha : Sudahlah rin, aku tak pernah cinta dia. Kamu tau sendiri kan? Aku terpaksa jadian dengannya setelah kita putus 🙁
Arina Putri : Hahaa benaarr, saat itu aku memang bodoh pernah meninggalkanmu..
Theo Nugraha : Rin?? Boleh aku jujur?
Arina Putri : Tentang apa?
Theo Nugraha : Tentang kita.
Arina Putri : Kita??
Theo Nugraha : Ya, aku tak pernah bisa melupakanmu.
Arina Putri : Benarkah??
Theo Nugraha : Ya benar, aku masih menginginkanmu.
Arina Putri : Perasaanku juga tak pernah berubah.
Theo Nugraha : Kamu serius rin?
Arina Putri : Tentu 🙂 tapi bagaimana dengan Keyna?
Theo Nugraha : Tenang saja, aku akan mengakhiri hubunganku dengannya, secepatnya 🙂
Arina Putri : Kamu yakin??
Theo Nugraha : Ya, aku tak bisa membohongi perasaanku 🙂 sepertinya aku mencintaimu lagi..
Arina Putri : Makasih, aku sayang kamu The.. 🙂

Butiran kristal bening mulai menjelajahi mataku lalu mengalir melewati garis bibir hingga leherku.
Aku menangis. Ya, menangisi diriku. Aku tak percaya dengan apa yang kamu perbuat padaku. Kamu ingin meninggalkanku? Setelah sekian banyak hari yang kita lalui? Menyisakan beribu-ribu kenangan. Ya, semua masih membekas, bersama luka yang selama ini kau beri padaku. Dan aku baru sadar, aku menjadi tempat pelarianmu atas Arina.

Sunyi, sepi, dan tenang. Yah itulah kenapa aku suka berada di tempat ini. Ia selalu menjadi saksi atas semua hal yang terjadi padaku. Disaat sedih, gundah, dan tak tahu jalan keluar masalah-masalahku, aku selalu ke tempat ini. Desiran ombak yang bergemuruh tak pernah menggangguku, mereka berlarian kesana kemari. Kadang ke tepi, kadang ke tengah. Persis seperti kamu, kadang putih, kadang hitam. Abu-abu dan terlihat semu di mataku. Pantai! Kini aku terduduk di atas pasir putih yang tak begitu halus. Sesekali gulungan ombak menyambar tempatku termangu.

Mulutku terkunci, tanpa suara. Tapi jari-jari mungilku menari-nari di pasir yang lembab itu. Setelah jariku selesai bekerja, gulungan ombak itu datang dan merusaknya. Aku sangat kesal dengan ombak yang menyapu hasil tanganku itu. Aku mulai berpindah ke tempat yang lebih tepi. Jari-jariku mulai menari lagi.

Aku tersenyum senang saat melihat hasil tanganku dapat kunikmati beberapa saat. Tapi, ah gulungan ombak nakal itu datang lagi. Menghancurkan semua yang kubuat. Berkali-kali aku memindahkan tubuhku ke tempat aman yang tak dilalui ombak nakal itu. Dan mulai kutulis lagi namamu diatas pasir yang basah, tapi hasilnya sama saja. Ombak-ombak kecil yang nakal itu selalu menghapusnya. Aku berlari mengejar gulungan ombak yang mulai diseret induknya.

“Dasar ombak jahat!!” Aku berteriak pada ombak itu. Berusaha memakinya agar ia mengembalikan namamu disana. Ah, aku sudah sangat lelah. Aku lelah akan pertahananku selama ini. Ya, aku sudah terlalu lama bertahan dalam kondisi seperti ini. Mungkin kalian pikir aku berlebihan. Tapi memang seperti inilah keadaanku. Sudah terlalu lama aku berpura-pura di depanmu. Selama ini aku tak pernah bertanya padamu tentang apa yang kulihat dua minggu yang lalu. Aku masih berusaha untuk biasa saja, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Sikapmu padaku pun makin menjadi. Aku sadar kamu selalu berusaha membuatku membencimu. Aku juga sadar bahwa kamu sangat ingin meninggalkanku, demi Arina tentunya. Aku tak tahu, apa yang berkecamuk di hatiku saat ini. Mungkin inikah namanya galau? Yang selalu dibilang anak-anak remaja masa kini. Aku pun juga tak tahu apa yang membuatku galau. Apakah yang harus kupilih?? Bertahan atau menyerah??!! Ya, sekarang aku tahu jawabannya. Entah apakah aku masih sanggup untuk menjalani pilihanku ini.

Aku sudah lelah berpura-pura. Aku sakit menahan beban yang ada di hatiku. Aku sudah sangat lelah dengan pertahanan yang kubuat selama ini. Kupikir inilah akhir kita.

Terima kasih untuk semuanya, Theo. Semoga kamu bahagia. Dengannya… 🙂
-Keyna-

Kulihat senyum tipis mulai menghias wajahmu. Ya, aku memang telah mengirim pesan singkat di pintu lokermu. Sepertinya kamu sudah lega dengan keputusanku. Tak kulihat gurat penyesalan di wajahmu. Yang kulihat hanyalah seorang Theo dengan muka segar dan berseri-seri. Bahkan kamu tak pernah seceria itu saat bersamaku.

Se-menderita itukah kamu saat bersamaku?? Sekarang akulah yang merasa tak enak. Aku merasa bersalah telah merenggut kebahagiaanmu selama satu tahun. Satu tahun bukan waktu yang singkat kan?? Entahlah.. segera aku membalikkan badanku dan segera pergi meninggalkan sosokmu yang telah menemaniku setahun ini. Jujur aku sangat mencintaimu. Tapi lihatlah… kamu lebih bahagia tanpa aku!

“Mencintai tak harus memiliki. Kita tidak bisa memastikan apakah ia akan bahagia bersama kita. Seperti kita bahagia saat bersamanya?? Yakinlah, kebahagiaan sejatimu masih menunggu disana 🙂 ikhlaskan dia… biarkan dia bahagia… kamu akan menjadi orang yang lebih bahagia!”

Cerpen Karangan: Vicka Anindya
Facebook: Vicka Anindya

Cerpen Tanpa Aku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sepucuk Surat Putih

Oleh:
“Angga bangun!” Suara malaikat duniaku telah berbicara dan aku segera membuka mata yang berat ini. Kubuka jendela sambil menyapa dunia. Udara dingin menusuk kulit. Dingin ya sangat dingin kota

Cinta Pertama dan Terakhir

Oleh:
“Pergi jauh-jauh dari hidup gua!” jerit Chela. “Chela, gua itu gak pacaran lagi sama cewek laen kecuali lu!” “Udah, Rizky, gua udah tau Semuanya tentang lu! Lu cari cewek

Resah Rasa

Oleh:
Semua berkumpul jadi satu ketika keegoisan, amarah, kesal dan rasa suka menerpa tak ada yang bisa mengerti kala itu. Mungkin hanya diriku yang dapat mengerti, memang banyak para sahabat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Tanpa Aku”

  1. Amethysa. says:

    Singkat, padat, ngena..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *