Tanpa Usia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 25 January 2016

Gereja masih 258 langkah lagi. Di depan, Ibu Chairil pasti sedang menyapu halaman depannya yang tidak kotor, daun-daun kering cokelat bukan kotoran, hanya sumber hidup bagi rumput selanjutnya. Rumah sebelahnya, Ibu Achdiat sedang minum kopi di teras rumahnya dan Ibu Sanusi akan membuka jendela saat aku lewat dan melambai. Ruangan masih sepi, petugas gereja belum selesai menyalakan lilin di altar. Aku tidak berdoa, aku hanya suka keheningan kursi-kursi kosong yang beristirahat dari beban-beban manusia yang mendudukinya.

Hari ini rekorku pecah. Ada orang lain yang sudah datang ke gereja sebelum aku. Seorang laki-laki, punggungnya masih gagah meski seluruh rambutnya sudah memutih, mungkin bukan warna putih tapi warna merica, putih keabu-abuan. Entah kenapa, laki-laki itu menimbulkan intrik dalam diriku. Aku merasa mengenal semua bapak-bapak dan ibu-ibu di sini, dan yang ini belum pernah ku lihat. Aku duduk di seberangnya. Laki-laki itu tidak ikut menyanyi atau mengucapkan doa, ia hanya ikut duduk dan berdiri pada saat Misa. Setelah Misa, aku mendekati pastur yang mengobrol di pintu dengan ibu-ibu Pastur tersenyum padaku.

“Ibu Elia, Selamat pagi.” Bersamaan dengan sapaan itu, bapak tak dikenal itu mendekat.
“Ibu Elia, ini Pak Abram dari Manado baru datang.” Pak Abram tersenyum dan mengulurkan tangannya padaku. Pastur pun sibuk menyapa ibu lainnya lagi.
“Jadi ini, Ibu yang paling rajin ke gereja?”
“Ah itu, karangan pastur saja.”
“Bapak dari Manado?”
“Iya, asal dari Manado, tapi sebenarnya saya sudah tinggal lama di Jakarta. Saya baru pindah, nungguin rumah anak saya.”

“Ibu Abram nggak ikut ke gereja.”
“Oh istri saya sudah misa di surga.”
“Oh maaf.”
“Tidak apa-apa.”
“Lah Bapak nggak ikut?”
“Oh suami saya juga sedang misa di surga, mungkin bertemu dengan Ibu ya?”
“Oh ya betul itu, mereka sedang minum teh bersama mungkin ya.”

Kami pun tertawa bersama. Tawa renyah yang aku sendiri kaget mendengarnya. Sudah lama aku tidak tertawa seperti itu. Bukan jenis tawa yang ke luar karena ada sesuatu yang lucu atau karena nonton lawak. Tapi seperti tawa dari dalam perut, tawa karena hati kegirangan. Aku merasa akan mengingat pagi ini sepanjang sisa hidupku yang mungkin tidak lama lagi. JIka usia harapan hidup perempuan indonesia adalah 62 tahun, maka 7 tahun lagi, aku sudah melewati usia berharap. Kami pun berjalan bersama ke luar gereja. Pak Abram bercerita tentang anaknya yang sibuk di Jakarta.

“Saya seperti harus punya anak kecil lagi, karena saya selalu dititipi cucu terus. Bukannya saya tidak suka sama cucu. Tapi kan itu tugas mereka bukan tugas saya. Lebih baik mereka bayar baby sitter. Jadi ketika rumah di sini sudah tidak ada yang menyewa, saya bilang saya mau di jogja saja. Saya masih bisa hidup sendiri dengan uang pensiun saya. Lagi pula Jakarta itu bising sekali, saya harus tergantung ke mana-mana, saya batuk, dan mereka nggak mengizinkan saya naik angkot. Sekarang saya tenang di sini.”

“Betul itu Pak, saya juga senang sekali kalau cucu datang, tapi kalau mereka pergi, ada juga sisi senangnya lagi, karena tidak repot dan bisa istirahat.”
Aku hampir tidak rela ketika Pak Abram berbelok ke kanan. Dan ajakan itu muncul begitu saja.
“Kalau Pak Abram sempat, bisa minum teh di rumah. Rumah saya Jalan merpati no.34, yang ada mawarnya di depan.”
“Terima kasih Bu.”

Begitulah setiap pagi kami akan berjalan pulang berapa puluh meter bersama. Kemudian lama kelamaan, aku merasa bahwa aku berangkat misa pagi hanya untuk sepotong jalan saat bersama itu. Aku akan khawatir kalau Pak Abram tidak datang. Dan esoknya aku akan bertanya mengapa. Dan tentu saja sebenarnya jawabannya pasti tidak sepadan dengan kekhawatiranku, seperti ‘oh saya kesiangan’ atau ‘yaa sedang cape.’

Sampai di suatu pagi gerimis, di bawah payung masing-masing, Pak Abram, berkata, “Apa nanti sore, saya bisa minum teh di rumah Ibu. Saya sudah lama tidak main catur.” Pada pembicaraan keempat dulu, aku bilang padanya pernah jadi juara catur kabupaten, dan ia menjawab, ia juara catur satu kodim. Pak Abram memang dulunya tentara, bagian rumah sakit. Gagal jadi dokter ia pun jadi perawat, gagal jadi tentara karena matanya minus, ia pun jadi perawat di rumah sakit tentara.

Setelah misa, aku langsung ke pasar berbelanja khusus untuk minum teh bersama nanti sore. Karena betapa tidak sopannya mengundang minum teh namun hanya ada air teh saja. Aku merebus kentang, menghaluskannya, menumis daging giling, dan wortel dengan bumbu bawang putih, merica dan pala, mengisikannya dalam kentang tertumbuk, mengepalkannya, lalu menyelimutinya dengan tepung panir. Wajan sedang memanas, kroket siap untuk digoreng. Sudah lama aku tidak bikin kroket. Terakhir ya Natal lalu, saat cucu-cucu datang, selain mereka, tidak ada lagi tamu istimewa di serambi rumah. Kadang saja ada satu dua ibu datang untuk mengobrol, atau dua bulan sekali, ada giliran doa di rumah. Namun hari ini, laki-laki itu kan datang minum teh, dan aku menciptakannya menjadi tamu istimewa. Aku bahkan tidak tidur siang seperti biasa, cape-cape dan pegal di punggung yang biasa terasa, hari ini menghilang begitu saja.

Air sedang dididihkan. Kroket terakhir ke luar dari penggorengan saat bel pintu berbunyi. Aku menutup sejenak wajah di cermin dan membukakan pintu. “Selamat sore.” katanya sambil mengulurkan pot bunga, “tadi anak perempuan saya mampir, dia bawa pot ini. Katanya rumah saya kurang tanda-tanda kehidupan. Tapi saya tidak berbakat mengurus tanaman. Maka saya titipkan saja di sini ya, supaya lebih terawat.” Aku tertawa renyah dan membalas.

“Tapi ada biaya penitipan.”
“Saya kredit saja kalau begitu, nanti saya bayar di surga, atau saya minta istri untuk bayar ke suami Ibu.”
“Sebut saja saya Elia, jangan Ibu.” Kami bicara dan bicara tentang dunia, dunia politik, dunia kucing, dunia sastra, dunia perjalanan. Sambil sesekali ia memuji kroketku, bertanya merek teh, dan tanpa terasa aku melewatkan tanpa sesal sinetron yang biasa ku tunggu tiap sore.

Kami sedang berhenti bicara jam delapan malam ketika jam berdenting. Dia bilang, “oh sudah jam delapan, maaf kemalaman, ini salah kroketmu. Saya biasa sudah membaca jam delapan di tempat tidur. Tapi saya harus ke sini lagi kapan-kapan, kita belum jadi main catur.” Aku hanya tersenyum malu, meskipun kalimat, ‘bagaimana kalau besok sore’ sudah sampai di ujung lidah. Ia seperti mendengarnya, “bagaimana kalau besok sore, oh besok saya tidak bisa, ada arisan veteran. Besok lusa ya. Tidak usah repot-repot memasak, giliran saya yang bawa kue.”

Ia pun berpamitan dan menutup pintu, lalu melihat bayangnnya dari jendela. Ketika rambut putihnya yang tertimpa lampu jalan menghilang. Aku membereskan remah-remah kroket dan mencuci cangkir. Kalimat-kalimatnya terngiang. ‘Ibu .. eh Ibu Elia eh Elia,’ aku tersenyum teringat usaha kerasnya untuk memanggilku Elia saja, mungkin sudah berpuluh tahun ia tidak memanggil perempuan yang sebaya dengannya, dengan namanya saja. ‘sudah lama saya tidak ngobrol dan tertawa seperti ini’ katanya sehabis aku bercerita bagaimana aku dulu suka pakai rok mini dan bermimpi bisa ketemu Paul Mc Cartney lalu mendengarkan beatles sehari suntuk. Sementara ia berandai-andai bisa nonton rolling stone yang konser lagi, karena Abrams suka rolling stone sejak tahun 66.

Dua kali teh, dan tiga pertandingan catur berikutnya, tetangga mulai resah dan bicara sekenanya. Sampai akhirnya pastur yang berani bicara di depanku, katanya menyampaikan kekhawatiran ibu-ibu di sini. Ada apa dengan aku dan Pak Abrams. Aku sungguh tidak habis pikir, apa yang mereka perlu khawatirkan dan pergunjingkan. Abhrams duda, aku janda. Kami sudah berumur kadaluarsa untuk diperlakukan sebagai remaja yang dikhawatirkan dengan pergaulan bebas. Kami hanya minum teh, mengbrol, dan main catur. Atau mungkin orang terganggu, karena kami bahagia. Pastur masih saja merasa harus mengatakan ‘bukan begitu, hanya tidak pantas saja.’

“Yesus saja tidak pernah peduli dengan kepantasan, Maria Magdalena yang pel*cur boleh mencuci kakinya, sementara semua orang pada masa itu menganggap hal itu sangat tidak pantas. Siapa yang berkhotbah kita harus saling mengasihi? Apa kalimatnya marilah saling mengasihi kecuali lawan jenis.” Pastur diam saja mungkin kaget karena baru pertama kali ini aku bicara padanya dengan nada tinggi, aku pergi dan sejak itu aku tidak ke gereja lagi. Abram sendiri tidak terpengaruh gosip, dan ia hanya tertawa ketika pastur mengatakan hal yang sama.

“Pastur ada-ada saja.” Begitu katanya sambil tersenyum lebar.
Ia tetap datang untuk main catur dua hari sekali. Kadang aku memasak tahu isi kesukaannya atau ia membawakanku martabak.
“Skak mat!” kataku mengakhiri papan catur sore itu, “kamu pikir aku masih cantik?”
Abrams melipat tangannya di dada dan memandangku. “Kenapa jadi bertanya seperti itu?
“Kamu pikir aku masih cantik? Ya aku tidak pernah tanya seleramu tentang perempuan tapi kamu pikir aku cantik tidak? Jawab jujur.”
“Ya cantik, yang jelas pasti aku akan lebih lama memandangmu daripada memandang bunga mawar kuningmu di depan pagar.” Giliran aku malah tersipu-sipu. Entah ada apa dengan hari kamis, mungkin ini malam jumat kliwon, ada bidadari yang merasuki diriku.

“Kamu masih mau menikah?”
“Waah ya siapa yang ingin menikah denganku. Aku sudah 60 tahun, kalau aku anggota DPR dan kaya raya, mungkin masih ada yang ngantre.”
“Aku misalnya.”

“Hemm, mungkin ide bagus ya, kita sudah tidak cari apa-apa lagi. Kita hidup cukup, sederhana. Kita bisa main catur sepanjang hari. Kamu tidak perlu tidur denganku kalau tidak ingin, kita biasa tidur sendiri. Kita tidak perlu restu siapa pun.” Kami berpandangan lama. Aku tiba-tiba ingin tertawa geli. “Kenapa tertawa?” katanya.
“Oh maaf yaa, aku tidak tahu dari mana aku bisa berkata itu tadi. Sudah sana pulang, sudah jam delapan.”

Aku membereskan papan catur, sambil masih tersenyum geli. Aku sadar aku terlalu memberatkan diri dengan pembicaraan orang-orang. Mungkin terlalu lama tidak ada orang yang membicarakan diriku. Minggu sore, sebuah mobil berhenti di depan rumah. Aku sedang minum teh di depan tv, menunggu berita sore: Ternyata Abrams, dengan baju batik yang biasa dia pakai ke gereja, dengan perempuan, dan laki-laki. Aku buru-buru membuka pintu.

“Waah kok nggak bilang mau datang?”
“Kenalkan ini anak perempuanku, Sofia, dan ini suaminya Danarto.”
Mereka menyalamiku, Sofia bahkan mencium dua pipiku.
“Ah yaa, masuk-masuk. Ayahmu suka cerita tentang kalian, kok anaknya tidak diajak?”
“Oh di rumah bersama teman-temannya, main PS, sudah tidak bisa diganggu.”

Setelah duduk dan selesai menanyakan kabar dan memuji rumahku. Mereka diam sebentar berpandangan lalu Sofia berkata. “Tante Elia, saya disuruh Bapak, mengatakan sesuatu.”
“Wah ada apa, kok serius sekali, tidak ada yang sakit kan?”
“Oh tidak, tidak sakit.. ehmm, Bapak saya ingin melamar Tante Elia, untuk jadi istrinya.”
Aku kebanjiran bahagia, sampai menangis dan tidak bisa menjawab.

Cerpen Karangan: Gracia Asriningsih
Facebook: Gracia Asriningsih

Cerpen Tanpa Usia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tunggu Aku

Oleh:
Siang ini sinar matahari terasa amat terik, sinar terasa menembus celah celah kecil baju kemeja SMK ku. Ah “ingin rasanya aku menikmati segelas es jeruk buatan risma” khayalku terlalu

Yang Tak Terungkap

Oleh:
“hai..” kuberanikan jemariku untuk mengirim pesan teks, dengan wajah goyah kupasrahkan pesanku terkirim dengan lembut. Begitulah yang terjadi setelah 2 tahun berlalu, disetiap hari di dalam ruang kamarku yang

Senja Tolong Kembalikan Dia (Part 1)

Oleh:
“Ohayou… perkenalkan namaku Arumi Sakura, aku pindahan dari SMA Shizuka. Aku mendapat beasiswa, sehingga aku dipindahkan di SMA Tokyo ini. Sekian, mohon bantuannya, arigatou,” itulah sedikit perkenalanku di kelas

Cinta Tak Berlogika

Oleh:
Cinta itu tak berlogika dan tak berumus, bukan seperti soal kimia yang sedang kukerjakan. Mengapa kali ini pikiranku tidak fokus dengan soal-soal kimia di hadapanku. Kututup soal-soal itu, kutatap

Waktu Yang Tak Dapat Kembali

Oleh:
5 januari 2012 Tertegun ku memandang monitor di depan mataku, tangan ku ini berasa kaku untuk melanjutkan pekerjaan ku. Setumpuk kertas masih tersusun di meja kerjaku, masih sedikit yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *