Tarian Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 4 June 2015

Sempurna. Perasaan ini sempurna mengungkungku. Sejak kepergiannya, aku selalu menyendiri, menjauh dari orang-orang yang mencoba simpati padaku. Aku ingin sendiri. Mencoba berdamai dengan masa lalu yang kelam menyakitkan itu. Mencoba membujuk diriku untuk menjalani rutinitasku seperti dulu.

Namanya Alira, perempuan yang amat kucintai dari dulu sampai sekarang. Perempuan yang ku cintai sejak ia kelas empat dan aku kelas enam. Alira yang dulu senyumnya menghentikan semua permainan yang sedang dimainkan teman-teman lain.

Kebaikan memang tak selalu berpihak pada orang-orang yang benar-benar membutuhkannya. Sekarang aku mencoba menenggelamkan diri dalam berbagai kegiatan di kantor. Mengerjakan banyak pekerjaan sekaligus. Berharap bisa melupakan Alira. TETAP SAJA! Semua sia-sia. Tidak bekerja sedikitpun padaku. Semakin aku mencoba melupakannya semakin bayang-bayang akan dirinya tepampang nyata di pelupuk mata.

Entahlah, aku sudah lelah dengan semua hal menyakitkan ini. Setiap malam sebelum tidur, selalu berharap esok lebih baik. Tidak ada bayangan Alira di pelupuk mata. Tidak ada kenangan masa lalu yang menyenangkan tapi amat menyakitkan untuk diingat. Semua ini sederhana, manusia saja yang kadang membuat rumit semua masalah yang sedang dihadapi. Termasuk aku dalam urusan ini. Semua ini juga karena ALIRA.

“Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru. Perkenalan namamu, Nak.” Kata Ibu kepala sekolah saat upacara hari Senin.
“Nama saya Alira. Kelas empat disini, kalian semua bisa memanggil saya A-LI-RA.” Alira memperkenalkan dirinya malu-malu.

Semua berjalan baik-baik saja. Aku jadi semakin bersemangat sekolah karena ada Alira di sekolah. Bahkan aku memberanikan diri mendekati Alira. Dan menjadi bahan olok-olok teman sekelas.
“Alira.” Panggilku saat kami sedang bersama di perpustakaan sekolah. Alira cantik sekali.
“Iya, ada apa?” Alira menjawab polos. Berpaling sejenak dari buku ensiklopedi yang sedang ia baca. Menatapku. Menunggu aku bicara.
“Eh, kau cantik sekali dengan jepit kumbang itu.” Aku gugup mengatakannya. Bukan itu yang ingin aku katakan. Aku ingin mengatakan: Alira, bagaimana kalau nanti sore kita belajar bersama? Kenapa melenceng jauh sekali? Sementara itu, pipi Alira memerah. Menutup wajahnya dengan buku ensiklopedi yang sedang dibaca. Aku juga salah tingkah, kenapa kalimat itu yang meluncur?
“Eh, Alira.” Aku memanggilnya.
“Iya,” Alira tidak menyingkirkan buku yang menutup wajahnya.
“Bagaimana kalau nanti sore kita belajar bersama?” Akhirnya, kalimat itu keluar juga. Sekarang Alira menyingkirkan buku yang menutupi wajahnya. Sudah tidak bersemu lagi.
“Dimana?” Sekarang ia serius.
“Nanti sore aku bisa ke rumahmu.”
Itu percakapan pembuka seluruh kisah ini. Itu kenangan pertamaku juga bersama Alira. Setelah aku lulus SD, selama dua tahun, aku rajin ke SD seminggu sekali tiap hari Kamis. Hari kelahiran sekaligus hari yang disukai Alira. Dan setiap aku datang, Alira pasti sedang menungguku di depan kelasnya. Sedang makan bekal atau mengerjakan soal. Ah aku lupa, SD dan SMP ku satu yayasan. Jadi dekat kalau cuma untuk mengunjungi Alira. Cukup jalan kaki. Selama dua tahun, setiap Kamis, aku tak pernah alpa mengunjungi Alira. Juga tak pernah alpa melihat senyumnya setiap aku datang. Tak pernah alpa berjalan pulang bersamanya.

Lima tahun berlalu, semakin sedikit waktu yang kumiliki untuk sekedar mengunjungi Alira. Saat itu, Alira sudah kelas XI SMA. Kudengar, ia masuk di SMA favorit kabupaten. Setidaknya, sekarang sebulan sekali aku bisa menemui Aliraku. Kekasih hatiku sejak kelas enam.

Aku belum menceritakan kalau Alira amat mencintai hujan, bukan? Alira amat mencintai hujan. Dan juga mencintai musim hujan. Karena itu berarti hampir setiap hari turun hujan. Ia paling sumringah ketika hujan turun. Berbanding terbalik dengan wajah teman-temannya yang mendengus sebal karena hujan turun. Itu berarti kegiatan mereka akan terhambat. Setiap hujan rintik-rintik, Alira selalu mengajakku ke lapangan dekat sekolah. Menunggu tarian hujan datang. Walau kadang juga mendengus sebal kalau yang di tunggunya tidak datang walau telah menunggu berjam-jam. Dan ia akan bersorak menari-nari kegirangan kalau yang ditunggunya datang. Setelah itu duduk manis di sebelahku. Menikmati tarian hujan yang amat menenteramkan baginya.

“Kak Farez, jangan lupa ya, besok datang kesini lagi. Pulang sekolah, kita lihat‘konser’ lagi.” Itu kalimat penutup Alira tiap ‘konser’nya selesai. Kalian tahu, Alira mengatakan itu saat kelas empat SD juga. Kebiasaan itu tak pernah berhenti. Mungkin sampai sekarang.
Sampai saat itu, saat Alira pamit padaku. Dia bilang, dia akan pergi. Dia tak bilang padaku akan pergi kemana. Aku tak pernah dihubunginya walau sekali.
Bima, dia kakak Alira, dia yang memberitahuku kalau sebenarnya Alira sakit. Pergi ke Jerman untuk pengobatannya. Apa sebegitu parahnya sampai harus ke Jerman? Alira sakit apa? Kenapa dia tak memberitahuku? Bahkan aku tahu kalau Alira ke Jerman enam bulan yang lalu.

Sendiri disini
Menunggu hadirmu kembali
Dalam kesendirian yang sunyi
Terpekur mengikuti gejolak hati
Siang malam silih berganti
Begitu juga hari-hari
Menunggu dirimu dalam penantian ini
Entahlah, apa mungkin engkau mengerti?
Semua ini semakin tabu
Sejak engkau meninggalkanku
Bahkan aku tak tahu
Untuk apa aku menunggu
Akankah kesunyian ini berganti keheningan?
Akankah engkau datang membawa kedamaian?
Bahkan harapan pun menjadi musnah
Ditelan kejamnya badai gelisah

“Bagaimana kabarmu Farez?” Tanya Bima membuyarkan lamunanku. Berdiri di sampingku membawa map oranye besar. Mungkin pulang kerja. Dia yang mengundangku makan siang bersama disini.
“Baik.” Jawabku singkat.
“Alira juga baik. Dua minggu yang lalu aku kesana.” Bima memberitahu kabar Alira. Aku menghela nafas. Sesak dengan hal yang tak jelas seperti ini, sesak memikirkan Alira yang pergi.
“Sebenarnya Alira sakit apa?” Aku bertanya pelan. Menunduk.
“Alira sakit kanker otak, stadium dua. Tak ada yang mau Alira pergi. Tak ada yang mau ditinggalkan. Aku, Kak Fina, Kak Fero, Ayah, Ibu, bahkan mungkin kau tak mau ditinggal Alira. Kami membawanya kesana agar kanker itu bisa hilang. Pergi jauh dari Alira. Agar Alira bisa menjalani hari-harinya dengan normal tanpa obat dan kemoterapi. Itu hampir berhasil. Alira akan operasi yang ke sembilan untuk mengangkat sel kanker. Semoga ini yang terakhir. Semoga ini yang terbaik. Walaupun Alira menjalani harinya dengan normal, tapi tidak dengan kami. Dia selalu menanyakanmu. Kami selalu bilang kau baik-baik saja.”
“Baiklah.”
“Farez, doakan Alira. Dia selalu senang tiap membicarakanmu. Dia selalu bilang ‘Kak Bima, Alira ingin pulang ke Indonesia. Ingin lihat konser. Disini Alira nggak bisa lihat konser.’ ” Bima tersenyum. Menjelaskan dengan riang.
“Kenapa Alira tak bilang padaku kalau dia sakit? Kenapa dia pergi begitu saja?” Aku bertanya pelan namun penuh penekanan dan emosi.
“Ayolah, Farez, bukankah sekarang kau sudah dewasa? Sudah kerja bukan? Alira tidak ingin memberatkanmu. Dia serba salah. Biarlah Farez, yang penting kau sudah tahu bukan kalau Alira sakit? Ah ya, sekarang jam empat bukan? Mari kita bertemu Alira, Farez.” Bima tersenyum. Mengeluarkan i-Pad.
“Aku biasa video call dengan Alira. Dia akan sangat senang. Mungkin terharu mendapat kejutan bervideo call denganmu.”
“Kak Bima, lama sekali. Alira sudah nunggu dari tadi.” Alira berseru manja. Dia belum berubah.
“Ada yang ingin bicara dengan Alira.” Bima tersenyum. Apa yang tidak dia berikan pada Alira? Kasih sayangnya, semuanya. Bahkan Bima tidak mempunyai teman perempuan istimewa. Bima pernah bilang, Alira lebih dari istimewa. Bisa dipeluk-peluk tanpa harus berdosa. Begitupun dengan Fero, kakak kedua Alira. Kalau kakak pertama Alira, Fera, sudah menikah, punya anak satu.
“Siapa?” Bima menyerahkan i-Pad padaku.
“Farez, Alira. Ini aku, Farez.” Aku menahan gejolak rindu di dalam hati.
“Fa… Farez, sungguh ini kau Farez? Aku rindu sekali. Aku ingin… Aku ingin pulang.” Tangis Alira pecah. Ekspresinya, ya Tuhan, ekspresinya campur aduk. Aku juga ingin menangis. Menumpahkan seluruh rasa rindu.
“Kau di Jerman dulu, Alira, tidak apa. Nanti saat kau pulang, kau sudah sembuh. Kita lihat konser bareng. Ya, Alira ya?” Mencoba membujuk Alira.
“Tapi aku ingin pulang sekarang.” Aku diam, menunduk. Begitu juga Bima yang mendengar percakapan ini. Menghela nafas.
Di sana, Alira masih menangis. Sejujurnya aku tak kuat. Aku sangat ingin bertemu dengannya. Bagaimana aku bisa ke sana menjenguk Alira. Ya Tuhan, sembuhkanlah Alira. Aku sangat ingin bersamanya. Aku ingin semua penantian ini tak sia-sia.
“Farez, apa kau ingin aku kembali?”
“Iya, aku ingin kau kembali, Alira. Agar kita bisa melihat ‘konser’ lagi.” Aku mencoba tersenyum.
Ternyata itu adalah percakapan terakhirku dengan Alira-ku. Alira yang cantik dengan jepit kumbangnya. Alira yang membuatku sangat malas mencari perempuan istimewa seperti Bima dan Fero. Alira lebih dari spesial. Alira, Alira, Alira, Alira yang sempurna di mataku. Alira yang tak banyak mengeluh tentang penyakit yang dideritanya.

Alira sudah pergi jauh ke dalam hatiku. Meninggalkan semua hal menyakitkan. Meninggalkan penyakitnya, Alira sudah steril dari kanker. Alira sudah hidup kembali di dalam hatiku. Walaupun aku tahu, Alira tak pernah sekalipun pudar. Terima kasih ya Tuhan, ternyata Engkau mengabulkan permintaan itu.

“Kak Farez, ayo, kita lihat konser.” Alira menggandeng tanganku. Lupa! Aku lupa mengatakan, kalau sejak Alira lulus SMA, ia tak pernah memanggilku kakak lagi. Biar tidak seperti anak kecil, katanya. Tapi, entah kenapa saat ini ia kembali memanggilku kakak.

Tapi ternyata perasaan itu kini tak menungkungku lagi. Setelah kepergian Alira yang begitu jauh ke dalam hatiku, kini hatiku sudah secerah tarian hujan. Sewarna-warni mereka. Semua jadi begitu indah. Alira pergi jauh ke dalam hatiku membawa semua hal indah yang pernah dan akan kami lakukan.

SEKIAN

Cerpen Karangan: Dhiyafirsta S
Facebook: Dhista Dhiyafirsta

Cerpen Tarian Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rival Bohongan

Oleh:
Risa dan Evan selamanya musuh besar. Dari anak-anak kelas sepuluh, sampai kelas dua belas juga semua tahu kalau pernyataan itu benar. Kalau ditanya siapa murid yang paling sering masuk

Cinta Di Awang Awang

Oleh:
Hari ini aku akan menyatakan cinta pertamaku pada seorang wanita pujaanku namanya icha.Aku dan icha hanya beda meja saja, hehe kami berada di lokal yang sama yaitu kelas X

Aku Siapa? (Part 1)

Oleh:
Malam yang begitu sunyi sangat menusuk tulang Siliasih. Di bawah hamparan bintang yang berkedip terang mengiringi tiap langkahnya mencari sesosok lelaki yang telah lama tak ditemuinya. Bu Asih begitu

Crazy Love

Oleh:
“Hallo?!,” tanya Felly dengan suara seraknya. “Felllyyy!!!,” teriak seseorang dengan amarahnya. Seketika Felly mengeryitkan dahinya. Ia menjauhkan ponselnya sejenak, kemudian kembali berbicara dengan suara seraknya sebangun dari tidur. “Aduh

Komunikasi Obat Rasa Sakit

Oleh:
Begitu berat yang kurasa saat jari jemariku harus mengetik kata-kata agar dapat terhubung lagi, takut dia tidak membalas pesanku, setelah lebih dari delapan bulan yang lalu kita memutuskan untuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *